My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
82



Di tempat lain.


Zalin meninggalkan Richard dan berjalan ke arah gerbang. Sambil berjalan, Zalin mengeluarkan hp nya dari jasket yang dia kenakan. Zalin segera mencari kontak dengab nama "My Cute Husband", dia menekan ikon gagang telepon dan langsunh menempelkannya ke telingan kanan.


Tuuuut, panggilan tersambung.


Tidak lama kemudian, terdengar suara Briliant.


"Iya yang, sudah beres?"


"Sudah Ka."


"Oke, kamu tunggu dulu ya di depan gerbang, kaka ke SPBU dulu isi bensin."


"Iya, siap."


Zalin segera mengakhiri panggilannya dan kembali berjalan dengan ponsel masih dalam genggamannya.


Richard memperhatikan Zalin dari temoat yang sama, masih ada beberapa kelompok KKL yang belum berangkat dari sana. Saat Richard memperhatikan Zalin ada seseorang yang menepuk pundaknya dari samping kanan.


"Richard!" Seru Aryo teman sejurusannya.


"Loe Yo! Ada apa?" tanya Richard mulai berdiri berhadapan dengan Aryo.


Richard pun asik mengobrol dengan Aryo, sampai akhirnya dia tersadar akan Zalin.


"Za!" Richard langsung menatap ke arah depan gerbang dengan cepat tapi sudah tidak ada Zalin di sana.


"Loe nyari siapa?" tanya Aryo karena Richard terlihat mencari keberadaan seseorang di gerbang.


"Gue cuma nyari teman KKL gue, udah dulu ya Yo! Gue harus berangkat k tempat KKL gue. Teman-teman gue udah pada berangkat!"


"Oke, good luck!"


Tumben si Richard mau nikut acara kampus, biasanya dia malas-malasan. Pikir Aryo.


Richard meninggalkan area pendopo dan berjalan menuji parkiran mobil untuk membawa mobilnya.


Barunsaja dia mendudukan tubuh di balik kemudia, ponselnya berdering. Richard yabg baru saja akan menyalakan mobilnya mengurungkan niatnya dan mengambil hp dari saku celananya.


"Sayang, Aku kangen kamu!!!!" Suara itu membuat Richard menjauhkan ponselnya ditelinga.


"Sayang, Richard, Bram... Hallo" Segala macam panggilan di ucapkan oleh wanita itu.


"Yang..." setelah suara itu terdengar melunak, Richard mendekatkan ponselnya.


"Iya, ada apa?" tanya Richard memutar matanya jengah.


"Aku kangen kamu!"


"Iya, sudah dulu aku mau nyetir. Untuk ke sebulan ke depan jangan dulu hubungi aku, aku ga ada waktu. Aku akan sibuk KKL!"


"Tapi yang..."


Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, Richard sudah memutuskan panggilannya. Richard melempar hp nya ke kursi di sampingnya.


"Merepotkan saja!" gumam Richard.


Richard segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya untuk menuju kontrakan KKLnya.


Seluruh anggota KKL Zalin sudah hadir semuanya termasuk Zalin dan Richard yang datang terakhir. Richard datang paling akhir diantara mereka. Sebelum Zalin datang Zalin mengenalkan Briliant kepada teman-teman KKL nya.


Setelah Briliant berkenalan dengan teman sekelompok Zalin, Briliant pamit untuk pamit dahulu karena ada urusan. Setelah berbicara serius dengan Zalin di depan gerbang rumah kontrakan itu.


Flash back on


"Za, dosen akan datang kan sekarang?"


"Iya ka, memang kenapa?"


"Kaka mau, kamu kalau bisa KKL nya jangan menginap ya. Usahakan kamu bicara sama dosennya untuk memberi keringanan."


"Memang kenapa?" Zalin mengkerutkan dahinya.


"Pokonya kamu ga boleh nginep. Kaka pergi dulu."


Zalin mengangguk dan melihat Briliant melajukan motornya menjauh, setelah hilang dari pandangan Zalin kembali masuk ke dalam kontrakan untuk menemui temannya yang lain yang sedang berdiskusi.


"Richard kemana sih!" seru Fathia kesal, karena 30 menit sudah mereka di sana tapi Richard belum menampakkan batang hidungnya.


Brum brum.... Suara mobil terdengar.


Ana dan Delia mengintip lewat jendela dan melihat Richard keluar dari mobil sedab warna Hitam metalic.


"Datang tuh dia," ucap Ana.


Flash Back off


Tidak lama setelah kepergian Briliant dan kedatangan Richard, datanglah dosen pembimbing KKL.


Setelah dosen datang, Beliau memberikan pengarahan dan bimbingan bagaimana ada apa yang harus mahasiswa lakukan saat KKL. Dosen pembimbing Zalin masih muda, tapi sudah menikah. Membuat Hana yang kala itu sudah terpesona lemas seketika ketika Zalin mengatakan pa Arkan sudah menikah dan sudah punya anak.


Setelah diskusi panjang, pa Arkan ijin pamit pulang.


"Jadi, bapa bisa koordinasi dengan Andika dan Zalina saja ya?" tanya Pa Arkan.


Andika dan Zalin mengangguk, setelah itu Pa Arkan berdiri diikuti oleh seluruh mahasiswa.


"Jaga diri baik-baik dan jaga nama almamater kita!" ucap pa Arkan.


Seluruh mahasiswa kelompok Zalin mengangguk.


"Aku mau antar pa Arkan dulu ya!" Ucap Zalin setelah pa Arkan berjarak 3 meter darinya.


"Pa, tunggu!" ucap Zalin.


