My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
24



Zalin bingung melihat sikap Briliant. Dia memasukan hp nya kedalam saku roknya. Zalin merasa bingung, sangat bingung. Zalin segera berjalan ke arah kasir dan membayar celengan besar dengan karakter doraemon untuk Briliant. "Terimakasih" kasir memberikan senyum ramahnya sambil menangkupkan kedua tangannya "Iya" Zalin menanggapi.


Zalin segera keluar dari toko tersebut. ia melihat suasana jalan raya yang begitu padat dengan kendaraan, melihat banyak para pejalan kaki. Zalin menelusuri sekitar, berharap Briliant masih ada di sana. nihil. tidak ada. "Ah aku pulang saja" Zalin mengarahkan badannya dan mulai berjalan ke sebelah kiri toko. padahal jika dia ingin segera pulang lebih dekat kalau belok kanan 10 meter berjalan juga bakal dapat angkot untuk sampai ke rumahnya.


Zalin berjalan dengan menggendong ransel dan menenteng kantong yang berisi celengan yang lumayan berat.


Perasaan Zalin tidak menentu, aneh. Zalin lebih memilih jalan gang. "Ah ka iyan kenapa sih?" Zalin menendang batu-batu kecil yang dia lewati. Zalinpun mengambil hp nya dari saku roknya. dia melihat layar tidak ada pesan masuk. Saat Zalin membuka semua aplikasi di HP nya. Zalin terkejut. Zalin menghentikan jalannya di gang tersebut. "AAAAAAAHHHH!!!! AKU LUPA MENG UNINSTAL BBM NYA!!!!" jerit hati Zalin


"Aaaaah! Bagaimana ini? Aduh ya ampun!" Zalin mengatur nafasnya. "Semoga BM an aku sama ka Evan udah aku hapus" Zalin membuka aplikasi BBM nya. "AH! MASIH ADA CHAT SEMALAM SAMA KA EVAN!" Zalin merutuki kebodohannya. Zalin kembali berjalan dan tersenyum sudah tahu mengapa Briliant bersikap aneh secara tiba-tiba. Zalin sudah keluar dari gang dan kembali berjalan di trotoar jalan raya.


"Ah ka iyanku kayanya cemburu" Zalin melihat teman SMA nya melintas menaiki motor dan teman SMA nya tersenyum pada Zalin. Zalin tersenyum kaku. perasaannya sedang tidak karuan. Zalin terus berjalan. sangat jauh. untuk sampai ke jalan yang ada angkot menuju rumahnya.


30 menit kemudian


Zalin melihat angkot yang menuju rumahnya, dia menunggu beberapa menit. dia berharap Briliant menghubunginya.


10 menit kemudian


Briliant tidak mengirim SMS ataupun menelponnya.


Zalinpun mendekati angkot yang masih diam ditempatnya sedari tadi.


Setelah Zalin duduk 5 menit di angkot.


dert... dert...


pesan masuk.


Zalin membuka pesan di hp nya.


•Briliant Anggara


Za, kalau kamu mau meneruskan hubungan ini. kita ketemu sekarang.


Ih dari tadi ditunggu ga menghubungi. aku udah naik angkot baru menghubungi. besok ajalah. tanggung


Zalinpun mengirim balasan pada Briliant.


•Zalina Salim


ka, aku udah naik angkot. besok aja bisa ga?


Zalin menunggu balasan dari Briliant, Briliant tidak membalas. Angkot yang dinaiki Zalinpun melaju karena sudah cukup penuh penumpang. Zalin dengan setia memegang hp dan memangku celengan doraemonnya.


setelah 15 menit angkot melaju


dert.. dert...


pesan diterima


Zalin langsung membuka pesannya


•Briliant Anggara


terserah. kalau mau menyesalaikan masalah harus hari ini. kaka dekat SMK pertanian


Aduh kalo ga diberesin bisa putus aku sama ka Iyan


Zalin mengirim pesan balasan untuk Briliant


•Zalina Salim


iya ka, Za ke sana sekarang.


"Kiri...." Zalin mengehentikan angkotnya. Zalin membayar ongkos dan menyebrang jalan lalu naik angkot menuju SMK pertanian Briliant tak membalas pesan Zalin.


3 menit kemudian


dert.. dert..


pesan masuk


Zalin segera membuka pesannya


•Briliant Anggara


kita ketemu di taman kota


"Akhirnya membalas juga" batin Zalin


10 menit kemudian Zalin sudah duduk ditaman kota


5 menit kemudian, Briliant datang dengan wajah yang murung.


