
Zalin dan Briliant duduk diatas tepi tempat tidur sambil memperhatikan tespek di wadah kecil.
3 menit kemudian, Briliant berdiri dan mengangkat tespek tersebut dari wadah. Briliant menepuk-nepuk tespek itu ke sisi wadah kecil itu. Setelah di rasa tidak ada cairan dalam tespek itu, Briliant mengangkatnya sampai ada di depan matanya.
Zalin ikut memperhatikan tespek yang kini sudah di pegang oleh suaminya tersebut.
"Ka, bagaimana hasilnya?," tanya Zalin sambil menepuk pundak Briliant dengan cukup keras.
Briliant segera membalikan tubuhnya dan melihat ke arah Zalin dengan lemas. Briliant menunduk dan menurunkan kedua tangannya.
Zalin yang melihat reaksi Briliant langsung menyimpulkan.
"Ya sudahlah ka, nanti juga akan hamil, walau tidak sekarang. Kita berdo'a saja ya," Zalin mengusap bahu Briliant pelan sambil tersenyum tulus.
Briliant mengangkat wajahnya dan menatap lekat wajah Zalin, beberapa detik Zalin dan Briliant saling pandang dengan wajah Briliant yang tanpa ekspresi.
Briliant tersenyum dan memperlihatkan tespek ke arah Zalin.
"Selamat, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu," ucap Briliant senang.
Zalin menatap tespek yang dipegang oleh suaminya itu, memperhatikan tanda yang ada di sana. Zalin melihat ada dua garis strip merah di tespek tersebut. Mata Zalin melirik ke arah mata Briliant, sementara Briliant masih tersenyum masih dengan posisi yang sama.
"Positif?," tanya Zalin.
Briliant mengangguk dan merentangkan tangannya. Berharap Zalin datang memghampiri dan memeluknya.
Zalin menatap langit-langit kamar dan tersenyum lalu mengelus perutnya yang masih rata itu.
Briliant yang melihat istrinya tidak merespon langsung menyimpan tespek ke atas meja lalu menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat, Zalin membalas pelukan suaminya dengan begitu bahagia.
"Apa kamu senang sayang?," tanya Briliant sambil mengelus kepala Zalin.
Zalin mengangguk dan berbisik.
"Akhirnya nanti saat cuti kuliah bisa melahirkan juga," Zalin terkekeh.
"Iya sayang, semoga kamu bisa membagi waktu sebagai mahasiswa, istri dan ibu ya!," Ucap Briliant masih memeluk istrinya dengan nyaman.
Cukup lama sepasang suami istri itu berpelukan, sampai akhirnya Zalin bersuara.
"Ka, mau sampai kapan kita berpelukan seperti ini?," tanya Zalin.
Briliant melepaskan pelukannya dan tersenyum lalu mengacak rambut Zalin.
"Ka iyan," Zalin menautkan kedua alisnya dan merapikan rambutnya.
Briliant nyengir menunjukan deretan gigi putihnya ke arah Zalin. Setelah itu, Briliant berjongkok di hadapan Zalin lalu mengusap perut istrinya pelan.
"Ih, bicaralah yang bagus!," protes Zalin.
"Ibumu pinter nak, jadilah anak pintar ya sayang," Ucap Briliant, Zalin memperhatikan setiap ucapan suaminya itu.
"Baik-baik ya di sini! Ayah akan mengusahakan yang terbaik untukmu dan ibumu," sejenak Briliant melihat ke wajah Zalin dan tersenyum, senyuman Briliant mendapat balasan dari Zalin.
"Za, kamu ingin anak kita mirip siapa? Mirip kaka atau kamu yang?," tanya Briliant.
"Ingin mirip denganmu, aaah sepertinya akan tampan dengan hidung mancung dan wajah imut," Zalin membayangkan wajah seorang bayi yang menggemaskan membuat dirinya tersenyum ke sembarang arah.
"Kalau perempuan akan mirip dengan Jeanika dong? Kan Jeje mirip dengan kaka wajahnya?," tanya Briliant sambil menegakan tubuhnya mensejajarkan posisinya dengan istrinya.
"Tidak apa, kan Jeje juga tantenya," jawab Zalin sambil menjulurkan lidahnya.
"Oke, baiklah...," jawab Briliant.
"Tapi, sepertinya sifat anak kita akan seperti kamu yang," Briliant tersenyum.
Zalin memperhatikan wajah suaminya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Briliant katakan.
"Dia akan bawel, Cerewet dan banyak bicara seperti ibunya," Briliant tersenyum dan langsung memeluk kembali Zalin.
Zalin yang ingin protes karena kata-kata Briliant tidak jadi, karena tubuhnya yang dipeluk oleh suaminya membuat hormon bahagianya muncul kembali.
Zalin tersenyum menerima pelukan suaminya yang jika terlihat lebih imut jika sedang tersenyum. Zalin membalas pelukan kak Iyannya dengan perasaan sangat bahagia.
"Kamu harus menjaga kandunganmu ya sayang! aku yakin anak kita akan menjadi pintar seperti ibunya dan akan imut seperti ayahnya," Ucap Briliant.
"Aamiin, jangan terlalu kencang dong meluknya. Sesak nih!," protes Zalin.
Briliant terkekeh dan melonggarkan pelukannya dengan menciumi leher Zalin, sampai Zalin merasa geli dibuatnya.
.
.
.
.
.
Terimakasih untuk yang selalu memberi dukungan pada uni melalui Like dan votenya ya, ini sudah ada di part akhir **My Love My Cute Husband.
Terimakasih uni ucapkan, Nanti akan ada bonus Chapternya ya**...