My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
85



Kamu ga punya pacar Za?" Senyuman maut Richard yang membuat banyak wanita klepek-klepek tidak berlaku untuk Zalin. Zalin merasa takut melihat senyuman Richard.


Zalin merasa kesal tidak ada yang bisa menghentikan tindakan Richard padanya.


Sampai akhirnya datang seseorang dari arah gerbang. Semua orang termasuk Richard dan Zalin dibuat kaget oleh kedatangannya secara tiba-tiba.


Suara motor terdengar, semua mata teman KKL Zalin langsung tertuju pada pintu gerbang.


Jantung Zalin berdetak lebih cepat saat melihat motor itu masuk. Sedangkan Richard tenang, tidak merasa salah sedikitpun.


"Apa yang akan terjadi?" bisik Fathia sambil mengigit kukunya karena cemas.


"Hm, semoga tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan," harap Hana.


"Ya ampun Za! kenapa kamu bilang aja udah punya suami," Willy komat kamit yang hanya dia yang mengerti apa yang dia katakan.


Sisanya menunduk, saat motor dari gerbang mendekati mereka.


Ckittt, motor berhenti tepat di dekat Richard dan Zalin.


Orang itu membuka helmnya, Briliant tersenyum kepada Zalin. Zalin yang tadinya merasa takut akan kedatangan Briliant langsung tersenyum menatap suaminya dengan potongan rambut barunya yang baru dipangkas.


Tampannya suamiku, pikir Zalin.


Setelah Briliant menatap wajah istrinya, Briliant beralih menatap tangan istrinya yang sedang di cengkram oleh Richard.


"Apa yang akan terjadi?" ucap Fathia menggenggam tangan Hana cemas.


Briliant mendekati Zalin yang memegang bahunya dan mengusap perutnya.


Briliant berbisik yang dapat didengar oleh Zalin dan Richard.


"Sayang, apa anak kita sudah kamu kasih makan? Ma'af ya suamimu ini baru pulang."


"Suami?" ucap Ricard melepaskan cengkraman dari tangan Zalin.


"Iya, dia istriku. Kamu tidak percaya?" tanya Briliant datar.


Richard masih kaget dibuatnya, Richard paling pantang menjadi pebinor walaupun dia seorang playboy.


Pebinor (Perebut bini orang).


Briliant menarik Zalin kedalam pelukannya, Briliant merasakan ketakutan pada diri istrinya.


"Jika kamu tidak percaya, silahkan tanyakan pada kawan-kawanmu," Briliant menatap semua teman KKL Zalin yang kesemuanya sudah menunduk.


"Dan pa Arkan, dosen pembimbing kalian."


Richard masih tidak berkutik, Briliant mengajak Zalin berjalan menuju motornya untuk pulang. Zalin tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa diam. Briliant juga tidak bicara apapun kepada teman-teman KKL Zalin.


Zalin dan Briliant langsung berangkat pulang ke rumah. Zalin memeluk suaminya erat, dia merasa takut suaminya akan marah ketika sampai ke rumah. Dia merasa bersyukur Briliant tidak berbuat hal anarkis.


Sedangkan di kontrakan, setelah Briliant dan Zalin pergi. Richard berjalan mendekati teman-teman KKL nya yang sedari tadi hanya menonton saat dia merasa malu karena ucapan Briliant.


Richard berdiri di depan teman-temannya. Satu persatu wajah dia perhatikan, hampir semuanya menunduk.


"KALIAN TAHU ZALIN SUDAH MENIKAH?!"


tanya Richad kesal.


Semuanya hanya diam.


"DAN ZALIN SEDANH HAMIL, KALIAN TAHU JUGA?!" tanya Richard lagi.


Hening, semuanya tidak ada yang berniat menjawab.


Richard diam menunduk.


Fathan memberanikan diri angkat bicara.


"Iya, sebenarnya..."


"DIAM!"


"Emosian sekali dia," gumam Fathia.


Setelah Fathan berusaha angkat bicara, Richard langsung masuk ke dalam kontrakan. Semuanya menghela nafas lega.


"Ya ampun ku kira ka Iyan akan menghajar si Richard," ucap Fathia pada Hana.


Hana mengangguk tanda setuju dia sepemikiran dengan Fathia.


Saat mereka akan kembali aktifitasnya Richard keluar dari kontrakan dengan membawa kopernya.


"Kamu mau kemana?" tanya Andika heran.


"PULANG!"


