
"Ka, udah mau jam satu" Zalin menampakkan senyum di bibirnya. Briliant mencium pipi Zalin sekilas dan berdiri. "Ah Za, kepala kaka terasa pusing karena kaget!" Briliant memanyunkan bibirnya. Zalin kemudian mendudukan tubuhnya dan memandang Briliant yang sedang memegang kepalanya "Hehe.. ma'af ya Ka, kaka nya sih susah banget bangun". "Pakai cara yang lembut dong" Briliant mengkerutkan dahinya sambil melihat ke arah istrinya. "Cara lembut bagaimana lagi? Za udah ngusap-ngusap lengan ka Iyan tadi tetep ga bangun?" Zalin memandang langit-langit kamar, berpikir. "Bukan seperti itu!" Briliant kesal karena Zalin tidak mengerti apa yang dimaksud Briliant. "Lalu seperti apa?" Zalin melihat ke arah Briliant terlihat sudah kesal dibuatnya "Ih ka Iyan ko kaya yang marah gitu? Kenapa?". "Ah ya sudah lupakan! Nanti juga Za akan paham sendiri maksud dari membangunkan dengan lembut" Briliant segera keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Membangunkan dengan lembut? Seperti apa? Apa sih? Aku masih belum mengerti apa maksud ka Iyan.
Zalin mengambil hp nya yang dia letakan di tas selempangnya. "Ya Ampun! Aku lupa ga ngabarin ibu" Zalin menepok jidatnya. Zalin lalu mengetik pesan untuk ibunya. Setelah di rasa cukup, Zalin mengirim pesan itu kepada ibunya.
Zalina Salim
Bu, tadi Za sama ka Iyan sudah sampai jam 10. Ma'af baru memberi kabar. Za lupa 😅
Zalin segera memainkan hp nya sambil tiduran. "Ibu ko ga membalas pesanku ya? Ah mungkin ibu sedang keluar". Tidak lama kemudian, Briliant datang dan membuka pintu kamar.
Kreek
Pintu Kamar terbuka.
Zalin memperhatikan suaminya. Briliant berjalan dan mengambil sejadah lalu menggelarnya, "Apa lihat-lihat? Kaka ganteng ya?" Briliant tersenyum pada Zalin. Zalin membuang mukanya "Narsis!. "Wih dia ga ngaku.. Wekkk" Briliant menjulurkan lidahnya. "Ayo cepatlah sholat!" Zalin mengibaskan tangannya sambil wajahnya tidak melihat ke arah Briliant. "Iya Sayang" Briliantpun langsung melaksanakan sholat dzuhurnya.
10 Menit kemudian, Briliant telah selesai menunaikan sholat dzuhur dan langsung menyimpan sejadahnya ke tempat semula. "Yang, makan yuk! Kaka laper!" Zalinpun mengangguki ajakan Briliant. Briliant berjalan keluar kamar diikuti oleh Zalin.
"Za, duduk saja dulu di sofa. Kalau bosan nyalakan dulu TV. Kaka mau nyari dulu Jeje sebentar" Zalinpun mengangguk dan langsung mengambil remot TV dan menghidupkan TV nya.
Ah ka Iyan ini, katanya lapar. Malah nyari Jeje, bukannya masak. Eh kan aku ya yang seharusnya masak? ah nanti sajalah, aku kan tidak belum tau apa-apa di rumah ini.
15 Menit kemudian, Briliant kembali dan menghampiri Zalin. "Yang, ayo kita makan. Jeje katanya sudah masak. Kita tinggal makan" Zalinpun mematikan TV nya dan mengikuti langkah Briliant menuju ruang makan. "Jeje nya ke mana?" Zalin melihat ke arah Briliant. "Hm... di - di rumah tetangga" Briliant mengatakan itu dengan sedikit ragu. "Di rumah mantan ka Iyan?" Zalin cemberut. "Ah, sudahlah jangan dibahas! Ayo kita makan" Ajak Briliant. "Sayang.. sudahlah jangan ngambek! Masa lalu, biarlah masa lalu.." Zalin langsung tersenyum karena mengingat kejadian sewaktu mereka belum menikah.
Flash Back On
Zalin dan Briliant baru selesai berbelanja, saat mereka sedang berjalan di trotoar. Hp Briliant berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Membuat Zalin dan Briliant menghentikan langkahnya dan berdiri di area yang teduh. Briliant langsung mengangkatnya, zalin menatap mata Briliant sambil berbisik "Siapa?". Briliant dengan cekatan langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak saat Zalin bertanya. Zalin merasa curiga karena Briliant tidak biasanya salah tingkah seperti itu. "Hm.. Ka, telepon dari siapa?" Zalin cemberut. Briliant hanya diam, bingung harus menjawab apa. "Sini, Za pinjem hp nya" dengan sukarela Briliant menyerahkan hp nya.