Briliant duduk di samping Zalin. Beberapa saat hening, tidak ada yang brani memulai percakapan. Karena Zalin merasa dia bersalah, dan sudah lelah menunggu Briliant berbicara. Zalinpun mulai bersuara. "Maaf ka" Zalin menunduk, "Hm... untuk?" Briliant berkata datar sambil tak melihat ke arah Zalin. "Karena udah meng instal BBM" Zalin masih menundukan kepalanya dan merasa menyesal.


"Kaka serius sama Za, usia kaka ga pantas lagi kalau hanya main-main. jika Za, hanya ingin main-main, kaka nyerah. kaka ga mau" Briliant berkata dengan hati-hati. Seketika Zalin melihat ke arah Briliant, "Mata ka iyan kaya yang mau nangis, dia kayanya sungguh-sungguh. kayanya ka iyan terluka saat tau aku masih berhubungan dengan ka Evan" batin Zalin. Briliant memutarkan sebuah lagu, lagu "terlatih patah hati". Zalin dan Briliant mendengarkan lagu tersebut di bawah langit yang mulai ditinggalkan mentari.


Teduh, suasana mulai dingin. angin bertiup sepoi-sepoi. Sambil mendengar lagu Zalin berpikir keras bagaimana caranya agar Briliant tersenyum kembali.


Aha. aku tau gimana caranya!


Setelah lagu itu selesai. Zalin mendekati Briliant. Zalin menggeser duduknya. "Maafkan Za, ka" Zalin memperlihatkan layar hpnya ke hadapan Briliant. "Lihat ini ya" Zalin memerintah pada Briliant. Briliant memperhatikan apa yang dilakukan Zalin


Zalin menghapus kontak BBM Evan, meng unisntal BBM dan menghapus kontak telepon Evan. "Selesai" Zalin tersenyum. "Udah ya jangan ngambek lagi. ma'afin Za, ka" Zalin menunduk menghadap Briliant. Briliant tersenyum "Iya, jangan gitu lagi ya. kaka mau serius sama Za, gamau main main" Briliant memegang kedua bahu Zalin. "Lihat mata kaka" Briliant memandang wajah Zalin. Zalinpun menurut. "Kita selfie yuk" Briliant mengerlingkan matanya. Lalu suasanapun hangat kembali dan Kedua sejoli sudah biasa kembali perasaannya. Ditengah Zalin dan Briliant ber selfie ria, ada panggilan masuk.


"adari ibu" bisik Zalin


"Angkat" bisik Briliant.


Zalinpun langsung mengangkat panggilan dari ibunya


"Assalamualaikum"


"............."


"Udah bu... sekarang mau pulang"


"............."


"Iya bu. waalaikumsalam"


Zalin mengakhiri panggilannya.


"Ka, Za di suruh pulang. udah sore" Zalin berdiri dari duduknya. "Ayo kita pulang"Briliant menggandeng tangan Zalin dengan semangat dan wajah berseri-seri. Zalin dan Briliantpun berjalan menuju gerbang taman kota.


Saat Zalin bergandengan tangan dengan Briliant, ada beberapa anak SMP yang memperhatikan mereka berdua. "Ka, adiknya ganteng ih!" Seru salah satu anak SMP itu. Zalin mengkerutkan dahinya ke anak SMP tersebut dan tidak menanggapi dengan kata-kata. Briliant yang mendengar anak SMP tersebut dan melihat reaksi Zalin hanya tersenyum gemas.


"Lagi-lagi ada yang menyangka kamu adik aku ka iyan!" Zalin menggerutu kesal. "Memang kenapa? haha..." Briliant tertawa melihat kekesalan Zalin. Zalin menghentikan langkahnya dan memandang tajam Briliant. "Ma'af-ma'af. ayo pulang nanti ibu marah loh. kan aku takut di pecat jadi calon mantu ketemu aja belom" Briliant menunduk


"Kaka mau ketemu ibu? Ke rumah aja mau?Tapi bawa oleh-oleh dari kota kaka?" Zalin tersenyum pada Briliant


"Mau. Oke deh Za, berarti ke rumah Za nya nanti sepulang kaka dari kota kaka, seminggu lagi" Briliant tersenyum pada Zalin. "oke.. beres!" Zalin mengacungkan jempolnya. "Ini celengan buat kaka. di isi ya!!!" Zalin menyerahkan celengan doraemonnya pada Briliant. Briliant hanya tersenyum menanggapinya.


Zalinpun seperti biasa diantar sampai naik angkot oleh Briliant. dan Briliant pulang ke rumahnya


***