My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
42



Diandra masih cemberut di kursinya sambil memainkan mie dipiringnya. Zalin menghampiri adiknya dengan pelan dan duduk di sebelah kursi Diandra. "Di.."Zalin mengelus lengan Diandra, Diandra hanya melihat Zalin sekilas lalu melihat ke arah piringnya lagi "Kaka mau ke kota Q ya? Aaaaa Di mau ikuuut " Diandra memegang tangan Zalin, merengek. "Ayo kalau mau ikut!" jawab Zalin dengan antusias. Diandra menunduk "Kata ibu Di ga boleh ikut. Katanya kaka ke sana mau Honey moon. Nanti aku ganggu lagi" Diandra membuang mukanya dan langsung menghabiskan mie nya.


Hah? Ibu bilang ke Diandra mau honeymoon? Perasaan aku tadi bilangnya ga begitu.


Diandra berdiri dari kursinya "Kalo besok mau pergi, hati-hati! Jangan lupa buatkan aku keponakan!" Diandra langsung pergi meninggalkan Zalin, menyimpan piring bekas makannya dan berlalu pergi entah kemana. Sementara Zalin masih mencerna kalimat yang dilontarkan adiknya padanya.


Apa dia bilang? Jangan lupa buatkan keponakan? Memangnya apa? Pisang goreng?


Zalin geleng-geleng kepala sambil tersenyum mengingat ekspresi Diandra yang terlihat kesal tapi mengatakan kalimat itu. "Dasar Diandra... " Zalin segera membereskan meja makan dan mencuci piring di wastafel.


Diandra memang selalu dekat dengan Zalin, dia selalu menemani Zalin. Dia yang selalu melindungi Zalin setelah mengalami kecelakaan, Diandra jugalah yang paling sangat membuat Zalin belajar berjalan tanpa tongkat.


Flash Back On


Zalin sudah menjemur kakinya di bawah sinar matahari. Diandra mendekatinya "Ka! Ayo berdiri!" Diandra membantu menegakan tongkat Zalin. Setelah Zalin berhasil berdiri, "Sini lepas, ayo pegang tangan Di!" Diandra menuntun tangan Zalin memegang bahunya. Diandra lebih tinggi dari Zalin dan tenaganya juga lebih kuat karena dia selalu berolahraga juga atlit di sekolahnya.


Zalin memegang bahu Diandra "Ayo ka, langkahkan kakimu!" Diandra memerintah. Zalinpun melangkahkan kakinya sambil sedikit meloncat karena takut. Diandra melepaskan tangan Zalin. "Jalan seperti biasa loh ka, jangan loncat! Begini loh! Begini!" Diandra melangkahkan kakinya 3 lamgkah dengan pelan memperagakan apa yang harus Zalin lakukan "Begitu. Gampang kan!" memperlihatkan gerakan kembali pada Zalin. "Takut jatuh De!" Zalin menunduk, "Ga akan ka! Kan di pegangin sama aku!" Diandra kesal mengajarkan kakanya berjalan susah sekali.


Diandra geleng-geleng kepala "Ayo coba lagi! Pelan-pelan" Diandra kembali memegang tangan Zalin.


Begitulah kedekatan Zalin dengan adiknya Diandra, kemanapun Zalin berjalan. Diandra akan selalu ada siap di sampingnya untuk menjaga kakanya.


Flash Back Off


____


Malam hari seluruh anggota rumah Zalin berkumpul dan Briliant mengutaran niatnya untuk mengajak Zalin untuk ke kota Q selama libur semester, dan ayah Zalinpun mengizinkannya.


Malam hari di Kamar, Zalin sedang sibuk membereskan pakaiannya ke dalam tas yang lumayan besar. Beberapa bajunya dia masukan ke dalam tas. "Ka, ka Iyan mau bawa baju ga?" Zalin melihat ke arah Briliant yang sedang main game di atas kasur dan tidak menanggapi pertanyaan Zalin.


Pasti Ka Iyan lagi main game


Zalin bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Suaminya. Zalin duduk di samping suaminya, Terlihat Briliant sedang main game C*C. "Ka..." Zalin memanggil Briliant. "Hmm..." Briliant menanggapi Zalin.


Oh iya aku belum pernah bilang soal pembicaraanku dengan mama nya ka Iyan. Saatnya aku keluarkan jurus itu. hahaha


"Begini Ka, waktu hari lamaran ibu kaka bilang kalau kaka sibuk main game..." Zalin memotong kalimatnya dan Briliant dengan serius mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Zalin. "Terus?" Briliant penasaran. "Kalau kaka sibuk main game dan cuek sama Za. Za harus marahin kaka" Briliant mengkerutkan dahinya. Kemudian Zalin menceritakan apa yang dikatakan oleh ibu Briliant padanya dan Briliant percaya. "Jadi, mulai sekarang kaka jangan main game sampai lupa sama Za sama waktu, nanti Za akan lapor sama mama mertua kalo kaka ga menurut" Zalin meletakan tangan dipinggangnya dan Briliant mengangguk "Iya...".


