My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
52



🍁🍁🍁


Zalin meninggalkan Briliant


"Ka iyan, menyebalkan sekali!" Zalin menggerutu


"Yang, ma'afkan kaka dong" Briliant menggenggam tangan istrinya


"Iya, tapi kaka yang masak ya. Za lagi BT" Zalin membuang mukanya.


"Iya yang, kaka yang akan memasak" Briliant mengangguk.


"Sekarang ayo kita kembali ke rumah" Briliant tersenyum senang.


Zalin heran melihat Briliant tersenyum dengan begitu senanhnya.


Ka Iyan seneng banget kayanya mau pulang ke rumah".Zalin mengkerutkan dahinya.


🍁🍁🍁


Setelah berjalan 15 menitan, Brilian dan Zakin sampai ke parkiran.


Zalin dan Briliant langsung pulang ke rumah.


🍁🍁🍁


Sesampainya di rumah.


Briliant membuka kunci rumah dan langsung memasuki rumah diikuti oleh Zalin istrinya dari belakang.


"Yang, Za mau ke kamad dulu ya"


"Iya, boleh yang" Briliant mengangguk


"Eh mau ke kamarandi dulu deh, mau cuvi kaki dan tangan dulu" Zalin mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamaf dan berjalan menuju kamar mandi.


Semataa Briliant mengikuti Zalin dari belakang.


"Eh ka iyan ko ngikutin sih?" Zalin mslirik ke arah Briliant


Briliang memeluk tubuh Zalin dengan erat "Kaka mau ke dapur sayang, apa kamu sekarang tidak lapar?"


"Lapar yank. Hehe"Zalin ngengir melirik Briliant. *muuaaah* Briliant mencium pipi istrinya.


"Sudah, sekarang ke kamar mamdi deh" Briliant melepaskan pelukan Zalin darinya.


Zalinpun mengangguk.


Saat Zalin baru melangkahkan kakinya, "Eh Sayang!" Briliant memanggilnya.


Zalin membalikan tubuhnya agar dapat melihat suaminya "Iya Ka, ada apa?"


"Yang, kamu langsung ambil air wudhu sepertinya sebentar lagi waktu sholat dzuhur"


"Ooh.. iya Ka" Zalin membalikan kembali tubuhnya dan kembali berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Briliant membuka lemari persediaan makanan mereka di dalam lemari.


"Masak apa ya?" Briliant berpikir keras.


"Ah sudahlah, buat bakwan saja. Akuntinggal beli terigu dan minyaknya saja" Briliant mengangguk dan tersenyum.


🍁🍁🍁


10,l menit kemudian, Zalin keluar dari kamar mandi. Wajah, kaki dan tangannya sudah basah oleh air.


"Ka, sendal mana ya?" Tanya Zalin pada suaminya yang sedang memegang ponsel di kursi dapur.


Briliant mengengok ke arah Zalin "Oh ada di kamar. Tunggu ya!" Briliant pergi ke kamar untuk mengambilkan Zalin sendal.


Sementara Zalin memunggu suaminya di ambang pintu kamar mandi.


🍁🍁🍁


Tidak butuh waktu lama, Briliant kembali menghampiri Zalin dengan membawa sendalnya.


"Iya yang" Briliant meletakan sendal tepat di depan kaki Zalin.


"Makasih loh ka"Zalin tersenyum dengam tulus.


"ini enggak gratis sayang" Briliant memiringkan wajahnya dengan seringai di bibirnya.


"Maksudnya tidak gratis? Harus bayar?" Zalin melototkam ke dua matanya.


"Za, ga punya uang buat bayarnya" Zalim menatap wajah Briliant dengan tatapam datar.


Hadeuh! Tau gini, aku akan ambil sendalnya sendiri. Perhitungan banget sih jadi orang. BatIn Zalin.


"Bayarnya jangan pakai uanglah" Briliant mendekatkan wajahnya pada wajah Zalin.


Zalin mendjauhkan wajahnya "Ka.... Za udah wudhu" Briliant segera memundurkan kakinya.


"Bayarnya lalu pakai apa jika tidak pakai uang?" Zalin mengekrutkan keningnya.


Briliant mengerlingkan matanya manja.


Zalin melihat heran kelakuan suaminya.


Aih.. kenapa tuh mata Ka Iyan? Batin Zalin.


"Mata kaka kenapa ka?" Zalin memperhatikan mata Briliant.


🍁🍁🍁


Suara adzan dzuhur berkumandang


🍁🍁🍁


"Sudah, nanti saj kaka kasih taunya Yang. Sekarang kamu sholatlah dulu, itu sudah adzan dzuhur. Zalinpun mengangguk.


