
Hari ini Zalin izin tidak masuk kuliah. Walaupun Zalin sangat paling anti tidak kuliah, tapi karena dia kelelahan akibat acara kemarin. Jadi dia memutuskan untuk tidak masuk kuliah.
Hari itu Zalin membuka kado pernikahannya bersama Briliant dibantu dengan anggota keluarga yang lain, Om Andrean juga ikut membantu dan ingin mengetahui apa saja isi kado pernikahan Zalin.
Satu persatu kado dikeluarkan dari kamar Zalin oleh Briliant dan Om Andrean, Zalin, Diandra, Ibu Zalin , Ayah Zalin menunggu duduk di ruang tamu. Karena kamar Zalin tidak jauh dari ruang tamu.
Saat Om Andrean ke kamar untuk terakhir kali mengambil kado, dia melihat dua dus helm pojok kamar dan mengambilnya. Andrean langsung keluar kamar sambil memangku 2 dus helm itu. Setelah keluar kamar Andrean langsung meletakan dus itu, "Za... Kamu sama Iyan dapat kado helm?" Zalin dan Briliant mengangguk bersamaan, "Wih. Gaya? Motornya mana?", Zalin berkata "Belum ada!", "Yaudah Za, buat om aja ya helm ini! Kan kamunya juga belum ada motor" Andrean tersenyum sambil membuka dus helm yang bermerk dan mengeluarkan helmnya, "JANGAN! ENAK AJA!" Zalin melototkan kedua matanya, Andrean memakai helm itu "Bagus Za, merah pula warnanya! ini cocoknya buat Om!", "Iiih. Lepas om" Zalin memanyunkan bibirnya. Andrean menuruti Zalin, dia melepas helm nya "Baru kali ini ada kado pernikahan helm, dua lagi? Kamu yang minta Za?" Andrean meletakan kembali helm ke atas dusnya, "Iya om.. Pinter kan Za?", "Iya! tinggal beli motornya kamu!" Andrean menjulurkan lidahnya pada Zalin, Zalin membuang mukanya karena kesal.
Andrean adalah om Zalin, dia sangat dengan omnya itu. Waktu Zalin kecil, Om Andrean lah yang sering mengasuh Zalin dan Saat Andrean memiliki anak, Zalin selalu dengan senang hati mengasuh anak-anaknya. Andrean pula om yang selalu memberikan perhatian lebih saat Zalin kecelakaan.
Zalin dan Briliant mendapatkan kado yang bermacam-macam, dari mulai alat rumah tangga, Bed Cover, Tas, Seprai sampai Helm.
____________________________________________
Keesokan harinya
Zalin diantar oleh Briliant ke kampus dengan menggunakan motor ayahnya.
"Yeee.. diantar suami" Zalin tersenyum pada Briliant, "Asik nganterin istri kuliah, semangat ya kuliahnya" Briliant tersenyum pada Zalin, Zalin pun mengangguk. Briliant menyerahkan helm biru pada Zalin dan dia memakai helm yang merah, 7" Ih... kaka, Za mau helm itu" Zalin merajuk pada suaminya, "Ini lebih bagus buat kaka" Briliant mengeluarkan jurus andalannya tersenyum dengan imut pada Zalin dan Zalinpun menyerah. Setelah berdebat, Zalin menggunakan helmnya dan naik ke atas motor. Briliantpun melajukan motornya ke arah kampus.
Sesampainya di Kampus
Zalin turun dari motor dengan hati-hati di dekat ruang dosen "Ka, Za kuliah dulu ya!" Zalin salim kepada suaminya. "Iya, nanti hubungi kaka kalo udah bubar ya?" Zalin mengangguk mengerti. Briliant pergi meninggalkan Zalin dan Zalin segera pergi ke kelasnya. Tidak jauh dari sana ada seseorang orang memperhatikam Zalin dan Briliant sejak motor berhenti dekat ruang dosen.
Sesampainya Zalin di Kelas
Zalin disambut oleh Helen dan Rena di kelas nya, "Hai Pengantin baru! Ko masuk kuliah sih? ga honeymoon dulu?" Rena menggoda Zalin, Zalin pun menggeleng cepat. "Eh... Za, kemaren jadwal milih tempat kuliah praktek lapangan. Kamu belum milih" Helen memberitahu Zalin, " Sungguh? Semuanya udah pada milih kecuali aku?" Zalin menujuk dirinya sendiri, "Engga sih beberapa anak belum milih. Tapi kuota 2 orang perjurusan kita udah semua penuh" Helen menjelaskan, "Terus kalian?" Zalin melihat ke arah Helen dan Rena, "Kita satu kelompok Za, ma'af ya" Rena tersenyum pada Zalin.
