
Zalin telah selesai memasaknya. Dia merapihkan dapur dan membersihkannya. Setelah itu dia ke ruang depan untuk menghampiri suaminya.
*
Sementara di ruang depan, Briliant sedang sibuk dengan ponselnya. Briliant sedang main game sambil duduk diatas sofa panjang.
*
Zalin memperhatikan suaminya.
Hm.. Sepertinya ka Iyan sedang bermain game.
Zalin semakin mendekati Briliant, tetapi tidak ada reaksi sedikitpun dari Briliant. Zalin mendudukan tubuhnya di kursi yang sama dengan suaminya.
Ah, fix ini ka Iyan lagi main game. Dia tidak sadar aku di dekatnya.
"Menyebalkan!" Kata-kata itu lolos brgitu saja dari bibir Zalin karena saking kesalnya pada Briliant.
Briliant yang mendengar suara istrinya langsung menyembunyikan ponselnya "Eh ayang, udah beres masaknya?" Briliant tersenyum tidak menanggapi kata-kata Zalin yang ia dengar.
"Di sembunyikan. Udah tau kali!" Zalin menjulurkan lidahnya "Ayo kita makan, makannya dimana?" Zalin berdiri.
"Dibawah saja, pakai karpet. Kaka yang akan menyiapkan" Briliant berdiri dan berbisik pada istrinya "Ma'af kaka main game, jangan dilaporin ke mama ya?" Briliant memasang wajah memelas pada istrinya. Zalin mengangguk "Oke. Tapi jangan terlalu sering" Briliant mengangguk.
Langit semakin cerah, jam sudah menunjukan pukul 08.00.
Zalin berjalan menuju dapur dan Briliant mengambil karpet dari kamar tengah.
Briliant segera menggelar karpet dan Zalin datang membawa nasi liwetnya, Briliat berjalan ke dapur untuk membawa makanan yang lainnya.
Kini Briliant dan Zalin telah duduk bersama, siap untuk makan. Zalin mengambilkan nasi untuk suaminya dan kemudian untuknya.
"Alhamdulillah punya istri pinter masak, jadi kaka gausah jajan di luar" Briliant tersenyum, Zalin merasa tersanjung hanya bisa menunduk.
"Ayo ka, kita makan. Ah Za sudah ingin segera ke danau" Briliantpun mengangguk.
Zalin dan Briliantpun makan bersama di rumah sederhana, walaupun makan hanya dengan menu sederhana, mereka merasa sangat bahagia.
Burung-burung berkicau terdengar sangat riang di telinga Zalin dan Briliant.
*
Zalin dan Briliant telah selesai makan, Zalin segera memcuci piring bekas makan mereka.
"Lebih baik aku cuci sekarang, biar pulang bisa santai" Zalin berbicara sendiri sambil berjalan ke arah wastafel dengan membawa piring kotor.
Sementara Briliant menyiapkan motornya yang dia letakan di garasi atas, di pinggir jalan.
*
Zalin sudah siap untuk berangkat, Brilian masuk ke dalam rumah. Briliant melihat istrinya sudah berdandan dan siap untuk pergi "Mau kemana Yang?" Briliant bertanya dengan wajah datar.
"Mau ke danau?" Zalin tersenyum pada suaminya.
"Sama siapa?" Tanya Briliant, masih dengan wajah datar.
"Sama suamiku yang imut lucu menggemaskan ini! Ayo berangkat!" Zalin menarik tangan suaminya keluar rumah.
"Aduh tunggu dong! Kaka ambil jaket dulu" Zalin melepas tangan Briliant.
Tidak lama kemudian, Briliant keluar dari kamar dengan membawa jaket ditanganya.
"Ka, pakai jaketnya sekarang. Biar pas ke atas langsung naik ke motor berangkat deh" Zalin nyengir. Briliant mengangguk dan langsung memakai jaketnya.
Zalin keluar rumah diikuti oleh Briliant "Tunggu, kunci dulu dong pintunya. Takut ada yang ngangkat rumah ini" Zalin mengangguk "Eh! Emang bisa rumah diangkat?" Zalin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pikirin saja sendiri... Weeek" Briliant berjalan meninggalkan Zalin.
"Eh tunggu dong!" Zalin mendengus kesal.
Zalin dan Briliant berjalan menaiki tangga untuk sampai ke jalan.
"Hati-hati" Briliant melihat Zalin melangkahkan kakinya naik anak tangga.
"Siap!" Zalin melirik ke arah Briliant.
*
Di samping rumah Briliant ada satu rumah lagi, itu adalah rumah paman dan bibinya. Rumah itu kosong karena Bibi Briliant dan pamannya tinggal di rumah mereka yang satunya lagi. Kadang bibi dan paman Briliant mengisi rumah itu.
