My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
48



Briliant berdiri dengan hanya memakai celana pendek dan melihat ke arah Zalin dengan senyuman "Makasih". Zalin langsung bersembunyi di bawah selimut.


Jam segini harus mandi lagi. Batin Zalin


Briliant berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa handuk birunya. Dia akan segera mandi karena belum melaksanakan sholat isya.


Setelah berkutat dengan kegiatannya dikamar mandi, Brilint keluar kamar mandi dan sudah melihat Zalin duduk dikursi dengan memangku tangan dengan melirik ke arah Briliant.


Kayanya istriku agak kesal karena harus mandi lagi dipagi buta begini. Hehe.. Pikir Briliant


Briliant memandang Zalin dengan tatapan datar. "Apa lihat-lihat? Apa?" Zalin melototkan matanya pada Briliant dan Briliant hanya tersenyum dan langsung berjalan ke arah lemari mengambil baju koko. Briliant memakai baju koko di depan cermin lalu mengambil alat sholat untuk melaksanakan sholat isya. Sedangkan Zalin memperhatikan Briliant.


Beberapa menit kemudian, Briliant telah selesai melaksanakan sholat isya lalu dilanjutkan sholat malamnya.


Briliant langsung menghampiri Zalin yang terlihat memejamkan matanya di kursi.


"Yang.. " *muuaaah* Briliant mencium pipi Zalin sambil memeluknya dari arah belakang. Zalin mengucek matanya dan membuka matanya perlahan.


"Ayo, cepat mandi Yang.. bentar lagi subuh" Briliant memandang mata Zalin yang masih terlihat mengantuk. "Hm... Kaka, Za tuh udah mandi" Zalin menunduk "di sini airnya dingin sekali ka" Zalin semakin menundukan kepalanya lemas.


"Kaka udah masak air buat kamu yang" Zalin mendongkakan kepalanya. "Benarkah?" Briliant menganggukan kepalanya dengan yakin.


"Baiklah, Za mandi dulu!" Zalin hendak berdiri tapi mendudukan badannya kembali. "Kaka ko masak air buat Za?" Briliant melihat ke arah Zalin "Soalnya kaka tahu, tadi juga Za mandi pakai air hangat" Zalin nyengir "Oh.. Lalu kaka mandi pakai air hangat juga?" Briliant menggeleng "Engga lah. Lebih segar pakai air dingin Yang!" Briliant berjalan ke arah kasur dan Zalin berdiri.


"Yang, kamu bisa masak di tungku api pakai kayu bakar ga?" Zalin menengok ke arah Briliant dan menggeleng "Enggak tuh".


"Memangnya kenapa?" Zalin membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan suaminya yang sedang duduk ditepi ranjang.


"Kalo Za mandi pakai air hangat terus nanti bisa boros gas" Briliant tersenyum, "Emang bener Yang, kamu ga bisa masak di tungku api pakai kayu bakar?" Zalin mengangguk yakin. "Ah dasar orang kota!" Zalin tersenyum.


"Dulu pas Za masih SD, nenek punya tungku api seperti di rumah ini. Kadang nyuruh Za jagain api biar ga padam" Jelas Zalin.


"Terus? Apinya ga padam kan?" Tanya Briliant, Zalin menggeleng "Apinya padam" Zalin nyengir.


"Udah ah mau mandi dulu" Briliant mengangguk dan Zalin segera pergi ke kamar mandi.


Briliant merebahkan tubuhnya diatas kasur. Briliant mendudukan tubuhnya kembali dan segera berjalan ke arah ruang tamu. Briliant memeriksa kantong yang diberikan mamanya sebagai bekal dirinya dan Zalin selama tinggal berdua.


Briliant melihat-lihat isi kantong tersebut "Lengkap banget, untuk seminggu kedepam kayanya cukup" Briliant tersenyum dan membawa kantong itu ke dapur lalu merapikan di sebuah lemari.


"Beras, segala bumbu, sayur, lauknya juga ada" Briliant berdiri dan kembali ke kamar. Sambil menunggu Zalin kembali, Briliant memainkan game.


Mumpung istriku sedang mandi. Main game dulu. Refreshing...


10 menit kemudian, Briliant mendengar langkah kaki Zalin menuju kamar. Dengan sigap Briliant keluar dari aplikasi game nya dan segera menyimpan hp di atas meja.


Briliant duduk dikepala ranjang dengan kali di selonjorkan.


Zalin masuk ke kamar sudah lengkap dengan bajunya. Briliant yang melihat Zalin sudah memakai baju mengkerutkan keningnya "Za, kamu udah pakai baju?" Zalin yang sedang mengeringkan rambutnya didepan cermin mengangguk "iya".


Briliant yang sudah tau dimana Zalin memakai pakaiannya tidak bertanya lebih jauh.


