
Sesampainya di rumah sakit, Zalin langsung di masukkan ke dalam ruangan temoat pemeriksaan persalinan. Banyak ibu hamil dengan perut besar yang siap untuk melahirkan.
"Yang menemanu pasien hanya satu orang ya, " ucap salah satu bidan.
"Iyab saja ya yang menemani Zalin. Nanti gantian sama ibu dan ayah," ucap ibu menyarankan.
Briliant mengangguk dan berjalan ke arah tempat pembaringan Zalin.
Saat Briliant sudah dekat dengan Zalin, Briliant mendengar hal yang sangat dia takutkan.
"Apa bapa ini suaminya?" tanya bidan itu.
"Iya bu," jawab Briliant.
"Pembukaannya sudah lengkap ya pak, sudah pembukaan 10, air ketuban sudah pecah 7 jam yang lalu. Sepertiny ini harus operasi."
Deg..
Jantung Zalin dan Briliant serasa berhenti beberapa detik sampai akhirnya mereka berdua tersedar.
"Ga apa-apa operasi, asal kamu keluar nak. selamat," batin Zalin.
Lain halnya dengan Briliant tang merasa keberatan kalau istrinya menjalani operasi untuk melahirkan anaknya.
"Apa tidak bisa normal dok?" tanya Briliant penasaran.
"Sepertinya tidak bisa, tapi untuk lebih jelasnya nanti bapa bicara saja ya sama dokter kandungannya. Sebentar lagi beliau sampai."
Briliant mengangguk.
Briliant bergantian menunggu Zalin dengan Ibu dan ayahnya Zalin.
Setelah ibu dan ayah melihat keadaan Zalin, Briliant kembali yang menemani Zalin.
"Ka, bagaimana kalau Za harus di operasi."
"Kita berdo'a saja ya, semoga setelah diperiksa dokter Za bisa lahiran normal," Briliant menggenggam tangan Zalin dengan mata yang berkaca-kaca.
Zalin mengangguk.
Tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Zalin. Dan setelah memeriksa Zalin dokter berkata dengan cepat.
"Sc!" ucap dokter itu pada bidan yang mengikutinya.
Briliant masih setia di samping Zalin.
"Mana suaminya?" tanya dokter itu kepada Briliant.
"Saya suaminya dok," ucap Briliant sambil mendekati dokter itu.
"Serius?" tanya dokter tidak percaya.
"Ya ampun, emang dok emang, emang suami saya cute!" Batin Zalin.
"Iya pak, saya suaminya."
Karena wajah Briliant meyakinkan dokter itupun percaya akan ucapan Briliant.
"Begini ya pak, istri anda harus sesar. SC."
"Apa tidak bisa normal?" tanya Briliant mencoba negosiasi dengan dokter.
Briliant takut jika istrinya harus menjalani operasi.
"Bisa saja normal, tapi bapa harus memilih. Mau ibunya atau bayinya yang ingin saya selamatkan?" tanya dokter.
Deg
Jatung Briliant berhenti beberapa detik, sedangkan Zalin sudah pasrah apapun pilihan yang suaminya ambil. Tapi sungguh, Zalin ingin bayinya selamat. Semua orang sudah menantikan kehadirannya.
"Waktu saya tidak banyak."
Dengan cepat Briliant mengambil keputusan.
"Operasi saja."
"Baik, bu bidan. Siapkan surat-suratnya!" dokter memberikan perintah pada bidan yang mengikutinya sejak tadi, setelah itu dokter itu memeriksa pasien lain.
"Ikut saya pak," bidan meminta Briliant mengikutinya.
"Kaka tinggal dulu ya," ucap Briliant lemas pada istrinya. Sungguh hati Briliant saat itu sangat hancur, dia tidak menyangka perjalanan perjuangan istrinya semalam akhirnya harus berakhir di meja operasi.
"Ibu jangan bergerak dan bicara ya," pinta perawat itu.
Zalin diam dan alat itu mendeteksi detal jantung dari Zalin. Setelah selesai, Sebuah mesin kecil mengeluarkan kertas cukup panjang yang merekam detak jantung Zalin.
"Terimakasih bu, sudah selesai."
Zalin mengangguk.
Perawat itu pergi, setelah itu datang lagi perawat yang memeriksa detak jantung janin Zalin. Setelah perawat itu kembali ke tempatnya. Beberapa kali detak jantung janin diperiksa.
