
Briliant sering ke rumah Zalin, merevisi skripsinya. Briliant pun mengikuti organisasi di lingkungan sekitar rumahnya. Karena kelelahan Briliant jatuh sakit.
Mengetahui Briliant sakit, Zalin meminta Briliant datang ke rumahnya karena Zalin tahu, Briliant tidak akan ada yang merawat.
Sesampainya Briliant di rumah Zalin
Ibu Zalin menyambut Briliant dan menyuruh Briliant istirahat di kamar tamu. Ibu Zalin mengetahui keadaan Briliant dari anaknya Zalin, dan ibu Zalin setuju jika untuk sementara Briliant menginap di rumah Zalin.
Briliant masuk ke kamar tamu dan menidurkan badannya.
"Iyan, istirahat dulu di sini ya? 2 hari lagi kamu sidang pertahanan skripsi kan? kamu harus segera sehat ya!" Ibu Zalin memberi semangat pada Briliant dan Briliant pun tersenyum dan menjawab perkataan ibu Zalin "iya bu, makasih" Ibu Zalinpun mengangguk dan segera meninggalkan Briliant di kamar tamu.
"Za, kamu ikut ibu. jangan dulu ganggu Iyan" Ibu Zalin berjalan menjauhi kamar tamu. sementara Briliant tesenyum pada Zalin yang masih berdiri di pintu kamar memandang Briliant.
"Zaaaa... ke sini!!!" Ibu Zalin memerintah agar Zalin mendekatinya. Zalin bernafas dengan berat dan segera mendatangi ibunya dengan berjalan masih dengan kedua tongkatnya.
"iya bu.. ada apa?" Zalin mendekati ibunya di kursi ruang tamu. dan duduk di samping ibunya.
"Za, ibu ada perlu dulu ke luar, kamu di sini hanya dengan iyan. kamu jangan macam-macam!" Ibu menatap Zalin tajam
hm memangnya hal macam-macam maksud itu apa? hadeuuuh apa yang bisa kulakukan dengan keadaanku seperti ini.
"Za..." Ibu memanggil nama anaknya, Zalin langsung menjawab ibunya "iya bu, Za ga akan macam-macam" Zalin mengacungkan jempolnya pada ibunya.
"Yasudah, ibu mau siap-siap dan langsung berangkat ya Za" Ibu meninggalkan Zalin di kursi menuju kamarnya.
Sepeninghal ibunya, Zalin iseng ke kamar tamu untuk melihat keadaan Briliant. Dia berjalan perlahan menggunakan tongkatnya.
Setelah tiba di pintu kamar tamu, Zalin memperhatikan raut wajah Briliant "hm seperti berkeringat" Zalin mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang dengan kedua tingkat dia pegang di tangan kiri. sedangkan tangan kanannya dia letakan di dahi Briliant.
"Ka iyan demam, aku harus segera mengompresnya!" Zalin berdiri dan memasang kedua tongkat di tangannya dan mulai berjalan ke arah dapur. Dia mengambil sapu tangan lembut yang kecil dan semangkuk air hangat. Dengan susah payah dia membawa alat pengompres untuk Briliant.
Zalin langsung masuk ke kamar yang Briliant tempati dan memasang kompresan di dahinya. Briliant terbangun karena merasakan ada sesuatu yang aneh menempel didahinya. Briliant membuka matanya dan memandang ke arah Zalin, tangan kanannya memegang kompresan.
"Za... makasih" Briliant tersenyum
"kaka.. makan belum?" Zalin tidak menjawab ucapan terimakasih pacarnya tersebut
Briliant menggeleng ke arah Zalin.
"yasudah. Za ke dapur, bawa nasi dan nanti makan obat ya?" Zalin langsung pergi ke dapur untuk membawakan nasi dan obat penurun panas di kotak P3K.
Tak lama kemudian, Zalin membawakan semangkuk nasi putih dengan sup ayam hangat dan obat penurun panas. Dengan susah payah Zalin membawa mangkuk itu.
Sesampainya di Kamar Briliant, dia langsung meletakan mangkuk dan obat itu di atas meja dekat ranjang. Zalin langsung meletakan tangannya di dahi Briliant.
sudah tidak terlalu panas seperti tadi.
Zalin meletakan alat pengompres ke mangkuk pengompresnya. Dan dia membangunkan Briliant untuk makan dan minum obat
"Ka, bangun dulu ya" Zalin mengusap pundak Briliant lembut.
Briliant mengerjapkan kedua matanya, dia perlahan mendudukan tubuhnya.
