
"Mbak bangun," seorang perawat membangunkan Zalin.
Zalin membuka matanya, Zalin seorang perawat lelaki memakai jubah hijau memakai kacamata dan masker menutup mulut dan hidungnya di samping blangkarnya.
"Mbak tidur?" tanyanya.
"Iya, semalaman saya tidak tidur."
"Oh iya, ini anak ke berapa?" tanyanya lagi sambil memasang infus di tiang infus.
"Anak pertama," jawab Zalin cepat.
"Wah anak pertama Sc? kenapa mbak?"
"Gatau nih, kayanya bayinya susah keluar. Ini udah pembukaannya lengkap."
"Udah pembukaan 10?" perawat itu menatap Zalin tidak percaya.
Zalin mengangguk sebisanya.
"Ya tidak apa-apa operasi juga ya mbak, yang penting bayi dan ibunya selamat."
Zalin hanya tersenyum menanggapi pernyataan perawat itu.
"Oh iya mbak, kapan mbak nikahnya?" tanya perawat penasaran.
"Ngapain nanya kapan nikah? apa takut yang aku lahirkan adalah anak diluar nikah?" pikir Zalin.
"11 bulan yang lalu," jawab Zalin.
Perawat menganggukan kepalanya.
Tidak lama setelah obrolan itu, pasukan operasi datang. Orang-orang itu berjumlah lebih dari 4 orang lebih. Salah satunya adalah seorang perempuan.
Seorang perempuan itu adalah dokter aneatesi tang bertugas menyuntikan obat bius.
Dokter perempuan itu mendekati Zalin dan menyuruh Zalin untuk duduk. Zalin mendudukan tubuhnya.
"Saya suntik dulu ya," ucap dokter itu.
Dokter membuka tutup suntik dan mulai menyuntikannya ke punggung Zalin, tepatnya dekat tulang sumsum belakang.
Zalin sedikit meringis saat jar itu disuntikan dan cairan itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Ayo, sekarang berbaring lagi." pinta dokters itu.
Zalin berbaring dibantu oleh seorang perawat.
Setelah berbaring, dokter yang memeriksanya tadi saat di ruangan mendekati Zalin.
"Bu, angkat kaki kanan." pinta Dokter kandungan.
Zalin menggeleng seraya berkata, "Tidak bisa dok."
"Oke, siap!"
"Loh loh, aku ini sadar? apa bius nya ga total? jadi aku akan tau bagaiman perutku di belah?" batin Zalin.
Tidak lama kemudian sebuah tirai hijau dipasang tepat di atas dada Zalin.
"Ah, untunglah aku tidak akan melihat," pikir Zalin.
Lampu operasi mulai dinyalakan dan Zalin mulai panik sendiri.
Zalin mendengar suara meja di dorong, Zalin langsung melihat ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya dia saat melihat meja yang di atasnya berjejer gunting dan pisau mulai dari yang kecil sampai yang ukuran cukup besar.
Glek
Zalin berusaha menelan ludahnya tapi sangat sulit. Zalin memperhatikan keadaan sekitar. Orang yang memakai jubah operasi berwarna hijau itu semuanya memakai masker dan sarung tangan karet. Di atas Zalin sudah ada tirai hijau yang menghalangi pandangan Zalin ke arah perutnya.
Meja yang berisi gunting dan pisau sudah berpindah tempat entah sebelah mana. di sebelah kanan Zalin sudah ada alat pendeteksi jantung. Sebuah selang menempel dihidungnya, dan kedua tangan Zalin sekarang terpasang dua jarum infus.
Zalin merasa dirinya sedang bermain film.
"Ah ini seperti yang ada di film-film dan aku ini adalah artisnya," batin Zalin.
Salah satu orang di sana adalah orang yang mepmpunyai tugas memperhatikan alat pendeteksi jantung adan infus Zalin.
Zalin merasakan ada sentuhan horizontal diperutnya.
"Sepertinya perutku sedang di belah nih," pikir Zalin.
Karena Zalin kepo dan ingin tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, Zalin melihat ke arah lampu sorot. Di sana Zalin melihat apa yang sedang dokter lakukan pada perutnya.
Dokter menggoyangkan perut Zalin, Zalin merasa mual dibuatnya. Zalin merasa ingin muntah, Zalin berusaha menelan ludahnya tetapi tidak bisa.
