
Waktu terus bergulir dengan cepat...
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hingga hari pun berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun ...
Tidak terasa, sudah lima tahun berlalu dengan cepat.
Terlihat seorang wanita cantik yang sedang menatap kesal pada anak laki-lakinya yang terlihat nakal tapi benar-benar menggemaskan.
“'Kan sudah mamah bilang, jangan berantakin lagi mainannya. Padahal baru mamah bereskan lima menit yang lalu,” kata Alina gemas sambil menahan kesal pada sikap anaknya yang sulit sekali untuk diberi tahu.
“Maaf,” dengan ekspresi memelas yang terlihat lucu.
Bocah nakal yang dengan segala tingkahnya akan membuat siapa saja geleng-geleng kepala tapi terhibur, dia hanya akan memasang wajah melas, dan siapapun yang melihatnya tidak akan tega untuk marah meski telah melakukan kenakalan.
“Mamah ngomong begini karena kamu susah untuk di beri tahu. Mamah nggak ingin ya kalau nanti mamah pulang dari pasar bakal berantakan lagi kayak gini,” kata Alina yang berencana membeli bahan-bahan makanan mingguan.
Alina dan Hero kini telah tinggal di rumah mereka berdua sejak dua tahun yang lalu.
“Jika nenek tahu mamah marah sama ai, mamah akan dimarahin balik sama nenek,” kata Arkan.
Arkan sangat disayangi oleh kedua neneknya, apalagi saat Alina marah pada kenakalan anaknya itu, pasti Amina orang pertama yang akan memarahi Alina.
Berbeda dengan Hanny yang justru dia akan membela Alina, karena sampai kapanpun Alina adalah menantu tersayang untuknya. Paling tidak Alina akan di kasih tahu baik-baik saat dua memarahi anaknya Arkan.
“Ai ai ai, kan sudah mamah bilang jangan gunakan bahasa kayak gitu saat ngomong sama mamah. Kamu gunakan panggil itu saat ngomong sama teman kamu!”
Alina hanya bisa mengelus kepalanya sembari mengelus perutnya yang membuncit. Hari ini genap usia kehamilan Alina yang ke delapan bulan.
Semenjak hamil, tingkah Arkan sedikit lebih nakal dari biasanya. Bukan karena Arkan tidak ingin memiliki adik, tapi karena ia sepertinya sangat suka melihat ibunya marah.
Mungkin hanya pada Alina saja Arkan akan terus memancing emosi ibunya. Itu karena senakal apapun Arkan tidak ada yang tega memarahinya kecuali Alina.
“Ada apa ini?”
Hero terlihat turun dari tangga sambil memasang dasinya, ia yang telah berada di samping istrinya langsung meraih pinggang istrinya dengan pelan.
Hero memberikan usapan lembut pada perut buncit Alina, tak lupa ia mengecup sekilas bibir istrinya hingga Alina yang sedang kesal langsung mendengus.
Entah kenapa, sejak lima tahun yang lalu sikap Hero pada Alina mulai berubah, ia yang dingin perlahan mencair dan berubah romantis, bahkan bisa dikatakan jika Hero sering bersikap pecicilan di depan Alina.
Padahal selembut apapun Hero dulu, ia tidak pernah sekalipun berani menunjukkan sikap pecicilannya di depan siapapun, sekalipun itu bunda dan ayahnya sendiri.
Hanya di depan Alina dan anaknya saja Hero kadang pecicilan.
“Anak kamu buat masalah lagi,” dengus Alina.
Alina bukan tidak mengakui anaknya itu, tapi jika sudah kesal ia akan melemparkan kekesalannya pada Hero karena sikap nakal Arkan.
“Anak kita maksudnya? 'kan dibuatnya bareng-bareng,” kata Hero dengan sikap yang sedikit pecicilannya itu.
“Sudah sana! nasihatin anak kamu! 'kan dia akan selalu nurut sama kamu,” kata Alina yang segera mendorong suaminya ke arah anaknya yang sedang menunduk saat dimarahin.
“Arkan kenapa lagi?” tanya Hero yang sedikit berjongkok.
