Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Tidak ada yang namanya perceraian!!!



Hero yang melihat Alina telah memasuki rumahnya itu, ia hanya diam dan menatap ke depannya dengan tatapan yang tak pernah teralihkan ke arah lain.


“Tidak ada yang namanya perceraian Alina! aku tidak akan pernah melepaskan kamu! sekarang kamu adalah tujuan hidupku! kamu alasan aku memiliki keinginan untuk hidup lebih lama. Jadi bagaimana mungkin aku akan melepaskan kamu?” ungkap Hero.


Hero tidak akan pernah menceraikan Alina, ia akan mencari cara agar perceraian itu tidak pernah terjadi. Hero sadar jika kini dirinya memiliki harapan dan juga semangat hidup, dan itu karena Alina.


Demi Alina dan kedua anaknya Hero akan bertahan hidup! ia akan membuat Alina bahagia di masa depan! meski Hero tahu kesalahannya tidak termaafkan! Hero akan berusaha membahagiakan Alina hingga Alina lupa yang namanya rasa sakit, itu janji Hero untuk Alinanya.


*****


Alina yang telah memasuki rumahnya, ia melihat ibu dan ayahnya tengah menunggu dirinya. Di sana ia juga melihat Eron yang sedang duduk.


“Alina,” panggil ayahnya.


Setoni menatap ke arah Alina dengan tatapan matanya yang terlihat menilai. Tidak ada tatapan marah atau benci dari wajah Setoni.


Lelaki yang terkenal bermartabat dengan ekspresi wajah yang terlihat berwibawa itu, akan selalu menatap ke arah anaknya dengan tatapan matanya yang terlihat lembut dan perhatian.


“A-ayah Alina akan jelaskan,” kata Alina yang berfikir jika ayahnya akan marah karena dirinya di antar pulang oleh Hero.


“Pergilah ke rumah sakit,” kata Setoni yang langsung membuat Alina menatapnya dengan tatapan tak percaya dan tak menyangka.


“Kerumah sakit? untuk apa Alina ke rumah sakit Ayah? apa ada yang sakit?” tanya Alina langsung mendapat helaan nafas panjang dari Setoni.


“Keponakan kamu masuk rumah sakit,” kata Setoni yang langsung membuat Alina terkejut.


“Kenapa bisa ayah?” tanya Alina tak percaya.


Anak Belvita dan kakaknya masuk rumah sakit? kenapa bisa? padahal Alina yakin jika bocah lucu yang sangat menggemaskan itu sedang dalam keadaan baik-baik saja.


“Mantan kekasih Kakak kamu yang mencelakai keponakan kamu,” kata Setoni yang terlihat seolah merasa lelah dengan masalah itu.


“Kak Farah? apa dia masih memiliki hubungan dengan Kak Bian? padahal Alina sudah memperingatkan Kak Bian untuk menjauhi Kak Farah,” kata Alina dengan nada yang terdengar kesal karena berfikir jika Bianlah yang menjadi alasan Farah menggila.


“Pergilah ke rumah sakit, bujuk Kakak ipar kamu agar tidak meninggalkan Kakak kamu. Dia memutuskan untuk bercerai dengan Kakak kamu. Kamu tahu bukan jika keponakan kamu masih kecil? jangan biarkan anak sekecil itu harus menanggung rasa sakit akibat sebuah perceraian,” kata Amina yang khas dengan suaranya yang lembut.


“Biar aku yang akan antar kamu ke sana Alina,” kata Eron mengambil keputusan yang langsung diangguki oleh Alina.


*****


Saat di dalam mobil Alina hanya diam dengan Eron yang juga hanya diam. Alina tidak habis pikir kenapa kakaknya masih enggan meninggalkan wanita seperti Farah.


Masalahnya, sikap wanita itu bukan hanya bisa membahayakan orang lain saja, tapi juga bisa membahayakan kakaknya juga.


“Jika Belvita bukanlah istri Kak Bian, mungkin sudah aku bawa dia pergi dari awal. Aku tidak mengerti jalan pikir laki-laki itu, ia kadang bersikap posesif dan peduli padanya, tapi ia juga kadang bersiap acuh seolah tidak peduli pada Belvita,” kata Eron mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.