"Yang, kaka mau ke warung dulu nya. Sepertinya kaka akan buat bakwan saja sebagai teman makan kita" Zalin menggangguk


"Jauh tidak warungnya"


Briliant menggeleng "Tidak, kamu ga bisa jauh-jaug dari kaka ya?" Briliant tersenyum pada istrinya.


"Engga ah, biasa saja! sudah dulu ah. Za mau sholat dulu" Zalin segera berlalu pergi meninggalkan Briliant.


Sementara Briliant bersiap untuk pergi ke warung.


🍁🍁🍁


Zalin sudah berada di kamar dan mebcaru mukenanya.


"Oh iya itu!" Zalin berjalan menuju meja dan mengambil sejadah lalu menggelarnya di samping ranjang di kamar.


Setelah menggelar sajadah, Zalin langsung memakai mukenanya.


Aku lelah sekali. Sesudah sholat aku akan rebahan.


Zalin melempar pandangannya ke arah kasur.


"Sekarang, sholat dulu!"


Zalin memulai sholatnya.


🍁🍁🍁


Briliant berjalan ke arah kamar bermaksud akan pamit pada istrinya.


Saat Briliant di ambang pintu, dia melihat Zalin sedang melksanakan sholat dzuhur.


Lagi sholat ternyata. Ah aku berangkat Saja, tadikan sudah bilang juga pada Zalin. Dia tidak akan mencari juga.


Briliant berjalan menuju menuju pintu.


Kreeek, pintu terbuka.


Briliant melangkahkan kakinya keluar dan menutup kembali pintunya.


🍁🍁🍁


Beberapa menit kemudian, Zalin telah selesai melaksanakan sholat dzuhurnya.


Zalin segera membuka mukenanya, melipatnya dan menyimpannya di tempat asal. Zalin juga melakukan hal sama dengan sejadahnya.


"sekarang tiba saatnya aku beristirahat"


Zalin berjalan ke dekat ranjang dan merebahkan badannya.


"Ah nyaman sekali!" Zalin memandang langit-langit kamar.


"Sepertinya ka Iyan sudah berangkat ke warung"


Hoaaaaam, Zalin menguap dan menutup mulitnya dengan telapak tangannya.


Tidak butuh waktu lama, Zalin terlelap dalam tidurnya.


🍁🍁🍁


Sementara Briliant saat di jalan setelah dari warung di hampiri oleh seorang bapa-bapa.


"Eh nak Iyan! Sedang menginap di sini nak?"Briliant mengangguk.


"Iya bah, saya menginap di sini"


"Sendiri?" Tanya lelaki yang Briliant panggil dengan sebutan abah itu.


"Engga Bah, saya menginap di rumah bersama istri saya" Briliant tersenyum.


"Istri? Kamu sudah menikah?" Briliant mengiyakan.


"Kapan? Ko abah tidak tau?"


"Udah satu bulan lebih, mendadak bah"


Bapa itu mengangguk "Ini bawalah untuk istrimu!" Bapa itu menyerahkan satu ikat caicim juga pucuk caicim lengkap dengan bungannya.


Briliant menerima caicim itu dari tangan bapa itu "Terima kasih bah"Briliant menundukan kepalanya sedikit.


"Iya Nak Iyan, Abah pamit dulu ya. salam buat untuk istrimu" Briliant mengangguk "iya bah"


Bapa itu meninggalkan Briliant dan Briliantpun berniat melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.


"Rezeki. Za suka ga ya sama Caicim?"Briliant melihat pada seikat caicim yang dia pegang.


Ah kayanya dia suka, dia kan pemakan segala. Tidak pilih-pilih soal makanan. Briliant tersenyum.


Briliant mulai melangkahkan kakinya menuju rumah dengan membawa seikat caicim dan satu kantong kresek yang berisi terigu dan minyak goreng.


🍁🍁🍁


Sesampainya Briliant di rumah.


Loh ko sepi ya?. Batin Briliant


"Yang..."


Tidak ada jawaban.


"Aku ke kamar saja, mungkin dia di kamar" Brikiant menyimpan barang yang dia bawa di atas meja ruang tengah.


Briliant berjalan menuju kamarnya.


Briliant berdiri diambang pintu "Ternyata tidur kamu yang" Briliat melihat istrinya tidur meringkuk tanpa selimut.


"Sepertinya dia kedinginan" Briliant tersenyum .


Briliant berjalan menghampiri Zalin, "Aku akan mengahangatkanmu yang" Brilint tersenyum penuh kemenangan.


Briliant naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya samping Zalin. Tak lama kemudian, Briliant memeluk istrinya. Dan melakukan apapun yang dia inginkan.