"Za, bangun yang.."
Zalin membuka matanya dan sudah ada suaminya di sampingnya "irain kaka kamu pingsan Za," ucap Briliant sambil mendudukan tubuhnya.
"Engga ko ka, hanya sedikit mengantuk saja. semalaman Za ga tidur," ucap Zalin yang masih berbaring.
"Za,..." ucap Briliant menggenggam tangan istrinya.
"Ga apa-apa ya kamu operasi?" ucap Briliant pelan, tidak terasa Briliant meneteskan air matanya dan air matanya itu langsung di usapnya dengan kedua punggung telapak tangannya.
"Ka iyan menangisiku lagi?" batin Zalin.
Zalin ingat saat Briliant hampir menangis saat tahu Zalin masih chatting dengan mantan pacarnya, kedua Briliant pernah saat Zalin mengalami kecelakaan yang menyebakan Zalin patah tulang dan sekarang dia menangis karena tahu Zalin akan dioperasi untuk melahirkan anaknya.
"Iya ga apa-apa ka," ucap Zalin tersenyum wakau dalam hatinya dia merasa takut.
"Operasi? dulu saat aku kecelakaan aku kabur dari sini karena tidak mau menjalani operasi. Kali ini aku tidak kabur, aku ingin bayiku selamat!" Batin Zalin.
"Za, bisa saja normal. Tapi tadi kamu denger kan yang, apa resikonya jika dipaksakan normal? Kaka harus memilih salah satu diantara kalian?" Briliant menatap mata Zalin dalam dan dia kembali menitikan air mata.
"Kaka ga bisa milih salah satu, kalau kaka selamatkan kamu, kan kaka utun yang sudah kita tunggu...." Briliant memutus kalimatnya dan bernapas kasar.
"Kalo kaka pilih kaka utun yang diselamatkan, siapa yang akan merawat dia Za," Briliant menunduk.
Briliant merasa tidak kuat lagi bicara. Zalin merasa suaminya itu sedang bingung dan merasa sangat menyayangi dia dan bayi mereka.
Zalin memegang tangan Briliant erat dan mengusapnya, mata Zalin ikut menangis melihat suaminya terus menangisinya.
"Za, kita besarkan anak kita ya bersama." ucap Briliant.
Zalin mengangguk sambil menahan kontraksi di perutnya.
"Ga apa-apa kan kita hanya punya anak dua saja? katanya kalo SC jatah punya anaknya di sarankan hanya dua," ucap Briliant lemas.
"Ya ampun!!! Jadi ka Iyan resah juga hanya akan punya anak dua?" batin Zalin.
"Memangnya ka Iyan mau punya anak berapa?" tanya Zalin memasang wajah serius.
"Maunya banyak," Briliant memanyunkan bibirnya.
"Ya ampun!" Zalin menepok jidatnya mendengar jawaban suaminya.
"Tapi sekarang berubah pikiran, sepertinya melahirkan itu membuatmu sangat kepayahan."
Zalin tersenyum.
Tidak lama kemudian ayah dan ibu Zalin datang menghampiri Zalin dan Briliant.
Ibu Zalin memperhatikan wajah menantunya yang sembab.
"Ga apa-apa operasi juga, yang penting dua-duanya selamat ya!" ucap ibu Zalin menguatkan Zalin dan Iyan menantunya.
"Tetangga kita juga ada yang operasi ko," ucap Ibu Zalin lagi.
"Tapi sehat kan anaknya?" tanya Zalin penasaran.
"Sehat, ibunya juga sehat. Hanya saja nanti kalau mau anak lagi minimal harus jasraknya 5 tahun."
Zalin mengangguk.
"Za, ibu sama ayah keluar dulu ya," ucap Ibu.
Ayah Zalin tidak banyak bicara, tapi sepertinya dia juga berusaha tegar menerima bahwa Zalin harus menjalani operasi.
Dua kali Zalin masuk rumah sakit dan ayahnya juga adalah saksi bagaimana anaknya kesakitan, dulu saat kecelakaan dan sekarang saat akan melahirkan.
Ibu dan Ayah Zalin keluar meninggalkan sepasang anak manusia yang sedang bimbang dan menunggu kelahiran anaknya.
***