My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
63



Zalin ingin lebaran dengan keluarganya dan Briliant pun mengikuti keinginan istrinya.


Saat di kamar.


"Yang, kaka punya uang tapi mungkin hanya cukup untuk baju lebaran kamu saja," Briliant tersenyum.


"Kaka bagaimana?,"


jawab Zalin.


"Kaka tidak usah beli. Masih ada baju yang dibelikan mama kemarin saat menikah," Briliant mengelus kepala istrinya.


Zalin mengangguk.


"Malam takbiran saja ya kita beli bajunya, katanya malam takbir suka banyak diskon ka!," Zalin tersenyum dan memeluk suaminya.


"Iya sayang," jawab Briliant.


Malam takbir


Untuk pertma kalinya Zalin keluar rumah saat malam takbir dia melihat sekeliling kota dipenuhi banyak orang, mesjid-mesjid ramai. Semua orang ramai mengumandangkan kalimat takbir khas lebaran. Zalin tersenyum memeluk Briliant yang sedang mengemudiakan motornya.


"Za, kita jadi ke toko yang kemarin kamu maksud?," Briliant bertanya pada istrinya itu.


"Iya ka, katanya bagus di toko AX bagus-bagus", jawab Zalin.


"Oke!," motorpun melaju ke arah toko yang Zalin maksud.


Sesampainya di area toko.


Parkiran sangat penuh sekali, Briliant beberapa kali memutar arah mencari parkiran yang sekiranya dekat dengan toko. Hasilnya nihil, tidak ada. Akhirnya Briliant memarkirkan motornya di tempat parkir yang lumayan jauh dari toko yang Zalin mau.


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Briliant dan Zalin berjalan cukup jauh. Zalin melihat suaminya berjalan dengan malas. Di sana banyak sekali orang, sesak.


15 menit kemudian, Zalin dan Brilint sampai ke toko itu. Zalin melihat ke arah toko itu dan memandangnya dengab kecewa.


"Tutup ka," Zalin menunduk lesu.


"Terus?Jadinya mau bagaimana?," tanya Briliant menatap Zalin dengan wajah datar.


"Ke toko Queen saja ka!," jawab Zalin antusias.


Briliant mengangguk dan pergi dari toko itu, kembali berjalan ditengah keramaian selama 15 menit menuju parkiran.


Briliant mengambil motornya dari parkiran dan menuju toko Queen bersama Zalin.


Sesampainya di toko Queen


Briliant langsung memarkirkan motornya di tempat parkir tepat di lantai paling bawah toko yang lumayan luas dan berlantai 4 itu.


Toko Queen terletak dipusat kota dan lumayan besar, pengunjungnya tidak seramai hari biasa.


Zalin berjalan dengan semangat diikuti oleh suaminya. Zalin memasuki toko dan dia berkeliling memilih baju. Satu persatu dia perhatikan. Dia melihat baju yang dia inginkan, saat dilihat harganya selangit, Zalin meletakan kembali baju itu. Zalin melihat ada harga yang pas, modelnya dia tidak suka.


30 menit kemudian, Briliant mulai kesal dan mendekati istrinya yang dari tadi belum berhasil menemukan baju yang dia inginkan.


"Za, bukannya kamu bilang ingin baju bermotif salur?," tanya Briliant. Zalinpun mengangguk mengiyakan.


"Itu ada," Briliant menunjuk manekin yang memakai baju dengan motif salur.


"Mau?," Briliant melihat ke arah istrinya yang sedang memperhatikan manekin itu.


"Bagus juga, aku ambil sajalah. Sepertinya ka Iyan mulai kesal," Gumam Zalin.


"Ya sudah mau," Zalin mengangguk dan Briliant meminta salah satu pegawai yang tidak jauh dari sana untuk mengambilkan baju yang diinginkan istrinya.


Setelah membayar bajunya ke kasir, Zalin langsung mengikuti langkah kaki suaminya ke arah parkiran.


Di tengah perjalanan menuju parkir, "Udah kan, ga akan kemana-mana lagi?," Briliant bertanya dengab datar tanpa menoleh.


"Enggak," jawab Zalin.


Briliant dan Zalinpun kembali dengan tidak ada pembicaraan diantara mereka sepanjang jalan.


Sesampainya di rumah


Briliant langsung ke kamar dan diikuti oleh Zalin, dan mereka langsung memasuki kamar.


Sesampainya di kamar. Briliant langsung pergi ke kamar mandi, setelah itu mengganti pakaiannya dan langsung merebahkan badan dan meringkuk dibawah selimut.