Zalin menggeliat dan melihat suaminya menindih sebagian tubuhnya. Karena Zalin sangat merasa lelah dan kurang tidur, dia kembali menutup mata dan tertidur kembali.


Briliant umyang tadinya takut melihat Zalin menggeliat dan terbangun. Tersenyum seketika, saat istrinya tersebut kembali tidur.


Setelah merasa lelah, Briliant merebahkan badannya dan melihat istrinya dari arah samping.


"Sepertinya kamu sangat kelelahan yang" Briliant mencium pipi istrinya. Zalin tidak bereaksi sedikitpun.


"Kaka, masak dulua ya" Briliant mengusap kepala istrinya itu dengan lembut.


Briliant segera memakai pakaian dan berlalu ke dapur setelah membawa barang yang dia simpan di atas meja.


🍁🍁🍁


Briliant melihat jam dinding yang ada di dapur. "Sepertinya aku harus mandi dan shilat dzuhur dulu" Briliant kembali ke kamarnya dan mengambil handuknya.


Briliant melihat wajah istrinya "Apa istriku akan mngetahui apa yang telah kulakukan?"Briliant terkekeh.


Briliant langsung meninggalkan istrinya itu yang kini telah tertutup selimut kecuali kepalanya.


Briliant berjalan ke kamar mandi "Ah aku harus cepat mandi, kasian kalo Za bangun makanan belum tersedia"


🍁🍁🍁


Zalin termasuk kedalam golongan wanita yang mempunyau cita-cita langsing, tapi hobby nya makan.


Zalin juga mempunyai penyakit maag, jadi dia tidak boleh telat makan.


🍁🍁🍁


Briliant memasuki kamar mandi dan segera menyelesaikan urusannya di sana.


🍁🍁🍁


Briliant berjalan ke arah kamar dan dia segera memakai baju yang ada di lemari bajunya.


Setelah memakai baju, Briliant melaksanakan sholat dzuhurnya.


Sejenak dia memandang wajah istrinya itu yang masih terlelap tidur.


Sepertinya kamu semakin nyenyak ya yang, setelah di serang dalam ke adaan tidak sadar. Brikiant tersenyum


Briliant mwmgambil sejadah, lalu menggelar sejadahnya dan mulai melaksanakan sholat dzuhur.


Beberapa menit kemudian, Briliant telah selesai melaksakan kewajiban menunaikan ibadah sholat dzuhur.


Briliant menyimoan sejadahnya ke tempat semula, mengganti baju kokonya dengan kaos berwarna merah dan mengganti juga sarungnya dengan celana training.


Ah kalau tidak ingat harus masak, ingin aku peluk dirimu dan tidur siang sampai kenyang.


Briliant bernafas dengan berat.


Briliant segera ke dapur untuk memasak.


🍁🍁🍁


Briliant mulai sibuk mengiris caicim "Aku buat bakwan caicim saja. Sepertinya Za akan suka"


Briliant membuat adona bakwannya. Setelah selesai, Briliant melihat ke arah pucuk caicim.


"Banyak banget si abah ngasihnya, Aku tumis sedikit sajalah. sisanya buat malam dan pagi"


Briliant mulai mengiris pucuk caicim.


"Paling gampang menumis ini, tinggal kasih penyedap saja. beres!" Briliant tersenyum.


Briliant menikmati kegiatan memasaknya sedirian di dapur.


🍁🍁🍁


Sementara di dalam kamar.


Zalin dikamarnya menggeliat, dia mengucek kedua matanya "Ko rasanya badanku sakit semua ya? Tadi sebelum tidur hanya kaki yang terasa pegal" Zalin bingung.


Saat Zalin meraba punggungnya "KA IYAAAAAAN!!!"


🍁🍁🍁


Di dapur


Briliant hanya bisa menahan senyumnya saat mendengar teriakan istrinya.


Beberapa menit kemudian, Zalin menghampiri suaminya di dapur.


"Kaaaaa..."Zalin berdiri diambang pintu dapur melipat tangannya diatas perut.


Briliant yang sedang sibuk mengiris pucuk caicim membalikkan tubuhnya agar bisa melihat wajah istrinya.


Saat Briliant telah sempurna membalikan badannya, Zalin melototkam matanya.


"Kenapa sayang?" Briliant bertanya dengan sura lembut.


"Apa yang telah ka iyan lakukan?" Mata Zalin menatap Briliant penuh selidik.


"Kaka sudah mengiris caicim untuk bakwan dan pucuk caicim untuk di tumis" brikiant menjawab pertanyaan Zalin apa adanya.


Aku tau maksudmu bukan itu sayang. hehehe. Batin Briliant


"Maksudnya apa yang telah ka iyan oerbuat pada Za tadi saat Za tidur?" Zalin berjalan mendekati suaminya.


