
Saat Zalin memasuki ruang tamu, dia langsung menatap ke arah teman Diandra.
"Fathan?" Zalin membelalakan matanya.
"Hehe," Fathan tersenyum melihat tatapan mata Zalin yang sangat menyeramkan baginya.
"Ya sudah, lanjutkan saja ngobrolnya. Aku mau masuk kamar, cape." Zalin memeluk ibunya dan berlalu ke kamarnya di ikuti oleh Briliant dibelakangnya.
Ceklek, pintu terbuka.
Zalin langsung menyimpan tas nya di meja belajar, jasket yang dia pegang dia lempar ke atas kursi. Briliant yang melihat tingkah Zalin hanya menggelengkan kepalanya.
Zalin masuk ke dalam kamar mandi, tidak lama kemudian dia keluar dan berjalan menuju ranjang. Di atas ranjang sudah ada Briliant yang duduk berselonjor sambil memainkan hp nya. Saat menlihat istrinya keluar dari kamar mandi dan mendekatinya, Briliant langsung menyimpan hp nya ke atas nakas.
"Sini," Briliant menepuk pelan kasur dekatnya.
Zalin pun mendekatinya dan duduk di samping suaminya.
"Za, ingin tiduran saja. Ka Iyan juga tiduran, Za ingin tidur di sini," Zalin mengusap dada Briliant pelan sambil tersenyum.
Brilian tersenyum dan mulai merebahkan tubuhnya, diikuti oleh Zalin. Briliant memeluk Zalin dan mengusap kepala Zalin.
Di ruang tamu masih ada Fathan yang sedang mengobrol dengan Diandra. Fathan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Di, sepertinya kaka harus pamit. Sudah setengah enam."
"Oh iya ka, tunggu dulu ya. Di mau panggil ibu dulu."
Fathan mengangguk.
Setelah ibu Diandra datang Fathan langsung pamit. Diandra mengantar Fathan sampai halaman rumah.
Seminggu terakhir ini Zalin dan kelompok KKL nya mulai sibuk menyusun dan merealisasikan program kerjanya. Karena begitu banyak kegiatan yang akan dilaksanakan, Zalin membuat proposal permohonan dana yang ditanda tangani oleh Pa Arkan selaku dosen pembimbing kelompok KKL.
Kepandaian Zalin dalam surat menyurat sangat bermanfaat. Hampir semua hal yang menyangkut admisnistrasi Zalin yang mengerjakan.
"Aku udah buat proposalnya ya, kalian yang nyebar untuk mengirimnya ke beberapa instansi," ucap Zalin.
Semua anggota setuju dan keesokan harinya mulai menyebarkan proposal yang sudah ditandatangani oleh dosen pembimbing, kerua dan sekretaris KKL.
Seminggu kemudian terkumpul dana dari penyebaran proposal, tapi itu bel memenuhi target. Dana yang dibutuhkan masih kurang.
Semua anggota KKL berkumpul di ruang tamu saat sore hari, mereka berdiskusi mengenai dana untuk kegiatan yang masih kurang.
"Bagaimana ini, ini masih kurang banyak," keluh Ana.
Hampir semua mata menatap ke arah Richard. Richard yang sedang makan kacang menghentikan aktifitasnya saat menyadari semua kawannya menatapnya dengan senyuman penuh maksud.
"Apaan kalian liatin gue!" Richar memukul pelan wajah Willy, Andika, Willy dan Fathan..
"Richard loe banyak duit kan?" ucap Andika tanpa basa basi.
"Terus?" Richard mulai makan kacang kembali.
"Please deh chard, kita ladi diskusi berhenti dulu makannya," ucap Fathia.
"Hm..." Richard menyimpan kembali kacang yabg sudah ditangannya.
"Kita masih kurang dana nih, loe bisa bantu kan?" Andika mulai berbicara lagi.
"Bener itu Za?" tanya Richard sambil menatap mata Zalin intens.
Zalin yang menyadari tatapan mata Richard yang tidak biasa langsung membuang mukanya.
"Iya."
"Ok, tapi syaratnya besok kamu mau kan jalan-jalan sore sama aku?" tawar Richard.
Semua anggota KKL membelalakan matanya termasuk Zalin.
"Maksudmu?" tanya Zalin.
"Kamu besok harus mau jalan-jalan sama aku Za!"
