My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
51



"Hey.. apa maksudmu Za?!" Briliant berjalan menyusul Zalin


Briliant mempercepat langkahnya karena ditinggalkan oleh istrinya.


Maksud Zalin apa tadi? . Briliant menggaruk kepalanya bingung.


"Yang, tungguin dong!" Teriak Briliant.


"Aduh kayanya dia lagi BT, aku ngerasa di jalannya cepet banget!" Brilian segera berlari menyusul Zalin.


"Yang...." Briliant mengatur nafasnya, Zalin menghentikan langkahnya dan melihat suaminya telah ada di sampingnya.


"Hmm" Zalin menyauti suaminya.


"Kamu kenapa sih yang?" Briliant melihat ke arah Zalin. Kini mereka berdua berdiri berhadapan. Briliant memegang kedua bahu istrinya.


"Engga kenapa-kenapa"


"Tapi ko kayanya kamu lagi BT sama kaka setelah mengobrol dengan 3 ABG itu?"


Ah aku tidak boleh ketauan kesal gara-gara 3 anak ABG itu ingin berkenalan dengan ka Iyan.


"Engga ko ka, Za hanya ingin cepat sampai ke danau. Masih jauh ga sih?" Zalin menatap Briliant.


"Oh... Sebentar lagi" Briliant melepaskan tangannya dari bahu Zalin.


"Tinggal jalan menurun, sampai deh!" Briliant menggandeng tangan istrinya.


Zalin dan Brililantpun melanjutkan perjalanan mereka menuju danau.


Pengunjung danau tidak terlalu banyak, karena hari ini bukan weekend.


Sepanjang perjalanan ada beberapa anak Usia ABG yang tadi mengobrol dengan Zalin menatap Briliant kagum. Padahal Briliant menggandeng tangan Zalin.


Zalin melirik kesal ke arah anak ABG itu.


Apa yang kamu lihat? Ini suamiku.


Apa wajahku terlalu tua?Ah tidak! Ka iyannya saja yang wajahnya terlalu imut. Ya ampun! Sepertinya mereka kira aku adalah kakanya Ka iyan.


Setelah anak ABG itu lumayan jauh dari jaraknya, Zalin mendengus "Menyebalkan".


Briliant menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Zalin.


Zalin yang sedang digandeng oleh suaminya itu otomatis menghentikan langkahnya.


"Siapa yang menyebalkan?"


"Tuh anak ABG yang barusan berpapasan"


"Memangnya kenapa?"


"Dia ngeliatin kaka terus" Zalin membuang mukanya.


Briliant tersenyum "Cie semburu..."


"Kenapa banyak anak SMP di sini sih, ini kan belum waktunya libur anak sekolah" Zalin mulai berjalan perlahan.


"Mungkin mereka kelas 3 dan sudah beres ujian, jadinya mereka bebas tidak ada KBM lagi untuk mereka" Briliant menjelaskan sambil berjalan sejajar dengan Zalin.


Zalin mengangguk mengerti.


"Kamu cemburu ya?" Briliant tersenyum


"Udah ah, Za pengen segera sampai perasaan jauh banget! Kata ka iyan udah dekat" Zalin memanyunkan bibirnya.


Dia paling susah mengungkapkan perasaannya. Susah sekali bilang kalo dia sebenarnya cemburu. Batin Briliant


"Tuh lihat ke sana!" Briliant mengarahkan mata Zalin agar menatap danau yang sudah ada di depan mata.


"Wah ... Bagus sekali pemandangannya!"


Zalin melihat sebuah danau yang dikelilingi gunung, ada beberapa rakit di danau itu.


Danau itu berada di dataran lebih rendah dari letak Zalin berdiri.


Beberapa orang terlihat sedang memancing di beberapa titik di sisi danau.


"Jalannya menurun sekali ka" Zalin menatap jalannya "Em... pulangnya lumayan nih nanjak sekali!" Zalin bernapas dengan berat.


"Olahraga biar sehat!" Briliant tersenyum.


"Kalau Za cape, gendong ya sama kaka?" Zalin menampilkan senyum menggoda suaminya.


P**asti ka Iyan bilang, 'Kaka ga akan mampu Yang! lihatlah badan kamu sama kaka.. mintalah sesuatu yang lain. ya?'


Briliant terkesiap mendengar permintaan istrinya.


Zalin melihat wajah lesu suaminya itu janya bisa menahan tawanya.


"Kaka ga akan mampu Yang! lihatlah badan kamu sama kaka.. mintalah sesuatu yang lain. ya?" Pinta Briliant sambil melihat ke arah Zalin.


Susah kuduga. hehehe..


"Hm.. Za belum pernah loh digendong sama ka Iyan, kaya pasangan lain gitu loh ka" Zalin mengerlingkan matanya.


