
Kesenangan tersendiri ketika melihatnya ngambek saat tidak kuberikan hal yang di sukai ka Iyan. [Zalina Salim]
🍁🍁🍁
SELAMAT MEMBACA
.
.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang ke kota X, Briliant terlihat cemberut sedangkan wajah istrinya berseri-seri.
Zalin memeluk suaminya dengan erat "Ka.. jangan manyun gitu dong! Semakin terlihat seperti anak kecil deh kalau memasang wajah seperti itu"
"Hm"
"Idiiih... ngambek, sabar ya Ka"
"Hm"
"Ya sudah nanti Za kasih deh bagian buat ka Iyan?" Zalin tersenyum jail.
Briliant yang tidak bisa melihat wajah istrinya kala itu langsung senang.
"Benarkah Yang?"
"Iya Ka..."
"Berapa?"
"Za Beliin Kaka susu D*nc*w saja ya?"
Briliant mengangguk cepat "Makasih Sayang!"
Zalin melihat pantulan wajah suaminya yang tersenyum.
Ya ampun deh, ka Iyan ini benar-benar ya! Sudah wajah baby face, gampang banget dirayu pakai susu d*nc*w. Makin seperti bocil hahaha... Zalin menahan tawanya.
"Satu sachet kecil saja ya ka?" Zalin terkekeh.
"Ah Ayang! Yang benar saja. Kaka mau satu dus ukuran besar!" Briliant kesal.
"Aduh, bisa habis dong uangnya!"
Hening.
Briliant kembali cemberut.
"Kaka, kan kita harus bayar setoran motor" Zalin mengusap-ngusap pundak suaminya pelan.
Hening, Briliant berpikir.
"Oh iya ya... Ya sudahlah jangan beli saja, simpan saja uangnya "
"Iya ka"
Zalin melihat wajah suaminya dari kaca spion dan Briliant menampakkan ekspresi wajah datarnya.
"Senyum dong!" Zalin menempelkan dagu ke pundak suaminya.
Briliant pun tersenyum dengan terpaksa.
Ah aku lupa mulai bulan depan ku harus bayar setoran motor. Pikir Briliant
"Senyumnya yang tulus dong"
Briliant tersenyum dan Zalin dapat melihatnya dari pantulan spion.
Zalin kembali mengeratkan pelukannya.
"Yang... Jangan terlalu eratlah. Kaka susah nafas"
"Heheh.. Ma'af" Zalin melonggarkan pelukannya.
Setelah itu motor yang dikendarai Briliant sudah mulai masuk ke jalan raya. Briliant fokus mengemudikan motornya dan Zalin tidak lagi mengajak suaminya mengobrol.
🍁🍁🍁
45 menit kemudian.
"Yang, pegel ga?" Briliant mengkhawatirkan
istrinya. Bagaimanapun juga tulang kaki istrinya pernah patah.
"Lumayan" Zalin sedikit tersenyum dan Briliant dapat melihatnya.
"Ok, kita istirahat dulu ya sebentar di SPBU" Zalinpun mengangguk tanda setuju.
"Iya ka"
5 Menit kemudian, motor Briliant memasuki area SPBU dan Briliant memarkirkan motornya dekat mushola yang ada di sana.
Saat motor sudah berhenti dengan sempurna, Zalin turun dengan hati-hati.
"Lumayan pegal juga" gumam Zalin.
"Yang, duduklah dulu di sana" Briliant menunjukan teras mushola
"Kaka akan mengisi bensin dulu"
"Iya ka" Zalin mulai berjalan ke arah teras mushola dan mendudukan badannya di sana.
Sedangkan Briliant yang sudah melihat istrinya duduk, melanjukan motornya untuk mengisi bensin.
Beberapa menit kemudian, Briliant selesai mengisi bensinnya dan menghampiri Zalin.
"Yang, cukup belum istirahatnya?"
"Sudah ka" Zalin berdiri dan mendekati suaminya yang masih duduk diatas motor.
"Kaka, ga istirahat dulu?" Zalin memandang Briliant serius.
"Engga ah, kaka nnti di rumah saja langsung tidur" Briliant tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.
Zalin yang melihat tingkah suaminya langsung menepok jidat "Ya Ampun!".
"Kenapa?" Briliant menautkan kedua alisnya.
"Ih mikir ngeres ya?" Briliant terkekeh.
Zalin langsung menampakan wajah datar dan langsung memakai helmnya.
"Cieee.. ngambek" Briliant memperhatikan wajah istrinya.
Zalin tidak peduli dan langsung naik ke atas motor "Jalan Bang!" Zalin menepuk pundak Briliant sedikit keras.
"Emangnya aku tukang ojek" gumam Briliant
"Iya sayangku, jangan marah dong".
"Hm"
Briliant dan Zalinpun melanjutkan perjalanannya.
"Ka..."
"Hm"
"Kaka"
"Apa!"
"Ada apa sayangku?" Briliant mengusap paha istrinya.
"Kaka marah sama Za?"
"Engga"
Ah untunglah ku kira ka Iyan marah. Batin Zalin.