Zalin menitikan airmata karena dia merasa sangat mual sekali tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Tangan kanan Zalin di rentangkan disebuah besi kecil.
"IBU, .. IBU KENAPA?!" ucap dokter.
"Ga apa-apa," jawab Zalin santai.
"Ngagetin aja nih si Ibu."
Zalin tersenyum karena tingkahnya dokter itu menjadi panik.
Zalin berusaha tenang, dia tidak lagi mau melihat lampu sorot itu. Zalin tidak kuat melihatnya.
Selama operasi berlangsung para dokter dan para asisten sibuk mengobrol segala hal, seperti mereka sedang tidak ada dalam keadaan genting. Mungkin itu dilakukan agar pasien tidak tegang.
Zalin mendengar apapun yang mereka bicarakan sampai akhirnya.
"*Wah ini bayinya nyungseb, susah banget di angkatnya."
"Sungsang nih bayinya*."
Dokter dan asistennya heboh.
Zalin hanya bisa berdo'a.
"Kaka utun, semoga kamu baik-baik saja," batin Zalin.
Setelah mengalamu sedikit kesulitan, akhirnya dokter bisa mengangkat kaka utun.
Tapi....
"Bayinya tidak menangis," bisik dokter.
Dokter dan asistennya berbicara berbisik sehingga tidak dapat terdengar oleh Zalin.
"Cepat bawa ke ruangan khusus bayi!" dokter panik.
Dokter anak berjalan cepat mengikuti asistennya yang membawa bayi Zalin ke ruang khusus bayi karena bayi Zalin harus mendapat penanganan segera.
Sementara Zalin tidak menegetahui bahwa bayinya sudah diangkat dari perutnya dan dibawa langsung ke ruangan bayi karena bayinya tidak menangis.
Dokter melanjutkan operasi Zalin.
Ditempat lain, asisten dokter dan dokter anak membawa bayi Zalin ke luar ruangan operasi dengan cepat.
"Siapa keluarga dari Ibu Zalina Salim?" tanya dokter anak saat keluar ruangan.
Di luar ruangan ada beberapa kelompok keluarga yang sedang menunggu keluarganya yang sedang operasi.
Briliant, Paman Andrean, ibu dan ayah Zalin yang ada sana langsung menghampiri dokter anak dan asistennya yang masih memakai jubah hijau.
"Kami," ucap Briliant cepat.
"Ini bayi Ibu Zalina, mari ikut saya sagera."
Briliant, paman Andrean, ayah dan ibu Zalin segera berjalan mengikuti bayi dan dokter serta asisternnya itu.
"Tunggu!!" dokter membalikan badannya dan keluarga Zalin ikut menghentikan langkahnya.
"Kalau semuanya ikut sama bayinya, terus siapa yang menunggu ibu Zalina?!" Doktet mengekerutkan keningnya.
Paman Andrean tersenyum.
"Za, baru juga bayi kamu lahir. Semua oramg sudah melupakanmu," batin Andrean.
"Ya sudah, Iyan sama Andrean ikuti bayinya. Biar ibu dan ayah yang menunggu Zalin." ucap Ibu Zalin.
Setelah itu, Ibu dan ayah Zakin kembali ke tempat semula, sementara Briliant dan Andrean mengikuti bayinya.
Di ruang operasi
Zalin telah selesai menjalani operasi. Alat pendeteksi jantung telah di lepaskan dari Zalin, layar yang ada di atas dada Zalin sudah tidak ada. Semua peralatan operasi dudah tidak ada di ruangan itu. Pasukan hijaupun satu persatu keluar ruangan operasi.
Zalin kini di pindahkan ke blangkar dan tubuh Zalin ditutupi kain batik yang tadi ada bersamanya sebelum operasi.
"Bawa ke ruang transit," ucap dokter.
Blangkar Zalin melanju menuju ruangan yang dokter sebut ruang transit.
Tidak lama kemudian Zalin memasuki ruangan yang di sana ada beberapa pasien yang baru saja selesai menjalani operasi seperti dirinya.
Setelah Zalin ditempatkan di sebelah belangkar seorang bapa-bapa, seorang oerawat perempuan menghampiri Zalin dan menutup tubuh Zalin dengan selimut miliknya.
Tubuh Zalin mengigil kedinginan, dia merasa sangat dingin sekali.
"Bagaimana kondisi kaka bayi? kenapa dokter tidak memperlihatkannya dulu padaku?", Batin Zalin.
***