Briliant menepok jidatnya "Ya Ampun, lihat ding Za badan cowo nya sama cewenya yang saling gendong itu kaya gimana".


"Ka iyan ngeledek aku ya?" Zalin meninggalkan Briliant


"Aiiiihhh salah lagi!" Brilint mengacak rambutnya frustasi.


"Yang!!! Tunggu!!! Hati-hati!!!" Briliant mengejar Zalin dan langsung menggandeng tangan istrinya itu.


"Sudah jangan ngambek, Nanti kaka coba gendong Za deh" Briliant mengusap tangan istrinya.


"Bener ya ka?" Zalin memperhatikan raut wajah suaminya dengan sumringah.


"Iya tentu.." Briliant mengangguk.


Aduh Za, sepertinya kamu harus mengurangi nonton drama dan sinetron juga film yang mempertontonkan adegan gendong menggendong. Ampun deh! Batin Briliant.


🍁🍁🍁


Berat tubuh Briliant lebih ringan dari Zalin, maka dari itu Briliant merasa tidak akan mampu, tidak akan bisa menggendong Zalin.


🍁🍁🍁


5 Menit kemudian, Zalin dan Briliant telah sampai danau.


Zalin berjalan mendekati danau dengan tangannya direntangkan. Dia menarik nafas secara perlahan dan menghembuskannya perlahan.


Briliant menghampiri Zalin dan berdiri di sampingnya "Ah kalau saja seandainya di sini hanya kita berdua. Hm, kaka pengen meluk kamu Za dari belakang seperti adegan di Film Titanic" Briliant tersenyum melihat ke arah danau yang airnya terlihat tenang.


Zalin seketika menengok ke arah suaminya tersebut. "Kenapa tidak brani sekarang?" Zalin mengkerutkan keningnya.


Briliant menghadap ke arah istrinya dan berbisik "Malu, takut ada yang ketagihan".


What? . Batin Zalin


Briliant melingkarkan tangannya dipinggang istrinya sampai badan Zalin tergeser menempel pada suaminya.


"Yang, kamu gemukan deh. Apa jangan-jangan..." Briliant tersenyum melihat ke arah Zalin.


Zalin yang merasa suaminya sedang memandang wajahnya hanya melihat ke arah danau "Jangan-jangan apa?" Zalin mengkerutkan keningnya ke arah Suaminya.


"Hamil?" Briliant tersenyum


"Hmm"


"Udah datang belum bulan ini Yang?".


Zalin menggeleng "Belum".


"Tuh kan? Jangan-jangan kamu hamil yang? Cepet banget ya jadinya" Briliant tersenyum senang semakin memandang mata Zalin.


"Jangan seneng dulu deh Ka!" Zalin membuang mukanya.


"Loh kenapa? Ayo kita duduk di bangku itu" Briliant menggandeng tangan Zalin menuju sebuah bangku tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Yang, kenapa tadi bilang kaka jangan senang dulu kamu belum datang bulan?"


"Soalnya belum jadwalnya ka" Zalin melihat mata suaminya.


Kayanya ka Iyan ngarep banget aku hamil. Duh ka! Wajahmu saja yang imut. wkwkwk. Pikir Zalin


"Terus jadwalnya kapan?" Tanya Briliant yang penasaran dan tidak sabar menunggu jawaban istrinya.


"Minggu depan kalau tidak salah perhitungan" Zalin kembali memandang ke arah danau.


Danau ini masih sangat asri. Udaranya sejuk. membuat betah saja. Batin Zalin


"Memang ada hitungannya ya?" Briliant memegang kedua bahu Zalin agar istrinya itu melihat ke wajahnya.


"Iya" Zalin mengangguk.


"Begitu ya?" Briliant terdiam


"Iya sayang! Kalau saat jadwal datang bulan, Za ga datang bulan. Berarti ya...."


"Hamil?" Mata Briliant berbinar


Zalin mengangguk "Kayanya ka Iyan mau banget ya punya anak segera! hehe" Zalin tertawa diujung kalimatnya.


"Ah engga... itu kan kamu Yang, kamu yang bilang ingin segera punya anak" Briliant membuang mukanya dan menampakkan wajah datarnya.


Idih engga ngaku dia. Zalin menebalkan bibirnya dan melihat ke arah danau.


Semoga Za secepatnya hamil, kata orang anak itu pembawa rezeki. Briliant tersenyum menatap danau itu.


Briliant menarik kepala Zalin agar bersandar dibahunya.


"Yang, Ich Liebe Dich" Briliant mengusap kepala Zalin


"Idih pakai bahasa Jerman segala, tau dari siapa tuh" Zalin melirik ke arah suaminya.


