My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
66



Semua wanita dikelompok Zalin fokus pada mobil sedan putih yang berhenti di depan perpustakaan. Mereka menunggu siapa yang muncul dari mobil tersebut.


Sementara Zalin setelah mengetahui yang datang adalah mobil Richard yang minggu lalu dia lihat di pantai tidak menghiraukannya. Zalin fokus menulis dibuku catatan yang ada ditangannya.


"Za, kamu ko tidak seperti mereka?," Fathan menegur Zalin yang sedang menulis.


"Tidak apa-apa," Zalin tetap menulis tidak menghiraukan keributan yang disebabkan oleh ke 4 wanita dikelompoknya.


*


Richard keluar dari mobil dan mulai berjalan mendekati yang dia curigai adalah kelompoknya.


Tanpa sepengetahuan yang lain Fathan iseng mengirim pesan pada Richard untuk segera ke kampus.


Ana, Hana, Fathia terpesona dengan wajah Richard yang menurut mereka tampan diatas rata-rata cowo yang ada dikampusnya.


"gue heran, kenapa tidak menyadari ada cowo di fakutas teknik mesin seperti dia. Padahal temanku banyak yang di teknik mesin" , pikir Ana.


*


Richard semakin mendekat ke arah kelompoknya dan mendudukan tubuhnya dikursi dekat dengan Zalin.


Sementara Fathia yang duduk dihadapan Zalin bengong melihat ke arah Richard. Fathan yang menyadari adiknya terpesona oleh Richard langsung menyenggol lengan kembarannya, hal itu membuat Fathia kaget dan berteriak.


"Apa sih!," Fathia melirik tajam ke arah kembarannya Fathan dengab wajah kesal. Sementara Fathan tidak menunjukan wajah kaget mendengar teriakan Fathia.


Zalin dan yang lainnya melirik ke arah Fathia dan Fathan secara bergantian. Mereka semua memperhatikan tingkah keduanya kecuali Richard yang memperhatikan Zalin.


Hening


"Sudah? kita lanjutkan diskusi kita, biar cepat selesaim aku ingin cepat pulang." Wily memecah keheningan yang tercipta setelah anak kembar dikelompoknya ribut.


Diskusi kelompokpun dimulai kembali.


"Jadi bagaimana ini?, kalau bukan Zalin ketuanya siapa?, Apa ada yang sanggup?," Tanya Ana sambil melihat satu persatu wajah lelaki dikelompoknya.


"Kamu siap ya Richard kalo jadi ketua kelompok?," tanya Hana.


"No! yang lain saja. Aku tidak bisa," jawabnya cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu siapa dong, ayolah kan lelaki banyak di sini masa tidak ada yang mau?," tanya Zalin.


"Kamu sajalah Wil," andika melirik ke arah teman sejurusan sekaligus teman sekelasnya itu.


"Enggak ah, aku belum pernah jadi ketua sebelumnya!," Wily melirik tajam ke arah Andika dengan kesal.


"Lo saja lah Wil yang jadi ketua, Zalin akan membantumu. Iya kan?," Ana melirik ke arah Zalin.


"Loh ko aku?," tanya Zalin sambil jari telunjuknya mengatlrah ke arah dirinya.


"Ya kan kamu permah ikut organisasi," Beni menimpali.


"Ah percuma aku protes juga. Ujung-ujungnya aku yang sekertaris nanti akan merangkap yang nunjuk-nunjuk membagi tugas kalian," pikir Zalin.


"Oke baiklah!," jawab Zalin.


"Sip lah!," Wily menimpali.


"Jadi Fix ya loe jadi ketuanya Wil?, Bagiamana yang lain, setuju ga?," Andika bertanya.


"Setuju!," jawab anggota kelompok serempak.


"Bagus!, ayo Za kamu bacakan lagi apa yang kita diskusikan!," perintah Andika.


"Ini sebenarnya yang ketua tuh Andika atau Wily sih?," gumam Zalin.


Kelompok Zalinpun melanjutkan diskusinya, hampir semuanya aktif dan berbicara kecuali Richard.


Tidak jarang saat diakusi berlangsung Fatjan iseng menjaili Fathia yang membuat Fathia merasa kesal dan menggerutu.


Richard terkadang mencuri-curi pandang ke arah Zalin, Zalin tidak menyadari bahwa Richard begitu memperhatikan setiap perkataan dan gerakan Zalin.


