
Briliant dan Zalin kini sudah ada di depan apotek. Zalin turun dari motor dan menatap lekat wajah suaminya yang masih duduk diatas motor. Briliant yang menyadari istrinya menatapnya segera melihat ke arah istrinya.
"Ada apa yang?," tanya Briliant.
"Bilangnya bagaimana?," Zalin bertanya menjawab pertanyaan suaminya.
"Apanya?," Briliant membuka helmnya dan menautkan kedua alisnya.
"Bilang beli tespek gitu?," Zalin menunduk.
"Iyalah bilang gitu, memangnya kenapa?," tanya Briliant.
"Malulah ka!," Zalin mencuri-curi pandang.
"Aduh, ga usah malu kan kamu udah nikah," Briliant mengusap lengan istrinya.
"Kaka aja deh yang belinya," Zalin tersenyum.
"Gamau," Briliant tersenyum dan menyuruh Zalin mendekat.
Zalin mendekati suaminya.
Setelah Zalin sudah dihadapannya, Briliant mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya.
"Beli tespek sama ayang aja, nanti kaka belikan bakso," bisik Briliant.
"Lumayan," gumam Zalin.
Briliant kembali duduk di motor.
"Bagaimana?," tanya Briliant.
"Ok, Za saja yang belinya," jawab Zalin.
Zalin melangkah masuk ke apotek dan Briliant tersenyum melihat kepergian istrinya duduk diatas motor.
*
Zalin berdiri di depan sebuah etalase apotek, menunggu pegawai apotek menghampirinya.
Tidak lama kemudian, seorang pegawai perempuan mendekati etalase berhadapan dengan Zalin.
Pegawai itu melihat ke arah Zalin.
"Mbak, ada tespek?," Zalin bertanya dengan sedikit malu.
"Ada mbak, mau berapa?," tanya pegawai apotek.
"Berapa ya?," batin Zalin.
"Dua saja mbak," jawab Zalin.
"Saya ambilkan dulu ya mbak," pegawai itu pamit dan meninggalkan Zalin.
Zalin mengangguk mengiyakan.
Sepeninggal pegawai apotek, Zalin sedikit melirik ke arah Briliant yang sedang duduk diatas motor.
Saat Zalin melirik ternyata suaminya itu sedang memandanginya.
Briliant nyengir dan melambaikan tangan sedangkan Zalin memanyunkan bibirnya.
"Mbak, ini pesanannya," suara pegawai apotek membuat Zalin kembali berdiri menghadap etalase.
"Ini mbak uangnya," Zalin mengeluarkan uang dari dompetnya.
Pegawai itu langsung memasukan pesanan Zalin ke dalam kantong dan memberikannya pada Zalin.
"Ini mbak, tunggu ya. Ini masih ada kembaliannya," pegawai apotek kembali meninggalkan Zalin.
Tidak lama kemudian, pegawai itu datang kembali dan menyerahkan sejumlah uang pada Zalin.
"Terimakasih mbak," pegawai apotek tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya dan Zalin membalas senyuman pegawai itu.
"Iya mbak," Zalin segera membalikan tubuhnya dan berjalan menuju parkiran dimana suaminya berada.
Jalan raya lumayan ramai, Zalin fokus ke atah suaminya.
Buuugh
Zalin menabrak seseorang.
"Za," orang yang ditabrak Zalin bersuara.
Zalin langsung mengangkat wajahnya melihat ke arah orang yang di depannya.
"Eh kamu," Zalin tersenyum.
"Apa kabar Za?," tanya lelaki yang seusia Zalin itu pada Zalin.
"Baik," jawab Zalin singkat.
"Sendiri?," tanya lelaki itu.
"Tidak, aku berdua sama...," Zalin menunjuk Briliant dan mata lelaki itu mengikuti arah tangan Zalin.
"Oh..," jawab lelaki itu.
"Aku pergi dulu ya," pamit Zalin.
"Iya Za, hati-hati," jawab lelaki itu singkat.
Zalin mengangguk dan langsung berjalan menuju Briliant.
"Siapa lelaki yang bersama Zalin ya?," batin lelaki itu.
*
Zalin kini sudah berdiri di hadapan suaminya.
"Helm," Zalin menadahkan tangannya ke arah suaminya.
Briliant langsung mengambil helm istrinya dan memakaikannya.
Klik, helm terkunci.
"Terima kasih," Zalin tersenyum pada suaminya.
"Iya sayang, jadi beli kan?," Briliant mengerlingkan matanya.
"Udah, yuk ah berangkat!," Zalin menaiki motor dan langsung menepuk pundak suaminya.
"Oke!," jawab Briliant singkat.
Saat motor sudah masuk jalan yang lumayan sepi, Briliant bertanya pada Zalin perihal lelaki yang mengobrol dengan istrinya itu didepan apotek.
"Yang," Brilant bersuara.
"Iya ka," jawab Zalin sambil memeluk suaminya diatas motor itu.
"Tadi, siapa yang mengobrol di depan apotek?," tanya Briliant penasaran.
"Wah, ka Iyan ternyata memperhatikan juga!," pikir Zalin.
"Oh, itu. Itu teman Za ka," jawab Zalin santai.
"Bukan mantan pacar?," ledek Briliant.
"Dia suka banget sama Za tapi Za nya tidak, hehe," Batin Zalin.
"Bukan ka," Zalin menggeleng.
"Oh.. iya," Briliant mengangguk dan percaya pada istrinya itu.
"Za, nanti langsung pakai ya alat tes kehamilannya setelah sampai di rumah," pinta Briliant.
"Iya ka," Zalin mengangguk.
Briliant tersenyum dan mengusap paha istrinya.
"Bagaimana jika aku tidak hamil? aku takut, baru kali ini aku membeli alat tes kehamilan seperti ini," pikir Zalin.
***
Ma'af ya uni baru sempat up lagi π’
tadinya ingin sekali up tiap hari. Tapi ternyata banyak sekali kesibukan yang terjadi π
selamat idul fitri ya semuanyaaa ππ
jangan lupa like πdan vote nya π