
Naima dan Nakia sedang asyik bermain air di kolam renang, Naima dan Nakia sangat suka sekali berenang sejak berusia 4 tahun. Maka dari itu Bramantyo membuat kolam renang di belakang rumah. Bramantyo masih serius membaca koran, sedangkan Fatma santai berseluncur di media sosialnya setelah mengambil beberapa poto kedua adik kembarnya yang sedang heboh di kolam renang. Setelah cukup lama renang, Nakia merasa lapar. Dia langsung meninggalkan kolam renang diikuti oleh Naima, kaka kembarnya.
"Ka Fatma kenapa sih ga mau renang?" tanya Nakia sambil mengambil handuk yang ada di kursi plastik dekat Fatma.
"Males ah," jawab Fatma datar.
"Kalau jalan sama ka El enggak males kan?" ledek Naima yang sudah tau nama teman dekat kakak nya itu.
"Loh kamu tau dari mana?!" selidik Fatma pada Naima dengan sedikit melirik ke arah ayahnya.
Ah syukurlah, sepertinya ayah tidak mendengar. Batin Fatma.
Selanjutnya Fatma menutup mulut adiknya itu karena takut adiknya banyak bicara.
Naima tersenyum dan tidak ingin membahasnya lagi. Dia berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari meja yang penuh dengan camilan. Nakia tidak mau ketinggalan, dia duduk di samping Naima. Kedua anak kembar itu memakan camilan masing-masing satu toples. bBamantyo telah selesai membaca korannya, dia meletakan koran di samping meja yang dekat dari jangkauannya. Bramantyo melihat ketiga anak gadisnya yang mulai beranjak remaja dan dewasa. Entah mengapa dirinya merasa merindukan anak sulungnya.
Ah, aku sebaiknya jangan terlalu memikirkannya, sepertinya dia sedang sibuk belajar di sana. Batin Bramantyo.
Bramantyo menggelengkan kepalanya mengusir pikiran rindu pada anak laki-laki satu-satunya yang sedang menimba ilmu jauh di luar negeri.
"Naima, Nakia kalian sudah selesai renangnya?" tanya Bramantyo.
Kedua anak kembarnya melihat ke arah sang papa dan mereka menganggukan kepala bersamaan. Setelah mereka mengangguk mereka menyimpan toples makanan dan menghampiri papanya. Mereka berdua kini duduk di samping papanya.
"Pa, apa ka Richard akan pulang?" tanya Naima.
"Iya pak! kakanya teman kita kuliah di luar negeri tapi sekarang dia ada di rumahnya loh pak, katanya sih lagi libur musim panas."
Bramantyo menatap kedua anak kembarnya yang mulai sudah beranjak remaja secara bergantian.
"Kaka kalian akan pulang, jika dia memang tidak sibuk sayang," ucap Bramantyo memberi pengertian.
Sementara Richard yangberdiri di balik pintu kaca menuju belakang rumah sejak Naima dan Nakia berjalan ke arah ayahnya tersenyum setelah mengetahui kedua adiknya yanga merindukan dirinya.
Dengan perlahan Richard keluar dari persembunyiannya. Dia membuka pintu kaca, semua orang tidak menyadarinya. Saat Richard berjalan, Naima menyadari kehadirannya karena Naima punya pendengaran yang diatas rata-rata. Saat Naima menyadari ada seseorang yang berjalan dia langsung mengarahakan matanya pada sumber suara langkah kaki itu.
"Ka Richard?!" ucap Naima dengan setenAh berteriak, membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah Naima lalu mengikuti apa yang dilihat oleh Naima.
Dengan santai Richard berjalan ke arah Naima dan setelah Naima ada di dekatnya, Richard mengacak rambut adiknya itu yang sudah mulai kering. Naima yang masih belum percaya kakanya pulang, dia masih memandangi wajah kakanya yang menurutnya tambah cute.
Fatma yang sudah on dari tadi menghampiri Richard, saudara kembarnya dengan antusias. Fatma mengepuk bahu Richard cukup keras.
"Pulang ga ngasih kabar, menyebalkan!" Fatma membuang mukanya. Sementara Nakia menyadarkan saudara kembarnya Naima.