Ah pasti dia pakai baju di kamar mandi. Pikir Briliant.


Zalin melihat ke arah Briliant "Ka, wudhu deh. sebentar lagi adzan subuh loh!" Briliant pun mengangguk dan segera berdiri. "Nanti kita sholat berjama'ah ya" Zalin mengacungkan jempolnya tanda setuju dan siap.


Zalin terus mengeringkan rambutnya supaya tidak terlalu basah.


Beberapa menit kemudian, Briliant kembali dari kamar mandi dan telah mengambil air wudhu.


Suara adzan subuh berkumandang


"Tuh kan adzan" Zalin melirik ke arah Briliant dan segera menggelar dua sejadah untuknya dan untuk suaminya.


Setelah adzan selesai berkumandang Briliant dan Zalinpun shalat berjam'ah berdua.


Briliant dan Zalin telah selesai melaksanakan ibadah shalat subuhnya. Mereka berdua berdo'a masing-masing.


Zalin dan Briliant mempunyai beberapa keinginan yang berbeda.Tetapi ada satu hal yang sama. Zalin dan Briliant sama-sama ingin segera mempunyai anak.


Briliant menengok ke arah belakang dan Zalin salim pada suaminya, lalu Briliant mencium kening istrinya itu. "Yang, kamu berdo'a apa barusan?" Tanya Briliant sambil berdiri.


"Banyak ka" Zalin ikut berdiri dan mulai membuka mukenanya, Briliant mengkerutkan dahinya.


"Salah satunya apa?" Briliant penasaran apa yang Zalin inginkan yang dia selipkan dalam do'anya. Refleks Zalin mengatakan "Ingin segera punya anak" Zalin menyimpan mukena dan sejadah yang baru dia lipat ke tempatnya.


Briliant menyeringai tersenyum pada Zalin, Zalin yang melihat ke arah Briliant terheran-heran.


Mengapa ka Iyan senyumnya kaya begitu? Apa jangan-jangan? ... Ah tidak-tidak! Apa yang aku pikirkan!


Zalin segera mendudukan tubuhnya di tepi ranjang diikuti oleh Briliant yang telah melepas pecinya.


"Yang! Kamu ingin segera punya anak?" Zalin mengangguk. "Ayo kita buat! Semoga keinginan kamu terkabul" Briliant tersenyum. Sementara Zalin melototkan kedua matanya.


"Ka! Yang benar saja?" Zalin melemah di kata terakhirnya. Zalin menunduk


Kasian banget istriku ini, ah aku kerjain saja dia. Lucu banget lihat ekspresinya. Dia tuh ga akan mampu nolak. Aku tau. Briliant tersenyum.


"Za Mau di kamar aja atau mau masak?" Briliant memancing agar Zalin segera memasak.


Pasti Zalin memilih masak! Pikir Briliant


Zalin mendongkakan wajahnya "Aku masak saja ka!" Zalin tersenyum ke arah Briliant dengan sumringah.


Akhirnya ada pilihan juga. Ah ka Iyan yang benar saja kamu membuatku bingung! . Zalin bahagia.


Briliant yang melihat ekspresi Zalin langsung ingin tertawa.


Segitu bahagianya kah dia? Ah Zalin! . Pikir Briliant.


"Oke, sekarang ke dapur. Masaklah, bahan-bahannya sudah kaka rapikan di lemari ya Za" Zalin mengangguk semangat dan segera berdiri dari duduknya.


"Ka, Za masak dulu ya?" Zalin melirik ke arah Briliant dan Briliant mengangguk "Masak yang enak ya!" Briliant mengedipkan satu matanya.


"Kaka mau sarapan apa?" Zalin tersenyum "Apa sajalah" Briliant tersenyum. "Oke!" Zalin mengacungkan jempolnya.


Zalin mulai berjalan keluar kamar. Saat diambang pintu, Briliant memanggil Zalin, dan Zalin segera menghentikan langkahnya.


"Yang..." Zalin menoleh ke arah Suaminya.


"Kalau sudah masak...."Briliant memotong kalimatnya dan memandang ke arah kasur lalu mengedip-ngedipkan matanya.


Zalin yang melihat ke arah Briliant langsung melotot dan menghentak-hentakan sedikit kakinya ke lantai lalu berbisik "Ah yang benar saja! Ka iyan ini!"


Briliant menahan tawanya dan merasa kasihan melihat ekspresi istrinya.


"Kaka cuma bercanda!"


"Sesudah kamu masak dan sarapan, kita jalan-jalan ke Danau" Zalin langsung tersenyum dan berjalan ke arah Briliant lalu memeluk suaminya dengan erat "Nyebelin!!!"


"Hahahaha"Briliant tertawa dalam pelukan istrinya.


***


Jangan lupa Like dan Vote nya ya pembaca setia MLMCH, beri dukungan untuk uni 😍