Sedangkan jarak dari rumah Briliant ke tetangga yang lain sekitar 20 meter.
Rumah dipinggir jalan, tepat diatas tangga jalan menuju rumah Briliant adalah rumah saudaranya.
*
"Ka, kita tidak pakai helm?" Briliant menggeleng. "Engga Yang, lumayan deket ko. ga akan ada polisi" Zalin mengangguk paham.
Briliantpun melajukan motornya dengan kecepatan sedang meluncur menuju danau.
Sepanjang perjalanan Zalin memperhatikan kanan dan kiri jalan.
"Di sini banyak kebun sayur ya ka? Za perhatikan jarang sekali ada sawah", Briliant mengangguk "Ya, karena memang di sini lebih suhunya dingin. Jadi cocoknya berkebun".
Zalin memeluk Briliant. "Masih jauh?" Zalin bertanya pada Briliant. "Tuh gerbangnya" Briliant menunjuk gerbang dengan dagunya.
"Asik udah sampai" Zalin melepaskan pelukannya.
Briliant melewati gerbang, dan langsung memarkirkan motornya di tempat parkir yang tersedia.
"Ayo kita jalan" Briliant berjalan mendahului Zalin.
"Ka, tunggu dong!" Zalin melihat Briliant yang mulai menjauhinya.
Ih ka Iyan ini! Aku kan sekarang ga bisa lari, jangankan lari, berjalan cepat saja tak bisa. Zalin menunduk.
Briliant yang melihat ekspresi wajah istrinya menyadari perasaan Zalin, ia langsung kembali lagi menghampiri Zalin.
"Ayo Yang, sini jalan sama kaka" Briliant tersenyum pada istrinya, "Jangan terlalu cepat" Briliantpun mengangguk.
Briliant dan Zalin berjalan cukup jauh, Zalin yang kelelahan memilih istirahat dan duduk di sebuah bangku di pinggir jalan.
"Padahal ini jalan bisa di lewati motor bahkan mobil, kenapa kendaraan tidak boleh masuk" Dengus Zalin.
Saat Zalin duduk, Briliant memilih melihat lingkungan sekitar.
Ada 3 anak ABG usia anak SMP mendekati Zalin.
"Ka, itu adiknya ya?" Salah satu anak SMP menunjuk Briliant yang sedang melihat burung di atas pohon. Zalin mengkerutkan keningnya.
"Kenalin sama saya dong ka, adiknya" Anak yang lain meminta dengan wajah memelas kepada Zalin.
"Aihh... imut sekali dia ya? Kayanya dia masih SMA. Keren nih kalo aku punya pacar anak SMA" mata anak SMP yang terakhir berbinar.
Ketiga ABG itu kompak melihat ke arah Zalin meminta jawaban "Kalian jangan mau sama dia" Zalin menunjuk ke arah Briliant.
"Memangnya kenapa?" Salah satu ABG itu duduk mendekati Zalin.
"Dia udah punya istri" ketiga mata ABG itu melotot tak percaya.
"Ah masa?"
Zalin mengangguk, "Istrinya sangat galak sekali dan cemburuan. Kalau dia tau suaminya didekati wanita lain, istrinya suka mengamuk dan mendatangi rumah wanita itu!" Zalin menakut-nakuti.
Seketika ketiga ABG itu mundur karena merasa seram membayangkan istrinya yang galak.
Briliant memperhatikan Zalin sedang mengobrol dengan 3 ABG itu. Karena lelah menunggu Briliant menghampiri Zalin.
"Yang, ayo udah beres belum istirahatnya?" Zalin mengangguk. Sementara 3 ABG itu terpesona melihat Briliant dari dekat tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Briliant pada Zalin.
Imut sekali... Uuhh. Pikir 3 ABG itu kompak.
"Sayang.. ayo!" Briliant mengulurkan tangannya pada Zalin.
Mata ke 3 ABG itu terkesiap mendengar kalimat Briliant.
"Sayang? ini istri kaka?" Tanya salah satu ABG, Briliant mengangguk.
Ketiga ABG itu melihat ke arah Zalin, Zalin melototkan matanya.
Ketiga ABG itu langsung lari menjauhi Zalin dan Briliant.
*
Briliant terheran-heran melihat tingkah Ketiga ABG tersebut. Sedangkan Zalin tersenyum karena ABG itu sudah pergi dari hadapannya.
Briliant menatap Zalin, Zalin berdiri dan memegang pipi Briliant "Ya ampun kamu imut banget sih! Hah! Sampai ke 3 ABG itu menginginkanmu!" Zalin membuang mukanya dan melangkah pergi meninggalkan suaminya.
"Hey.. apa maksudmu Za?!" Briliant berjalan menyusul Zalin
***
Tunjukan Like dan Vote nya untuk uni, komentar nya juga 😘