
Zalin yang mendengarnya tertegun dan mengusap punggung suaminya pelan, "Iya ka, semoga nanti kita bahagia ya, semoga lebaran tahun depan kita udah bertiga".
Briliant melepaskan pelukannya dan mencium kening istrinya, "Terimakasih sayang, aamiin," Briliant tersenyum menatap Zalin yang juga sedang tersenyum padanya.
Zalin dan Briliantpun melewati hari lebarannya bersana keluarga Zalin dab berkumpul bersama keluarga besar Zalin dengan suka cita.
Keesokan harinya
Briliant dan Zalin berangkat ke kota Q untuk bertemu keluarganya. Zalin membawa beberapa baju karena setelah dari rumah ibunya Briliant mengajaknya berlibur ke pantai. Sedangkan Briliant tidak membawa baju satupun.
Saat diperjalanan menuju kota Q
Zalin memeluk Briliant dan melihat ke arah depan, fokus pada jalan.
"Ka, kita jadi kan liburan ke pantainya?," Zalin bertanya pada Briliant saat motor belum masuk ke area jalan raya.
"Iya sayang, kita jadi liburan," Briliant mengusap tangan Zalin yang sedang memeluknya.
"Asik!," jawab Zalin antusias.
Briliant tersenyum mendengar suara istrinya yang begitu terdengar sangat bahagia.
Sesampainya di rumah Mama Briliant
Briliant mengajak Zalin masuk ke dalam rumah.
"Kaka! Kaka Ipar!," suara Jeje menyambut kedatangan Briliant dengan istrinya.
Jeanika menghampiri Briliant dan Zalin dan memeluk keduanya, "Ih baru kesini," Jeje menarik tubuhnya melangkah satu langkah mundur.
"Kemaren lebaran di kota X dulu je!, mama mana?," tanya Briliant sambil melirik sekwling ruang tv.
"Ibu keluar dulu sebentar ka," jawab Jeje sambil menggandeng kaka iparnya Zalin untuk duduk di sofa panjang.
Tidak lama kemudian, mama Briliant datang.
Briliant, Zalin, Jeje dan mama Briliant berkumpul, mengobrol bersama.
Zalin memberikan bingkisan yang ibunya berikan untuk mama mertuanya.
"Ma, ini dari ibu," Mama Briliant menerima bingkisan itu.
"Wah, terimakasih ya Za. Sampaikan pada ibu," Zalin mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ita bu, besok Iyan sama Za mau jalan-jalan ya ke laut," Briliant yang sedari tadi mengunyah kue nastar melihat ke arah ibunya.
"Ke laut? Naik motor?," mama Briliant menautkan kedua alisnya.
"Iya ma, kalau naik mobil macet." Briliant menyimpan toples yang sedari tadi dia pegang dipelukannya takut kena marah mamanya.
"Hati-hati, laut kan dari sini jauh," Briliant mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah ibunya.
"Ya sudah kalian, istrirahat saja ya. Ibu sama Jeje mau keluar dulu," mama Briliant berdiri diikuti oleh Jeanika meninggalkan Zalin juga Briliant di rung TV.
Setelah kepergian Mama dan adiknya
"Yang, ayo kita ke kamar. Sepertinya kaka harus tidur siang," Briliant berdiri.
Zalin melihat jam dinding di ruang TV, "10 menit lagi masuk waktu dzuhur. jangan dylu tidur," Zalin ikut berdiri mendekati suaminya.
Zalin berjalan menuju kamar, Briliant mengikuti langkah istrinya dengan membawa tas ranselnya.
Keesokan Harinya
Zalin bangun lebih pagi dan menyiapkan makanan bekal untuk dia bawa ke laut di dapur.
"Asik aku akan ke laut!," Gumam Zalin.
Saat Zalin memasukan makanan ke dalam sebuah wadah, Briliant memeluknya dari belakang.
"Kamu sepertinya senang sekali Za," Briliant berbisik di telinga istrinya dengan lembut membuat Zalin merasa geli dibuatnya.
"Ah ka, jangan seperti ini nanti kalau ada mama bagaimana?," Briliant melepaskan pelukannya dan memanyunkan bibirnya.
"Kaka lupa lagi di rumah mama," Briliant nyengir melihat ke arah istrinya, Zalin menjulurkan lidahnya mengejek suaminya.
"Setelah dari laut kita ke rumah kaka yang satu lagi ya (Rumah peninggalan kakek). Biar kita bebas. hehe," Briliant terkekeh.
"Hm, cepatlah mandi sana jam 6 kita berangkat kan?," Briliant mengangguk dan mencium pipi istrinya.
"Eeeh," Zalin melirik ke arah suaminya dan Briliant langsung lari ke arah kamar mandi.
"Dasar!," Zalin terseny sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Zalin segera menyelesaikan pekerjaannya di dapur, merapikan bekalnya dan membersihkan dapurnya.
