
BRUK!
Dada bidang Richard menabrak seseorang.
"Aduh?!"Richard kaget saat kaos putih yang dipakainya sekarang sudah basah oleh jus mangga yang tumpah.
Perlahan Richard menatap wajah orang yang menabraknya.
Gadis galak? batin Richard.
"Kamu?!" Ucap Richard
Diandra mengangkat kepalanya pelan dan melihat wajah orang yang menabraknya motornya beberapa hari yang lalu.
"Kamu kalo jalah hati-hati," ucap Ricard sambil melihat ke arah bajunya.
Richard punya ide di kepalanya.
"Baju saya jadi kotor, minta ganti rugi!" Richard memandang Diandra yang masih diam dengan wajah galaknya.
"APA?!" Diandra melototkan matanya.
Tuh, galak lagi kan? batin Richard.
"Minta ganti rugi? Enak saja! Jangan harap ya! Kamu yang jalan ga liat ke depan, pikir dong!" sarkas Diandra.
"Minumanku jadi tumpah!"
"Ya ampun, aku jalan jauh sekali dan sekarang kamu menumpahkannya!" Diandra menggelengkan kepalanya.
"Aku mau minta ganti rugi!" ucap Diandra.
"Kamu harus mengganti minumanku!"
"Eh ma'af ya Nona galak, tapi bajuku basah nih," ucap Richard tidak mau kalah.
"Bukan urusanku! Pokonya aku minta ganti rugi!"
Di tengah perdebatan mereka berdua, anak kecil berlari menghampiri Diandra diikuti oleh seorang perempuan.
"Bicaaaaaan! Mana jus nya?" Arsen turun dari pangkuan Bianca dan berlari ke arah Diandra.
Bican? Apa nama nona galak itu Bican?, pikir Richard.
Arsen kini memeluk kaki jenjang milik Diandra. Diandra memperlihatkan bahwa jusnya sudah tumpah dan tidak ada yang tersisa. Arsen langsung menangis karena minuman yang dia inginkan tidak ada di tangan Bicannya.
"Aaaaaaaa, Arsen mau jus mangga!" teriak Arsen.
Diandra melihat ke arah Richard lalu ke arah keponakannya. Diandra semacam memberi kode minta ganti rugi pada Richard.
Apa dia anaknya? ah, apa mungkin aku siap menikah dengan seorang janda?! Ya ampun apa yang aku pikirkan?!, Batin Richard.
Bianca menghampiri Arsen dan menggendongnya. Bianca adalah sepupu Diandra dan Zalina Salim.
"Kenapa Arsen?" tanya Bianca.
"Jusnya tumpah, Arsen kan mau jus itu."
Arsen menangis dipelukan Bianca. Bianca berusaha menenangkannya dan pergi menjauh dari Diandra dan Richard.
Ah sepertinya anak itu bukan anak nona galak ini. ucap Richard dalam hati.
"Kamu lihatkan?!"
"Mana ganti ruginya?"
"Ga mau!" Richard membuang mukanya.
"Ya ampun!" Diandra mulai kesal.
"Kasih tahu namamu, nanti aku akan ganti rugi," ucap Richard pelan.
"Ya ampun, kurang ngajar sekali dia," bisik Diandra tapi masih terdengar oleh Richard.
Richard tidak menanggapi ucapan Diandra walaupun dia mendengarnya.
Tidak lama kemudian.
"Diandra,..." Diandra dan Richard mengikuti arah suara dan pandangan mereka berakhir di Bianca yang sedang menggendong Arsen.
"Cepatlah ke sini,ambil uangnya dan beli lagi jusnya, Arsen menangis!" teriak Bianca sambil melambaikan tangannya ke arah Diandra dan Richard.
Richard tersenyum karena telah mendapatlan jawabannya.
"Di...an...dra..." ucap Richard tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Huh, mana ganti ruginya!"
"menyebalkan sekali, kenapa sepupuku memanggil namaku,"ucap Diandra pelan.
Richard menyerahkan beberapa lembar uang pada nona galak di hadapannya, Diandra hanya mengambil uang sebagian hanya mengambil seperlunya seharga jus mangga. Sisanya dia kembalikan. Diandra langsung pergi dari hadapan Richard dengan wajah kesal.
Kalau aku bawa uang di sakuku tidak mungkin aku ingin repot-repot meminta ganti rugi dengan cowo itu lagi. hadeuh! pikir Diandra.
Richard menatap kepergian Diandra dengan senyuman.
"Diandra, semoga nanti kita bisa bertemu lagi ya..." ucap Richard pelan.
"Ah, bajuku jadi basah begini. Hm... Diandra," Richard tersenyum dengan begitu manis ke arah hilangnya Diandra.
