My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
40



Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka


Zalin keluar dari kamar mandinya dengan wajah cemberut. Briliant yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka seketika melihat ke arah pintu kamar mandi meninggalkan aktifitasnya yang sedang mengerjakan tugas kuliah Zalin dilaptopnya. "Yang, kenapa cemberut begitu?" Zalin berjalan menuju ranjang dan mendekati Briliant tanpa menjawab pertanyaan suaminya, masih dengan wajah cemberut.


Kini Zalin sudah duduk diatas ranjang dekat dengan Briliant. Briliant yang masih tidak mengerti apa yang dirasakan istrinya mengusap-ngusap kepala Zalin "Sayang, kamu kenapa? Enggak jadi mandinya?", “Engga ah. Za ga mau berangkat kuliah" Zalin membuang mukanya.


Ya ampun, ada apa dengan istriku ini? Biasanya aku lagi santai selalu narik-narik pengen dianterin kuliah. Sekarang? kenapa jadi malas-malasan begini. Pasti ada yang salah!


Briliant menangkup wajah Zalin agar berhadapan dengan wajahnya. "Sayang, kalau ada masalah bicara. Komunikasikan dengan kaka?" Briliant berkata dengan lembut agar Zalin menjawab pertanyaannya. Zalin menunduk "Aku datang bulan ka", "Terus masalahnya apa? Memang kamu selalu gitu kan tiap bulan juga, sebelum menikahpun" Briliant mengkerutkan dahinya "Kenapa datang bulan sekarang kamu jadi cemberut gitu yang?". Zalin membuang wajahnya "Ih kaka ini ga ngerti ya?" Briliant menggaruk tekukmya yang tidak gatal "emang.. kaka ga ngerti" Briliant nyengir. Zalin berdiri dari duduknya "Ih ga peka banget sih!", "Ya ampun yang! Bilang aja apa masalahnya, Kaka ga ngerti" Briliant mengikuti Zalin bangkit dan berdiri lalu berdiri di belakang Zalin memeluk istrinya "Katakan, kenapa Za cemberut gitu setelah datang bulan?" Briliant berbisik di telinga Zalin.


Zalin menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan, tubuhnya yang kini dipeluk oleh Briliant sejenak bisa tenang. "Ka..." Zalin mulai mengeluarkan suaranya, "Iya yang?" Briliant menjawab dengan pelan, "Kalau Za datang bulan sekarang itu artinya Za itu ga hamil ka!" Zalin kesal karena dia harus menjelaskan pada Briliant. "Oh.. jadi Za mau hamil?" Briliant menahan tawanya tapi berusaha keras tidak tertawa, Briliant tersenyum.


Ya ampun ternyata ini masalahnya. Zalin. Zalin. Kamu ini yang! Aku ga nyangka kamu ngebet pengen cepat hamil gini.


"Gini ya ka, kalo Za hamil sekarang-sekarang tuh, nak. Nanti pas Za ambil cuti, Za lahiran. Kalau hamilnya 5 bulan lagi atau lebih..." Zalin memotong kalimatnya dan menunduk "Bisa-bisa Za memperpanjang cuti kuliah karena melahirkan. Temen Za juga yang lahiran gitu, dia ambil cuti" Zalin mengeluarkan unek-uneknya, "Penuh perhitungan juga ternyata Yang" Briliant mengelus kepala istrinya itu. "Ya Nanti kita coba lagi, semoga secepatnya Za bisa hamil" Briliant mencium kepala Zalin. Senyum di bibir Zalin mulai terbit.


Briliant membalikan tubuh istrinya itu "Sekarang, Za mandi siap-siap masuk kuliah. Jangan malas-malasan. Bukannya Za mau wisuda kaya kaka?" Zalin mengangguk dan langsung berjalan kembali ke kamar mandi. Sedangkan Brilint hanya tersenyum melihat kepergian istrinya itu.


________


Satu Bulan kemudian


Kejadian bulan lalu terulang kembali. Zalin cemberut mendapati bahwa dirinya Datang bulan. Seperti biasa, Briliant menenangkan istrinya itu "Sabar ya Yang, mungkin Allah belum mempercayakannya pada kita. semoga bulan depan Za bisa hamil. kita Coba lagi" Briliant memeluk istrinya di kamarnya. "Kita harus lebih dekat dengan-Nya Yang. Semoga dengan lebih dekat dengan-Nya, Dia akan memberikan kita kepercayaan memiki anak dalam waktu dekat" Zalinpun mengangguk setuju.


