
Hari kamis Zalin masih kuliah, teman-temannya mempermasalahkannya karena jika mahasiswa akan menikah akan cuti meliburkan diri selama 1-2 minggu. Tapi Zalin lebih memilih tetap kuliah karena Zalin tidak ingin dosen mengetahui bahwa dirinya akan menikah. Walaupun Zalin mengundang satu dosennya, yaitu dosen wali Briliant yang kebetulan dosen yang berperan penting saat Zalin mengajukan cuti kuliahnya.
Sepulangnya Zalin dari kampus
Zalin melongo setelah turun dari motor omnya "apa-apaan ini? ko rumah dihias begini sih? bukannya sesuai kesepakatan hanya akan akad saja?" Zalin masuk ke dalam rumah mencari ibunya.
Zalin mencari ibunya hampir ke semua ruangan, saat ke dapur Zalin melihat ibunya "bu... ko di hias begini sih?" Ibu Zalin tersenyum "ya gapapa Za, ini bukti sayang ibu sama ayah buat kamu. Meski kamu tidak mau merepotkan kami, kami melakukam ini tidak merasa di repotkan" Zalin memeluk ibunya terharu "makasih bu... makasih" Ibunya mengangguk "iya sayang, cepatlah ke kamar dan bersihkan dirimu" Zalin kemudian mengangguk dan meninggalkan ibunya.
Sesampainya Zalin di kamarnya
Zalin kembali terbengong melihat kamarnya sudah di dekorasi dengan indah. Dinding kamarnya ter cover oleh kain berwarna putih dengan kombinasi kain berwarna hijau botol dan warna kuning tidak ketinggalan rangkaian bunga yang indah.
Kamar pengantinku...
Zalin segera menyadarkan dirinya dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Keesokan harinya, H-2 pernikahan
Zalin melihat bibi dan semua keluarga nya sibuk memasak. Dan karena dasarnya sifat Zalin tidak bisa diam, dia berusaha membantu pekerjaan di dapur. Tetapi semua nya melarang "udah, pengantin diem aja di kamar sana" bibi Zalin yang zangat dekat dengan Zalin melarang. "Bentar aja ko. ya?" dan bibinya pun mengangguk menyerah.
Zalin mengambil tempat yang berisi sangat begitu banyak cabe merah dan mulai mengeluarkan bijinya.
Satu jam kemudian
Zalin merasakan telapak tangannya kepanasan, "Bi... tangan Za oanas banget ini, kenapa ya?" Bibi menghampiri Zalin dan melihat tempat yang penuh dengan cabe sudah bersih dari bijinya di samping Zalin "Za, kamu membersihan cabe dari bijinya?" dengan cepat Zalin mengangguk, "Sebelumnya kamu pakai minyak tidak" Zakin menggeleng "ya Ampun pantas, kan kata bibi juga Za istirahat saja di kamar" Za manyun dan langsung mencari air hangat untuk merendam tangannya yang semakin kepanasan.
Zalin sedang merendam tangannya pada air hangat di meja makan, tapi panasnya hanya sedikit berkurang. "ah masih tetep panas.. huh huh huh" Zalin meniup-niup telapak tangannya. "Aha... aku punya ide!" Zalin pergi ke dapur dan membawa semangkuk es batu dan dia duduk di meja makan kembali dan mulai memegang es batu nya "ah kok jadi makin panas" Zalin mulai menangis melepaskan tangannya dari es batu dan meniup-niup kembali tangannya.
Ibu Zalin menyadari Zalin anaknya sedang menangis dan menghampiri anaknya "Kenapa Za?" ibu Zalin mengusap kepala anaknya yang sebentar lagi akan menikah itu. Za pun menceritakan kronologis tangannya sampai kepanasan. Setelah selesai bercerita, Zalin menyodorkan kedua telapak tangannya pada ibunya "jampe sama ibu, biar cepat sembuh" Zalin merengek "iya, sini" Ibu Zalin memegang kedua telapak tangan Zalin dan membaca do'a, tidak lama kemudian ibu Zalin berkata "Sekarang tidurlah. masuk kamar. Usahakan tidur, besok Za terima tamu saja jangan masuk dapur lagi!" Ibu Zalin meninggalkan Zalin, dan Zalipun segera masuk ke kamarnya.
Sesampainya di Kamar
Ah aku ingin sekali memghubungi ka iyan, eh tapi enggak enggak.. biar dia kangen aku. hehehe
Zalinpun segera menutup matanya
Keesokan harinya
Zalin menerima tamu yang datang dan sibuk, dia tidak mau mengalami tragedi seperti semalam. itu sangat menyiksa dirinya, dia juga tidak mau mengambil resiko. Besok adalah hari pernikahannya.
Hari Pernikahan
Malam tadi Helen menginap dan melulur, memijit badan Zalin. Zalin merasa badannya segar dan fit dihari pernikahannya, saat dia bangun tidur dia melihat Helen di bawah ranjangnya.
