My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
Chapter 6 (MLMCH S2)



"Kita jalan berdua aja nih de?" tanya Richard yang tidak melihat siapapun di sana selain dirinya dan adik bungsunya Nakia.


"Iya, ayah sedang sibuk dikamarnya. Kia udah izin ko mau pergi sama kaka!" Kia menarik tangan kakanya.


"Kalo Naima? apa dia tidak mau ikut?"Richard belum bergerak dari posisinya meski Nakia menariknya.


"Gak, dia katanya gamau ikut. Ayo kita berdua saja. Ber du...a!"


Tanpa berkomentar lagi Richard mengikuti langkah kaki adiknya yang terkesan memaksa itu. Richard tidak heran, Nakia memang punya kebiasaan memaksa dari sejak batita. Berbeda dengan kembarannya Naima. Walaupun mereka kembar identik dan memiliki wajah 99% mirip tapi sifat mereka beebeda. Seseorang yang baru mengenal Naima dan Nakia dipastikan mereka akan sulit membedakan.


"Ka, cepatlah lelet sekali!" gerutu Nakia pada Richard.


"Aku laper nih!" ucap Nakia kesal.


Richard menghentikan langkahnya dan Nakia ikut berhenti karena Richard tidak bergerak.


"Kiaaaa. Kalau laper makan dulu sana!" Richard menarik baju Nakia.


"Adududuh ka!" Nakia menghentakan kakinya di lantai.


"Aku mau beli bakso..."


Richard memanyunkan bibirnya. Dan brrpikir sejenak.


"Ya sudah kita pakai motor saja!" ucap Richard mantap.


"Motor? Emang kaka punya motor?" Nakia mengkerutkan dahinya.


"Kita pinjam ke pak Budi," Richard nyengir.


"Ayo! Asik juga sepertinya naik motor!"


"Ya sudah kita ke kamar masing-masing dulu, kamu harus pakai jaket," ucap Richard.


Nakia mengangguk, setelah itu dia berlari ke kamarnya untuk membawa jaket. Begitupun dengan Richard.


Tidak lama kemudia mereka bertemu di ruang tamu, Nakia begitu bahagia akan menaiki motor dan berjalan-jalan sore bersama kakaknya.


Richard memanggil Budi yang sedang mengobrol dengan Sam security di rumah di pos satpam. Tidak lama kemudian Budi berlari menghampiri Richard.


"Ada apa ya Den?" tanya Budi.


"Saya mau pinjam motor, berikan kunci motormu!" Richard menengadahkan telapak tangannya dengab suara datar.


"Oh iya Den.."


Budi langsung mengeluarkan kunci motor dan memberikannya pada Richard.


"Aku pakai dulu motornya, ada di bagasi kan motornya?" tanya Richard sambil berjalan diikuti oleh Nakia, meninggalkan Budi yang bengong melihatnya.


"I iya den," ucap Budi.


Budi merasa heran. Se umur-umur dia kerja di sana, dia tidak pernah melihat tuan mudanya menaiki motor. Dia berpikir bahwa di luar negeri Richard selalu menggunakan motor dan tertarik untuk menggunakan motor di sini.


Richard memasangkan helm di kepalanya lu kepala Nakia. Richard mulai menaiki motornya dan Nakia yang tidak pernah menaiki motor berusaha mengingat bagaimana cara teman-temannya menaiki motor.


"Ayo cepat naik!" ucap Richard yang sudah mentalakan mesin motor.


"Iya, tunggu... Kia kan harus hati-hati takut jatuh!" gerutunya.


Richard ingat bahwa adiknya ini belum pernah naik motor.


"Iya, berhati-hatilah."


Setelah berhasil mengingat caranya, Nakia langsung menaiki motor itu.


"Anak pintar!"


Nakia terkekeh mendapat pujian karena bisa menaiki motor.


"Kamu pegangan ya! Peluk kaka, takutnya kamu jatuh," ucap Richard sambil Menuntun tangan Nakia ke pinggangnya.


Nakia menuruti apa yang diperintahkan kakanya, karena sebenarnya dia juga takut terjatuh. Setelah Nakia berhasil naik, Richard menyalakan mesinnya dan motor maju perlahan keluar dari garasi.


Budi memecet remot lalu terbuka otomatis, Richard keluar meninggalkan halaman rumah. Budi kembali memencermt remot itu.


Nakia tersenyum di belakang Richard, merasa bahagia karena dia bisa naik motor. Sepanjang perjalanan Nakia terus saja memeluk kakanya.