***
Zalin dan Briliant sudah siap berangkat ke laut. Briliant sudah naik ke aras motor begitupun dengan Zalin. Mama Briliant mengantar kepergian anak dan memantunya itu sampai pintu pagar rumah.
"Iyan, hati-hati! Jangan ngebut! Kasihan Za!," Mama Briliant menatap mata Iyan.
"Iya ma," Briliant mengangguk.
"Za, kalau pegal kamu minta berhenti duku saja sama Iyan!," Zalin mengangguk.
"Siap ma," Zalin tersenyum kepada mama mertua yang sangat mengkhawatirkannya.
"Iya, Assalamualaikum," ucap Briliant dan Zalin.
"Waalaikumsalam," jawab mama Briliant.
Motorpun melaju menuju laut.
Saat perjalanan menuju Pantai
Setelah menempuh perjalann selama 30 menit Zalin yang ingin mengetahui kapan mereka akan sampai laut bertanya pada suaminya.
"Yang, berapa lama lagi kita sampai ke laut?," tanya Zalin sambil memeluk suaminya.
"3 jam lagi," jawab Briliant.
"hah!," Zalin merasa kaget.
"Jauh sekali ternyata!," Gumam Zalin.
"Kalau kamu merasa pegal bilang aja ya! Nanti kita akan istrirahat!," Brilint mengusap paha Zalin.
"Oke ka!," jawab Zalin dan kembali fokus ke jalan.
Sesampainya di Pantai
Setelah beberapa kali berhenti karena beristirahat. Empat jam kemudian Briant dan Zalin sampai ke Pantai.
"Wih laut!," Zalin menatap pantai sangat indah.
"Kamu beru pertama kali ke sini Za?," Briliant mengambil tas di motornya.
"Iya!," Zalin tersenyum getir.
"Pantaslah!, Hehe" Briliant terkekeh dan mendapat pukulan di lengan oleh istrinya .
"Menyebalkan!," Zalin membuang mukanya sambil cemberut.
"Jangan cemberut! Ayo kita main air!,"Briliant menarik tangan Zalin dan mereka berlari ke arah pantai.
Zalim merasa dirinya kepanasan dan tidak melanjutkan langah kakinya membuat Briliant juga berhenti.
"Kenapa yang?,"Briliant melirik ke arah istrinya yang sedang menyipitkan kedua matanya karena silau matahari.
"Za, nanti saja deh main airnya, Za nunggu kaka di sini saja," pinta Zalin.
Briliant mengangguk mengiyakan dan melepaskan genggaman tangannya, "Kaka ke sana dulu ya!," Briliant melambaikan tangannya dan segera berlari ke arah laut.
"Hati-hati Ka!," teriak Zalin.
Briliant mengacungkan jempolnya.
Saat Zalin memperhatikan Briliant, ada sepasang anak muda berjalan mendekat ke arah Zalin.
Lelaki itu memakai baju kemeja santai khas anak pantai dan wanita disampingnya memakai baju senada.
"Aku ko merasa pernah melihat wajahnya ya!," Gumam Zalin.
Lelaki dan wanita itu melewati Zalin dan mata Zalin mengikuti langkah mereka berdua. Sampai akhirnya lelaki itu masuk ke sebuah mobil sedan berwarna putih setelah menerima kunci mobilmya dari seorang juru parkir.
Mobil sedan putih itu melaju dengan cepat.
Zalin kembali melihat ke arah laut.
"Oh iya! Yang tadi itu Richard!," Zalin mengacungkan jari telunjuknya.
"Kaya juga dia ternyata!," Zalin tersenyum misterius.
Tidak lama kemudian, Briliant menghampiri Zalin dan langsung mendudukan tubuhnya di samping istrinya itu.
"Yang, haus. Mau minum," pinta Briliant dengan suara manja.
Zalin mengeluarkan air di tas ransel yang ada di sampingnya.
"Ini," Zalin menyodorkan botol minuman setelah membuka tutupnya.
Briliant mengambil botol yang disodorkan Zalin dan langsung meneguk air itu setengah botol. Setelah itu menyodorkan kembali ke istrinya.
"Kaka main air lagi! Kalau kamu mau main air datangi saja kaka ya!." Briliant langsung berlari lagi dan bermain air lagi.
Zalin menatap tingkah suaminya yang sedang bermain dengan ombak laut, sesekali Zalin merasa was-was saat tidak melihat suaminya.
"Ka, kamu seperti anak kecil!." Gumam Zalin
***
Terjawab ya, Visual cogan di Chapter sebelumnya.
Visual Richard Bramantyo ada di Chapter 63
jangan lupa Like 👍 kasih Penilaian 5****⭐ Favoritkan ♥ biar tidak ketinggal info up dari novel ***My Love My Cute Husband*.
Vote**nya juga ya 😊
Tinggalkan kesan, kritik dan saran kalian ya