Ih aku nyesel banget deh ga kuliah hari kemaren, tiap aku ga sekolah atau kuliah ada saja moment penting.
"Ya sudah, aku ke ruang jurusan dulu" Zalin berdiri dan segera berjalan keluar ruangan menuju ruang jurusannya untuk memilih tempat.
Sebelum Zalin menentukan pilihan, dia terlebih dahulu menghubungi Briliant. Briliant langsung menjawab telepon dari Zalin karemmna kebetulan Brialiantpun baru saja sampai di rumah.
Setelah diskusi bersama Briliant di telepon, Zalinpun memilih tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah selesai dari urusannya Zalin kembali ke kelasnya.
Sebelum perkuliahan dimulai Zalin diserbu pertanyaan mengapa masuk kuliah oleh teman-temannya. Karena, biasanya mahasiswa yang baru melaksanakan pernikahan, dia akan cuti 4-6 hari. Zalin mrnjawab "Aku udah bosan di rumah terus, semester kemarin kan sudah cuti satu semester" jawaban Zalin diterims oleh teman-temannya.
Zalinpun mengikuti perkuliahan seperti biasa dan dosen tidak ada yang tahu bahwa Zalin telah menikah, terlebih Zalin menikah dengan kaka tingkatnya yang disinyalir dosenpun kenal dengan Briliant. Teman-teman Zalinpun menghargai keputusan Zalin "Biarlah dosen tahu dengan sendirinya" Begitulah kalimat yang Zalin lontarkan saat sebelum perkuliahan dimulai.
Kegiatan perkuliahan berakhir, satu persatu mahasiswa keluat dari kelas. "Za, mau bareng gak?" Helen berdiri dari kursinya diikuti Rena, "Eh.. Kan Za mau dijemput ka Iyan. Gimana sih kamu ini!" Rena menepuk pundak Helen, sementara Zalin masih duduk dikursinya, "Benar begitu Za?" Helen bertanya pada Zalin, karena yang Helen tau Briliant tidak memiliki motor, Zalin mengangguk "Iya, ka Iyan yang mau jemput Helen. kalian duluan saja", Hrlrn mengangguk, Rena "Kamu ga apa apa di sini sendiri?" Rena bertanya. "Iya ga apa apa, bentar lagi ka Iyan nyampe ko" Zalin tersenyum, "Ya sudah kita duluan ya!" Rena melambaikan tangannya, "oke hati-hati" Zalin melambaikan tangan pada Helen dan Rena yang sudah ada di pintu, "Oke!" Helen dan Rena menunjukan jempol mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama, Briliant sudah sampai di depan kelas Zalin. Zalin keluar dari kelasnya dan segera menghampiri Briliant, "Ma'af ya Yang lama, tadi isi bensin dulu di SPBU" Briliant menyerahkan helm biru pada Zalin, Zalinpun mengangguk "Iya ga apa-apa" Zalin segera naik ke atas motor dan Briliant melajukan motornya menuju rumah.
Malam hari di Kamar Zalin dan Briliant
Zalin sudah tidur terlebih dahulu, karena dia merasa lelah. Sedangkan Briliant masih duduk diatas kasur sambil memainkan ponselnya, "Yang..." Briliant melirik ke arah Istrinya, tetapi Zalin tidak merespon.
Ah sepertinya dia kelelahan. Aku harus sabar, aku menikahi seorang mahasiswa.
Briliant membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya itu, mengusap kepalanya dengan lembut. Kini Mereka berdua tidur saling berhadapan, Briliant memandang wajah Zalin sampai dia terlelap dalam tidurnya.
____________________________________________
Keesokan Harinya
Seperti biasa Zalin menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuk Briliant dan seluruh anggota keluarganya, Zalin hanya memasak sendiri di dapur karena ibunya pergi ke pasar untuk berbelanja bersama ayahnya.
Saat Zalin memasak, Briliant menghampiri Zalin dan memeluknya dari belakang. Sontak Zalinpun terkejut karena perlakuan Briliant yang mendadak, "Aiiihh.. ngagetin aja ka!" Zalin masih asik dengan mengaduk-ngaduk masakannya dengan spatula, Briliant dengan jailnya menggoda istrinya "Masak apa yang? Masih lama ga?" Briliant berbisik ditelinga Zalin dengan sangat lembut, Zalin yang merasa geli menggelengkan sedikit kepalanya "Ih geli ka....".
Apa yang diinginkan ka Iyan ko nanya lama apa belum ya masaknya?
Briliant yang melihat istrinya berpikir berbisik kembali ke telinga istrinya "Jangan ngeres, suamimu ini laper yang, hehehe" Brialint tertawa diujung kalimatnya membuat Zalin malu dengan pikiran anehnya.
*Ih gara-gara ka Iyan aku jadi sedikit Omesh
***