
Naima dan Nakia sangat bahagia mendapatkan begitu banyak oleh-oleh dari sang kaka. Richard Bramantyo, kaka tertua mereka berdua. Fatma juga mendapat oleh-oleh. Hanya saja Fatma hanya mendapat sedikit. Richard menganggap Fatma sudah dewasa sebenarnya tidak perlu diberi buah tangan.
"Aku cuma dapat ini saja?" tanya Fatma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan tangan kanannya mengangkat satu sepasang gantungan kunci.
Naima dan Nakia cekikikan. Bramantyo hanya melihat tingkah ke empat anaknya dari sofa. Richard tersenyum karena memang dia hanya membelikan itu untuk kembarannya.
Setelah membongkar oleh-oleh, mereka semua makan siang bersama. Mata si kembar Naima dan Nakia berbinar melihat hidangan seafood di atas meja makan.
"Waw waw waw!" ucap Naima heboh.
"Makan besar. makan besar...!" ucap Nakia tidak kalah heboh.
Bramantyo berjalan ke arah kursi yang sudah siap untuk diduduki. Richard dan Fatma juga melakukan hal yang sama. Bramantyo duduk di dekat ujung meja makan, Richard dan Fatma duduk di kedua sisi Bramantyo. Sedangkan Naima duduk di samping Fatma, Nakia duduk di samping Richard.
Naima dan Nakia sangat antusias, mereka langsung menyendok seafood kesukaan mereka. Saat Naima dan Nakia akan memasukan sendok ke mulutnya, Bramantyo menghentikannya.
"Stop!" ucap Bramantyo.
Naima dan Nakia langsung menghentikan aktifitasnya dan melirik ke arah ayahnya.
"Baca do'a dulu dong!"
Naima dan Nakia tersenyum.
"Lupa..." ucapnya kompak.
Setelah berdo'a mereka langsung sibuk makan, Naima dan Nakia sangat senang. Mereka tahu ini adalah masakan koki hotel bintang lima. Mereka tahu, pasti ayahnya tadi langsung memanggil koki setelah kedatangan Richard.
Setelah kenyang, Naima dan Nakia pamit ke kamar mereka. Mereka merasa kenyang sekali karena terlalu banyak makan seafood.
Sekarang yang ada di meja makan hanya tinggal Bramantyo dan sepasang anak kembarnya yang sudah beranjak dewasa. Piring kotor dan hidangan sudah dibereskan oleh para pekerja di rumah. Bramantyo ingin mengatakan suatu hal pada Richard dan Fatma. Tapi saat melihat wajah lelah Richard, Bramantyo mengurungkan niatnya.
"Richard, apa kamu lelah?"
Richard mengangguk.
"Ya sudah, beristirahatlah! Papa juga mau ke ruang kerja papa," ucap Bramantyo.
Bramantyo bangun dari duduknya. Saat dia akan melangkah, Fatma menghentikannya.
"Pa, boleh ga Fatma main keluar?" tanya nya sedikit ragu.
"Dengan siapa?" Bramantyo mengerutkan keningnya.
"Teman," ucap Fatma singkat.
"El?" Bramantyo menatap mata Fatma.
Fatma langsung mengangguk.
Duh. kayanya tadi papa denger! Batin Fatma.
"Boleh, tapi nanti suruh dia menemui papa!"
"Dan ingat, sebelum petang harus sudah pulang!"
Bramantyo langsung meninggalakan Fatma yang sedang tersenyum bahagia.
"Huh, dasar!" Richard bangun dari duduknya dan berjalan menuju tangga untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Fatma segera ke kamarnya untuk bersiap-siap dan menghubungi El, Fatma merasa senang. Karena jarang bagi dia bisa jalan berdua dengan El apalagi saat weekend seperti sekarang ini.
Di kamar Richard
Richard memasuki kamarnya, kamarnya yang cukup luas dengan gaya manly, Cat di dominasi warna Abu kombinasi hitamasih terlihat sama sebelum dia pergi. Dia langsung ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan style santai. Dia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Richard berjalan ke atah ranjang berukuran King Size dengan sprai putih.
Richard merebahkan tubuhnya di sana dan tanpa terasa matanya terpejam dan terlelP dalam tidurnya.
Saat Richard tertidur, dia merasa ada yang memeluknya. Richard tersenyum. Dia yakin yang memeluknya bukan kembarannya Fatma apalagi adik kembarnya yang menurut dia masih bocah. Pelukan itu di balas oleh Richard, Richard merasa yang dipeluknya itu bukan wanita langsing, melainkan wanita yang cukup berisi.
"Pa, pa... Ka Richard mimpi apa ya? ko sampe senyum-senyum gitu?" tanya Nakia pelan pada ayahnya.
