My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
62



Zalin sekarang mulai mengantuk dan kepalanya berada di atas dada Briliant. Briliant mengusap kepala istrinya dengan lembut, Zalin tersenyum bahagia.


"Yang, kaka diterima kerja"


"Wah.. Asik!," Zalin mengangkat kepalanya dan hendak melihat wajah suaminya. Tetapi Briliant menenggelamkan kembali kepala istrinya itu ke dadanya.


Ya ampun, Ka Iyan kayanya senang sekali memeluk aku!. Pikir Zalin


"Iya, setelah lebaran, sebelum masuk ajaran baru kaka langsung mulai bekerja. Kamu di sini saja ya Za!," Briliant menepuk nepuk dahi istrinya.


"Ih, sakit tau!," Zalin melihat ke arah suaminya menautkan kedua alisnya.


"Kaka ga akan pulang-pulang?,"


Zalin memanyunkan bibirnya.


"Kaka akan ke sini seminggu sekali sayang, Kaka mengajukan hanya 4 hari kerja. semoga di setujui kepala sekolahnya. Kaka mengajukan akan mengajar hanya hari senin-kamis saja. jadi kamis sore atau jum'at pagi bisa ke sini untuk menemui istri," Briliant mencubit hidung Zalin dengan gemas.


"Bagus kalau begitu" Zalin menyingkirkan tangan Briliant dan mengusap-ngusap hidungnya dan tersenyum meluhat ke arah Briliant.


"Kebiasaan deh suka nyubit hidungku seenaknya" Gumam Zalin


"Ya sudah, ayo kita tidur sekarang!" Briliant kembali menenggelamkan kepala Zalin ke dadanya dan memeluknya dengn erat seakan takut kehilangan.


"Longgarkan sedikit, Za sulit nafas nih!"


Briliant tersenyum dan melonggarkan pelukan pada istrunya itu.


🍁🍁🍁


2 minggu kemudian


Hari ini mulai memasuki bulan puasa, Zalin terbangun dari mimpi indahnya karena bunyi suara alarm dari hp nya.


Zalin segera mengangkat tangan suaminya dan meletakannya didadanya. Dia menyelimuti seluruh badan Briliant, kemudian turun dari ranjang dengan hati-hati.


Zalinpun ke dapur untuk membantu ibunya memasak.


Sesampainya di dapur


Zalin melihat ibunya sedang sibuk memasak makanan untuk sahur, Zalin menghampiri ibunya dan ikut membantu ibunya.


Sejak Zalin duduk di bangku SMP, Zalin sudah belajar membantu ibunya memasak termasuk memasak makanan untuk sahur.


*


Setelah dirasa pekerjaannya didapur selesai, Zalin berniat membangunkan Briliant.


Zalin membuka apronnya dan menggantung disebuah gantungan dekat wastafel.


Zalin berjalan ke arah ruang makan dan menghampiri ibunya.


"Bu, Za ke kamar dulu ya"


"Iya sekalian bangunkan Iyan ya Za!" Ibu Zalin yang sedang sibuk menata piring di meja makan melirik ke arah anaknya. Zalinpun mengangguk.


Zalin melangkah ke kamar meninggalkan ibunya di ruang makan.


Sesampainya di kamar


Ceklek, Pintu kamar terbuka.


Zalin memasuki kamar dan menutup kembali pintunya dengan pelan.


"Belum bangun ternyata" Gumam Zalin.


Zalin duduk di atas kasur mendekati suaminya.


"Ka, bangun" Zalin mengusap lengan Briliant.


(Tidak ada reaksi).


"Ka! Bangun! Sahur ka!" Zalin mengguncang lengan Briliant lebih keras.


(Masih tidak ada reaksi).


"Ka iyan susah sekali sih bangunnya" Zalin menggeleng gelengkan kepalanya.


Zalin merebahkan badannya kemudian menatap wajah suaminya. Zalin mendekatkan bibirnya ke telinga Briliant.


"Ka, bangun. Ayo, sekarang kan harus makan sahur" Bisik Zalin dengan lembut.


Mudah-mudahan bereaksi!. Batin Zalin.


"Hm.."


"Cuma gitu aja! Harus bangaimana lagi aku membangunkannya?" Zalin bangun dan mendudukan tubuhnya.


"Ka iyan kamu membuatku kesal!" Gumam Zalin.


Zalin tersenyum dan mengangguk-ngangukan kepalanya.


Zalin melihat ke arah suaminya dan wajahnya didekatkan dengan wajah Briliant. Zalin menempelkan hidungnya pada hidung Briliant dan menggoyang-goyangkannya berharap suaminya merasa terganggu dan bangun dari tidurnya.


Hasilnya nihil, yang ada Briliant menjauhkan wajah Zalin. Zalin merasa prustasi karena sudah 10 menit dia berusaha tidak berhasil.


Zalin melihat ada gelas berisi setengah air mineral di atas meja belajarnya.


"Aku ingat cara ibu membangunkan saat aku dan adikku sulit bangun" Gumam Zalin. Zalin tersenyum melihat gelas dan langsung mengambilnya.