Pa Arkan yang sudah dekat dengan mobilnya berbalik badan melihat Zalina mem


nghampirinya.


"Pa, ada yang perlu saya bicarakan dulu. Boleh?" Tanya Zalin.


"Boleh, ada apa?" pa Arkan mulai memasang wajah serius menatap mahasiswa yang cukup dia kenal di kampus.


"Kenapa memangnya?" tanya dosen penasaran.


"Za, sudah menikah dan sedang hamil pa, dan rumah Za juga tidak jauh dari sini" Zalin tersenyum dan menunduk.


"Oh begitu, oke. Nanti biar bapa yang bicara pada teman-temanmu yang lain," ucap pa Arkan.


"Jadi, bapa mengizinkan?" Zalin mengangkat wajahnya tidak percaya.


"Iya, bapa Izinkan. Bapa ke kampus dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi saja bapa ya!"


Zalin mengangguk dan melihat dosennya masuk ke dalam mobilnya. Setelah pa Arkan berangkat. Zalin mengusap dadanya lega.


Aku udah deg-deg an dan berusaha menyusun kata yang baik juga, ternyata gampang sekali dapat izin dari pa Arkan, batin Zalin.


Zalin tersenyum dan masuk ke dalam rumah kontrakan untuk berdiskusi kembali dengan teman-temannya dan mengatakan bahwa dirinya tidak akan menginap selama KKL.


"Jadi kita mulai go lapangan besok ya Za?" tanya Ana.


"Iya, kapan kamu akan bawa baju-bajumu, aku ingin satu kamar ya denganmu," ucap Fathia antusias.


Zalin tersenyum menanggapi pertanyaan Fathia.


"Oh iya, aku mau bilang. Selama KKL aku tidak bisa menginap di sini."


Teman KKL Zalin tidak ada yang bertanya lebih, karena sebagian besar mereka tau status Zalin. Hanya Richard yang tidak tau, dan meskipun Richard penasaran dia gengsi untuk bertanya.


M**engapa dia bisa tidak menginap, pikir Richard.


"Oke, tidak masalah. Tapi tiap hari harus datang ya, pagi pagi!" seru Ana.


"Iya iya," Zalin mengacungkan jempolnya.


Dari pagi sampai sore mereka semua mulai menyusun rencana apa kegiatan yang akan mereka laksanakan selama KKL berlangsung.


Saat hari menjelang sore, sebagian besar anggota KKL izin keluar dengan berbagai macam alasan.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Asal kembali jangan sampai larut malam, malu sama tetangga!" Zalin memperingatkan.


"Siaaaap!" ucap mereka serempak.


Salah satu diantara mereka akan menjemput Diandra. Yang tersisa di rumaj kontrakan hanya Willy, Fathia, Hana dan Zalin.


"Za, sepertinya ita harus membuat program kerja deh besok," Hana mengusulnya.


"Kan tadi udah, tinggal finishing," jawab Zalin tersenyum.


Di sekolah Diandra.


Bel pulang berbunyi


Diandra dan ketiga sahabatnya keluar dari kelas dan berjalan beriringan menuju gerbang untuk menunggu kedatangan seseorang.


Area sekolah sangat ramai karena seluruh siswa keluar dari kelasnya masing-masing membuat suasana terdengar gaduh. Diandra dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku tidak jauh dari lapangan basket.


Saat Diandra baru saja mendudukan tubuhnya terdengar notifikasi pesan whatsApp dari hp nya.


"Ayo cepat buka Di," seru Putri dengan heboh.


Diandra langsung mengangguk dan mengambil hp nya dari saku.


Udah bubar De? ~ Gebetan


Diandra langsung membalasnya dengan cepat.


Sudah~ Diandra Salim.


"Ah, loe kenapa balesnya gitu aja!" Celine kesal.


Tidak lama setelah itu, terdengar kembali suara notifikasi pesan dari hp Diandra.


"De, kaka udah di depan gerbang. Kamu keluar cepet banyak yang ngeliatin nih, malu!" ~Gebetan.


"Waaaaaah, dia udah ada di depan. Luar biasa sekali!" teriak Putri.


"Loe jangan berisik!" Celine menepuk pundak Putri.


"Sakit tau!" Putri melotot.


"Aku pulang duluan!"


Diandra pergi meninggalkan sahabatnya dan berjalan ke arah gerbang.


Rara, Celine dan putri mengikuti Diandra diam-diam. Mereka penasaran akan sosok gebetan Zalin yang baru.


Diandra menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk di atas motor KLX, helm lelaki itu dibuka tapi wajahnya terhalang oleh badan Diandra.


Ketiga sahabat Diandra yang sedang mengintip dibalik tembok menggerutu.


"Di, geser dikitlah! kita ingin tau wajah gebetan loe!" rutuk Celine.


"Di, kenapa badan loe terlihat gede kalo dalam posisi gini?" putri memelas.


"Sabarlah!" ucap Rara menenangkan.


Tidak lama setelah itu, Diandra maju dan mulai naik motornya, saat Diandra naik motor terlihat jelas wajah lelaki yang sekarang menjadi gebetan Diandra.


" KA FATHAN???" salah seorang sahabat Diandra mengenali wajah gebetan Diandra.


***


🍁🍁🍁


Like nya dong kaka kaka 👍😉 biar uni makin semangat up nya 😊


Buat yang belum tau cara memberi like, tekan ikon jempol sampai warna merah ya. Like sangat berperan penting dalam karya ini. makasih readers, dan ya... satu lagi like itu ga makan biaya ya, alias geratis.


like di semua babnya 😍