
UAS Semester 6 telah selesai. Zalin bernafas dengan lega, setelah melihat nilai-nilainya memuaskan dia bertambah senang.
Zalin telah kembali pulang ke rumahnya dengan Briliant, suaminya. Setelah Zalin turun dari motor dia langsung masuk ke dalam rumah mencari ibunya, karena ibunya pasti senang melihat nilai Zalin tetap bagus walaupun telah menikah.
"Ibu...."Zalin memanggil ibunya, "Iya nak, ada apa?"Ibu Zalin keluar dari kamarnya melihat Zalin yang sudah duduk di kursi di ruang tamu. Zalin segera memperlihatkan nilai-nilai UAS nya kepada ibunya "Ibu.. lihat deh, nilai Za bagus-bagua kan? Ini belum semua mata kuliah sih. Hanya beberapa yang belum selesai di periksa" Zalin menyerahkan lembar jawaban UAS nya kepada ibunya.
Ibu Zalin melihat-lihat kertas yang diberikan oleh Zalin "Iya Za, bagus! Kamu bisa mempertahankan nilaimu walaupun sudah menikah", Zalin tersenyum dan memeluk ibunya. "Bu..." Zalin melepaskan pelukan dari ibunya. "Iya, kenapa Za?" Ibu Zalin memegang kedua tangan anaknya. "Za, besok mau ke kota ka Iyan ya? Za kan setelah nikah belum sempat ke sana, Mulai besok sudah mulai libur semester? Bagaimana bu? Boleh?" Ibu Zalin tersenyum melihat anaknya. "Ya tentu boleh, boleh sekali. Za, kamu ini sekarang sudah menikah. Setelah kamu menikah, apa-apa izin sama suami, mengerti?", Zalin mengangguk.
Zalin mengelus tangan ibunya "Za mengerti bu, hanya saja. Za takut ibu tidak mengizinkan". "Za, dengar ibu ya! Kalau dulu Za di larang kemana-mana, main jauh oleh ayah dan ibu. Karena kami khawatir kamu anak gadis kami. Kalau sekarang...." Ibu Zalin memotong kalimatnya karena melihat menantunya Briliant masuk ke dalam "Iyan, sini" Ibu Zalin memanggil Briliant dan menyuruhnya duduk di kursi tunggal dan Briliant langsung menurut. Ibu melanjutkan kalimat yang tadi sempat terpotong "Kalau sekarang, Za mau kemanapun boleh, kalau sama Iyan" Ibu Zalin melihat ke arah Briliant dan tersenyum, Briliant pun tersenyum. " Jadi kalau besok, kapanpun atau mau sampai kapanpun Za mau ke kota Q atau luar kota lain Ibu dan Ayah mengizinkan asal dengan suamimu" Zalin mengangguk, "Tapi seringlah kabari ibu karena ibu ingin memastikan bahwa kamu sehat dan baik-baik saja dimanapun kamu berada ya nak?" Zalin memeluk ibunya. Briliant hanya bisa melihat istrinya dan mertuanya tenggelam dalam perasaan mereka.
Setelah beberapa menit berpelukan, Zalin dan ibunya saling melepaskan pelukan mereka. "Iyan, besok kalian mau berangkat jam berapa?" Tanya ibu sambil mengelus pundak Zalin. "Sepertinya jam 8 pagi bu, biar tidak terlalu panas di jalannya" Ibu Zalin pun mengangguk. "Ya sudah sekarang kalian beristirahatlah dahulu" Ibu Zalin memandang Zalin "Za, siapkan apa yang akan kamu bawa ke kota Q dari malam agar tidak ada yang tertinggal!". "Siap" Zalin mengerlingkan matanya pada ibunya. Ibunya tersenyum.
"Ibu mau ke dapur dulu sekarang. Sepertinya Diandra sebentar lagi akan pulang"Ibu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
Setelah ibunya hilang dari pandangan, Zalin berdiri dari duduknya dan menarik tangan Briliant menuju kamarnya.
Duh istriku, main tarik-tarik saja. Inikah masih sore. Briliant tersenyum.
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
"Ka, sini ka" Zalin masih menarik tangan Briliant ke atas kasur. Briliant mengangguk dan menurut. Zalin duduk diatas ranjang dan Briliant melakukan hal sama. Zalin dan Briliant duduk berhadapan.
Sebenarnya apa sih yang dia inginkan? Briliant sibuk dengan pikirannya.