Zalin mengambil mangkuk berisi nasi dan sup ayam. dan menyendoknya
"ka, makan dulu ya" Zalin mengarahkan sendok ke mulut Briliant
"ga ah gamau. ga enak makan kaka tuh" Briliant menolak sambil menggelengkan kepalanya
"hm.." bagaimana ya cara membujuk agar ka iyan makan. oh iya! Zalin menemukan ide
"kaka kan lusa, sidang. masa ga mau sembuh. Za, udah ngasih tau ibu kaka loh. Kaka harus cepat sembuh biar bisa ikut sidang dan ibu kaka ga khawatir" Zalin mengerlingkan matanya ke arah Briliant
Briliant yang mendengar kata-kata Zalin memanyunkan bibirnya dan mulai membuka mulutnya.
aha... aku berhasil juga!
Baru tiga sendok, Brikiant sudah tidak mau makan lagi.
"udah ah Za, udah ga mau lagi" Briliant menunduk lesu
"yaudah, sekarang makan obat dulu ya, Za ke dapur dulu ngambil air hangatnya" Za berjalan kedapur dengan perlahan untuk membawa segelas air hangat. Sementara Briliant memandang Zalin.
Tidak lama kemudian Zalin masuk kedalam kamar dengan membawa segelas air hangat.
"ini ka, minumnya dan ini obatnya" Zalin menyodorkan gelas dan sebutir obat.
Briliant menggeleng
"ayolah ka, kaka mau lulus tahun ini ga?" Zalin sudah kehabisan akal untuk membujuk ka iyannya tersebut.
Mendengar ucapan Zalin, Briliant langsung mengambil gelas dan obat di tangan Zalin, langsung meminum obat tersebut.
Zalin memperhatikan Briliant dan tersenyum.
"bagus.. anak pintar" ucap Zalin sambil mengambil gelas dari tangan Briliant.
Briliant memandang Zalin yang sedang meletakan gelas ke atas meja. Saat Zalin seleaai, Zalin langsung melihat ke arah Briliant tangannya langsung di tempelkan ke dahi Briliant.
"panasnya terus menurun" Zalin tersenyum pada Briliant.
Briliant memegang tangan kanan Zalin yang masih ada didahinya.
Tangan Zalin di genggam oleh Briliant "makasih ya Za" Briliant tersenyum pada Zalin dan Zalin membalas perkataan Briliant dengan anggukan.
"sekarang kaka tidur, istirahatkan ya badan ka iyan" Briliant pun menidurkan badannya dan mulai memejamkan matanya, sementara Zalin dengan setia mengusap pundak Briliant dengan lembut, sampai Briliant terlelap dalam tidurnya.
ka iyan sepertinya sudah tidur, aku harus membiarkannya istirahat.
Zalinpun meninggalkan Briliant.
Keesokan harinya
Ibu Brikiant datang ke rumah Zalin dan memastikan keadaan Briliant. Ibu Briliant meminta ma'af kepada ibu Zalin. Karena sudah repot merawat dan memperbolehkan Briliant menginap.
Kedatangan ibunya membuat Briliant semakin ingin sembuh secepatnya.
Ibu Briliant datang pagi hari dan pulang sing setelah sholat dzuhur.
Sore hari setelah kedatangan Ibunya, Briliant memaksa pulang karena dia merasa sudah sehat.
Zalin menelpon Briliant setelah Briliant mengirumkan potonya memakai setelan jas dengan dasi warna merah.
ka, kaka udah sehat betul?~Zalina
udah Za, kan udah dirawat sama kamu, kamu ngerawatnya dengan cinta sih jadi aku cepat pulih~Briliant
gombal!~ Zalin
ini serius Za..~Briliant
*hmmmm....~Zalina
kaka ganteng ga pake jas. hehe~ Briliant
sangat ganteng! keren. tapi tetep imut sih! wkwkwk~Zalina
makasih, udah dulu ya udah siang. Kaka harus segera berangkat!" ~Briliant
ok. semangat ya! i love u ~Zalina
love u too ~ Briliant*
Hari itu Briliant lancar mengahadapi sidang pertahanan skripsinya.
____________________________________________
Seminggu lagi Briliant akan wisuda, sementara Zalin masih belum bisa berjalan memakai tongkat. Om Zalin memberi semangat agar Zalin secepatnya bisa lepas tongkat agar terbiasa.
Briliant datang ke rumah Zalin seperti biasa, kini Briliant duduk di kursi panjang di samping Zalin di ruang keluarga.
"Za, kaka minggu depan wisuda. Kaka mau Za ikut menemani kaka ya, Za jadi Pemdamping Wisuda kaka" Briliant memandang Zalin penuh harap.