“Ai hanya ingin ikut dengan mamah. Ai hanya ingin jaga mamah, ai takut ada orang jahat yang akan menyakiti adik ai saat ai tidak ada,” kata Arkan.
“Ai sudah pintar bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. Guru ai juga memuji kepintaran ai dalam berbahasa,” kata Arkan lagi.
“Jangan menggunakan kata ai sebagai panggilan saat berbicara dengan orang yang lebih tua Arkan!” jika ibunya sudah berbicara dengan nada di tekan Arkan tidak berani membantah.
Biasanya Arkan hanya akan menggunakan panggilan itu saat ia merasa kesal dan marah akan sikap keras kepala ibunya.
“Sayang, jangan terlalu galak. Ya walaupun kamu tambah cantik sih saat marah, apalagi saat ...,” Hero menghentikan ucapannya saat melihat tatapan buas dari Alina.
Entah kenapa semenjak hamil Alina semakin agresif dan mudah marah. Mungkin itu karena emosinya yang naik turun.
“Coba Arkan kamu akui kesalahan kamu pagi ini sampai mamah semarah ini,” kata Alina yang hanya dilirik oleh Arkan.
Arkan menatap ayahnya sejenak lalu berpindah pada ibunya. “Mamah saja yang kasih tahu pada Papah, Arkan yakin Papah akan maafin kok,” kata bocah itu dengan ekspresi yang sebenarnya takut dimarahin.
“Akui aja kenapa takut, sebelum kamu melakukan itu emangnya kamu nggak takut dimarahin Papah kamu?”
“Ya 'kan mah, Arkan cuman iseng sedikit karena sepatu papah terlalu mengkilat makanya Arkan coba tulis-tulis pakai spidol warna, tapi Arkan nggak sadar akan bisa sebanyak itu coretannya,” kata Arkan mengelak.
Hero yang tidak mengerti hanya menatap ke arah istrinya. Ia seolah bertanya melalui tatapan matanya.
“Pagi tadi sepatu favorit kamu yang baru aku bersihkan dia coret-coret pakai spidol,” jawab Alina memberi tahu.
“Oh sepatu doang, nggak usah dipermasalahkan lah. Kan sepatu aku banyak,” kata Hero terlihat masih santai.
“Oh ya udah kalau begitu, padahal itu sepatu paling favorit kamu loh, yang kamu pakai di saat-saat penting saja,” kata Alina yang berniat melengos pergi untuk mengambil tas belanjanya.
“Bentar sayang, itu sepatu yang kamu kasih ke aku pas ulang tahunku tahun lalu bukan?” tanya Hero yang berharap bukan sepatu itu yang Alina maksud.
“Iya yang itu,” jawab Alina.
Hero yang mendengar itu hanya sedikit mematung, ia melirik ke arah anaknya yang menunduk tapi langsung cengengesan dengan lucu saat menatapnya.
“Nggak apa-apa, masih bisa dibersihkan ini,” jawab Hero berusaha meyakinkan.
“Iya nggak apa-apa, tapi spidolnya permanen loh,” kata Alina santai sambil melengos pergi.
“Inget jaga Arkan, awas aja kalau aku pulang kalian nggak ada di rumah,” kata Alina seolah mengabaikan Hero yang mematung.
Meskipun sebenarnya Hero merasa kesal dan marah saat sepatu kesayangan miliknya itu di perlakukan seperti itu.
Padahal selama ini Hero selalu memperlakukan sepatu pemberian Alina bagai jimat keberuntungan, karena ia sangat menyayangi dan menghargai pemberian Alina yang jarang berinsiatif membelikannya barang-barang kecuali ia minta.
“Papah marah?” tanya Arkan menatap Hero.
Hero yang mematung hanya menggeleng. Ia harus menekan rasa kesalnya itu dan tetap tersenyum.
“Nggak, Papah nggak marah,” jawabnya yang langsung menggendong anaknya dan mengajak anaknya bermain dengan semangat.
Alina yang sebenarnya belum jauh hanya bisa menghela nafas, seperti itulah Hero. Padahal saat Alina sedang memegang sepatu itu, Alina sendiri harus hati-hati.
Itu karena harganya yang tidak murah, ya walaupun Alina menggunakan uang Hero untuk membeli sepatu itu.