My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
91



Kini kehamilan Zalin sudah menginjak usia ke 4 bulan, dia memeriksakan kandungannya ke bidan ditemani oleh Briliant.


Saat di ruang pemeriksaan bidan, Zalin berbaring dan bidan meletakan sebuah alat untuk mendengarkan suara detak jantung bayi.


(Suara gemuruh dari alat yang bidan oegang terdengar)


"Nah ini suara detak jantung anak bapa dan ibu, Alhamdulillah detak jantungnya normal," ucap bidan.


Zalin dan Briliant tersenyum menanggapi ucapan bidan itu.


"Sekarang bukan ke berapa bu?" tanya bidan pada Zalin.


Zalin bangun dari tempat pemeriksaan di bantu oleh Briliant. Lalu mereka duduk di depan meja bidan yang ada di ruangan itu juga.


"4 bulan bu," jawab Zalin.


"Masa? kalau menurut saya ini sudah masuk bulan ke 5 loh bu."


Zalin dan Briliant saling pandang.


"Mungkin ibu salah menghitungnya kali ya?" tanya bidan itu.


"Iya, mungkin begitu bu," ucap Zalin.


"Apa pernah USG?" tanya bidan itu sambil mencatat sebuah resep obat.


"Belum bu," jawab Briliant.


"Kalau bisa nanti ketika kandungan memasuki bulan ke 7 coba USG ya. Lewat USG kita bisa lihat kondisi janin dalam rahim ibu bagaimana dan bisa tahu juga jenis kelamin nya."


"Kalau USG sekarang-sekarang bisa bu?" tanya Zalin penasaran.


"Bisa, tapi kalau sudah 7 bulan biasanya jenis kelaminnya sudah terlihat jelas," ucap bidan itu sambil tersenyum.


"Oh begitu ya bu, baiklah," ucap Zalin.


"Pa, ini resep obat untuk ibu Zalina bisa di ambil di depan ya pak," Bidan menyerahkan selembar kertas pada Briliant.


Setelah diperiksa di bidan, 2 bulan kemudian Zalin dan Briliant pergi untuk USG ke dokter kendungan.


Pagi-pagi mereka berangkat.


"Kalo ga salah dokternya praktek dekat rumah Kikan deh ka," ucap Zalin pada Briliant yang sudah nangkring di atas motornya.


"Oke kita berangkat sekalian survei tempat," ucap Briliant.


"Siap deh!" ucap Zalin.


"Hati-hati naiknya jangan buru-buru, inget perut udah gede gitu."


Bugh!


Zalin memukul pundak Briliant tersenyum, lalu menaiki motor dengan pelan-pelan.


Motor yang dikendarai Briliant meninggalkan halaman rumah Zalin menuju tempat praktek dokter kandungan.


Setelah 30 menit, motor yang ditumpangi Briliant telah sampai di apotel yang menjadi tempat dokter kandungan praktek.


"Tuh kan bener di sini," Zalin menunjuk plang yang ada di depan apotek yang bertuliskan nama dokter kandungan yang mereka cari.


"Iya, sekarang kita turun dulu. Apa jam segini dokternya praktek tau tidak."


"Hati-hati turunnya bumilku!" ucap Briliant.


"Iya ka Iyanku yang cute," Zalin tersenyum lalu turun dari motornya.


Setelah Zalin berhasil turun, Briliant mengikuti Zalin turun dari motor.


"Kita masuk ke dalam dan tanya ke orang yang ada di apotek,"ucap Briliant.


Zalin mengangguk.


Briliant dan Zalin berjalan memasuki apotek tersebut. Tapi mereka tidak melihat kerumunan orang.


Ah sepertinya prakteknya sore nih, pikir Zalin.


Setelah di dalam apotek.


"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?" ucal pegawai apotek itu pada Briliant.


Zalin yang ada di belakang suaminya memanyunkan bibirnya.


Menyebalkan sekali, aku ga di sapa sama si mbak-mbaknya, batin Zalin.


"Saya mau bertanya, apa dokter kandungan hari ini praktek?" tanya Briliant tanpa berbasa basi.


"Oh, iya. Praktek pak, tapi prakteknya nanti sore," ucap pegawai apotek itu sambil tersenyum pada Briliant tanpa memperdulikan Zalin yang ada di belakangnya.


Haish... Dia malah senyum genit gitu!, batin Zalin semakin kesal.