Zalin merasa gundah, dia ingin sekali ikut. Tetapi, dia belum mampu berjalan tanpa tongkat. Zalin menunduk.
"Tapi ka, Za kan belum sembuh. Apa kaka ga malu kalo banyak yang melihat aneh Za terlebih ka Iyan" Jawab Zalin sedih
"engga, kaka ga akan malu" Briliant mendekati Zalin dan memegang kedua pundak Zalin.
Lihat mata kaka, Zalinpun menuruti apa yang diminta Briliant. Mata Zalin bertemu dengan mata Briliant.
"kaka sangat berharap Za hadir di acara wisuda kaka. please" Briliant memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
Ah mata itu, selalu berhasil membuat pertahananku runtuh seketika.
Zalinpun menanggapi perkataan Briliant dengan anggukan.
Briliant tersenyum dan memeluk Zalin
Terimakasih Zalina Salim, aku akan selalu ada di sampingmu bagaimanapun keadaanmu.
Hari Wisuda Briliant
Briliant pagi sekali datang ke rumah Zalin dia sengaja ingin berangkat bersama Zalin dan nanti di perjalanan pindah ke mobil keluarganya. Ibu dan ayah Zalin juga ikut ke acara Wisuda Briliant atas permintaan Briliant.
"Ya ampun ka! Bajunya belum di setrika?" Zalin melihat ke arah Briliant dan Briliant hanya mengangguk tersenyum
"yasudah. Za setrikakan dulu. kaka mandi sana!" Zalin mendorong tubuh Briliant.
Zalin selesai menyetrika pakaian Briliant dan Briliantpun selesai dari mandinya. Briliant langsung mengenakan bajunya lengkap dengas jasnya. Setelah selesai Briliant keluar kamar dan menemui Zalin yang duduk di ruang keluarga
"Za, bisa masangin dasi?" Briliant mendekati Zalin dan Zalin berdiri dari duduknya dengan dibantu Briliant. Zalin langsung memasangkan dasi Briliant, Briliant memperhatikan wajah Zalin dari dekat.
"Selesai" Zalin pun melihat Briliant dari ujung kaki sampai kepala.
"ah ka iyan ko keren banget ya? bisa ga jangan pake baju ini. takut banyak yang suka akutuh!" Briliant melototkan kedua matanya kearah Zalin
"cuma bercanda!" Zalin mengusap dada Briliant "jaga hatinya ya, mata juga" Zalin memandang lekat mata Briliant
"iya sayang! percayalah pada ka iyanmu ini!" Briliant mengusap pipi Zalin.
"Zalin! Iyan! Mobil sudah siap cepat keluar kalian. nanti kesiangan!" Suara Ibu Zalin mebuyarkan suasana romantis Zalin dan Briliant.
Sesampainya di tempat wisuda
Zalin menunggu Briliant keluar dari ruangan bersama keluarganya dan keluarga Briliant. sudah 4 jam Briliant di ruangan.
acara wisuda selesai.
Zalin berjalan dengan tongkatnya untuk menyambut kedatangan Briliant Anggara yang sudah sah menyandang gelar Sarjana.
ih kemana ka iyanku ini. teman teman sekelasnya udah pada kelihatan, ko dia ga ada. lama banget.
Saat Zalin berdiri Zalin melihat sosok yng sangat dia hidari melihat ke arahnya, Zalin dan sosok itu tersenyum sama-sama kaku.
hadeuhhh... malah ketemu sama wajah ka Evan. ampun deh. eh.. eh.. ngapain dia mendekat. aduh gimana kalo ka iyan tiba-tiba datang.
Evan mendekati Zalin "Hai Za, sama iyan ya ke sini?" Zalinpun mengangguk
Evan yang melihat Zalin canggung segera berpamintan. dan pergi.
huh... untung kamu ngerti aku gamau kamu ada dihadapanku.
Tak lama kemudian, Briliant datang dan Zalin segera memberikan rangkaian bungan pada Briliant.
"Selamat Pa Briliant Anggara! anda sudah sah menjadi Sarjana" Zalin mencubit hidung Briliant dengan gemas
"makasih" Briliant tersenyum sambil mengusap pipi Zalin
"makasih juga udah mau datang ke acara wisuda kaka" Briliant tersenyum kepada Zalin.
Briliant membisikan sesuatu di telingan Zalin dan membuat Zalin kaget.
"do'akan kaka cepat dapat kerja. nanti kaka akan melamar Za" bisik Briliant
***