Sementara itu.


Hero yang baru saja mengantar Alina pulang, ia kini memilih untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya. Rumah yang jarang sekali Hero kunjungi karena ia hampir menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit Cendana.


“Tumben kamu datang kesini?” tanya Hanny dengan nada yang terdengar mengejek.


Biasanya anak lelakinya itu sangat sulit sekali untuk bisa datang ke rumah, bahkan sudah berbagai alasan Hanny berikan agar Hero pulang ke rumah keluarga Sanjaya.


Jika Hanny tidak menggunakan alasan kalau dirinya sakit atau merasa kesepian saat suaminya pergi ke luar negeri untuk bisnis, mungkin Hero tidak akan pernah pulang ke rumah itu.


“Hero kangen Bunda,” kata Hero yang langsung menyenderkan kepalanya di pundak ibunya yang terlihat sedang menonton televisi.


“Bunda nggak kangen tuh, barusan 'kan kita bertemu, masa sudah kangen saja,” dengus Hanny. Ia tahu jika kini anaknya sedang memiliki banyak pikiran.


“Bun,” panggil Hero tapi Hanny hanya diam tanpa menatap ke arah anaknya. Meskipun begitu Hanny mendengar jelas panggilan Hero itu, ia hanya diam mendengarkan apa yang akan anaknya katakan.


“Jangan abaikan Hero seperti ini Bun, Hero sedih dan tidak tahu harus seperti apa demi bisa mendapatkan maaf dari Bunda,” kata Hero yang terlihat sendu.


Hero benar-benar kehabisan akal untuk membuat ibunya bisa tersenyum dan bersikap seperti dulu lagi. Karena semenjak kejadian dimana ia mengurung Alina, sikap ibunya berubah.


Hanny tidak lagi tersenyum pada Hero seperti dulu lagi, karena karena kini Hanny hanya akan bersikap acuh dan tidak peduli pada anaknya itu.


“Kamu harus mendapatkan maaf dari Alina dulu baru akan Bunda maafkan kamu. Kamu tahu 'kan jika bunda sangat menyukai Alina? dia anak baik dengan karakter yang lembut tapi keras kepala. Bunda sudah mengenal dirinya sejak kecil, dan Bunda merasa Alina seperti anak Bunda sendiri. Saat mendengar perpisahan kamu dan Alina, bunda sedih karena bunda merasa bunda akan kehilangan anak bunda,” kata Hanny panjang lebar.


Hanny tidak pernah menganggap Alina sebagai menantunya sendiri, ia justru menganggap dan memperlakukan Alina layaknya Alina adalah anak kandungnya, anak kesayangannya Hanny.


“Iya Hero tahu, Bunda pasti marah dan kecewa besar pada Hero. Tapi Hero benar-benar tidak akan pernah bisa membiarkan Alina pergi dari hidup kita,” yakin Hero pada dirinya sendiri.


Hero berusaha meyakinkan ibunya jika dirinya juga akan mempertahankan Alina. Hero tidak akan pernah melepaskan Alina.


Alina adalah penyemangatnya, kebahagiaan dan harapan Hero. Tidak akan pernah Hero biarkan penyemangat hidupnya itu pergi!


“Tapi kamu tahu 'kan jika Alina itu keras kepala? dia tidak akan mengubah pemikirannya itu jika dia sudah menetapkan sesuatu,” kata Hanny yang langsung bisa melihat anggukan pelan dari Hero.


“Tapi Hero juga keras kepala, bukankah Bunda tahu itu? jadi siapa yang akan menang dari kami berdua yang sama-sama keras kepala ini?” kata Hero seolah mengatakan jika dirinya juga keras kepala.


“Iya kamu benar, memang jodoh itu tidak kemana. Tapi ingat, jangan jadi keras kepala dan tidak ingin kalah dari Alina saat berdebat,” peringatan Hanny langsung dijawab anggukan.


“Hero akan mengalah dalam hal apapun pada Alina, tapi untuk bercerai Hero rasa Hero tidak akan pernah menceraikan Alina sampai kapanpun!” yakin Hero.