
Walaupun ka Iyan tidak mengatakan aku harus seperti ibunya. Aku akan berusaha belajar memasak pada mama mertua. Bagaimanapun dari kecil, lidah ka Iyan sudah terbiasa dengan hasil masakan ibunya. [Zalina Salim]
πππ
Alhamdulillah istriku ingin belajar memasak pada mama. Sepertinya dia ingin membuatku makin sayang padanya. Pandai sekali kamu mengambil hati orang Za. [Briliant Anggara]
πππ
SELAMAT MEMBACA...
Briliant memasuki ruang tamu untuk menghampiri istrinya, Zalin.
Briliant melihat istrinya sedang melamun. Zalin tidak menyadari bahwa Brikiant sedang memperhatikannya.
Dengan langkah pelan, Briliant mendekati Zalin dan duduk disampingnya.
"Lagi mikirin apa sih kamu Yang, kayanya serius amat? Apa jangan dia lagi mikirin mantannya?!" Gumam Briliant menerka-nerka
Briliant menepuk pundak Zalin sambil bertanya, sampai Zalin terkaget dibuatnya ldan langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
...
"Lagi mikirin apa?!" Briliant menepuk Pundak istrinya
Zalin berjingkat dari duduknya karena kaget "Belajar masak sama mama!"
Briliant tersenyum.
Kukira kamu mikirin mantanmu Yang, aku udah suudzon. Batin Briliant
"Eeeh.. ka Iyan!" Zalin melototkan kedua matanya "Mengagetkan saja" Zalin memanyunkan bibirnya.
"Hehe.. " Briliat tertawa kecil dan memeluk Zalin dari samping.
Zalin menjauhkan sedikit badannya saat dipeluk oleh suaminya, "Ka... nanti ada Mama sama Jeje loh" Bisik Zalin
"Kenapa sih harus takut gitu, kan kita udah sah?" Brikiant memberikan senyuman mautnya pada Zalin.
Jangan senyum seperti itu ka, membuatku gemas ingin menggigit. Batin Zalin
"Malu" Kata itu lolos begitu saja dari bibir Zalin
"Emm... " Briliant melepaskan pelukannya dan berbisik pada Zalin.
"Lebih enak tinggal berdua kan? Iyakan? Iyakan?" Briliant menjauhkan bibirnya dari telinga Zalin dan melihat ekspresi istrinya.
Zalin sedikit membuang mukanya.
Mau bilang iya, ga sanggup aku. hahaha. Zalin menahan tawanya.
"Bilang aja iya! Susah banget sih Yang" Briliant mencubit hidung istrinya.
"Sakit Ka! Seneng banget nyubit pipi Za kayanya" Zakin melipat tangannya diatas perut.
"Hehe.. biar lebih mancung" Briliant mengusap kepala istrinya.
"Dasar" Zalin mendengus kesal.
"Yang, kata kamu tadi ingin belajar masak sama mama? Mama ka Iyan?" Tanya Briliant menyelidik.
"Iyalah.. Mama mana lagi selain Mama ka Iyan? Za kan manggil ke mama Za, Ibu" Zalin cengir.
"Bagus Yang kalau kamu mau belajar masak, nanti kamu akan lebih jago masaknya" *muuaaah* Briliant mencium pipi istrinya.
Bluuushh, pipi Zalin merah merona dan menunduk.
"Ih ka Iyan! Gimana kalau ada yang lihat?" Zalin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kita kaya orang yang pacaran saja Yang"
"Hmm..."
πππ
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"Jawab Zalin dan Briliant kompak.
"Mama datang Yang.. " Briliant berdiri diikuti oleh Zalin. Mereka berjalan ke arah sumber suara.
Mama Briliant baru pulang belanja.
Briliant berjalan di depan Zalin ke teras belakang rumahnya.
Saat diambang pintu, Briliant melihat mamanya berdiri dan dibawahnya terdapat dua kantong kresek merah berukuran besar.
"Mama kenapa ga bilang pulang? Kan bisa Iyan jemput" Briliant menghampiri mamanya.
"Sini biar Iyan yang bawa, satu-satu saja" Briliant nyengir pada mamanya, Mama Briliant hanya geleng-geleng kepala.
Sedangkan Zalin melihat dari dekat pintu suaminya tergopoh-gopoh membawa satu kantong kresek berwarna merah yang berisi belanjaan mama mertuanya.
Wiih mama mertuaku banyak sekali ya belanjanya? Batin Zalin
Mama Briliant menghampiri Zalin, Zalinpun menyambut mama mertuanya "Ayo Za, duduk saja disofa ruang tv. Biarkan Iyan mengangkat belanjaan mama" Mama Briliant berjalan menuju sopa dekat ruang Tv, diikuti menantunya Zalin.
πππ
Brilant sudah memindahkan belanjaan mamanya ke dapur, ia langsung bergabung dengan mamanya dan istrinya duduk di sofa ruang TV. Briliamt duduk di sofa tunggal, sedangkan Zalin dan mamanya duduk di sofa yang panjang.
"Za, mau pulang hari ini" Tanya mama Briliant
Zalin mengangguk "Iya ma"
"Ga mau nginep dulu di sini?" Mama Briliant memandang menantunya.
Zalin yang bingung menjawab apa melirik ke arah suaminya, dan Briliant mengerti mengapa istrinya melirik dirinya.
"Kapan-kapan saja Ma" Briliant menjawab pertanyaan mamanya yang ditujukan untuk Zalin.
Mama Briliant mengerti.