"Ya Ampun Helen! kamu tidur dibawah" Seketika Helen tersadar dari mimpi indahnya dan langsung mendudukan dirinya, mengumpulkan kesadarannya yang belum penuh.m "iya Za.. hehe" Zalin turun dari ranjngnya dan memeluk sahabantnya itu "Makasih ya Helen" Helenpun membalas pelukan sahabat yang hari ini akan menikah melepas masa lajang. Zalin melepas pelukannya melihat ke arah jam "Ya Ampun udah subuh! aku harus siap-siap!" Zalin langsung lari ke kamar mandi. "HATI-HATI ZAAAA!!!" Helen berteriak kepada Zalin.
Zalinpun segera membersihkan diri. Setelah selesai, Zalin sholat subuh.
Ini sholat terakhirku sebagai seorang anak, sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. ah ya Allah aku tidak menyangka perkenalan yang singkat dan cepat itu seserius ini.
Zalin tenggelam dalam lamunannya. sampai Helen menepuk pundaknya. "Za, cepet sholat! ya Ampun malah melamun!" Zalim langsung melihat ke arah Helen "hehe.. iya iya" Zalinpun langsung melaksanakan sholat subuhnya di kamar.
Bianca masuk ke dalam kamar dan membawa bed cover dengan karakter Doraemon "untuk ka Za...." Bianca menyerahkan kadonya dan Zalin tersenyum "ma'af ya ka, ga dibungkus. hehe" Bianca memeluk kaka sepupunya itu.
jam sudah menunjukan pukul 07.00
Ibu Zalin memasuki kamar anaknya Zalin "Cantiknya anak ibu" Zalin hanya tersenyum malu. "Za... iyan mengirim pesan sudah sampai mana?" Zalin memberitahu bahwa Brikiant sudah dekat tapi istrihat dulu di sebuah taman agar sampai ke rumah Zalin jam 08.00 karena akad nikah akan dilaksanakan pukul 09.00.
Keluarga Zalin semakin sibuk mempersiapkan segala persiapan agar semua acara yanga kn segera dimulai lancar.
Pengantin Lelaki Sampai
DOR ... DOR... DOR...!!!
Suara petasan berbunyi sangat keras, menandakan rombongan pengantin lelaki sudah tiba.
Zalin duduk di kamarnya dengan tegang di temani Helen Rena dan Kikan serta sepupunya Bianca, sedangkan ayah ibu dan adiknya menyambut kedatangan Briliant.
Kini Briliant sudah diapit oleh kedua orangtuanya dan sejajar dengan adiknya. Acara satu persatu lalui, Zalin dan Briliant sama-sama tegah diposisi mereka masing-masing.
Kini tiba saatnya acara inti, Ijab Qabul. briliant telah duduk dikursinya di depan pa Penghulu dan ayah Zalin, di smping sudah duduk seorang Kyai dan Ustadz untuk menjadi saksi dan ada Ibu Briliant, ayah Briliant dan Ibu Zalin duduk di dekat meja ijab Qabul akan dilaksanakan. Sedangkan Diandra dan beberapa saudara yang lain sibuk mengabadikan momen sama halnya dengan Photografer yang sudah dipersiapkan.
Setelah semuanya telah siap, Zalin keluar dari kamarnya di gandeng oleh Helen dan Kikan. sementara Bianca dan Rena berjalan dibelakangnya.
Zalin menundukan pandangannya dan melirik ke arah Briliant.
Wajah ka iyan pucat banget? apa dia tegang?dia ga mungkin lagi sakit kan?
Zalin duduk dikursi samoing Briliant. Pak penghulu langsung memberi arahan tentang pernikahan.
ah.. aku takut ka Iyan mengucap kalimat "saya terima nikahnya...." tidak berhasil dalam satu kalimat. ah pasti sekali pasti.
Zalin segera menyadarkan dirinya dan mengikuti acaranya dengan mengatur nafasnya.
Tiba Saatnya Ijab Qabul, ayah Zalin langsung menjadi wali untuk Zalin menjabat tangan Briliant calon menantunya. Dan dengan satu tarikan nafas, Briliant berhasil mengucap ijab Qabul itu. "Alhamdulillah....!!!" Semua yang hadir mengatakan hamdalah dengan serepak.
*Kita sudah sah menjadi sepasang suami istri Za. Batin Briliant
Ah aku masih berasa seperti mimpi. batin Zalin*
Zalin dan Briliantpun mengikuti rangkaian acara pernikahan dengan lancar.
Sampai acara pemotretan mereka berdua dilakukan oleh photo grafer di kamar pengantin, kamar Zalin. Briliant memandang takjub kamar pengantinnya saat masib da diambang pintu dan mata Briliant melirik ke arah mata Zalin. Briliant mengerlingkan matanya sambil senyumnya merekah dibibirnya, Zalin yang melihat suaminya bertingkah seperti itu jadi salah tingkah.
ih.. apaan sih ngeliatnya kaya gitu! please jangan pasang wajah seperti itu, aku seperti bukan melihat wajah kaka. Aku baru melihat wajah ka iyan bisa berekspresi seperti itu, jauh dari kata imut.
"heeeeeh... ayo dong kita ambil photo dikamar!" photo grafer mendahului langkah mereka masuk ke dalam kamar pengantin.
Zalin segera tersadar dari gumamannya.
Briliant membisikan sesuatu di telinga Zalin yang membuat Zalin membeku beberapa detik dalam posisinya.
***