30 menit kemudian


"Sepertinya diskusi kita cukup sampai di sini ya?, minggu depan kita sudah mulai kelgiatan ini, kita secepatnya harus menemukan rumah yang akan kita kontrak," usul Zalin.


"Kita diskusi lewat GC WA sajalah Za," Beni mengusulkan.


"Kalau aku sih yes!," Delia mengacungngkan jempolnya ke arah Beni.


"Bagaimana dengan yang lain?," Zalin melihat satu persatu anggota kelompoknya.


"Setuju!," jawab mereka serempak.


Semua anggota menulis no WA nya, Delia adalah yang terakhir menulis dan menyerahkan buku Zalin kepada pimiliknya.


"Ini Za, semuanya telah menulis!" Delia tersenyum.


"Sudah selesaikan Za?, kalau sudah aku balik duan ya!," Beni melihat ke arah Zalin.


"Sudah," Zalin mengangguk tanda mengiyakan.


Satu persatu meninggalkam tempat diskusi, tinggal Fathia, Fathan, Richard dan Zalin yang ada di sana.


Fathan menarik tangan adik kembarnya supaya cepat berdiri dari kursi.


"Ayo cepatlah, kita pulang sekarang! kamu mau naik angkot!," bentak Fathan.


"Tidak! Aku ingin pulang denganmu," Fathia melebarkan senyumnya melihat ke arah saudara kembarnya lalu berdiri dari kursinya.


Fathan pergi meninggalkan Zalin dan Richard juga adiknya.


"Ka, tunggu dong!," teriak Fathia.


"Aku pulang duluan ya Zalin, Richard," pamit Fathia pada Zalin dan Richard.


"Iya hati-hati ya!," jawab Zalin. Sedangkan Richard mengangguk dengan wajah datar.


Fathia berjalan cepat mengejar Fathan ke arah parkiran.


*


Sepeninggal Fathan dan Fathia, Zalin memasukan alat tulisnya ke dalam tas. Sedangkan Richard memperhatikan Zalin.


"Kenapa si Richard ini belum pulang juga?," pikir Zalin heran.


Zalin telah selesai membereskan alat tulisnya dan mulai menggendong tas nya. Zalin berdiri dari kursi.


"Aku pulang duluan!," Zalin mulai melangkahkan kakinya tanpa melihat ke arah Richard.


"Kamu ga mau bareng denganku?," tawar Richard.


Richard berdiri sejajar dengan Zalin.


Zalin membalikan tubuhnya dengan sempurna, sampai dia berhadapan dengan Richard.


"Tidak, terimakasih," Zalin melihat ke arah Richard dan membungkukan sedikit tubuhnya.


"Hm, lalu kamu mau naik apa? Angkot?," Richard menautkan alisnya.


"Apaan sih ini orang, menyebalkan!," batin Zalin.


"Tidak, aku naik motor. bye!," Zalin segera meninggalkan Richard dan mulai berjalan ke arah tangga.


Sementara Richard menatap kepergian Zalin dengan wajah kecewa.


*


Zalin telah sampai di lantai paling bawah. Di sana sudah ada Briliant di atas motor. Briliant memperhatikan setiap mahasiswa yang berlalu lalang di kampus tempat dia menimba ilmu.


Saat Briliant duduk di atas motornya dengan wajah imutnya, diperhatikan sekelompok mahasiswi Zalin datang dan langsung menepuk bahu suaminya.


"Ka!," Zalin menepuk pundak Briliant.


Briliant langsung melirik ke arah belakang tempat istrinya berdiri.


"Ya ampun Yang!, mengagetkan saja!," Briliant melototkan matanya.


"Lagian kaka, bengong aja diperhatikan mahasiswi!," Zalin membuang mukanya kesal.


"Ayang, jangan marah. kan mereka yang memperhatikan kaka," Briliant mengusap lengan istrinya supaya dia tidak lagi marah.


"Cepatlah naik. Kita beli bakso!,"


"Asik, ayo berangkat!," Zalin seketika melupakan kekesalannya setelah mendengar kata bakso.


Briliat memakai helmnya dan memberikan helm yang satu lagi pada istrinya. Zalin menaiki motor setelah memakai helm yang diberikan suaminya dengan semangat.


*


Ditempat lain, di lantai 2 gedung perpustakaan kampus terlihat lelaki tampan memperhatikan kepergian Zalin dan Briliant keluar gerbang kampus.


***