Zalin melihat sikap suaminya yang dingin membuat dia merasa sakit hati, setelah Zalin melihat suaminya menyelimutkan selimut ke tubuhnya, Zalin segera melakukan yang sama dengan Briliant.


Zalin mendekat ke arah ranjang dan naik ke atas ranjang. Zalin memeluk suaminya, tetapi tangan Zalin di singkirkan oleh Briliant.


Zalin menunduk dan merasa sedih, Zalin memikirkan cara agar suaminya tidak bersikap dingin padanya.


"Ka, kenapa? Marah ya sama Za?," tidak ada pergerakan dan jawaban dari suaminya.


"Aa mungkin ka iyan tidur?" Gumam Zalin


Zalin tidak bisa tidur karena suaminya mendiamkannya, dia berusaha mengusap lengan Briliant dan memintanya bangun tetapi Briliant tidak menanggapi.


"Aku harus bagaimana lagi?" Zalin mulai menangis karena tidak diperdulikan oleh suaminya. Pikirannya jauh, dia memikirkan bagaimana kalo Briliant akan meninggalkannya.


Zalin menjauhi tubug suaminya dan mulai menangis tidur meringkuk sendiri diujung ranjang melihat punggung suaminya.


Aku yakin, ka Iyan belum tidur. Kenapa dia tidak mau menanggapiku? . Batin Zalin.


30 menit berlalu, Zalin mulai kehabisan akal dia tidak ingin terus menangis dia ingin segera urusannya selesai. Zalin sangat sulit untuk memejamkan matanya.


"Apa ka Iyan sudah tidur?," Gumam Zalin


"Sepertinya ka iyan sangat lelah dan tidak terbiasa berjalan-jalan malam, dia juga pasti mengingat keluarganya di kota Q," bisik Zalin.


Zalin mendekati tubuh suaminya dan langsung memeluknya dengan erat dari belakang seakan takut kehilangan.


"Ka, ma'afkan Za ya. Za, ga akan lagi seperti tadi. Membuat kaka cape," Zalin mulai terisak kembali dipunggung Briliant.


Briliant membalikan tubuhnya dan membalas pelukan istrinya itu. Zalin merasa senang dan senyuman mulai terbit dibibirnya.


Ya ampun, ternyata aku harus meminta ma'af. Kalau tau begitu daritadi sudah aku katakan. Batin Zalin.


"Ka, ma'afin Za ya. Ma'afin," Zalin menenggelamkan kepalanya di atas dada suaminya.


Kalimat yang terlontar dari bibir istrinya dibalas elusan di kepala Zalin dengan lembut, "Iya sekarang tidur ya sayang. Besok kan lebaran," Zalin mengangguk dan mulai menutup matanya.


"Ka iyan, sifatmu mulai terlihat satu persatu dan aku harus mengimbanginya" Gumam Zalin.


"Kamu bicara apa yang?," Briliant melihat ke wajah istrinya dan Zalin menggeleng di pelukan Briliant.


Mereka berduapun tidur dengan posisi yang sama-sama nyaman dan dengan hati yang tenang.


Keesokan harinya.


Semua anggota keluarga di rumah Zalin pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholai ied. Kecuali Zalin, karena dia ada tamu bulanan.


Tadi pagi sebelum adzan subuh, Zalin mendapati dia kedatangan tamu bulanannya dan membuatnya cemberut mengadu pada suaminya. Briliant hanya tersenyum lalu memeluknya untuk meredam kekecewaan istrinya yang belum juga kunjung hamil.


Sepulang sholat ied, Briliant memasuki kamar karena Zalin masih ada di kamar. Briliant melihat istrinya sedang becermin. Saat mengetahui suaminya sudah kembali Zalin langsung menghamirinya dan salaman padanya.


"Selamat idul Fitri, Mohon ma'af lahir batin ya ka!," Zalin salaman pada suaminya.


Briliant langsung memeluk Zalin "Ma'afkan kaka ya Yang, kaka banyak salah sama kamu. Belum bisa membahagiakan Za," Brilint berbicara dengan suara sedikit terisak.


Zalin yang mendengarnya tertegun dan mengusap punggung suaminya pelan, "Iya ka, semoga nanti kita bahagia ya semoga lebaran tahun depan kita udah bertiga".


Briliant melepaskan pelukannya dan mencium kening istrinya, "Terimakasih sayang, aamiin," Briliant tersenyum menatap Zalin yang juga sedang tersenyum padanya.


***