Zalin menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia berdiri dan pamit untuk pulang.
"Fathan, anterin aku."
Fathan yang sudah mendapat pesan dari Briliant untuk selalu mengantar Zalin saat Briliant tidak ada langsung mengiyakan permintaan Calon kaka iparnya itu.
Zalin lebih milih Fathan daripada aku?, pikir Richard.
Setelah kepergian Zalin dan Fathan, Ana dan Hana pergi ke dapur untuk memasak untuk makan malam. Sedangkan Delia dan Fathia berbelanja camilan untuk mereka nikmati saat menonton drama korea. Ya, Delia dan Fathia sangat suka menonton Drama Korea.
"Loe ngapain ngasih syarat kaya gitu?" tanya Andika.
"Ya terserah gue dong, kan gue yang punya duitnya."
"Tapi itu loe ga boleh jalan sama Zalin." Ucap Willy.
"Ah, loe suka kan sama Zalin makanya larang-larang gue. Udah ah, gue mau keluat dulu."
Richard mengambil kunci mobilnya dan langsung keluar dari rumah kontrakan. Tidak lama kemudian Richard menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan kontrakan.
"Haduh si Richard belum tau kalo Zalin udah nikah, bisa berabe kalo dia maksa-maksa Zalin buat jalan sama dia. Bisa-bisa ka Iyan marah," pikir Willy.
"Ya sudah lah nanti gue kasih pengertian sama dia," ucap Andika.
"Emang loe bisa ngasih pengertian ke dia? ke orang yang keras kepala kaya Richard?" Beni menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bukan sekali dua kali anggota kelompok Zalin mau memberi tahu status Zalin, tapi entah kenapa ada saja hal yang membuat penjelasan itu tidak di terima oleh Richard.
Seperti sore ini, Richard pergi buru-buru keluar, entah akan kemana dia.
Fathan mengantarkan Zalin ke rumahnya. Diandra yang semula pernah cemburu pada kakanya, setelah diberi pengertian oleh Fathan dia akhirnya mengerti.
"Mau masuk dulu ga?" tanya Zalin menawarkan.
"Tidak Za, aku langsung balik lagi saja."
"Ga mau ketemu Diandra dulu?" Zalin tersenyum menunggu ekspresi yang ditampilkan Fathan.
"Enggak Za, lain kali saja."
Fathan tersenyum dan meninggalkan halaman rumah Zalin.
Zalin masuk ke dalam kamar, Diandra belum pulang karena ada eksul di sekolahnya sedangkan ibunya sedang beristirahat di kamar.
"Ah pantaslah Fathab tidak mau masuk dulu. Tumben, hem.. ternyata sepertinya dia tahu kalau Diandra belum pulang," gumam zalin sambil menyimpan tasnya di atas meja.
Malam harinya, Zalin berjalan menuju kamar mandi setelah mencuci kakinya, Zalin naik ke atas ranjang dan memainkan ponselnya. Zalin ingin sekali mendengar suara suaminya.
"Aku telpon saja "
Zalin mencari kontak My Cute Husband.
Setelah kontaknya ketemu, Zalin segera menelpon kontak suaminya.
Tidak lama kemudian terdengar suara Briliant.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ka Iyan, apa kabar?"
"Baik sayang, kaka utun gimana? baik?"
"Ih ko kaka utun aja yang di tanya? ibunya enggak? ga sayanh lagi sama Za?" Zalin bertanya secara beruntun pada suaminya.
Ya ampun, ternyata benar ibu hamil itu sensitif sekali. pikir Briliant.
"Masih sayang dong, apalagi sekarang makin sayang setah ada kaka utun."
Zalin tersenyum ketika mendengar auara Briliant, Zalin mengusap perutnya yang masih rata itu dengan tangan kirinya.
30 menit Zalin menelpon Briliant, segala hal dia ceritakan.Termasuk tentang Richard yang mengajaknya jalan.
Saat Briliant mengetahui Zalin di ajak jalan oleh teman KKL nya, Briliant mengeraskan rahangnya.
"Kamu jangan jalan sama dia!"
"Iya sayang ga akan."
"Za....," suara ibu terdengar memanggil Zalin.
"Ka, sudah dulu ya.. ibu kayanya manggil Za deh."
"Iya sayang, jaga kesehatan."
