My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
45



Zalin dan Briliant telah menyelesaikan kegiatan makannya. Zalin membereskan meja makan kemudian membawa piring kotor ke dapur. Sementara Briliant duduk di kursi meja makan memperhatikan gerak gerik istrinya. Zalin berjalan menuju wastafel dan langsung mencuci piring bekas Briliant dab Zalin makan. Tidak butuh waktu lama, Zalin kembali menghampiri Briliantbdi meja makan.


Zalin mendudukan tubuhnya di kursi samping Briliant. "Yang" Zalin melihat ke arah Briliant "Iya ka". "Kita ke rumah saudara kaka yuk, Ibu kayanya pulangnya sore" Briliant berdiri "Naik motor?" Briliant mengangguk dan segera berjalan menuju kamar "Yang, ayo kita siap-siap dulu" Zalinpun mengikuti Briliant.


Zalin memakai kerudungnya dan merapihkannya didepan cermin. Briliant yang sudah memakai jaket berdiri dan memeluk Zalin dari belakang. Zalin menghentikan kegiatannya. "Ka..." Zalin melihat pantulan wajah Briliant di cermin. "Hm" Briliant menyembunyikan wajahnya di leher Zalin. "Za, lagi siap-siap" Zalin mengusap lengan Briliant. "Lanjutkan saja, kaka nyaman begini" Briliant tersenyum. "kalo kaka posisinya begini, ga akan beres-beres loh" Zalin tersenyum pada Briliant. Ayo, Cepat selesaikan siap-siapnya. Kaka takut kaka khilap" Briliant mencium pipi Zalin dan pergi meninggalkan Zalin.


Briliant duduk di sofa ruang TV. Tidak lama kemudian, Jeanika datang dari arah pintu belakang. "Ka, mau kemana? Sudah rapih" Jeanika mendudukan tubuhnya di kursi di sebrang Briliant. "Kaka, mau ke rumah om sama bibi Je yang tidak jauh dari pusat kota" Jeanika mengangguk "Oh, iya. Ibu masih belum pulang juga. Mungkin sore ibu baru pulang". "Iya, makanya kaka mau ajak Zalin jalan-jalan dulu" Briliant mengambil kunci motornya didalam saku celananya karena melihat Zalin sudah keluar dari kamar. "Ayo Za, berangkat" Zalin pun mengangguk, setelah Zalin menutup pintu kamarnya Zalin menghampiri Briliant. "Za berangkat dulu ya" Zalin tersenyum pada Jeanika. "Iya hati-hati kaka ipar" Jeanika mengangguk dan tersenyum. Zalinoun berjalan ke arah pintu belakang, karena Briliant sudah ada di sana.


Brilint sudah naik ke atas motor dan melihat Zalin menghampirinya "Sini yang, ini pakai helmnya" Zalin mendekati Briliant dan Brikiant memasangkan helm di kepala Zalin. "Ayo naik" Zalinpun menurut. Setelah dirasa sudah siap, Briliant melajukan motornya.


Di sepanjang jalan Zalin sibuk melihat sekeliling apalagi saat di pusat kota Briliant yang sesekali melihat pantulan wajah Zalin dari kaca spion motornya tersenyum.


Kayanya Zalin benar-benar belum pernah ke sini. Kelihatan sekali dari wajahnya.


"Ka, ternyata begini ya suasana kota Q" Zalina tersenyum karena dia baru pertama melihat pusat kota Q. "Iya, memang kenapa?" Briliant bertanya tapi pandangannya fokus pada jalan. "Za belum pernah ke sini. Hehe... Ya Walaupun kota kita tetanggaan. Za itu dilarang main jauh-jauh ka. Padahal sahabat Za aja kuliahnya di sini" Zalin cemberut. Briliant mengusap paha Zalin "Ga apa apa dong, yang penting sekarang Za sudah tau kan kota Q itu ya seperti ini". Zalin mengangguk menanggapi kata-kata Briliant, Zalin memeluk Briliant. Briliant tersenyum.


