My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
Chapter 7 (MLMCH S2)



"Bang! Apa benar, gadis ini calon istri abang?" tanya siswa SMA.


Richard menatap lengannya yang sedang dipegang oleh gadis SMA dan dia menatap mata gadis itu. Gadis itu tersenyum dan memberi kode.


Setelah menatap mata gadis SMA itu Richard melihat ke arah siswa laki-laki dan bekata.


"Ya, aku calon suaminya. Jangan brani mengganggu dia!" ucap Richard penuh penekanan. Siswa SMA itu langsung mengangguk patuh setelah mendengar perkataan Richard.


Gadis itu tidak langsung melepaskan lengan Richard. Dia menunggu siswa SMS itu benar-benar pergi dari sana.


Di luar kedai


Laki-laki itu adalah Bagas Aditya, siswa populer di sekolahnya. Dia sangat dengan mudah menarik perhatian siswi di sekolahnya, karena bukan hanya tampan dia juga orang yang cukup kaya.


Bagas dan kedua temannya Darel dan Sbastian memberikan tantangan pada Bagas agar menjadikan seorang gadis pendiam di sekolahnya menjadi pacarnya. Karena hanya gadis itu yang terlihat tidak tertarik pada Bagas.


Mereka bertaruh bahwa gadis itu tidak akan menerimanya. Tapi Bagas dengan percaya dirunya akan menaklukam gadis itu.


Tapi kenyataannya....


Bagas keluar dari dalam kedai dengan kesal dan menghampiri mobilnya yang berwarna hitam metalic. Didalam mobil itu ada kedua sobatnya Darel dan Sbastian.


Bagas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam kursi pengemudi, lalu menutup pintunya dengan kasar.


"Wih kenapa bro! di tolak?" tanya Darel penasaran. Darel duduk di bangku penumpang sedangkan Sbastian duduk di bangku depan.


"Dia udah punya calon," Bagas memukul stir mobilnya.


Rasanya sia-sia dia mengejar gadis itu sejauh ini.


"Calon pacar maksud loe?!" tanya Sbastian mengkerutkan dahinya


"Calon Suami!" jawab Bagas kesal.


"Wah wah wah... ternyata dia laku juga ya?!" Darel mengangguk-anggukan kepalanya.


Sbastian melihat ke sekeliling dan hanya melihat motor di sekitaf kedai itu.


"Bro, kayanya kamu lebih tajir dari calon suaminya."


hahahaha


Sbastian tertawa sangat puas.


"Apapun kenyataannya, Bagas tetap kalah taruhan! dia Kan mentraktir kita selama satu minggu. Aaaaah indahnya dunia!" Darel merentangkan tangannya dan memejamkan matanya.


Bagas langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan kedai itu.


Di dalam kedai


Ghina langsung melepaskan tangab dafi lengan Richard. Tidak merasa tidak enak hati.


"Ma'af ya ka,"


"Terimakasih juga." ucapnya kemudian.


Richard mengangguk dan gadis SMA itu langsung menyantao baksinya yang muali dingin karena kedatangan Bagas. Richardpun menyantap baksonya.


Karena sibuk makan bakso tanpa Richard sadari, gadis SMA di sampingnya sydah menghilang.


Richard melirik kanan kiri, tidak ada.


Apa aku bermimpi?, pikir Richard.


"Mbaknya sudah keluar sejak tadi ka...adududuh, kayanya baru pertama melihat bikin rindu ya?" ledek Nakia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anak kecil banyak bicara!" Richard mengacak rambut Nakia asal.


"Kaka ini..." Nakia memanyunkan bibirnya sementara tangannya merapikan rambutnya ya g menjadi acak-acakan.


"Sudah selesai belum? kita pulang sekarang," Richard menatap Nakia.


"Sudah, ayo kita pulang!" Nakia meninggalkan Richard dalam kedai.


Setah membayar baksonya, Richard langsung meninggalkan kedai itu bersama Nakia untuk pulang ke rumahnya. Richard ingat, bahwa El akan ke rumahnya dan dia akan mengagetkan El dan akan menjailinya.


Sesampainya di rumah


Richard langsung masuk ke dalam rumah dan merasa aneh dengan dekorasinya. Nakia merasa heran.


"Akan ada acara apa pak?" tanya Richard pada Bramantyo yang baru keluar dari kamarnya.


Richard merasa heran baru sejam lebih dia keluar dari rumah, rumahnya sudah di tata sedemikian rupa dengan sedikit dekorasi.


Nakia berlari ke kamarnya meninggalkan Richard dan ayahnya.


Bramantyo mengajak Richard ke ruang kerjanya untuk berbicara dengan Richard.


Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Fatma besok akan melaksanakan pertunangan dengan El," ucap Bramabtyo sambil tersenyum.