Zalin membuka panggilan masuk. "Hm.. kenapa ditutup?" Zalin melototkan matanya. "Engga penting" Jawab Briliant singkat. "Please deh ka! Kalau ga ada apa-apa biasa saja, apa kaka selingkuh? masih berhubungan sama dia?" Zalin menepok jidatnya dan berlalu meninggalkan Briliant.
Mantan ka Iyan, ah aku paling takut kalau dia mendekati ka Iyan. Dia tetangganya pula. aaaaah aku paling tidak suka kalau ka iyan pulang ke kotanya, aku takut dia ketemu mantannya itu. hiks
Briliant mengejar Zalin. "Za, jangan marah dong!" Briliant berjalan sejajar dengan Zalin. "Kaka cari deh lagu dangdut yang judulnya masa lalu" perhatikan liriknya" Briliantpun mengangguk patuh.
Beberapa hari kemudian, Zalin dan Briliant bertemu kembali. "Za, kaka udah tau lirik lalu yang Za cari. enak juga ya lagunya. Mau kaka nyanyikan?" Tawar Briliant. Zalin menahan tawanya "Memangnya bisa?" Briliantpun mengangguk. "Nyanyi? kaka bisa, Za belum tau ya? kaka itu pernah punya band, kaka vokalis dan gitaris" Zalin mengkerutkan dahinya.
Saat ini mereka sedang duduk di taman kota dan keadaan sedang agak ramai, Briliant bernyanyi dengan pelan.
Kau kira tak menyakiti aku
Pabila dia menelponmu
Zalin tersenyum melihat Briliant bernyanyi, Zalin tidak menyangka Briliant sampai menghapalkan lirik lagunya.
*Kau kira hatiku tak cemburu
Di saat dia bersamamu
Ku takut terulang masa lalu
Karna dia bekas pacarmu
Jujur saja aku takut nanti
Kisah kasih masa laku terulang lagi
Tak rela sungguh ku tak rela
Bila nanti ku harus kehilanganmu
Masa lalu biarlah masa lalu
Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku.Masa lalu biarlah masa lalu
Sungguh hatiku tetap cemburu*
Briliant menatap Zalin yang sedang tersenyum "Lagunya yang itu kan?" Zalin mengangguk "Ka iyan ini, sampai menghapal liriknya!" Zalin mengacungkan jempolnya. "Penasaran sih! hahaha" Briliant tertawa.
"Za, kita sama-sama punya masa lalu" Zalin mengangguk. "Biarlah masa lalu kita simpan, kita rangkai masa depan kita, oke?". Zalin mengacungkan jempolnya "oke!".
"Dimana rumah mantan ka iyan" Zalin penasaran "Za, tidak akan nanya-nanya lagi deh" Zalin menunduk. "Dia tetangga kaka, rumahnya tidak jauh dari rumah kaka di kota Q".
Tetangga ka Iyan?
Flash Back Off
Zalin dan Briliant makan di meja makan bersama tanpa Jeje. Jeje tidak tahu jika Briliant pernah berhubungan dengan tetangganya. Di depan mereka sudah terhidang ayam goreng, Sayur katuk jagung dan wortel ada juga ikan asin, lalapan lengkap dengan sambalnya. Zalin mengisi piring Briliant dengan nasi dan lauk pauknya. Zalin dan Briliant mulai makan.
Ditengah kegiatan makannya, Zalin memberanikan diri bertanya sesuatu pada Briliant "Ka iyan, Ibu akan membangun rumah lain?" Briliant mengangguk. "Memangnya kenapa Yang?" Briliant memandang Zalin sekilas. "Berarti nanti kaka akan pindah ke rumah baru?Jauh dari sini?" tanya Zalin antusias. "Iya Yang, nanti keluarga kaka rencananya akan pindah. Lumayan jauh" Zalin tersenyum "Oh iya". Zalinpun melanjutkan makannya.
Semoga Keluarga ka Iyan pindah rumah. aaah aku tidak mau kalau harus bertemu dengan mantannya ka Iyan. Walaupun beberapa kali dia pernah chatting denganku. Rasa-rasanya aku tidak siap jika ka Iyan tetap bertetangga dengannya.
***