"Nah, Sekarang siap-siap, Ini UAS terakhir semester ini kan?" Briliant memundurkan wajahnya melihat wajah istrinya "Minggu depan mari kita berlibur di kota Kaka" Briliant mengerlingkan matanya pada Zalin, Zalin pun merasa senang dan bahagia dan langsung mengangguk. Briliant mencium pipi Zalin "Ayo mandi! yang bersih wangi ya!" Briliant mendorong tubuh Zalin ke kamar mandi.


____


Sesampainya di kampus


Zalin memakai baju kemeja putih lengkap dengan almamater kampusnya, rok hitam dan kerudung berwarna peach .


"Helen. Balik ke bangkumu! Pa Arkan mau masuk!" Teriak Tya, Helen pun langsung segera kembali ke kursinya. Zalin tersenyum dan segera mengeluarkan alat tulisnya.


_____


UAS terakhir semester 6 Selesai


"Waktu habis, kumpulkan kertas jawaban kalian!" Pa Arkan memberi Perintah.


Zalin ke depan untuk menyerahkan kertas jawabannya, saat sudah ada di depan meja dosen Pa Arkan bertanya pada Zalin "Za, kamu nikah sama Briliant Anggara?" Zalin tersenyum dan mengangguk, "Briliant Anggara yang wisuda kemarin?" Pa Arkan merasa kurang percaya. "Iya Pak, sama ka Iyan pak. Briliant Anggara". "Oh, Iyan udah kerja" Zalin menggeleng, "Wah.. hebat. Brani juga dia ya" Pa Arkan tersenyum. "Walau belum kerja juga mereka punya usaha pa" Helen datang memberikan pendapatnya. Pa Arkan mengangguk "Oh begitu. Bagus bagus! Semoga rumah tangga kalian sakinah mawadah warohmah ya, Bapa ga nyangka kamu sama nikahnya sama Briliant Za.. Kirain Briliant itu saudara kamu!" Zalin tersenyum "Iya pa, Terimakasih".


Saat Zalin kecelakaan memang Briliant mengaku bahwa Zalin adalah anggota keluarga dari Zalin. Walaupun pa Arkan selaku dosen merasa curiga, tetapi beliau tidak mempersulit kebutuhan mahasiswanya.


"Bapa curiga kamu nikah sama Iyan, karena beberapa kali bapa lihat Iyan mengantar kamu" Pa Arkan memandang Zalin, "Ya sudah.. Bapa ke ruang dosen dulu!" Pa Arkan pun ke luar dari kelas Zalin dan berjalan menuju ruang dosen.


Zalin dan Helenpun kembali ke kursinya. hampir semua mahasiswa telah meninggalkan kelasnya, Zalin berjalan ke arah bangku Helen diikuti oleh Rena. "Helen, yuk!" Ajak Rena, Helenpun berdiri dan berjalan beriringan bersama Zalina dan Rena. Mereka duduk di depan kelas.


"Za, dijemput ka Iyan ya?"Helen bertanya, Zalinpun mengangguk mengiyakan. "Enak ya Za udah nikah, ada yang antar jemput.. Terlebih kaka tingkat lagi. Jadi kalau ada tugas bisa minta bantuan deh" Rena menerawang ke atas langit. Zalin tersenyum menanggapi Rena. "Semenjak menikah, kita jadi jarang main deh Za" Helen menunduk dan Rena mengangguk. "Itu Resikoku Helen, Rena.. Tapi aku senang ko. Terlebih setelah aku kecelakaan aku jadi kurang minat untuk main" Helen dan Rena mengangguk mengertikan posisi sahabat yang sudah menyandang gelar seorang istri itu. "Pasti berat ya kuliah sambil nikah?" Rena menatap wajah Zalin, "Ah.. Tidak juga. Aku merasa tifak merasa berat" Zalin tersenyum.


Tidak lama kemudian Briliant datang dan Zalin beserta sahabatnya ikut berdiri. Briliant yang sudah kenal dengan Helen dan Rena tidak canggung kepada mereka berdua.


"Aku duluan ya" Zalin dan Helen juga Rena berpelukan layaknya teletubies. Beberapa detik kemudian mereka saling melepas pelukan mereka.


Zalin berjalan mendekati motor Briliant, Briliant memberikan helmnya kepada Zalin. Zalin langsung memakai helmnya dan naik ke atas motor. "Udah yang?" Briliant berbisik takut terdengar oleh sahabat Zalin "Udah". "Daaaaah.. Aku duluan" Zalin melambaikan tangannya dibalas oleh Helen dan Rena. Briliant langsung melajukan motornya.


Rena: "Ko aku jadi pengen cepet nikah ya, so sweet banget liat tingkah mereka!"


Helen: "(mengangguk) Ya.. aku setuju. akupun sama!"


Rena dan Helenpun berpelukan karena Baper melihat Zalin dan Briliant


***