Zalin menggenggam tangan suaminya "Ka iyan". "Iya" Briliant menatap mata istrinya dengan senyuman dimatanya. "Nanti kita ke Laut yuk, kita main ke pantai. iih kayanya seru deh ka" Zalin menerawang melihat ke langit-langit kamar. "Mau bicara ini saja?" Briliant mengkerutkan dahinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hehe.." Zalin nyengir melihat ke arah Briliant. "Ayo nanti kita ke pantai, main air. Kaka kira kamu nerkam kaka" Briliant tersenyum meledek ke arah Zalin. "Asik... Ih apaan, ma'af ya, Za mah pikirannya masih anak-anak, walaupun badan kaya dewasa ya. Lain sama kaka, Kebalik" Zalin melepas genggaman tangannya dari Briliant. "Kebalik seperti bagaimana?" Briliant menurunkan kakinya ke bawah ranjang, mengikuti gerakan yang di lakukan Zalin. "Kalau kaka itu, Wajah anak-anak, tapi pikirannya udah dewasa bangeeeet. Weeeek" Zalin segera berlari ke kamar mandi karena takut di terkam oleh suaminya. Briliant tersenyum yang melihat tingkah istrinya yang ketakutan.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, Warna langit sudah mulai berubah perlahan menjadi warna Jingga. Briliant sibuk melihat ke arah luar jendela. "Istriku ini lama sekali mandinya" Briliant menatap ke atas langit . Tidak lama kemudian, Ceklek Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok yang Briliant nanti, Brikiant segera melihat ke arah Zalin dan tersenyum penuh arti.
Please lah ka, jangan sekarang udah sore. Za belum sholat.
Saat Zalin menggelar sejadahnya, Zalin bertanya pada Briliant " Kaka udah sholat belum?". "Udah" Jawab Briliant singkat. "Dimana?" Zalin menatap Briliant sekilas, "Di mesjid kampus ayang. Ayo jangan dulu banyak bertanya. Sholat dulu!" Zalin mengangguk dan mulai melaksanakan Sholat asharnya.
Setelah Zalin selesai melaksanakan sholatnya, Briliant dan Zalin ke dapur untuk makan.
______
Di meja makan
Saat Zalin dan Briliant berjalan ke arah meja makan, Zalin melihat adiknya Diandra sedang makan dengan wajah cemberut.
Briliant duduk di kursi meja makan bersebelahan dengan Zalin yang berhadapan dengan adiknya Diandra. Zalin dengan sigap mengambil piring dan menyendokan nasi ke piring untuk Briliant ditambah lauk dan sayurnya dan menyerahkannya pada Briliant. Zalimoun melakukan hal yang sama untuk dirinya.
Biasanya di rumah Zalin hanya kadang-kadang ada sayur, Lalapan jarang sekali. Tapi, semenjak Zalin menikah, Di kulkas selalu tersedia sayur dan lalapan. Zalin menatap adiknya yang masih cemberut tidak memperdulikan dua sejoli yang sedang makan di hadapannya.
Sepertinya adikku ini sedang galau.
"Yang, baca do'a sebelum makan dulu" Bisik Briliant yang mengerti Diandra sedang berada di mode bad mood, Zalinpun menunduk dan langsung berdo'a bersama dengan Briliantm Setelah berdo'a mereka langsung menyantap makanan yang sudah ada di hadapannya.
Sesekali Zalin memperhatikan tingkah Diandra yang hanya memainkan Mie nya diatas piring. Diandra adalah adik Zalin yang unik, dia tidak suka nasi. Dia paling takut sama yang namanya nasi, segala bentuk yang bahannya dari beras dia tak mau. Dia akan mengamuk jika ada yang iseng memberikan nasi walaupun hanya sebutir padanya.
S**etelah makan, aku harus menanyakan apa yang Diandra rasakan. Bisa bahaya dia kalau galau. Akan sunyi rumah ini tanpa suara berisiknya.
15 Menit kemudian, Briliant dan Zalin telah menghabiskan makanan di piring mereka masing-masing. Briliant minum, "Alhamdulillah" Briliant meletakan kembali gelasnya "Za, kaka mau ke luar dulu ya. Ke om Andrean", Zalinpun mengangguk. Briliantbmengerti bahwa Zalin butuh waktu untuk bicara dengan adiknya Diandra.
Ah ini kesempatan untukku bicara dengan Diandra.
***