Aku tahu ka, kamu itu paling menurut sama ibumu! Ah untunglah mama mertua sehati sama aku. Ga suka lihat ka Iyan main game.


"Ayo sekarang kita berkemas untuk besok, Bantuin Za ya ka. Za pengen segera tidur, Istirahat biar besok tidak kesiangan" Zalin menarik tangan Briliant agar mengikutinya. Dan akhirnya Briliant mengikuti Zalin dan membantunya berkemas.


Zalin memasukan beberapa baju lagi ke tas nya. "Kaka mau bawa baju ga?" Zalin melihat ke arah Briliant yang sibuk memainkan rambut Zalin. "Engga ah Yang.. di sana juga ada baju kaka" Briliant masih asik memainkan rambut Zalin. "Ka... bukannya bantuin malah gangguin!" Zalin mengkerutkan dahinya. *muuuaaah* Briliant mencium pipi Zalin dengan cepat lalu berdiri. Zalin memegang pipinya. "Ka Iyan ini..." Melihat Briliant berjalan ke arah kamar mandi.


Kini kegiatan berkemas Zalin telah selesai, dalam tas didominasi oleh barang milik Zalin saja. Zalin meletakan tas nya di pojok ruangan. "Selesai... Besok tinggal berangkat deh!" Zalin tersenyum lalu melihat ke arah jam dinding "Sudah jam 9 tenyata, Sebaiknya aku segera tidur". Zalin berjalan menuju ranjang, lalu dia menidurkan badannya dan menutuo tubuhnya dengan selimut sampai dada.


Ka Iyan sedang apa sih di kamar mandi. Ah aku tidur duluan saja. Eh engga.. engga.. aku harus menunggunya!


Beberapa menit kemudian


Zalin tidak kuat menahan kantuknya , lalu dia terlelap tidur. Tidak lama kemudian. Briliant keluar dari kamar mandi, dia menatap istrinya yang sudah terlelap tidur. "Eh dia malah tidur lagi" Briliant memanyunkan bibirnya dan memutar bola matanya. Briliant mendekati ranjang dan tidur di samping Zalin. "Ayang..." Briliant mengelus kepala Zalin, tapi tidak ada reaksi sedikitpun dari istrinya. "Ah, dia sepertinya lelah" Briliant kemudian mencium kening istrinya. "Mimpi indah ya sayang, istriku.. Zalina Salim yang bawel!" Briliant tersenyum di akhir kalimatnya dan tidak lama kemudian Briliantpun tertidur sambil memeluk istrinya dengan erat seakan takut kehilangan.


_______


Keesokan Paginya, Zalin beserta anggota keluarga yang lain berkumpul untuk sarapan bersama seperti biasa. Setelah sarapan Zalin dan Briliant ke kamarnya untuk bersiap-siap karena akan berangkat ke kota Q.


Hari ini Sabtu, weekend dan Diandra tidak masuk sekolah karena hari sabtu libur. Diandra sekarang tidak galau lagi, karena dia percaya Briliant akan menjaga kakanya dengan baik. Diandra memang sangat perhatian pada Zalin, walau terkadang mereka bertengkar tapi itu tidak akan bisa bertahan lama.


Zalin telah siap dengan pakaiannya, sedang berdandan di depan cermin. Karena Zalina tidak terlalu pandai bermake up dan tidak suka bermake up. Dia hanya memakai bedak dan lipstik tipis.


Briliant membawa tas ke depan teras untuk di simpan ke motor. Setelah di rasa sudah rapih tas bertengger diatas motor, Briliant kembali ke kamar. "Yang, beres belum? Lama sekali" Briliant melihat Zalin sedang memakai kerudungnya. "Sebentar lagi ka, Sabar ya ka Iyanku" Zalin cengir ke arah Briliant lalu melanjutkan aktifitasnya sibuk dengan merapihkan kerudung. "Jangan lupa pakai Jaket ya! Jaketnya mana? Ko tidak ada?" Briliant tidak melihat jaket Zalin dan melihat-lihat ke sekeliling kamar. "Iya ka, Jaketnya masih di dalam lemari" Zalin menjawab dan Briliantpun mengangguk.


Briliant duduk menunggu istrinya, tidak lama kemudian "Selesai!" Zalin membuka lemarinya dan mengamb jaket berwarna merah maroon lalu langsung memakainya sementara Briliant sudah memakai jaketnya. Briliant berdiri dan membantu meraoihkan jaket Zalin "Semoga kamu ga masuk angin ya yang! Kamu kan baru pertama kali bepergian jauh!" Zalina mengangguk "Iya Ka... aamiin" Zalina tersenyum menanggapi kecemasan suaminya.


Zalina dan Briliantpun berangkat dengan direstui kedua orangtua Zalin dan adiknya Zalin, Diandra. "Titip kaka ku ya ka Iyan!" Diandra salim pada Briliant dan Briliant mengacungkan jempolnya "Siap!". Ayah dan Ibu Zalin tersenyum "Hati-hati, kabari ibu jika kalian sudah sampai" Ibu Zalin tersenyum mengantar kepergian anak dan menantunya.


***