Briliant mundur ke arah tembok.


"Za mimpi kali?" Briliant nyengir pada istrinya yang sudah menyudutkannya di tembok.


"Lalu kenapa badan Za sakit semua?" Zalin tetap menahan pergerakan suaminya.


"Mungkin karena jalan-jalan kamu kelelahan sayang" Briliant merapihkam rambut istrinya.


"Gamau jawab jujur, baiklah. Malam kaka jangan tidur di kamar!" Zalin menjauhkan badannya dari Briliant.


Aduh Gawat!!. Pikir Briliant


"Iya deh yank, ma'af" Briliant menunduk.


"Curang!" Zalin membuang mukanya kesal.


"Jangan marah dong yang" Briliant memeluk istrinya itu.


"Iya, jangan berbohong lagi" Zalin memanyunkan bibirnya.


Briliant enggan melepaskan pelukannya.


Krucuk... krucuk..


Suara yang berasal dari perut Zalin terdengar oleh Zalin dan Briliant.


"Laper?" Briliant memandang Zalin


"Iya, cepatlah seleaikan masaknya jika tidak ingin istrimu sakit" Zalin memanyunkan bibirnya.


"Iya sayang, duduklah dulu di sana tuan putri.." Briliant mempersilahkan istrinya duduk di kursi yang ada di dapur.


Zalin segera berjalan ke arah kursi dan segera mendudukan tubuhnya di sana.


Briliant melanjutkan kegiatan memasaknya dengan diperhatikan oleh istrinya.


"Pandai juga ka iyan masak ya?" Briliant tersenyum mendapat pujian.


"Yang, kamu suka bunga ceicim ga?"


"Ceicim?"


"Iya Ceicim, Ga tau?"


Zalin menggeleng, "Sayur? mana?"


Briliant menjukkan tumpukan cecim di atas meja didekat kompor "yang itu sayang"


"Itu Sosin Ka..."


"Ceicim Yang"


"Tapi di kota Za namanya Sosin"


"Yasudahlah, sama saja" Briliant lelah berdebat karena igin segera menyelesaikan tugasnya.


"Ka, apa masih lama selesainya?"


"Lumayan... Kenapa memangnya?" Brikiant melihat ke arah Zalin


"Za mau mandi dulu kalo masih lama"


"Oh, mandi saja lah dulu"


"Ok baiklah" Zalin bangkit dari berdirinya dan langsung berjalan ke arah kamar.


🍁🍁🍁


Sesampainya di kamar


"Oh iya, aku belum mengabari ibu lagi. Dimana ya hp ku" Zalin mencari-cari hp nya yang dia lupa diletakan dimana.


Perasaan sejak ke rumah ini, aku belum pernah memegang hp ku lagi. Sepertinya ada di tas slempang.


Zalin menghampiri pintu kamar dan mengambil tas slempangnya yang dia gantungkan di sana.


Setelah mengambil tasnya Zalin mendudukam tubuhnya di tepi kasur.


Zalin membuka tasnya dan mengambil hp nya, "Sedikit lagi baterainya".


"Dimana ya charger hp nya.." Zalin mencari diatas meja, tidak ada.


Zalin kemudian berjalan ke ruang tengah, "Ternyata ada di sini!" Zalin melihat charger terpasang dekat meja dipojok ruangan tengah.


Zalin langsung memasangkan hp nya ke charger itu.


Zalin kembali ke kamar untuk mengambil handuk.


🍁🍁🍁


Sesampainya di kamar


Zalin merapihkan tempat tidurnya terlebih dahulu. Sebelum pergi ke kamar mandi.


"Sudah beres!" Zalin memandang ke sekitar kamar yang sudah terlihat rapi.


Zalin segera mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar dan keluar dari kamar menuju kamar mandi.


🍁🍁🍁


Sementara di dapur Briliant sedang sibuk dengan kegiatan memasaknya, peralatan masak berserakan dimana-mana. Daerah di sekitar kompok terlihat kotor oleh cpratan minyak.


🍁🍁🍁


Zalin berjalan menuju kamar mandi yang melewati dapur.


Saat melihat keadaan dapur, Zalin menatap suaminya.


Zakin menepok jidatnya "Ya Ampun! Berantakan sekali!"


Briliant yang mendengar suara istrinya langsung melirik ke arah Zalin dan tersenyum.


"Ka iyan... Hm" Zalin menatap suaminya tajam.


"Kenapa sayang"


Zalin hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.


🍁🍁🍁


*Readers mohon dukungan like dan vote nya, ditunggu juga komentarnya buat novel MLMCH 😚


Mulai sekarang uni mencoba 2000 kata per bab nya 😊


Terimakasih atas dukungan kalian* 😍