Bramantyo mengedikkan bahunya tanda dia tidak tahu. Sebenarnya Bramantyo mengerti apa yang sedang di lakukan oleh anak sulungnya itu. Tapi Bramantyo tidak menjelaskannya pada Nakia.
Setelah melihat adegan yang Richard lakukan, Bramantyo langsung mengajak Nakia keluar kamar Richard.
"Kita keluar dulu saja, nanti kakamu juga akan keluar kalau sudah bangun. Jangan ganggu dia, kakamu sepertinya sangat kelelahan."
Nakia mengangguk dan mengikuti ayahnya keluar dari kamar Richard. Nakia ingin sekali berjalan-jalan sore bersama kakaknya, tapi saat dia akan memasuki kamar Richard ayahnya datang dan ikut ke kamar Richard sampai akhirnya mereka berdua melihat Richard sedang senyum-senyum sambil menciumi guling dipelukannya.
"Hoaaaaaam!" Richard menguap dan menggerakan kepalanya, dia merasa sangat segar setelah tidur beberapa jam.
"Segar sekali rasanya!" ucapnya sambil tersenyum.
Richard melepaskan guling yang sedang dipeluknya dengan kasar. Dia tidaj menyangka bisa memeluk guling seposesif itu. Dan saat dia melepaskan guling dari pelukannya, Richard merasa ada yang berbeda di bawah sana.
Richard melihat ke arah celananya dan merasa tidak enak hati.
"Basah?" ucapnya pelan.
"Ya ampun! Sepertinya aku mimpi macam-macam tadi. Bagaimana kalau ada yang melihat?!" Richard gelisah dan mengusap wajahnya kasar.
Richard mendudukan dirinya sesaat, setelah itu mengganti sprainya dengan yang baru. Sprai kotor dia letakan di keranjang cucian. Dia tidak perduli dikatakan apapun, yang penting sprai dia kembali bersih. Sprai sudah rapih, Richard dengan susah payah memasangnya. Dia merasa lelah dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Semoga saja tidak ada yang mengetahui tingkahku ketika tidur?!" ucap Richard dalam hati sambil membuka knop pintu kamar mandi yang ada dalam kamarnya.
Setelah berjibaku di kamar mandi, Richard keluar dari sana dan sudah terlihat lebih segar. Dada bidangnya yang atletis dan berkulit putih membuat wanita pasti terpana melihatnya. Setelah rambutnya cukup kering, Richard memakai baju santainya. Sebelum Richard memakai baju, dia melihat ke arah jam di kamarnya.
"Ternyata lama sekali aku tidur?" ucap Richard tak percaya.
Setelah Richard mengganti bajunya dia keluar dari kamar. Saat Richard membuka pintu, dia kaget ada Nakia di sana.
"Ya ampun Kiaa?!" ucap Richard sambil mengusap dadanya.
Heheh, Nakia terkekeh melihat kakanya kaget.
"Ada apa?" tanya Richard.
"Kia mau jalan-jalan..." rengek Nakia sambil memegang tangan kakanya dan menggoyang-goyangkannya.
Tanpa berpikir panjang Richard menyanggupi keinginan adik bungsunya itu. Nakia senang dan menarik tangan kakaknya untuk turun ke lantai bawah.
Saat berjalan ke lantai bawah, Nakia bertanya sesuatu dan terus mengoceh dan itu membuat Richard tidak bisa berkata apapun.
"Kakak...Tadi saat tidur Kia ke kamar kaka."
DEG
Semoga dia tidak melihat apa yang terjadi, batin Richard.
"Tadinya Kia mau ke kamar kakak hanya sendiri, eh papa ternyata mengikutiku."
Richard mulai cemas dan berharap dia tidak melakukan hal yang memalukan ketika tidur dan di lihat oleh ayahnya. Dia akan sangat malu. Richard menelan ludahnya dengan susah payah ketika mulai berjalan menuruni tangga.
"Saat dalam kamar Kia dan papa melihat kaka memeluk guling sangat erat dan menciuminya, apa kaka mimpi sedang memeluk wanita?" Nakia mengehentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah kakanya.
Richard yang melihat adiknya berhenti dan menatapnya meneruskan jalannya.
"Jangan banyak bicara! Cepat jalan lagi kalau mau keluar!" ucap Richard mendahului adiknya turun dari tangga.
Richard berharap Nakia tidak akan berbicara pada siapapun lagi, bagaimanapun itu adalah hal yang memalukan baginya.
Di kamar Bramantyo
Setelah melihat apa yang dilakukan anak sulungnya ketika tidur, Bramantyo mempunyai rencana untuk mencari calon istri untuk anaknya. Bramantyo duduk di tepi ranjang, sementara tangannya memegang beberapa lembar poto wanita untuk dipilih oleh anaknya.
***