
"Ibu....." Zalina memanggil ibunya karena tidak terlihat didapur.
"Iya Za ada apa?" Ibu Zalin keluar dari pintu halaman belakang. Zalin tidak tahu bahwa dihalaman belakang sudah ada bibi bibinya yang datang untuk membantu ibu Zalin memasak.
"Ibu lagi apa di halaman belakang?" Zalin hendak melihat ke halaman belakang rumahnya, tetapi dengan sigap ibunya menghalangi Zalin. Ibunya tidak mau anaknya tahu ada bibi-bibi Zalin yang sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk acara sore.
"ga ngapa-ngapain. Za, sekarang udah siang banget. Cepet berangkat ke kampus, om Andrean sudah nunggu kamu tuh di depan!" Ibu Zalin menujuk ke arah depan, dan Zalin melihat om nya sudah siap diatas motornya lewat jendela.
"yaudah bu. Za berangkat dulu ya" Zalin salim dan berjalan menuju teras depan menghampiri om nya.
Zalin berangkat kuliah bersama om nya dengan pikiran yang bingung.
Kata ka Iyan, K**a iyan akan ke rumah dengan keluarganya dan tadi didapur banyak banget sayuran. Ko ibu kayanya heboh banget? ah udah deh.. Aku jangan ngelamun.
S****esampainya di kampus
Zalin masuk ke kelasnya dan baru ada beberapa mahasiswa yang di kelas. Seperti biasa Zalin duduk dibarisan paling depan.
Junaira teman sekelas Zalin menghampiri dan menyerahkan undangan kepada Zalin.
"Za, ini untukmu.. kalo bisa dateng ya?" Junaira mengerlingkan matanya
"wiihh.. kamu mau nikah jun? selamat ya... Lancar sampai hari H, aamiin" Zalin menerima undangan dari tangan Junaira dan tersenyum.
"Iya Za, makasih" Junaira tersenyum kepada Zalin dan meninggalkan Zalin di bangkunya.
Junaira mau nikah?
Ya, begitulah kuliah. Mahasiswa boleh menikah, tidak seperti siswa yang sekolah (SMA, SMP apalagi SD).
Zalin melihat ke arah undangan yang Junaora berikan.
satu minggu lagi. hmmm
Tidak lama kemudian Helen dan Rena masuk.ke dalam kelas dan langsung duduk di kanan kiri Zalin.
Helen yang ketika itu baru duduk langsung bertanya pada Zalin.
"Za, hari ini mau kerja?"
"Engga Hel, katanya ka Iyan mau ke rumah sama keluarganya"
"wah? lamaran?" tanya Helen dan Rena serempak
Refleks Zalin menutup mulut kedua sahabatnya itu. dan melototkan matanya pda Helen dan Rena.
"syuuuut" Zalin menempelkan jari telunjuknya di mulutnya.
"aku juga ga tau. Tapi kayanya ibuku mau masak besar deh di rumah" Zalin mengangkat satu alisnya.
"ah, fix ini mau lamaran ini!" Rena setengah berbisik dan Helen mengangguk menyetujui kata-kata Rena.
"Ah tapi ka iyan ga bilang tuh sama aku" Zalin memanyunkan bibirnya.
"Dia mau ngasih kamu kejutan kali!" Helen menanggapi.
"iya! itu betul" Rena mengacungkan jempolnya.
Zalin hanya terdiam dan melirik ke arah Helen dan Rena.
Dosenpun masuk ke dalam kelas dan perkuliahan pun di mulai.
____________________________________________
Sepulang Kuliah
Zalin seperti biasa di jemput oleh om nya. saat Zalin sedang menungu pamannya di depan kelas, Hp Zalin bergetar di sakunya dan dia menerima pesan dari teman kerja nya.
"Za, hari ini mau masuk kerja ga?" ~Florensia
Zalin langsung membalaa pesan Flo
"Engga ka, aku ada acara di rumah. jadi harus segera pulang" ~ Zalin
Tak lama kemudian Flo membalas
"oke deh kalo gitu, semoga acara dirumahmu lancar. Btw, acara apa nih Za?"
Zalin segera menghampiri om nya dan naik ke atas motor, dan motorpun melaju dengan kecepatan sedang. Setelah kecelakaan Zalin hanya nyaman di bonceng oleh om nya dan Briliant. Ya, beberapa kali Briliant menjemput Zalin kuliah setelah Zalin kecelakaan.
___________________________________________
Sesampainya di rumah
Diandra yang melihat omnya datang dengan kakanya langsung keluar dari ruang tamu yang sedang dia bereskan, Diandra ingin menyambut kakanya tersebut.