"Za, apa betah kemarin menginap di sana (Rumah Briliant)?" Tanya mama Briliant serius
"Alhamdulillah betah ma" Zalin tersenyum pada mama mertuanya.
"Bagus kalau begitu"
Briliant menikmati camilan yng tersedia diatas meja, sambil sesekali dia meminum air putih yang ada dalam gelas di atas meja.
"Za, jangan manjakan Iyan ya!"
Jangan manjakan ka Iyan?. Batin Zalin
Briliant yang merasa mamanya mulai membahas tertang dirinya melirik sebentar ke arah dua wanita yang ada di depannya.
Apa yang akan mama bicarakan tentangku pada Zalin?. Batin Briliant
"Za, Iyan itu sedikit manja. Za harap maklum ya?" Mama Briliant mengusap lengan menantunya. Zalin mengangguk menanggapi ucapan mama mertuanya.
"Kalo ada pekerjaan apapun, suruh saja Iyan! Jangan sungkan-sungkan ya Za"
Mama Iyan melirik ke arah Briliant yang sedang memakan camilan di toples yang dia peluk.
"Lihatlah Za.. Begitulah Iyan kalo di rumah, seperti anak kecil"
Briliant yang mendengar penuturan mamanya langsung memanyunkan bibirnya tanpa berkomentar. Mama Briliant melihat lagi ke arah Zalin.
"Mama tidak pernah menyuruh Iyan mencuci baju atau piring sedari kecil, mama hanya mengajarkan pada adiknya karena adiknya kan perempuan"
Zalin memperhatikan setiap ucapan mama mertuanya itu.
"Walaupun dulu Iyan pernah bekerja sebelum kuliah, saat kuliah tinggal sendiri dan di tuntut mandiri. Kalau dia pulang ke rumah, tidak mandiri lagi"
Sepersekian detik, Zalin melirik suaminya..
Ka Iyan ternyata manja. Pikir Zalin
"Nah Iyan! Lihat ke sini!"
Mama Briliant memerintahkan anaknya supaya memperhatikannya, dan Briliant langsung menyimpan toples makanan yang dia pegang ke atas meja.
"Nak, kalo tinggal di rumah Zalin atau tinggal bersama hanya dengan Zalin. Bantulah pekerjaan rumah tangga, cuci baju atau apapun itu. Jangan biarkan Zalin cape sendiri!" Mama Briliant menekan kalimat terakhirnya.
Briliant mengangguk, mengerti apa yang diinginkan mamanya.
"Terus, kalau di rumah Za jangan diam terus. Cari pekerjaan yang sekiranya bisa kamu kerjakan. jangan jadi orang pemalas, inget.. sekarang kamu udah punya istri" Mama Briliant melirik ke arah Zalin.
"Iya ma, Iyan ngerti"
"Bagus"
"Za, masih inget kan pesan mama saat lamaran?" Mama Brliant mengalihkan perhatiannya pada menantunya, dan Zalin mengangguk.
"Apa sekarang iyan sering main game?"
Zalin menggeleng "Tidak ma"
Mama Briliant tersenyum melihat ke arah anaknya "Iyan, kalau perlu hapus game di Hp mu. Itu mengganggu, mending kalau menghasilkan uang!"
Briliant mengangguk.
Sepersekian detik, hening
"Kalian jadinya mau pulang sekarang?"
Briliant dan Zalin mengangguk.
"Ya sudah kalian berangkat sekarang saja nanti keburu hujan, Tunggu ya mama punya beras merah untung Ibu Za"
Mama Briliant berjalan menuju dapur dan tidak lama kemudian membawa satu kantong beras merah.
Mama Briliant menyerahkan beras itu pada Briliant "Ini, kamu yang bawa Yan".
"Nah, Za... ini buatmu" Mama Briliant memberikan sejumlah untuk menantunya.
"Terima saja, iyan kan belum bekerja" Mama Briliant tersenyum pada Zalin memaksa agar uang yang dia berikam diterima menantunya.
Zalin tersenyum dan menerima uang itu "Terimakasih ma"
"Sama-sama Sayang"
Briliant manyun melihat Zalin menerima sejumlah uang dari mamanya.
Briliant dan Zalinpun pamit pada Mamanya.
πππ
Ditengah perjalanan, Briliant melihat istrinya tersenyum dari kaca spion.
"Yang, kenapa senyum-senyum"
"Dapat uang. heheh"
"Bagi dua"
"Engga! Kata mama ini buat Za.. weeeek" Zalin menjulurkan lidahnya melihat ke arah spion dan Briliant mendengus kesal.
"Iiih! Sebenarnya anak mama tuh aku atau kamu sih Yang?"
Zalin tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya.
"Kaka curiga, kedepannya kamu yang akan menerima jatah untuk kaka.. " Briliant berkata dengan lemas sambil mengemudikan motornya.
"Cie Cemburu. Cup.. cup... Sabar ya ka" Zalin mengusap-ngusap pundak suaminya.
"Bagi dua ya uang yang tadi?" Pinta Briliant antusias
"Engaaaaa mauuuu" Zalin sedikit membuang mukanya, dan Briliant mendengus kesal.
πππ
.
.
.
Jangan lupa sukai πsetiap babnya
Pavoritkan β₯ novelnya agar tidak ketinggalan info up episode selanjutnya
Jangan lupa vote nya
Kasih penilaian 5 β
Di tunggu kritik, saran dan komentarnya ya para pembaca
Dukungan kalian sangat berarti untuk uni.
Makasiiiih semuaaa