Za, kaka seneng kamu belum tau apa-apa dan jarang kemana-mana sebelum menikah. Mari nanti kita jalan-jalan. Ke luar kota. Tidak akan sulit sepertinya untuk membuatmu bahagia.


30 menit kemudian, Briliant dan Zalin telah sampai di rumah om dan bibinya. Di sana ada beberapa om dan bibi Briliant, setiao rumah mereka kunjungi. Semua om dan bibi Briliant menyambut Zalin dengan baik. Zalin merasa nyaman dan bahagia telah diterima dikeluarga besar Briliant. Briliant memiliki bibi yang seusia dengan Zalin, membuat mereka lebih gampang beradaptasi.


Alhamdulillah keluarga ka Iyan ramah dan baik padaku.


2 jam kemudian, Briliant dan Zalin pamit pada om dan bibinya.


Saat dalam perjalanan pulang. "Za, nanti ya kita jalan-jalannya" Zalinpun tersenyum "Iya Ka, kita kan belum ketemu ibu juga" Briliantpun mengangguk senang karena Zalin tahu mana yang lebih penting.


So sweet banget sih ka Iyan sama ibunya. Ka iyan jadi terlihat semakin imut begitu. Eh.. Sadar sadar.


Ibu Briliant mendudukan tubuhnya di sofa panjang, sedangkan Briliant memilih duduk di sofa single "Iyan, kamu ini malah ngajak Za jalan-jalan. Kasian Za nya pasti cape" Ibu Zalin melihat ke araH Zalin. "Sini Za duduk dekat ibu" Zalinpun mengangguk dan duduk di samping ibunya. "Za, cape ga?" Zalin tersenyum "engga ki bu, tadi sebelum ke rumah om sama bibi Za tidur sebentar" Ibu Briliantpun tersenyum "Syukurlah, jangan kecapean, katanya kan mau cepat hamil?" Ibu Briliant memandang Zalin dan Zalin menunduk malu.


Ih kayanya ka Iyan nih yang bilang sama ibu, aaaah aku jadi malu.


"Bu, kami menginap di sini hanya semalam saja. Besok kami akan menginap di rumah di daerah XXX" Ucap Briliant. "Kenapa? Padahal di sini saja " Ibu Briliant terlihat kecewa. "Kami ingin belajar hidup mandiri, iya kan Za?" Briliant melihat ke arah Zalin dan Zalinpun mengangguk. "Baiklah kalau seperti itu, tapi iyan. jangan membuat Zalin cape mengerjakan pekerjaan ruman sendiri, bantu istrimu!" Ibu melihat ke arah Briliant dengan serius. Briliant menjawab "Iya bu, siap". "Ya sudah Za, ibu mau ke dapur dulu. Mau masak untuk nanti malam, Zalin istirahat saja ya!" Zalinpun mengangguk. Ibu Briliant tersenyum dan meninggalkan menantu dan anaknya di ruang TV.


"Za, ayo kita ke kamar!" Briliant berdiri dan berjalan menuju kamar diikuti oleh Zalin. Brilint masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan badannya di atas kasur, Zalinoum mengikuti Briliant. "Yang, tutupin pintunya" Zalin yang sudah hampir sampai ke ranjang memutar kembali tubuhnya.


Kreeek, pintu tertutup.


"Sini yang, tidur dekat kaka" Zalinpun membuka kerudungnya dan tasnya. Zalin menyimpannya di meja rias.


Kini Briliant dan Zalin tiduran diatas kasur berdampingan. Mereka berdua kompak melihat ke atas langit-langit kamar.


*Ah, aku ingin segera besok! Berangkat ke rumah yang di daerah XXX dan bersenang-senang disana. Batin Briliant.


Apa aku ga apa apa ya aku di kamar saja? Ibu kan lagi masak? Masa aku enak-enakan tiduran begini sih. Batin Zalin.


***