My Love My Cute Husband

My Love My Cute Husband
38



Satu minggu kemudian setelah menikah


Satu minggu terakhir ini Zalin selalu diantar jemput oleh Briliant. Saat Zalin kuliah, Briliant sibuk mencari kerja di kota Zalin. Berharap dia akan segera bisa bekerja. Tetapi hasilnya masih nihil.


Hari ini hari senin, Zalin dan Briliant sedang ada di kamar mereka. Zalin sedang duduk diatas kursi meja belajar, sedang sibuk menulis tugas kuliahnya. Dari belakang Briliant memeluk pundak Zalin "Ma'afin kaka ya Yang?" Briliant menyembunyikan wajahnya di leher Zalin, Zalin yang ketika itu masih memegang pulpen segera melepaskan pulpennya karena merasa geli dengan perlakuan Briliant dan memegang tangan Briliant.


Kini tangan Briliant telah dipegang oleh Zalin , "Ma'af untuk apa Ka?" Zalin mengusap telapak tangan Briliant dan melirik ke wajah suamiya, membuat mereka beradu pandang "Kaka, belum dapat kerja" Jawab Briliant lemas. Zalin segera berdiri dan memeluk suaminya "Sabar sayang, sebentar lagi Insha Allah kamu akan dapat kerja. Teruslah berusaha dan jangan menyerah ya!" Zalin mengusap punggung Briliant, Briliant mengangguk dan membalas pelukan Zalin "Makasih ya Yang, Aku janji tidak akan putus asa, demi masa depan kita" Briliant melonggarkan pelukannya dan mencium kening istrinya.


***Tiiiin*...


Suara klakson mobil**.


Zalin dan Briliant melihat mobil siapa yang datang dari jendela kamar, Saat mereka melihat mobil siapa yang datang mereka kompak berteriak "SUDAH DATANG!!!" Zalin dan Briliant segera berlari menyambut mobil itu dengan hati bahagia. Saat mereka keluar kamar, diteras sudah ada Ibu Zalin dan Om Andrean.


Om Andrean menatap Zalin dan Briliant "Cieeeee....Motor Baru" Sambil tersenyum, Zalin tersenyum dan Briliant menggaruk tekuknya yang tidak gatal.


Ibu Zalin memutuskan mengambil motor untuk Briliant dan Zalin, DP nya dari Ibu Zalin dan angsurannya dibayar oleh Zalin dan Briliant nantinya. Ibu Zalin menganggap Briliant sangat membutuhkan kendaraan untuk mempermudah geraknya mencari pekerjaan dan sebagai ganti karena Zalin dan Briliant tidak ingin menggelar resepsi pernikahan Ibu Zalin sudah menyiapkan dana nya. Sebenarnya bisa saja Ibu Zalin memberikan motor dan membayar cash motor itu, tetapi Ibu Zalin ingin melatih anak dan menantunya mandiri dan berusaha.


Walaupun nantinya Briliant harus membayar angauran dan dia belum bekerja, saat melihat motor itu diturunkan semangatnya kembali menggebu.


Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan dan membahagiakan Zalin.


Sepeda motor telah diturunkan dari mobil


"Asik, punya motor baru. Mana helmnya?" Om Andrean menggoda. Zalin hanya memanyunkan bibirnya pada om nya.


"Za, Iyan... Ibu ke tempat kerja lagi ya? Kalau nanti Za kuliah, pakai saja motornya langsung ini. Ga akan apa apa. Sudah ada plat nomor sementara di dus itu. Soalnya ayah ga akan pulang cepat" Ibu Zalin menunjuk sebuah dus di dekat pintu yang diletakan oleh kurir pengantar motor. Briliantpun mengangguk "Iya Bu".


Ibu Zalinpun pergi meninggalkan mereka yang diantar oleh teman kerjanya.


"Pengantin Baru, Motor Baru, Helm baru.. Gaya kalian!" Om Andrean menatap langit "Om juga dulu gitu, setelah nikah dapat motor baru" Om Andrean tersenyum mengingat saat dia begitu bahagia mendapat motor baru.


"Aaah udah jangan melamun, Za mau nyobain motor barunya" Zalin mendorong tubuh om nya karena dekat sekali dengan motor barunya. Andrean sedikit demi sedikit menjauhi motor baru tersebut "Ayo coba kalo bisa" Andran meledek Zalin karena tahu keponakannya itu tidak bisa mengendarai sepeda motor. Zalin menggaruk tekuknya saat akan menaiki motor. Briliant sibuk mencari plat nomor sementara yang ibu mertuanya katakam di dalam dus.