"Iya kaka, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilanpun berakhir, Zalin segera menyimpan hp nya di atas nakas dan keluar dari kamar untuk menemui ibunya.
Keesokam harinya, Zalin seperti biasa ke kontrakan dengan di jemput oleh Fathan. Di kontrakan, Zalin dan teman-temannya masih berdiskusi tentang dana yang masih kurang untuk acara yang akan di selenggarakan kurang dari seminggu lagi.
Zalin dan teman KKL nya akan melaksanakan lomba peringatan HUT RI secara meriah, untuk menjadikannya meriah dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
Saat jam makan siang, semua orang makan. Kali ini yang masak adalah Delia dan Fathia.
"Ko gini ya rasanya?" Willy mengkerutkan dahinya setelah memakan masakan Fathia.
"Ga enak?" tanya Fathia melotot.
"Enggak," jawab Willy nyengir.
Fathia memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah! aku ga mau masak lagi!"
Terjadilah percekcokan diatara Willy dan Fathia. Setelah suasana semakin memanas, Fathan melerai kembarannya yang berselisih dengan Willy.
"Sudahlah, Willy hanya bercanda. Masakanmu enak!" Fathan mengacungkan jempolnya.
Fathia langsung tersenyum mendapat pujian dari kaka kembarnya.
Baru kali ini ka Fathan baik sama aku, belain aku dan bilang masakanku enak. hehe, pikir Fathia.
Hari semakin sore. Zalin berencana untuk pulang, tapi Fathan masih ada di kamar mandi. Di ruang tamu hanya ada Hana, Zalin dan Richard.
"Hana, aku nunggu Fathan di luar saja ya," ucapa Zalin pada Hana yang sedang fokus dengan game nya.
"Oke Za, siap!" Hana merespom, tapi matanya masih fokus pada layar hp.
Saat Zalin keluar kontrakan Richard mengikutinya. Richard berencana mengajak jalan incarannya itu.
Ini kesempatanku mengajak dia jalan. Za aku akan memberikan kekurangan dana, setelaj kamu mau jalan sama aku. pikir Richard.
"Za, kamu pulang sama aku aja ya! aku anterin," pinta Richard mengikuti Zalin ke halaman rumah.
"Enggak usah. Aku nunggu Fathan saja," tolak Zalin secara halus.
"Emang kenapa sih ga mau sama aku!" Richard mulai memegang pergelangan tangan Zalin.
"Lepasin," Zalin berusaha melepaskan genggaman tangan Richard. Tapi Richard semakin mengeratkan pegangan pada tangan Zalin.
"Za, sekali ini saja," suara Richard mulai melunak.
"Tidak, aku ga bisa. Please, lepasin aku. Aku akan nunggu Fathan saja."
"Loe takut pacar loe marah?" tanya Richard menatap mata Zalin dengan tajam.
"Jawab!" Suara Richard yang lumayan kencang membuat semua yang ada di dalam kontrakan berhambur keluar.
"Richard kamu apa-apaan sih! Lepasin tangan kamu dari Zalin!" Fathan mulai mendekati Zalin dan Richard. Bagaimanapun dia telah dititipi pesan untuk menjaga Zalin oleh Briliant.
"Berhenti! Atau aku akan mendorong Zalin!" ancam Richard.
*Uh, galak sekali dia. pikir Ana
Semua orang hanya bisa menyaksikan karena mereka tahu Zalin sedang hamil dan takut terjadi sesuatu pada Zalin*.
"Tolong lepasin aku, jangan begini. Aku ga punya pacar!"
Richard melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Zalin. Senyum terpantri indah di wajahnya.
"Kamu ga punya pacar?" Richard mulai melangkah mendekati Zalin. Ketika Richard mendekat, Zalin refleks mundur.
Satu langkah Richard maju, satu langkah pula Zalin mundur.
"Kamu ga punya pacar Za?" Senyuman maut Richard yang membuat banyak wanita klepek-klepek tidak berlaku untuk Zalin. Zalin merasa takut melihat senyuman Richard.
Zalin merasa kesal tidak ada yang bisa menghentikan tindakan Richard padanya.
Sampai akhirnya datang seseorang dari arah gerbang. Semua orang termasuk Richard dan Zalin dibuat kaget oleh kedatangannya secara tiba-tiba.
***