My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
33



Acara pernikahan Zalin dan Briliant telah selesai di laksanakan. Keluarga Brilant juga sudah pulang ke kota Q.


Briliant terlihat berkaca-kaca saat kepergian orang tuanya. Saat mobil keluarga Briliant keluar dari halaman rumahnya, Zalin dan Briliant segera masuk ke dalam rumah.


Rumah Zalin sedang di bersihkan oleh beberapa orang saudaranya, karena malam ini akan ada pengajian di rumah Zalin. Ada yang didapur sedang memasak, ada yang di luar membersihkan sisa-sisa sampah dan yang lainnya.


Zalin yang merasa tubuhnya sangat lengket langsung masuk ke kamarnya di susul oleh Briliant, Setelah Brilint berhasil memasuki kamar dia langsung menutup pintu kamar Zalin. Zalin yang menyadari Briliant mengikutinya setelah pintu tertutup dengan sendiri.


deg...


Aduh! aku harus bagaimana ini?


Zalin cemas sendiri, sementara Briliant sudah sangat ingin memeluk wanita yang ada di depannya.


peluk. jangan. peluk. jangan. peluk. jangan. peluk apa jangan ya? ah peluk aja deh! dia kan sudah menjadi hak ku dan semua yang kulakukan padanya sekarang sudah bernilai ibadah. menyentuhnya pun sudah ibadah.


Briliant melemparkan jas yang sedari tadi dia sampirkan ditangan ke atas kasur. Zalin yang masih terpaku pada posisinya sudah menduga-duga apa yang akan ka Iyannya akan lakukan.


apa yang akan ka Iyan lakukan? Ah ka Iyan.. aku masih lelah. Tapi kalau dia menginginkannya aku tidak boleh menolak. Aku tidak mau malaikat melaknatku sampai pagi datang. Bagaimana ini?


Briliant tersenyum dan maju beberapa langkah mendekati istrinya itu dengan pelan dan saat tepat di belakangnya Briliant langsung memeluk tubuh Zalin yang lebih berisi setelah dia mengalami kecelakaan.


Hangat... ternyata begini rasanya memelukmu Za. Batin Briliant


dag dig dug.


Jantung Zalin bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Dia kaget Briliant memeluknya dengan sangat lembut dari belakang. Zalin berusaha mengatur nafasnya agar jantungnya bekerja seperti biasanya.


O**h jantungku! kamu harus mulai membiasakan diri . Mulai sekarang akan ada tangan yang akan menyentuh tubuhku. Aku harus belajar tenang.


Briliant memeluk tubuh Zalin dengan nyaman dan membisikan sesuatu di telinga Zalin dengan lembut "Za, kamu mau sekarang atau nanti malam?" Zalin merasakam geli yang sangat teramat, dia merasakan sensasi tersetrum terbang melayang tapi menyenangkan. Zalin membeku, sampai tersadar ketika Briliant membalikan tubuh Zalin dan menatapnya dengan intens "wah pipimu merah gitu Za? Mau sekarang?" Briliant tersenyum sangat manis membuat Zalin tersihir dan tidak menjawab apa yang Briliant tanyakan.


Itu pertanyaan atau kemauan dia? Aku bingung harus menjawab apa? Aku masih polos... ah aku tidak sempat bertanya pada teman yang sudah menikah bagaimana dia melewati Malam pertama Mereka. aku sedih sekali sekarang. aku bingung apa yang harus ku lakukan.


Briliant yang mengerti dan faham bagaimana istrinya itu, menuntun Zalinnya duduk di ranjang kamar dan mulai menyadarkan Zalin dari lamunannya.


"Sayang...." Briliant memanggil Zalin


"iya... eh. Ka iyan? tadi manggil Za apa?"


"Sayang?" Pipi Zalin seketika merah merona


"ih pipinya ko jadi merah kaya kepiting rebua gitu" Briliant mencubit pipi istrinya itu dengan gemas


"ih ka Iyan.... sakit" Zalin mengusap-ngusap pipi yang tidak terasa sakit itu


"nyubit cuma pelan aja ko" Briliant menjulurkam lidahnya.


"Za, kamu tadi mikirin apa? Takut menghadapi malam pertama ya malam ini?" Briliant mengerlingkan matanya dengan manja menggoda Zalin yang mulai menunduk.