"Ka, ini beneran ka Richard!" ucap Nakia mengguncang bahu Naima, Bramantyo ayah mereka hanya menonton ketiga anaknya itu.
Naima menggelengkan kepalanya dan baru tersadar dari lamunannya.
"Ka Ricard!!!!" teriak kedua anak kembar itu, mereka langsung memeluk kaka yang sangat mereka rindukan. Richard tersenyum.
Mereka semua berkumpul dan mengobrol bersama di halaman belakang rumah. Setelah kedatangan Richard, Bramantyo menghubungi seorang koki untuk datang ke rumahnya dan memintanya untuk memasak hidangan spesial karena Richard baru saja pulang selama setahun terakhir, Bramantyo menghungi koki itu tanpa ada yang tahu.
"Kapan kamu lulus? Aku ingin segera nikah, temen-temenku hampir semuanya udah nikah."
Naima dan Nakia yang kembali sibuk mengunyah makanan mereka sekali-kali melihat Fatma berbisik pada Richard.
"Ka Fatma..." Nakia menggantungkan kalimatnya.
Fatma langsung melirik ke arag Nakia dan mengkerutkan dahinya sebagai kode apa?.
"Kata guru aku nih ya, jangan bisik-bisik kalau di depan kita ada orang lain. Itu tidak baik..." Nakia memberikan pendapatnya.
"Dengerin tuh adik bungsu kita," Richard nyengir sedangkan Fatma memanyunkan bibirnya.
"Nah untuk itu, karena di sini ada kita. Ayo ka Fatma bicarakan lagi apa yang kaka bisikan pada Ka Richard? ...." tanya Naima.
Baru saja Fatma akan menjawab, Nakia langsung berlari ke arah Dichard dan duduk di sampingnya, membuat Richard sedikit terkejut.
"Ka, kaka bawa oleh-olehkan?" rengek Nakia.
Ah untunglah aku tidak lupa membawa oleh-oleh untuk mereka. batin Richard.
"Bawa tidak ya?" Richard menampilkan wajah berpikir yang di buat-buat.
"Pasti bawa! Ayo kita masuk, kita cari oleh-olehnya!" ajak Naima dan menarik tangan Nakia untuk masuk ke dalam rumah.
Sementara di belakang rumah, Richard, Fatma dan ayah mereka mulai berbincang serius. Richard mengatakan apa yang di bisikan oleh Fatma pada dirinya, sebenarnya Fatma sedikit takut jika ayahnya mengetahui. Tapi dia juga ingin mengatakan hal itu, tapi dia merasa malu. Setelah Bramantyo mendengar apa yang diutarakan Richard, Bramantyi memandang anak gadisnya yang sudah mulai dewasa.
"Ajaklah orang yang menurutmu oantas menjadi calon suamimu, nanti papa yang akan memutuskan apa dia layak atau tidak menjadi suamimu. Dan ya, kamu boleh menikah secepatbta jika papa setuju, taoi ada syaratnya." ucao Bramantyo.
"Apa?" tanya Fatma sedikit lemas karena tamut syaratnya sangat sulit.
"Setelah kamu menikah, sebelum Richard kembali ke rumah ini kamu dan suamimu harus tinggal di rumah ini."
Fatma mengangguk setuju dan melihat ke arah Richard. Fatma meminta persetujuan kaka kembarnya. Richard yang mengerti pandangan mata kembarannya langsung mengangguk.
"Silahkan jika kamu akan menikah duluan, kaka Ikhlas," Ucap Richard yakin.
"Tapi ingat...." Richard menggantungkan kakimatnya, Fatma menperhatikan apa kaliamt selanjutnya yang akan dikatakan oleh Richard.
"Menikahlah jika kamu sudah siap bukan karena ikut-ikutan atau balap-balapan. Karena menikah itu bukan ajang lomba," ucap Richard tegas.
Bramantyo tersenyum mendengar ucapan Richard. Fatma mengangguki apa yang dikatakan kembarannya.
"Kalian sudah mengobrolnya?" tanya Bramantyo pada Richard dan Fatma, kedua anaknya itu mengangguk.
"Kalau begitu, mari kita masuk. Cacing di perut papa sudah pada demo!" Bramantyo bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Fatma dan Richard di belakangnya.
***
Tap jempol kalian setelah membaca 👍 komentarnya jangan sampai lupa 😁