
Kini Zalin telah berada di tempat pengobatan alternatif, pasien di tempat ini adalah orang yang menderita patah tulang. ada puluhan pasien di tempat pengobatan.
Zalin sudah selesai di obati dan masuk ruangan. dan masuk ruang inap.
Zalin melihat sekelilingnya, pasien patah tulangnya lumayan banyak. tidak hanya belasan, pasiennya puluhan orang.
*aku tidak merasa sendiri, orang-orang di sini tulangnya pada patah, ada yang karena jatuh dan kecelakaan. mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek dan kakek-kakek juga ada.
Ada yang patahnya di paha seperti ku, ada yang di betis, ada tulang rusuk, ada yang tuang punggung, ada yang tulang telapak atau jari kakinya, ada juga yang patah tangannya atau jari tangannya. ada yang patahnya hanya satu tulang, tapi ada juga yang patahnya lebih dari satu tulang. Di sini aku tidak sendiri*.
Briliant tidak ikut mengantar Zalin ke temoat pengobatan. Karena, Briliant harus ke kamous untuk bimbingan skripsinya.
Zalin satu ruangan dengan 5 pasien laki-laki. Zalin ada di antara anak usia SMP dan seorang pemuda yang berusia sekitar 24 tahunan.
Orang-orang di tempat pengobatan sangat ramah-ramah. Zalin dengan cepat bisa beradaptasi.
Saat Zalin melakukan pengobatan, Zalin diberi kertas yang berisi pantangan untuk pasien patah tulang. Zalin membaca isi dari selembar kertas tersebut.
aku harus sembuh secepatnya, aku menjalankan apa yang harus dilakukan dan menjauhi pantangan.
satu hari berlalu
Kini hari kedua Zalin dirawat, pantangan yang dirasa Zalin sangat berat adalah larangan tidur setelah jam 5 subuh dan sebelum jam 5 sore. walau hanya sekejap jangan tidur, jika ingim segera sehat.
Zalin ditunggu bergantian oleh ibu, ayah atau sodaranya. Karena, Zalin tidak mau kalau ketiduran dan berakhir dengan lamanya penyembuhan.
Zalin di rawat di luar kota, ibunya bekerja dan ayahnya pun begitu. Jadi pagi hari, Zalin ditunggu oleh saudaranya.
Saat itu Zalin sangat merasa sangat sedih, merasa seperti bayi besar yang tidak berdaya.
____________________________________________
Seminggu Kemudian
Briliant datang menjenguk Zalin
"Za, ma'af ya kaka baru ke sini" bisik Briliant
"iya ka, ga apa apa" Zalin tersenyum pada Briliant
Tiba-tiba terdengar ayah Zalin berbicara dengan seorang bapa-bapa di luar ruangan.
"*pa, itu siapa yang sama Zalin?" bapa-bapa itu bertanya
"itu, adiknya Zalin" ayah Zalin menjawab
"kelas berapa pa?" Bapa-bapa itu bertanya lagi
"Kelas 3 SMP pa" Ayah Zalin menjawab
"oh iya" Bapa-bapa itu percaya
..........
Mereka meneruskan obrolan mereka*.
Zalin dan Briliant mendengarkan obrolan di luar ruangan yang membahas temtang mereka.
Briliant tersenyum ke arah Zalin, sementara Zalin menatap tajam ke arah mata Briliant.
"Za, sekarang kita kaka adik dulu ya. biar ga jadi masalah dan kaka nyaman ke sini. Za kakanya, Ka iyan adiknya. hehehe" bisik Briliant
Zalin hanya cemberut menanggapi Briliant.
Hari-hari berlalu dijalani Zalin, saudara silih berganti menjenguk Zalin memberi semangat agar segera sembuh.
Suatu Hari ibu Briliant datang menjenguk.
pertama kali bertemu, aku dalam keadaan seperti ini. apa ibunya ka iyan akan menerimaku sebagai menantu?
Ibu Briliant ramah dan baik. Zalin pernah memberikan kado untuk adik bungsu Brikiant, jadi Ibu Briliant tahu status Zalin untuk Briliant anaknya.
Beberapa kali Briliant datang menemani Zalin sambil membawa tugas skripsinya.
Satu hari Briliant datang membawa laptop dan duduk di samping Zalin mengerjakan revisi skripsinya yang harus selesai hari itu juga.
Bapa-bapa yang tempo hari mengobrol dengan ayah Zalin terheran-heran melihat adiknya Zalin yang sudah mahir mengoprasikan laptop.
bapa itu berbicara kepada ayah Zalin.
"**adik Zalin jenius ya? kelas 3 SMP udah jago laptop?" Bapa itu melihat layar laptop
"eh bukannya itu Skripsi ya?" Bapa itu mengkerutkan dahinya dan menatap ke arah ayah Zalin*
"*sebenarnya adik Zalin itu mahasiswa tingkat akhir, dia sedang nyusun skripsi om, hehehe" Ayah Zalin tertawa.