Diandra berlari keluar, dan seaampainya di teras rumah.
"Kaka! akhirmya kamu datang juga... Di kira kaka mau ke kantor" Diandra menggandeng kaka nya setelah turun dari motor.
Zalin mencium aroma masakan.
"hm... ibu masak besar ya Di! wangi masakannya beda?" Zalin menghentikan langkahnya yang hampir dekat pintu.
Diandra juga ikut menghentikan langkahnya dan menatap wajah kakanya dengan penuh senyuman tulus "iya, kaka ku sayang. kan hari ini Briliant akan melamarmu... cieee yang mau dilamar sama pujaan hati" Diandra mencolek-colek pipi Zalin
Zalin terbengong "Tapi ka iyan ga bilang apa-apa?" Mata Zalin menerawang
"Dia mau ngasih kejutan kali. Langian kalo ga dibilangin juga kaka akan tetep nerima lamaran ka iyan kan?" Diandra melihat wajah kakanya dengan menaikan kedua alisnya berkali-kali. Dan Zalin pum mengangguk.
"SUDAH KUDUGA... HAHAHA!" Diandra tertawa puas.
"ya Ampun! Kamu ini. ayo masuk" Zalin menarik Diandra masuk ke rumah sambil tersenyum dan Zalin ingin segera menemui ibunya.
Setelah bertemu ibu, Zalin mendapat penjelasan yang intinya sama seperti yang adiknya katakan. Tapi ibu Zalin mengatakan suatu hal pada Zalin.
Zalin dan ibunya duduk di meja makan yang di sana hanya ada mereka berdua.
"Za, walaupun kamu nanti nikah Za tetap mau kuliah? Iyan menyetujuinya jika Za masih ingin melanjutkan kuliah. Karena Iyan juga ingin Za mencapai cita-cita Za, tapi itu terserah Za aja. Jika Za mampu, Ibu harap Za tetap melanjutkan kuliah" Dan Zalinpun mengangguk, ibu melanjutkan kalimatnya dengan berbisik.
"Iyan belum dapat kerja juga, apa Za akan menerimanya?" Zalin mengangguk mantap.
"bagus nak, menikah itu akan mendatangkan rezeki. jangan takut ya?" Ibu Zalin memeluk Zalin anaknya.
"Yasudah kamu siap-siap, mandi yang wangi" Ibu Zalin berdiri dan mengusap lengan Zalin. Zalinpun langsung berdiri dari duduknya berjalan menuju kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga dan ibunya langsung melanjutkan kegiatannya di dapur.
____________________________________________
Sesampainya di kamar Zalin
Zalin segera menyimpan tas ranselnya dan segera membersihkan diri. Zalin keluar dari kamar mandi dan mengecek hp nya yang masih ada dalam ranselnya.
Zalin melihat ke layar hp nya.
Ih ka iyan ko ga ngirim pesan atau nelpon? ah dia ini.
Zalin melemparkan hp nya ke atas kasur dan segera bersiap-siap karena takut Briliant segera datang.
*Bagaimana ya kalau tidak lama setelah lama melamar ka Iyan akan menikahiku? Apa aku akan sanggup menjalankan peranku sebagai istri yang masih berstatus mahasiswa. Bagaimana nanti jika aku hamil? aku gendong anak dong saat wisuda... hmmm
Selama ini ka Iyan sudah setia padaku, menemaniku saat aku sakit, bed rest panjang. Dia juga masih menerimaku sekarang. Aku tidak mau menyia-nyiakan.orang seperti dia*.
30 menit kemudian
tok tok tok
Diandra mengetuk pintu kamar Zalin
Zalin segera membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Di?!" Zalin bertanya dengan polosnya karena sedari tadi dia di kamar membayangkan jika jarak lamarannya akan dekat dengan acara pernikahannya.
"ya ampun!!!" Diandra menepok jidatnya
"kaka ga denger ada suara mobil? tuh pangeran kaka dan keluarganya sudah datang" Diandra memutar bola matanya jengah "Kaka udah siap kan?" Zalin mengangguk, Diandra pun langsung menggandeng Kakanya menuju ruang tamu yang di sana sudah ada Keluarga Briliant dari kota Q dan keluarga Zalin.
Duh ko aku deg-deg an ya.
Diandra yang mengerti suasana hati kakanya berusaha menenangkan kakanya.
"Tenang ka, tarik nafas saja. Keluarga ka iyan baik ga akan gigit kaka.. hehehe" Diandra tertawa diujung kakimatnya.Refleks Zalin memukul lengan adiknya itu.
***