"Dari mantanku"


"Mantan yang mana!" Zalin menegakkan duduknya dan menatap mata Briliant dengan kesal.


"Yang ini!" Briliant memeluk Zalin dari samping dengan erat


Ya ampun aku kira siapa. Aku udah kesal duluan. Aku lupa aku pernah ngajarin ka Iyan bahasa Jerman. Zalin tersenyum dalam pelukan suaminya.


🍁🍁🍁


Ich Liebe Dich \= Aku Sayang Kamu, Aku Cinta Kamu.


🍁🍁🍁


"Yang, kamu mau naik rakit ga?" Briliant Bertanya pada Zalin.


Ada beberapa Rakit yang sedang berkeliling danau dengan pemumpang beberapa orang diatasnya.


"Naik rakit itu?" Zalin menunjukan rakit yang ada dipinggir danau dan melihat ke arah Briliant.


Briliant mengangguk "Iya yang, mau ga?"


"Engga ah, gamau"Jawab Zalin singkat.


"Kenapa?" Briliant mengkerutkan dahinya melihat ke arah Zalin. Karena dia heran mengapa istrinya tidak tertarik untuk menaiki rakit tersebut.


"Takut jatuh, tenggelam" Zalin bergidik ngeri membayangkan bahwa dia akan terjauh dan tenggelam di danau itu.


"Tidak akan" Briliant meyakinkan.


"Gamau ka... gamau, kalo kaka tenggelam emang kaka mau nolongin Za?" Zalin menatap mata suaminya dengan tajam.


"Oke baiklah. Jangan, kaka juga ga akan bisa bantuin kalo istri kaka ini tenggelam. hehe" Briliant nyengir.


🍁🍁🍁


Zalin dan Briliant kemudian berkeliling ke sekitar danau.


Zalin melihat beberapa orang sedang memancing di siai danau.


"Ka, memang di sini boleh ya mancing?" Zaln melihat ke arah Briliant.


Briliant mengangguk "iya"


"Yang, udah yuk ah kita pulang saja. udah panas banget ini" Zalinpun mengangguk.


🍁🍁🍁


Zalin dan Briliant mulai berjalan ke jalan yang menanjak.


Zalin melihat ke beberapa warung yang ada di sekitar danau.


"Yang, laper ya?" Briliant bertanya pada Zalin.


Pertanyaan Briliant hanya di jawab dengan senyuman oleh Zalin.


"Mari kita segera pulang, kaka akan ngasih paket lengkap!" Briliant meninggalkan Zalin yang terlihat kebingungungan.


Paket lengkap?


Briliant berjalan menanjak menjauhi istrinya.


Saat Briliant sudah cukup jauh "Ka Zalin... ayo cepatlah!" Briliant melambaikan tangannya.


Apa?Ka iyan manggil aku Ka Zalin? Zalin bingung.


Tidak lama kemudian ada seseoranh menepuk bahu Zalin.


Zalin langsung menengok ke arah yang menepuk bahu Zalin.


"Ka Zalin, itu adik kaka ya?" seorang anak ABG bertanya pada Zalin.


Zalin dengan terpaksa mengangguk.


"Boleh ga aku kenalan sama adiknya kaka? Namaku Imel" Anak ABG itu tersenyum pada Zalin.


"Oh ga bisa Imel, Adik kaka harus segera pulang" Imel cemberut "Ya sudah deh ka".


Imel dan temannya pergi menjauhi Zalin.


Briliant hanya tersenyum melihat Zalin melototkan kedua matanya ke arah Briliant.


Istriku sepertinya akan mengamuk. Ya, bahaya dong! Aku harus rayu dia.


Briliant kembali menghampiri Zalin yang masih ada diposisi semula.


Menyebalkan sekali suamiku ini, aku kesal jalan-jalan seperti ini. Lelah dianggap kaka dari suami sendiri. Aku kehabisan kata-kata.


Zalin menundukan kepalanya.


Briliant sudah ada di depan Zalin.


"Ka..." Zalin berkata dengan suara lembut


Eh istriku tidak marah? . Batin Briliant


"Kaka, yang masak ya sepulang dari sini. dan Za malam ini ingin langsung tidur. Za lelah sekali!" Zalin melengos meninggalkan suaminya.


Briliant merasa lemas "Ah sayang... Ko.gitu sih!" Briliant memanyunkan bibirnya dan segera berjalan mengejar langkah istrinya.


Nyesel deh memanggil istriku dengan Ka Zalin. Briliant menunduk


🍁🍁🍁


**Budayakan tekan jempol 👍 setelah membaca ya, vote dan komentarnya juga😉


Terimakasih para pembaca novel MLMCH karya Uni 😊


Uni usahakan akan up date sehari lebih dari satu kali ya 😍**