Tidak lama kemudian, Brilianr menemukan plat nomor itu dan akan memasangnya di motor.


Zalin melihat ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu."Ka, Za masak.dulu ya? Udah jam 10" Briliantpun mengangguk mengizinkan. Zalin pergi ke dapur untuk memasak, sementara Briliant sibuk dengan motor barunya dengan Om Andrean.


Ah senangnya punya motor baru. Aku dan Ka Iyan bisa bebas jalan-jalan sekarang.


Sesampainya di dapur


Zalin membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak.


Ah aku masak sup ayam saja, biar praktis. Semuanya ada disana, sayurnya lauknya tinggal goreng kerupuk dan bikin sambal yang hanya cabe rawit dan diberi perasan jeruk nipis akan membuat segar.


Setelah semua bahan tersedia, Zalin langsung memulai kegiatan memasaknya.


Untunglah sejak kelas 3 SMP aku sudah belajar masak, jadi aku sekarang tidak kaget setelah menikah.


Zalin menikmati kegiatan memasak didapur.


1 jam kemudian


Briliant memeluk Zalin yang sedang memasak dari belakang.


Deg


Jantung Zalin berhenti sedetik


"Yang.. masak apa?" Briliant menyadarkan Zalin, "Ih ka Iyan! Ngagetin aja!" Zalin memukul dengan Briliant dengan cukup keras "Bisa mati jantungan aku! Ampun deh... ka Iyan suka banget meluk tiba-tiba!" Zalin kembali fokus ke sup ayamnya. "Hehe... ya ma'af habisnya kamu fokus bnget sih Yang! kayanya enak tuh? Sup ayam ya?" Zalipun mengangguk dan Iyan masih memeluk Zalinnya yang makin lama makin erat, membuat Zalin merasa sesak "Ih! Lepas!" Zalin memukul lengan Briliant "Za, sulit nafas tau! Mau Za mati apa?" Zalin menghadap Briliant setelah mematikan kompornya.


Zalin memanyunkan bibirnya ke arah Briliant, "Oh sayang.. ma'afin kaka?" Briliant kembali memeluk istrinya sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


3 menit kemudian


"Ka, udah belum meluknya? Za, pegel nih" Briliant tersenyum melepaskan pelukannya dan menuntun Zalin lalu mendudukan Zalin di kursi meja makan. "Eh ka Iyan, kenapa bawa Za ke sini?" Zalin mengkerutkan dahinya saat dia sudah duduk dikursi meja makan. Briliant bertanya "Ayang laper ga?" Zalin mengangguk, "Tunggu ya, biar kaka siapkan buat istri tercinta" Briliant kembali ke dapur dan membawa semangkuk sup ayam yang dimasak Zalin. Sementara kerupuk, sambal dan nasi sudah tersedia di meja makan.


Briliant datang dengan semangkuk sup ayam ke hadapan Zalin. Briliant berdiri di samping Zalin dengan gaya pelayan. "Silahkan dinikmati nyonya. Ini masakan yang saya buat, istimewa untuk anda" Zalin tertawa melihat tingkah suaminya " Haha... enak aja main ngaku-ngaku", Briliant meletakan sup itu di mejanya dan memanyunkan bibirnya "Ya Ampun, imut banget sih kamu ka kalo manyun gitu.. sini sini jangan nangis ya?" Zalin mengusap-ngusap lengan Briliant yng masih berdiri disampingnya, " Pengen disun" Briliant menunduk dan merajuk, "Ih anak kecil ko genit gitu!" Zalin memundurkan wajahnya dan menatap wajah suaminya yang terlihat imut jika memasang wajah sepwrti itu. Briliant lebih menundukan kepalanya dan memanyunkan bibirnya mirip anak kecil yang sedang merajuk, " sini" Zalin meminta Briliant mendekat dan Briliantpun maju kehadapan Zalin, "Nunduk anak manis" Zalin menggoda suaminya dan Briliantpun menunduk. "*muuaaah*" Zalin mencium pipi Briliant, "udah sekarang duduk", Briliant langsung tersenyum dan membalas mencium pipi Zalin *muuaaah* dan menegakkan tubuhnya lalu duduk disamping Zalin. Zalin tersenyum. "Sebentar lagi dzuhur, Za harus siap-siap. Ayo kita segera makan".


Seperti biasa Zalin mengambilkan nasi untuk Briliant, merekapun menikmati makan siangnya dengan hati bahagia memiliki motor baru.


***