"KKL kan belum selesai mana bisa begitu?" tanya Willy.


"Ayahku yang punya Yayasan, jangan banyak bicara!" jawab Richard ketus tanpa memandang lawan bicaranya.


"Oh ya Andika," Richard melihat ke arah Andika.


"Iya," jawab Andika datar.


"Kekurangan dana akan ku tutupi, tapi aku ga bisa lagi ikut kegiatan KKL." ucap Richard pada Andika.


Andika hanya bisa mengangguk.


Richard pergi dari kontrakan dengan satu koper dan langsung melajukan mobilnya ke luar gerbang.


Richard menepikan mobilnya di daerah yang lumayan sepi. Setelah mobil berhasil menepi, Richard memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya.


"MALUUUU!"


"Lebih baik dia menghajar gue daripada dia berkata mesra kepada Zalin di hadapanku!"


Richard menenggelamkan wajahnya di atas stir mobilnya.


Malu. Ya itulah yang dirasakan Richard saat Briliant datang dan memanggil Zalin dengan sebutan istri.


Sejak kejadian itu, Richard memutuskan untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan KKL. Zalin merasa lega dan Iyan pun merasa tenang. Pa Arkan, dosen itu tidak banyak bertanya karena tau Richard itu siapa.


"Setidaknya dia sudah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini," batin pa Arkan.


Setelah kepergian Richard, Zalin dan teman KKL nya merealisasikan kegiatang yang sudah di rencanakan. Karena dananya ada, semuanya berjalan sesuai rencana.


30 hari berlalu, dan kegiatan KKL telah selesai. Semua mahasiswi berpelukan, 30 hari bukan waktu yang sebentar. Mereka semua berasal dari jurusan berbeda punya pendapat berbeda.


"Aku akan merindukan kalian" ucap Zalin pada semuanya.


"Iya akupun," Hana memeluk Zalin.


"Sehat selalu ya bumi," ucap Delia.


"Jangan stres ya bumil, biar anaknya cerdas macam kaka.. hehe" ucap Fathia.


"Semoga nanti lahirannya lancar," ucap Ana.


Dan mereka semua saling peluk-pelukam.lagi seperti teletubies.


Keesokan harinya semua di jemput oleh Pa Arkan. Setelah 2 hari sebelumnya mereka semua melaporkan laporan kegiatan kepada kepala Desa tempat mereka melaksanakan kegiatan KKL.


"Za, laporan sudah selesai?" tanya pa Arkan pada Zalin.


"Sudah pa, tinggal finishing ."


"Bagus!"


Setelah berbincang-bincang, Pa Arkan dan kelompok KKL Za pun pulang ke rumah mereka masing-masing.


Zalin saat itu di jemput oleh Briliant, dia pulang paling akhir. Setelah 10 menit menunggu akhirnya suaminya datang.


"Ma'af ya sayang nunggu lama," ucap Briliant sambil menyodorkan helm pada Zalin.


"Dikasih hukuman ah, kebiasaan sekarang banyak telat!" Zalin memanyunkan bibirnya.


"Apa hukumannya?"


"Bakso istigfar!" Zalin nyengir.


Briliant bengong mendengar ucapan Zalin.


Bakso Istigfar adalah nama kedai bakso yang ukuran baksonya itu jumbo, tidak tidak... super jumbo. Besar sekali.


"Yang gede itu?" tanya Briliant meyakinkan.


"Engga boleh ah, katanya kalo orang hamil jangan terlalu banyak makan bakso. lagian itu bakso gede banget Za sayang, ga akan habis kalo cuma kita berdua yang makan. Hemat ya sayang."


Zalin memanyunkan bibirnya.


"Yang lain saja," tawar Briliant.


Zalin memasang helmnya dan tersenyum.


"Sop duren, sudah lama ga ke kedai sop duren!"


Briliant dengan cepat menggelangkan kepalanya.


"No, kata mama sama ibu. Ibu hamil ga boleh makan duren."


"Apa-apa ga boleh, ini ga boleh itu ga boleh."


"Ya sudah kita pulang saja," gerutusm Zalin sambil menaiki motornya.


"Kita belanja aja yuk ke supermarket," ajak Briliant.


"Ayoo... Berangkat bang Iyan!" Zalin menepuk pundak suaminya setelah itu memeluknya dengan erat.


Motor Iyan pun melaju meninggalkan kontrakan.


***


Eits... jangan lupa tekan ikon 👍 nya ya, semoga uni bisa crazy up 😉