"Memangnya papa sudah bertemu dengan El?" tanya Richard pnasaran. Karena setahu Richard, Fatma belum pernah membawa lelaki manapun ke rumah termasuk El, bahkan El juga tidak tahu bahwa dia adalah kembaran dari Fatma.


"Tadi papa sudah bertemu, El mengantar Fatma ke rumah. Dan setah kita mengobrol, kamu tahu Richard..." Bramantyo menggantungkan kalimatnya.


"Apa?" Richard menampilkan wajah penasaran.


"Dia ternyata anak sahabat papa dulu!"


Huh, ku kira apaan! pikir Richard.


"Setelah papa tau dia adalah anak pa Hamish, El langsung menghubungi papanya dan Papa mengobrol dengan ayahnya El," ucap Bramantyo.


"Ternyata dunia sempit ya?"


Bramantyo tersenyum dan bangun dari duduknya.


"Kamu tunggu dulu di sana!" perintah Bramantyo pada Richard.


"Ada apa pak?" tanya Richard sambil matanya mengikuti kemana arah ayahnya berjalan.


Bramantyo berjalan ke arah meja kerjanya, dia mengambil beberapa lembar poto fi laci kerjanya. Kemudian dia kembali berjalan ke sisi Richard.


"Ini, pilihlah... " ucap Bramantyo menyerahkan beberapa lembar poto yang baru dia ambil dari lacinya.


Richard menerima poto-poto itu dan memandangnya dengan seksama.


"Ya ampun pa! ... apa-apaan ini? memangnya aku ga laku apa? Fatma aja baru mau tunangan. Hmmmm" Richard bernafas dengan kasar. Dia menyimpan poto-poto itu di atas meja di depannya.


"Aku masih ingin kuliah dan sukses dulu pak.." ucap Richard lemas.


Bramantyo tersenyum dan senang mendengar perkataan anaknya.


"Iya baiklah, kamu simpan dulu poto itu," Bramantyo melihat ke meja di hadapan Richard.


"Kali aja nanti kamu bisa memilih satu diantara mereka."


Richard tidak mau berdebat dengan ayahmya, dia langsung mengambil poto-poto itu.


"Aku ke kamar dulu," ucap Richard dan berjalan ke arah pintu, meninggalkan ayahnya di ruang kerja sendirian.


Keesokan harinya


Keluarga El sudah datang dan di sabut oleh keluarga Bramantyo Aditama. Bramantyo langsung memeluk ayah El dan saling bertegur sapa. Sementara El merasa heran ada teman sekelasnya yang menyebalkan ketika di kampus.


"Hai El?!" sapa Richard.


"Richard? Ko loe ada di sini?" tanya El bingung.


"Emang gue harus dimana?" Richard bertanya balik pada El.


"Ga tau."


"Ini rumah gue," Richard tersenyum tipis.


"Ayo masuk-masuk!" ucap Bramantyo menghentikan obrolan Richard dan El.


"Nanti loe juga akan tau!" Richard mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumah diikuti oleh El.


Entah kejutan apalagi yang akan di terima oleh El Zaidan, calon suami Fatma setelah kemarin mengetahui bahwa ayah Fatma adalah bagian penting di kampusnya. Selama dia mengenal Fatma, Fatma tidak pernah mengatakan apapun tentang keluarganya.


Setelah keluarga berkumpul, acarapun langsung di mulai. Fatma diapit oleh kedua adik kembarnya yang sama-sama cantik. El tersenyum melihatnya, kejutan pertama dia dapatkan hari ini. Fatma memiliki adik yang kembar dan keduanya sangat mirip.


Ayah El, Fawwaz Hamzah memperkenalkan semua keluarganya dan mengatakan maksud dan tujuannya. Setelah selesai, Richard pun berbicara sebagai perwakilan dari keluarga Fatma.


"Izinkan saya, sebagai saudara dari Fatma Husniatuzzahra menyampaikan tanggapan dari keluarga El yang di diwakili langsung oleh ayahnya pa Fawwaz Hamzah.."


El tidak percaya, Richard temannya yang menyebalkan itu bica bicara seformal itu. Setau El, Richard adalah mahasiswa yang seenaknya bahkan dia belum lulus karena skripsinya tidak kunjung kelar.


Oh, saudara Fatma. Paling saudara sepupu. Pikir El


"Saya adalah saudara kembar Fatma, nama saya Richard Bramantyo......"


El terkejut mendengarnya dia merasa ini adalah kejutan yang paling mengejutkannya.


Sementara Fatma tersenyum melihat calon suaminya terlihat syok tidak percaya bahwa Richard yang selama ini dia bicarakan pada Fatma ternyata adalah calon kakak iparnya.


***


Jangan lupa tap jempol kalian 👍 setelah membaca ya 😍😘😘