Zalin mencium pipi suaminya dan tidak ada reaksi.


Kaka susah sekali kamu bangun! Ini usah terakhir ya, kalau kaka tidak bangun juga? Za akan seret kaka ke kamar mandi. Pikir Zalin.


Zalin memasukan jari tangan kanannya ke gelas yang dia pegang di tangan kirinya.


Zalin segera menyimpan gelas ke atas laci dekat ranjang.


Briliant menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya.


"Ada apa sayang? Kamu ko nyipratin air ke wajah kaka?" Briliant menarik tubuh Zalin kepelukannya, kemudian memejamkan matanya kembali. Zalin yang melihat suaminya tidur kembali. Mendudukan kembali tubuhnya segera dan menepuk-nepuk kedua pipi suaminya.


"Kaka bangun! Sahur Sahur!"


Briliant langsung mendudukan tubuhnya dan melihat ke arah Zalin dengan mata menyipit.


"Bilang dong dari tadi" Briliant mencium pipi Zalin dan langsung berlalu ke kamar mandi.


Sementara Zalin menepok jidatnya menatap tingkah suaminya.


(Begitulah kegiatan Zalin selama bulan ramadhan setiap akan makan sahur, berusaha keras membangunkan suaminya).


🍁🍁🍁


Satu minggu sebelum lebaran


Briliant memutuskan menginap di rumah mamanya di kota Q, Zalin menyetujuinya dan Zalin ikut dengan Briliant.


Di rumah mama Briliant


Malam hari di kamar setelah sahalat terawih, Zalin melihat wajah suaminya lelah dan berinisiatif menawarkan jasa pijit.


"Ka.." Zalin mendekati Briliant ke dekat ranjang setelah menyisir rambutnya.


"Iya yang, jangan minta sekarang ya?" Brikiant mengerlingkan matanya.


"Ih Apaan sih!" Zalin membuang mukanya.


"Za, hanya mau menawarkan kaka mau dipijitin ga?"


"Mau mau mau, sini yang!" Briliant menepuk-nepuk kasur agar istrinya mendekat.


Zalinpun menghampiri Briliant dan memijitnya.


Beberapa Menit kemudian. Mama Briliant melewati kamar anaknya dan melihat menantunya sedang memijit anaknya karena pintu kamarnya sebagian terbuka.


Mama Briliant memasuki kamar anaknya dan melipat tangannya diperut.


"Za" Mama Briliant menatap menantunya dan Zalin langsung menoleh.


Eh mama ko bisa masuk?. Pikir Briliant


"Iya maZalin menjauhkan tangannya dari kaki Briliant.


"Za, jangan mijitin Iyan. Jangan memanjakannya! Nanti kebiasaan Za" Mama Briliant melihat ke arah Zalin dan kemudian melihat ke arah anaknya.


"Iyan! Jangan manja! Za juga cape! Kamu" Iyanpun mengangguk.


Mama Briliant menurunkan tangannya.


"Mama keluar dulu, kalian beristirahatlah. Iyan ingat pesan mama!" Briliant mengangguk cepat.


Mama Briliantpun keluar dari kamar anaknya dan menutup pintunya.


Zalin terkekeh sedangkan Briliant memanyunkan bibirnya.


"Ayo, tidurlah saja" Briliant menarik tubuh istrinya dan langsung memeluknya.


"Mama ka iyan baik ya?" Zalin tersenyum


"Hm"


Perkataan mama mertua bagaikan mantra ajaib untuk ka iyan, setiap perintahnya langsung dipatuhi olehnya. Pikir Zalin


Zalin menatap wajah suaminya dan melihat mata suaminya telah tertutup


"Sudah tidur ternyata" Gumam Zalin


Beberapa detik kemudian. Briliant menekan kepala Zalin ke dadanya.


"Tidurlah, besok kmu jangan kesiangan! Besok sahur!"


"Hm" Zalin menanggapi.


"Kamu meniru kaka Yang?" Briliant menepok jidat istrinya pelan.


"Hehe..." Zalin terkekeh.


Setelah itu mereka tidur dengan posisinya yang sama-sama nyaman.


Saat waktu Sahur


Zalin bangun dan langsung pergi ke dapur untuk membantu mama mertuanya masak.


Zalin hanya membantu memotong-motong sayur dan menyiapkan bumbunya. Sedangkan yang memasak adalah mama Briliant, Zalin memperhatikan mama mertuanya memasak secara detail.


"Za, sudah hampir selesai. Kamu bangunkan saja iyan. Dia susah kan bangun sahurnya Za?" Mama Briliant menatap Zalin.


Zalin mengangguk dan tersenyum menanggapi pertanyaan mama mertuanya.


"Za ke kamar dulu ya Ma"


"Iya sayang"


Zalinpun berjalan menjauhi mama mertuanya. yang sedang menuangkan air minum di gelas.


"Semangat membangunkan ka iyan! Sudah mau lebaran ka Iyan belum bisa sadar bangun sahur sendiri" Gumam Zalin sambil berjalan ke arah kamar.


***