Ponsel Richard bergetar menampilkan panggilan dari ayahnya, Bramantyo Aditama.
Richard langsung menerima panggilan itu.
"Ya pa,..."
"Kamu masih dimana?"
"Aku masih diparkiran," ucap Richard.
"Cepat ke di sini!"
"Iya pa, aku segera ke sana."
Panggilan berakhir.
"Kalo bajuku basah seperti ini, aku harus segera menegeluarkan koperku dan mengganti bajuku di hotel."
Richard membuka bagasi mobilnya dan mengambil satu koper dari sana.
Di tempat lain
Diandra berjalan mendekati Arsen yang sedang bermain pasir dengan Bianca dengan jus mangga di tangannya.
Gara-gara cowo itu aku harus capek dua kali.
"Arsen, ini jus siapa ya?!" ucap Diandra sambil mengacungkan tangan yang memegang jus mangga.
Arsen yang sedang asik bermain pasir langsung melihat ke arah Diandra.
.
"Punya Arsen!"
"Cuci tangannya dulu sono!" ucap Diandra sambil melemparkan pandangannya ke arah laut.
"Gamau! Arsen takut ombak!"
"Kalo tangannya kotor jus nya ga enak loh," bujuk Bianca.
"Tapi Arsen gamau cuci tangan di laut, takut .." Arsen cemberut.
Zalin yang sedang duduk bersebelahan dengab Briliant.
Zalin menghampiri Arsen dengan membawa botol air mineral ukuran 1,5 liter. Zalin memberikan air itu pada Bianca.
"Bianca, cuci tangan Arsen pakai ini saja."
Bianca mengangguk dan mulai mencuci tangan Arsen. Setelah itu Arsen berlari ke arah Diabdra untuk mengambil jus mangga miliknya.
Setelah menyerahkan botol minum, Zalin kembali mendekati Briliant. Zalin dan Briliant menikmati pemandangan pantai. sedangkan Arsen kembali bermain pasir bersama Diandra dan Bianca setelah menghabiskan minumannya.
Keluarga Zalin, Diandra dan Bianca pergi berlibur bersama ke pantai. Jarak pantai tidak jauh dari rumah Briliant, jadi Briliant tidak keberatan untuk ikut. Karena sebenarnya Briliant sangat suka dengan pantai, Zalin langsung mengiyakan ajakan Bianca karena tahu Briliant akan menyetujuinya.
Bukan tanpa alasan mereka berlibur, Bianca sedang patah hati. Karena ditinggal nikah oleh kekasihnya.
Bianca sangat butuh hiburan, apalagi dengan kehadiran Rayyanza anak Zalina.
Bianca harus menerima kenyataan bahwa kekasih yang selama ini dia cintai telah membohonginya. Lelaki itu menjadikan Bianca sebagai orang ketiga dalam hubungannya dengan wanita lain.
Lelaki itu adalah Keenan, lelaki yang mengaku single tapi nyatanya sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan kekasihnya. Keenan berpacaran dengan Bianca, saat dia sudah mempunyai calon istri.
Saat dipantai, Bianca sedikit melupakan kenangan masa lalunya itu. Melihat Rayyan berlari-lari di atas membuat Bianca lupa akan keenan yang telah menyakiti hatinya.
Di sudut lain tepi pantai
Zalin duduk di sebuah tikar yang telah di sewanya, Briliant meletakan kepalanya di paha Zalin. Briliant meminta Zalin untuk mengusap-ngusap kepalanya, Zalin menurut.
"Manja sekali," gumam Zalin.
"Tapi suka kan?" Briliant tersenyum melihat ke wajah istri yang telah memberinya satu anak.
"Hm..."
Zalin memperhatikan Rayyan yang sedang bermain pasir sambil berlari-lari dengan Diandra dan Bianca.
"Ka, kata orang-orang Rayyan sangat mirip denganmu."
"Jelas, kan kamu sangat cinta sama aku," ucap Briliant percaya diri.
Zalin memukul pelan dahi Briliant.
"Aduh! Ko mukul sih Yang?" Briliant memanyunkan bibirnya sampai wajahnya terlihat imut sekali.
Zalin merasa gemas dibuatnya, dia langsung mencubit pipi suaminya itu cukup keras.
"Jangan pasang wajah seperti itu! Membuat aku gemas saja! Ka Iyan mau aku gigit?!" tanya Zalin.
"Kalau mau gigit, nanti saja. Jangan di sini,..."
"malu," ucap Briliant pelan sambil tersenyum memandang wajah istrinya dengan manja.
***
Jangan lupa like 👍 dan komentarnya ya sayang-sayangnya uni 😍
Zalin dan Briliant udah muncul dan uni ga bisa diam aja, Zalin dan Briliant tetap jadi tokoh utama di novel ini. 😘