"Oh, oke terimakasih kalau begitu mbak," ucap Briliant datar dan segera membalikan badannya, di lihatnya Zalin sedang manyun memperhatikan si mbak pegawai apotek yang sedari tadi mengumbar senyum pada suaminya.


Setelah di luar apotek Zalin menggerutu pelan karena sikap si mbak-mbak yang ada di dalam apotek.


"Hadeuh. Genit sekali si mbak itu, apa di ga lihat apa aku istrinya ada di belakangnya. Eh.. Tunggu! Apa dia nyangka aku adalah kakanya ka Iyan ya, kan orang-orang percaya kalau ka Iyan itu adalah adikku," gerutu Zalin.


"Sayang kenapa komat kamit gitu seperti marmut, lucu banget sih ibu kaka utun."


"Lagi kesel!" Zalin mengambil helm yang ada ditangan suaminya.


Briliant menggelengkan kepalanya.


"Sudah jangan kesel, lihat sini!" Briliant memegang pipi Zalin dan mengarahkan wajahnya untuk melihat wajah dirinya.


"Ini resiko Za punya suami imut macam kaka ini, wajah babyface yang... ah sudahlah!"ucap Briliant.


Zalin menjulurkan lidahnya dan tersenyum.


"Yes! udah senyum, mari kita pulang bumilku sayang! Jangan cemberut gitu, nanti kaka utunnya stres loh," ucap Briliant sambil memakaikan helm di kepala Zalin.


Zalin kembali tersenyum.


"Nah begitu, bumil ka Iyan harus bahagia fong. Kan biar anaknya cerdas," ucap Briliant kembali.


"Ka Iyan bawel sekali! Banyak bicara! Ayok ah kita pulang, nanti sore balik lagi. Semoga si mbak tadi sore udah pulang ke rumahnya."


Briliant hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Cie cemburu. Ayo ah naik, hati-hati ya."


"Hem... Iya paksu."


Zalin menaiki motor Briliant, kemudian Briliant melajukan motornya untuk kembali ke rumah karena praktek dokternya mulai jam sore.


Sore harinya Briliant dan Zalin kembali ke tempat praktej dokter yang mereka kunjungi tadi pagi.


"Semoga pegawai apotek itu sudah pulanh, tidak ada," ucap Zalin sambil turun dari motornya.


Briliant tersenyum menanggapi kecemburuan istrinya itu.


"Sudahlah yang, tidak usah begitu."


"Ka Iyan ngarep ketemu sama si mbak genit yang tadi pagi ya?"


Sepertinya aku salah bicara, pikir Briliant.


"Sudahlah yank, jangan menggerutu gitu kalau tidak mau aku gigit nanti."


Zalin langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.


"Ayo kita masuk sekarang!" ajak Brikiant sambil menggandeng tangan istrinya.


Zalin berjalan mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam apotek tempat dokter praktek.


Saat masuk ke dalam apotek Zalin melirik ka ke satu persatu pegawai apotek.


Si mbak genit itu tidak ada. Zalin tersenyum.


Zalin berjalan menuju ruangan area praktek dokter.


Sesampainya di sana, Zalin dan Briliant melihat sudah banyak orang yang di sana. Ibu hamil berjejer di sana dengan beberapa lelaki


Sepertinya lelaki yang di samping bumil itu adalah lelaki yang menghamilinya, pikir Zalin.


Zalin duduk di bangku pendaftaran untuk mendapat nomor antrian.


"Apa pernah ke sini sebelumnya?" tanya yang duduk di belakang meja pendaftaran.


"Belum mbak, oh iya."


Seorang perempuan yang ada di meja pendaftaran mencatat data diri Zalin di sebuah buku yang cukup besar.


Zalin melihat ke nomornya.


"Wah sudah banyak ternyata ya mbak yang antri," ucap Zalin karna mendapati nomor antriannya besar.


"Iya mbak, rata-rata daftar tadi pagi lewat telepon."


"Tadi pagi saya ke sini loh mbak," ucap Zalin sambil tersenyum.


"Kenapa ga telpon kalo begitu?" Selidik si mbak itu.


"Saya lupa ga bertanya no teleponnya pada pegawai apotek."


"Oh iya, kalau nanti mau ke sini lagi lebih baik daftar lewat telpon biar tidak menunggu lama."


Si mbak memberi saran dan Zalin mengangguk.


"Saya periksa dulu tekanan darahnya ya mbak Zalina," ucap si mbak pendaftaran sambil mengeluarkan alat tensi.


***