"Kamu katanya tadi lapar, kamu mau makan apa?" tanya Richard sambil mengemudikan motornya, motor Richard masih dalam lingkungan kompleks perumahan.


"Kia mau beli bakso dekat GOR yang ada di depan kan!" pinta Kia antusias.


"Oke baiklah!"


Beberapa menit kemudian, motor yang ditumpangi Richard dan Nakia berhenti di sebuah kedai bakso yang sederhana.


"Kamu yakin mau beli bakso di sini?" bisik Richard.


"Iya ka, kata temen-temen aku bakso ini rasanya juara banget! dari kamarin-kemarin Kia ingin bakso ini tapi ga jadi terus," bisik Kia.


Richard mengangguk dan tersenyum lalu menarik tangan Nakia setelah melepaskan helm di kepalanya lalu di kepala adiknya.


Tidak lama kemudian seorang gadis yang memakai baju SMA dari kejauhan ikut masuk ke dalam kedai bakso dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu duduk tidak jauh dari Richard dan Nakia. Mereka bertiga ada dalam meja yang sama.


Di tempat lain


Fatma sedang menikmati jus green tea di sebuah kafe dekat pantai. Fatma menyeruput jus miliknya, sedangkan El duduk dihadapan Fatma dan memandangi gadis itu dengan seksama.


"Ra,..." ucap El.


Zahra atau Rara adalah panggilan El untuk Fatma, El menganggap lebih nyaman memanggil Fatma dengan nama Zahra.


"Iya,.." Fatma melirik ke arah El dan menyimpan jus greeb tea yang semula dia pegang di tangan kanannya.


"Kita menikah secepatnya saja," ucap El mantap.


"Apaaaa?!" Fatma terkejut dan melototkan kedua matanya.


"Kita menikah secepatnya saja, kan niat baik jangan ditunda-tunda. Lagi pula sekarang kakamu ada kan. Kalau nunggu dia pulang lagi, nanti takut lama lagi."


"Apa Ka El yakin?" ucap Fatma Ragu.


"Apa kamu ragu sama aku Ra? Kamu udah tau kan usia aku di atasmu 2 tahun, di usiaku yang sekarang aku sudah cukup matang buat menikah. Hm, apa kamu ga yakin sama aku?" El menjawab pertanyaan Fatma dengan pertanyaan.


"Iya juga ya?" ucap Fatma.


"Kamu udah pernah ketemu keluargaku, mereka menerimamu kan? sementara aku? Aku diajak ke rumah aja belum pernah?" El menunduk lesu.


"Ma'af, tapi aku dulu belum siap, tapi sekarang aku sudah siap. Apalagi kakakku sudah memberi izin!" ucap Fatma yakin.


"Jadi hari ini aku ke rumah kamu Ra, bisa nganter kamu pulang?" tanya El tak percaya.


Fatma mengangguk sambil tersenyum.


"Iya..."


"Akhirnya sebentar lagi aku akan menikah," El tersenyum bahagia. Senyumnya sangat sulit untuk diartikan. Apalagi oleh Fatma yang sudah mengenal El kurang lebih 2 tahun.


Di kedai bakso


Richard dan Nakia menerima pesanan bakso mereka, lalu gadis SMA yang ada di samping Richard juga menerima bakso itu.


Tidak lama kemudian satu lelaki berseragam SMA masuk ke kedai itu dan mendekati gadis SMA yang ada di samping Richard.


"Kenapa kamu lari, kamu belum menjawab permintaanku..." bisik anak lelaki itu lembut.


"Ma'af aku ga bisa," jawab gadis itu pelan.


"Kenapa? Beri aku alasan kuat!" pinta lelaki itu.


"Aku sudah punya calon suami," gadis itu mengangkat kepalanya.


Hahahaha


Siswa SMA itu tertawa.


"Mana? Mana mungkin siswi pendiam sepertimu punya calon suami?" tanya lelaki itu kesal.


"Ini!" gadis itu menarik tangan Richard.


Saat itu Richard terkejut dia diakui oleh gadis itu sebagai calon suaminya. Untungnya saat itu Richard belum sempat menyantap baksonya karena sedikit terganggu oleh percakapan sepasang anak SMA di sampingnya.


Richard menatap siswa laki-laki yang ada di samping gadis itu.


Gue ga percaya!. Batin Siswa SMA itu.


"Bang! Apa benar, gadis ini calon istri abang?"


***


Like nya 👍 jangan lupa readers 😍


komentarnya juga yaaaa 😉