"Ayo peluklah lagi, sebelum ada anak yang menghalangi jarak diantara kita" Briliant menuntun tangan Zalin untuk memeluknya.
Zalin tersenyum dan langsung memeluk suaminya.
🍁🍁🍁
30 Menit kemudian, Zalin dan Briliant sampai di rumah orangtua Zalin.
Hari mulai gelap, sebentar lagi akan tiba adzan magrib.
Zalin turun dari motor dan langsung duduk dikursi yang ada di teras depan rumah. Sedangkan Briliant turun dari motor dan membuka bagasi motornya untuk mengambil beras yang mamanya berikan untuk ibu mertuanya.
"Yang.. Bawakan ini" Briliant mengangkat sedikit kantong berisi beras merahnya.
Zalin langsung berdiri dan menghampiri Briliant lalu mengambil kantong beras yang ada ditangan suaminya.
Kini Zalin membawa kantong beras dan Briliant mengangkat tas berisi pakaian Zalin.
"Za, nanti kalo ke sana lagi simpanlah bajumu sebagian agar ga berat dibawa ke sana kemari?" Briliant menatap Zalin.
"Siap tuanku raja.. hehe" Zalin terkekeh.
Zalin membuka pintu, tetapi pintunya terkunci.
Tok
tok
tok
"Assalamualaikum" Zalin mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Ga ada jawaban?" Zalin melihat ke arah Briliant.
"Coba lagi. Sepertinya ada orang di dalam, terdengar suara televisi menyala Yang"
"Iya. benar juga ka" Zalin mengangguk
"Assalamualaikum..."
"Ibu..."
"Ayah..."
"Diadra..."
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam mendekat ke pintu.
Ceklek, kunci dioutar dan pintu terbuka.
"Kaka!!!" Diandra berteriak dan memeluk Zalin dan segera salaman pada kaka iparnya, Briliant.
"Ih lama banget sih buka pintunya!" Zalin mengacak rambut adiknya.
"Tidak terdengar Ka, ayo sini Di bantuin" Diandra meraih kantong beras yang ada ditangan kakanya.
"Yang, kaka ke kamar dulu ya" Bisik Briliant dan Zalin mengangguk.
Briliant masuk ke dalam kamar dengan membawa tas yang berisi baju milik istrinya.
Sementara Zalin berjalan mengikuti adiknya ke ruang TV.
Diandra menyimpan kantong yang berisi bers ke atas meja makan.
Zalin duduk dan menyandarkan kepalanya ke sofa.
"Di, ayah dan ibu tidak ada di rumah?"
Diandra menggeleng "Iya tidak ada"
"Kemana?"
"Lupa, hehe" Diandra menghampiri kakanya dan duduk di samping Zalin.
"Ke rumah om"
"Yang mana?"
"Adiknya ayah"
"Oh"
"Ka, gimana?" Tanya Diandra antusias
"Gimana apanya?" Zalin menautkan kedua alisnya bingung.
"Jadi ga bikin keponakan buat Za?" Diandra bertanya dengan heboh.
Briliant yang baru saja akan memasuki ruang tv untuk menghampiri istrinya menghentikan langkahnya setelah mendengar suara Diandra.
Aku lebih baik berdiri dulu di sini, penasaran apa yang akan Zalin dan adiknya bahas. Batin Briliant.
"Maksud kamu apa?" Zalin menautkan kedua alisnya.
"Ya ampun! Kaka ini udah nikah ko masih polos sih?" Diandra menggeleng-gelengkan kepalanya.
Briliant yang menguping menahan tawanya.
Hadeuh Za, kamu ga ngerti? Maksud adikmu itu kamu udah hamil atau belum?. Batin Briliant
Zalin masih memandang adiknya "Ma'af Di, sepertinya kaka sedang lelah, kaka jadi sedikit tidak konsen. Nanti saja ya jawabnya" Zalin hendak berdiri dari duduknya. Taoi, Diandra menahannya.
"Stop!" Diandra memegang tangan Zalin, membuat Zalin yang tadinya sudah akan berdiri terduduk kembali.
"Kaka udah hamil belum?"
Zalin menggeleng
"Masa belum sih?" Diandra mundur dari posisinya.
"Kan honeymoonnya lama" Diandra menatap langit-langit ruangan TV.
"Emang ngaruh lama atau sebentarnya?"
"Gatau! Di kan belum ngerti!"
Diandra pergi meninggalkan Zalin.
"Buatlah keponakan untukku secepatnya!" Teriak Diandra sambil pergi ke kamarnya.
🍁🍁🍁
"Diandra, Hm... Maumu itu! Kalo kamu menyuruh kaka untuk membuat telur dadar+sayur sudah kaka buatkan sekarang. Ini membuat keponakan? Itu bukan hal instan, langsung jadi." Gumam Zalin
"St.. st..." Briliant memberi kode agar Zalin menengok ke arahnya.
Zalin melihat ke arah belakang fan melihat suaminya ada dibelakang pintu.
Briliant tersenyum kepada Zalin.
Matilah aku kalau ka Iyan mendengar apa yang aku bicarakan dengan Diandra. Pikir Zalin
Zalin membalas senyuman suaminya.
***