"oh jadi iyan bukan adik Zalin? Iyan calon mantu kamu!" Bapa itu menatap kesal pada ayah Zalin*
"yuk ah keluar!" Ayah Zalin menarik tangan bapa itu*..
Briliant dan Zalin hanya bisa tersenyum.
Briliant melanjutkan mengetiknya dan Zalin berselancar di laman Facebook miliknya.
Esok harinya Zalin diijinkan pulang, jadi Briliant terbongkar identitasnya sehari sebelum Zalin pulang. Jadinya tidak jadi masalah.
3 minggu berlalu
___________________________________________
Sesampainya di Rumah
Zalin di sambut keluarga besarnya, Zalin jauh merasa nyaman di rumah. walau di rumah dia merasa lebih menderita dari orang lain. berjalan menggunakan tongkat.
Jika mau mandi ibunya menyiapkan segala yang diperlukan Zalin, dan kalau ke WC Zalim menggunakan tongkat dengan kaki 4. Karena, jika memakai tongkat biasa dikhawatirkan Zalin akan terjatuh.
Zalin terpaksa mengambil cuti kuliah, karena dalam keadaan kakinya yang belum bisa lepas dari tongkat akan menyulitkannya.
Ibu mengurus segala hal yang menyangkut perizinan cuti kuliah Zalin dibantu oleh Briliant.
Ibu Zalin tidak kesulitan, karena Briliant satu jurusan dengan Zalin.
Briliant sering datang ke rumah Zalin, atas permintaan Zalin.
Dalam keadaan sakit seperti itu, Zalin takut kehilangan Briliant sangat takut. 6 Bulan sudah Zalin tak bisa kemana-mana.
____________________________________________
Suatu hari Briliant ke rumah Zalin. Karena kelelahan Briliant tidur di sofa.
ah aku buka hp ka Briliant, aku ingin lihat apa ka iyan berhubungan dengan wanita lain
Zalin mengambil hp di dekat Briliant.
Zalin membuka aplikasi SMS, BBM, FB tidak ada yang mencurigakan.
Saat Zalin melihat galeri. Zalin menatao beberapa Foto di layar hp Briliant. Sakit. Sakit hati yang Zalin rasakan.
akuingin nangis... aaah aku takut dia merebut ka iyanku. aku ingin nangis! tapi kenapa ko susah.
Zalin melihat wajah Briliant dengan kesal. Zalin mengirimkan foto-foto yang membuatnya sakit hati ke kontak BBM nya.
2 jam kemudian Briliant bangun dari tidurnya.
Zalin tidak pandai menyembunyikan perasaannya, Zalin hanya mampu memasang wajah cemberut di hadapan Briliant.
Briliant yang merasa heran bertanya.
"kenapa Za? jangan kaya gitu! kaka mau pulang ke kota Q" Briliant memandang wajah Zalin yang murung
"hm... kaka jalan sama cewe lain. nyebelin!" Zalin membuang wajahnya
"itu hanya untuk kenang-kenangan Za" Briliant memberi alasan
"hanya berdua aja gitu?" Zalin cemburut
"yaudah lah kaka hapus" Briliant menghapus poto yang membuat Zalin kesal dan cemberut
"udah kaka hapus. kaka pulang dulu" Briliant meninggalkan Zalin dengan kesal.
ih ko jadi ka iyan yang ngambek sih?
Briliant meninggalkan rumah Zalin.
___________________________________________
Saat Briliant dalam Bus
Zalin mengirim BBM pada Briliant
***Ka, ma'afin Za ya? ~ Zalina
iya. ga apa apa ~Briliant
Za, masih nyimpen potonya ko ka. Za kirimin ya, biar ka iyan ga marah lagi sama Za ~ Zalina***
Zalin mengirim foto Briliant yang telah Briliant hapus di Hp nya
ih Za, ko kamu nyimpen potonya. hapus!
kaka udah ga marah lagi.
kaka sayang sama Za 😊
kalo ada masalah bilang baik-baik.
kaka ga suka liat Za cemberut ~Briliant
Zalina tersenyum
ah untung aku cerdas, aku nyuri dulu poto itu.
***iya ka, ma'afin Za ya. Za hanya takut kehilangan kaka 😑~ Zalina
gausah takut, hati kaka udah Za ambil sejak kita bertemu~ Briliant***
Zalin tersenyum merona di kamarnya.
aku harus segera pulih, harus segera sembuh. harus. biar bisa melanjutkan kuliah lagi. aku ingin segera bisa hidup normal lagi. supaya tidak ada yang bisa merebut Ka iyan dariku.
***