
Zalin dan Briliant kini sedang ada dalam perjalanan ke kota Q untuk berlibur di rumah orang tua Briliant. Briliant fokus pada jalanan dan Zalin setia memeluk Briliant dari belakang. Zalin pernah sekali ke kota Q sebelum menikah dengan Briliant dan saat ini adalah yang kedua kalinya Zalin ke rumah Briliant dengan status baru, menantu bagi orang tua Briliant.
Saat pertama kali ke kota Q, Zalin naik mobil, sedangkan sekarang Zalin dan Briliant naik motor. Setelah 45 menit perjalanan Zalin kakinya merasa pegal. Briliant yang merasa Zalin tidak nyaman dengan duduknya mengelus paha Zalin "Yang, Kenapa? Pegal?", "Iya.. Hehe" Zalin nyengir. "Baik, nanti di depan kita istirahat dulu di SPBU sekalian kaka mau mengisi bensin" Briliant mengelus paha Zalin kembali. Zalinpun mengangguk setuju.
Masih jauh ga sih rumah ka Iyan, ko ga sampai-sampai. Aku ingin segera rebahan.
Beberapa menit kemudian, motor Briliant masuk ke area SPBU dan Zalin turun terlebih dahulu. Zalin duduk dibangku di luar sebuah mini market di area SPBU. Sementara Briliant mengisi bensin. Setelah selesai mengisi bensin, Briliant menghampiri Zalin. Briliant memparkirkan motornya di depan mini market dan langsung duduk di samping Zalin. "Pegel?" Briliant memandang wajah Zalin, Zalinpun mengangguk. "Apa masih jauh?" Zalin bertanya pada Briliant. "Sekitar 15 menitan lagi kita sampai" Jawab Briliant.
Setelah dirasa cukup beristirahat, Zalin mengajak Briliant untuk melanjutkan perjalanan mereka.
15 menit kemudian, Zalin dan Briliant sampai di rumah orang tua Briliant. Briliant memparkirkan motornya di halaman belakang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Zalin, setelah mereka membuka helm masing-masing.
"Asaalamualaikum" Briliant mengucap salam dan langsung masuk ke dalam rumah karena pintunya terbuka. "Waalaikumsalam.." Adik Briliant yang seusia dengan Zalin keluar dari arah dapur "Eh ka Iyan, Hallo kaka Ipar" Jeanika menghampiri Briliant salam dan memeluk Zalin "Cape ga ka ipar?" Zalinpun mengangguk dan tersenyum "Lumayan". Briliant, Zalin dan Jeanika duduk di sofa ruang TV.
"Je, Ibu kemana? ko sepwrtinya tidak ada di rumah?" mata Briliant melihat sekeliling ruangan rumah. "Ibu sedang memantau pembangunan rumah yang dekat rumah yang dulu kita tinggali" Briliant mengangguk "Oh iya, Ibu jadi ya membangun rumah di sana?". Pertanyaan Briliant diangguki oleh Jeanika. "Memangnya Ka iyan tdai tidak bilang sama ibu akan ke sini sekarang?"Jeanika menyenderkan badannya di sofa sementara Zalin menguap beberapa kali karena kelelahan. "Kaka udah ngabarin ibu sih, tapi pesan kaka belum di balas" Briliant memperhatikan Zalin. "Mungkim ibu belum lihat hp nya, mungkin hp nya di mode silent ka" Jeanika melihat Briliant yang sedang memperhatikan Zalin.
Yaaaa aku baper deh. Hm, punya kaka ipar seumuran. Asiklah, bisa jadi teman curhat juga nantinya.
"Yasudah... ka Iyan ajak kaka ipar istirahat deh di kamar tengah. Jeje mau ke dapur lagi. Tadi masak nasi agak gosong. Hehe" Jeanika beranjak dari duduknya "Kaka ipar, istirahatlah pasti cape banget kan?" Jeanika tersenyum pada Zalin dan Zalin membalas senyuman Jeanika.
Briliantpun tersenyum dan berdiri dari duduknya, berjalan menuju ke kamar yang dekat dengan ruang TV. "Za, sini kita istirahat dulu" Zalinpun mengikuti arahan Briliant dan masuk ke kamar. Briliant keluar dan mengambil tasnya lalu di simpan di samping lemari baju di dalam kamar. Zalin duduk di teoi ranjang, "Za.." Briliant duduk disamping Zalin. "Iya ka?" Zalin memandang Briliant. "Di sini kita tidak bisa melakukan itu?" Briliamt tersenyum penuh arti, Zalin mengkerutkan dahinya tidak mengerti. "Kalo kita melakukan di sini, susah mandinya" bisik Briliant " WC nya ada di luar kamar.. Hehe" Zalin yang mengerti arah pembicaraan suaminya lanngsung memukul lengan suaminya "Dasar! Wajah imut pikiran dewasa!" Briliant hanya tertawa kecil menerima pukulan istrinya.