"ih kaka jangan mandang Za gitu dong" Zalin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Briliant tersenyum dan pikirannya berharap ingin segera malam datang.


"Ka, apa Za boleh membersihkan diri?" Zalin memandang Briliant oenuh harap agar mendapatkan izinnya.


Dengan berat hati Briliant mengangguk tanda mengizinkan. Zalipun memasuki kamar mandinya setelah mengambil handuk di lemarinya, Briliant menidurkam badannya di atas ranjang milik Zalin yang sekarang juga menjadi miliknya. Mata Briliamt menatap ke arah langit-langit dan senyumnya mengembang, entah apa yang merasukinya.


Gemircik air di dalam kamar mandi membuat Briliant ingin mengahmpiri Zalin di dalam kamar mandi.


Ah sepertinya menyenangkan jika mandi bersama? eh ga boleh... aduh! ga bangetlah! Masa kesan pertama di kamar mandi. sabar sabar.


Briliant mengusap dadanya pelan untuk meredam perasaan yang menggebu.


Aku harus melakukannya dengan lembut dan membuat Za senyaman mungkin. Ya, aku tau istriku itu biar dia mahasiswa tingkat 2 mata dan pikiran dia belum sampai ke hal-hal yang berbau dewasa.


Briliant mulai berpikir keras menyusun rencana untuk malam pertamanya, Briliant mengguling-gulingkan badannya karena sulit berpikir. Tindakannya terhenti oleh suara kamar mandi yang terbuka. Briliant fokus memoerhatikan pintu kamar mandi, beberapa detik kemudian munculah Zalin dengan memakai handuk kimononya berwarna merah dengan baju basah tergerai basah sampai punggungnya membuat mata Briliant menginginkan Zalin saat itu juga.


Zalin yang melihat tingkah tingkah suaminya langsung ke arah lemari untuk mengambil bajunya dengan sigap, dia tidak ingim melihat ke arah Briliant.


Aduh... apaan sih yang dilihat sama ka Iyan itu?


Briliant terus mengikuti pergerakan Zalin dan Zalin menyadarkan Briliant "Ka, mau membersihan dulu ga? sebentar lagi magrib. acara pengajiannya dimulai setelah magrib" Briliant langsung berdiri dan mengambil handuk di kopernya. Setelah itu langsung masuk ke kamar mandi dengan cemberut.


Tidak butuh lama, Briliant telah selesai membersihkan diri dan Zalin telah memakai gamis berwarna cream dengan bordir sederhana di bagian bawahnya. Sedangkan rambutnya masih tergerai karena masih basah.


Briliant hanya memakai handuk berwarna biru tua yang melingkar di pinggangnya, wajahnya yang imut terlihat lebih menawan dimata Zalin.


Ka iyan kenapa makin tampan sih kalo seudah mandi gitu. Aku jadi gemas ingin memeluknya. Tapi, malu.


"Segaaaar" Briliant melihat ke arah Zalin.


Zalin dengan sigap menghampiri Briliant dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Ka, ..." Zalin menggelayut manja dilengan Briliant dan Zalin mengerlingkan matanya ke arah Briliant.


Sementara di luar kamar Zalin


Sepupu-sepupu Zalin yang seusia dengan Zalin curiga Zalin sedang melakukan sesuatu dengan suaminya di kamar. Bianca, Syakira dan Mery mendekat ke kamar Zalin.


"eh apa kita tidak apa-apa kalo nguping?" Mery yang paling muda diantara mereka takut.


"ga lah, asal ga ketauan.. hehe?" Bianca yang terkenal usil tertawa kecil menutup mulutnya.


"ayo kita lebih dekat dengan pintunya" syakira menarik tangan Bianca dan Mery dengan brani.


Mereka bertiga menempelkan kupingnya dipintu kamar Zalin, setelah beberapa saat menunggu. Mereka mendengar suara Zalin yang pelan.


"Ka... pelan-pelan dong"


Bianca dan Syakira menahan tawanya dengan telapak tangan, Mery yang masih sangat polos dengan lantangnya dia bertanya dan memandang Bianca "Ka, apa yang sedang Za lakuin sama Ka iyan?", Syakira menepok jidatnya dan Bianca langsung menutup mulut Mery. Dalam sekejap Bianca menarik tangan Syakira dan Mery untul segera kabur.


***