Briliant merebahkan badannya di atas kasur, "Yang.. Sini, tidur dekat kaka" Zalinpun membuka kerudungnya dan langsung merebahkan badannya di samping Briliant. Briliant memeluk Zalin dan merapihkan rambut istrinya "Yang, kita di sini hanya menginap semalam saja ya!". Zalin memandang wajah suaminya "Semalam? Besok kita pulang lagi gitu?" Zalin melototkan matanya karena terkejut. Briliant menggeleng "Kita akan menginap lamanya di rumah orang tua kaka yang satu lagi, di sana tidak ada siapa-siapa Za" Briliant tersenyum dan mengerlingkan matanya "Tidak akan ada yang ganggu, kita bebas mandi kapan saja dan kita bebas melakukannya kapan saja" Zalin refleks memukul dada Briliant dan Briliant langsung mempererat pelukannya sampai mereka tertidur karena kelelahan.
____
2 Jam kemudian, Zalin terbangun dari tidurnya membuka matanya perlahan. Zalin melihat ke arah jam dinding "sudah jam setengah satu, aku harus segera sholat dzuhur" Zalin mendudukan tubuhnya dan melihat ke arah wajah Briliant yang masih terlelap dalam tidurnya "ka Iyan kalau lagi tidur semakin terlihat imut, hidungmu ini loh ka! Mancung!" Zalin mencapit hidung suaminya dengan gemas, refleks Briliant yang kesulitan bernafas menyingkirkan tangan Zalin. Zalinpun tersenyum lalu mengusap lengan Briliant "Ka, bangun.. Sudah jam satu. Sholat dzuhur". Briliant mengacungkan 5 jarinya "Lima menit lagi". Zalin mengangguk "Baiklah".
Zalin keluar dari kamar berjalan menuju kamar mandi, Jeanika tidak terlihat. "Sepertinya Jeje sedang tidur siang, Ibu juga belum pulang" Zalin kembali berjalan menuji Kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur.
Kreek... Pintu kamar mandi terbuka.
Zalin menyalakan keran dan air mengalir, tangan Zalin ditengadahkan menampung airnya "Dingin sekali airnya" Bisik Zalin. Zalinpun mengambil air wudhu dan langsung kembali ke kamar tidur. Saat Zalin masuk ke dalam kamar, Briliant masih tidur.
Perasaan ini sudah lebih dari 5 menit. Masih belum bangun juga! Ka iyan ini gampang tidur sulit bangun. Ampun deh
Zalin kemudian mengambil mukena yang sudah tersedia dekat meja disamping tranjng, Zalin menggelar sejadah memakai mukena dan langsung melaksanakan ibadah sholat dzuhur.
10 menit kemudian, Zalin telah selesai dan merapihkan kembali alat sholatnya ke tempat semula. Lalu Zalin duduk di tepi ranjang dan mendekati Briliant.
Hm... Udah hampir 20 menit loh ini Ka
Zalin membisikan kata-kata ke telinga Briliant "Kebakaran.. kebakaran!" Briliant langsung mendudukan tubuhnya, lalu turun dari ranjang melewati Zalin dan melihat ke sekeliling kamar. "Mana apinya mana! Mana!" Briliant melihat ke arah Zalin dengan tegang. Sementara Zalin tersenyum "Akhirnya kaka bangun juga, hehe" Zalin tertawa di akhir kalimatnya. Briliant menepok jidatnya "Wah kamu brani berbohong ya!" Briliant melangkah mendekati Zalin, Zalin yang sedang duduk di tepi ranjang memundurkan badannya. Briliant tersenyum dengan seringai di wajahnya membuat Zalin merasa was-was di buatnya.
Apa yang akan di lakukan ka Iyan padaku?
Briliant menindih tubuh Zalin dan Zalin berusaha melepaskan diri.
Ka Iyan, wajahnya aja yang imut. Tenaganya sulit di kalahkan.
"Jangan membohongi kaka Za, Kaka ga suka" Briliant merapihkan anak rambut Zalin yang tergerai ke wajahnya. Zalin mengangguk pelan.
***