
Terlihat jika Erna dan kedua penjaga yang biasa berada disamping Caca terlihat ngos-ngosan saat berlalu ke arah Alina dan Caca.
“Nona muda, kenapa Anda kabur?” tanya Erna yang terlihat sangat lelah karena berlari.
“Caca cuman ingin ketemu dengan Kakak cantik', tapi kalian justru melarang Caca supaya tidak bertemu lagi dengan Kakak cantik!”
“Tapi Nona Muda, kami melakukan itu karena kami tahu jika dokter Alina pasti akan sibuk. Dia harus bekerja dan tidak bisa mengabaikan pekerjaannya itu.”
“Caca hanya ingin bertemu dengan Kakak cantik, Caca nggak minta untuk Kakak cantik nggak bekerja. Caca juga akan diam dan tidak akan membuat Kakak cantik kesusahan.”
Erna hendak berbicara lagi, tapi gelengan dari Alina seakan membuatnya bungka. “Biarkan Caca di sini, aku tidak merasa terganggu sama sekali. Asal Caca bersikap baik dan menurut ya.” Seakan sedang berbicara dengan Caca Alina menatap Caca dan langsung dijawab anggukan.
*****
Sepanjang bekerja, Caca hanya diam. Ia menurut dan Patih sesuai dengan apa yang Alina katakan. Hal itu sangat jarang dan tidak pernah terjadi.
Bahkan pada ayahnya saja, Caca tidak pernah mau menurut sama sekali. Ia akan selalu bersikap seenaknya sesuai yang ia mau.
“Nona Muda ayo makan,” ucap Erna hendak menyuapi Caca tapi justru Caca menggeleng dan menutup mulut dengan kedua tangan.
“Caca nggak lapar dan Caca nggak mau makan!”
“Nona Muda tolong makan, sedikit saja. Setidaknya ada makanan yang masuk, tolonglah, Anda belum makan sama sekali sejak pagi.”
“Caca nggak mau! kenapa Bi Erna suka maksa sih!”
Alina yang kebetulan sedang berbicara dengan Santi, ia langsung menoleh. Alina bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Caca.
“Kenapa?” tanya Alina lembut.
“Caca nggak suka sayuran, tapi Bi Erna terus paksa Caca, Caca jadi nggak suka!”
Terlihat jika Caca cemberut seolah sedang ngambek, ia yang memang keras kepala sangat tidak suka dengan sayuran.
“Biar saya saja yang akan menyuapi Caca.”
Erna yang mendengar itu sempat ragu, karena ia telah cukup sering merepotkan Alina. Dan mungkin jika terus begini, untuk seterusnya Caca akan menggangu Alina.
“Tidak apa-apa. Biar saya yang suapi dia,” ungkap Alina meyakinkan.
Akhirnya Erna memberikan makanan itu, di sana ada daging, sayuran yang terdiri dari wortel, tomat, dan lainnya.
“Kalau Kakak yang suapi Kamu apa kamu tetap nggak akan mau makan?” tanya Alina.
Caca hanya diam, ia terlihat ragu untuk menolak.
“Caca nggak suka sayuran,” keluh Caca yang sepertinya memang sangat tidak menyukai sayuran.
“Jadi apa yang Caca sukai?”
Meski Alina bertanya, tapi tatapannya sedikit fokus pada makanan yang ia bawa, hendak menyuapi Caca.
“Caca suka daging, telur, susu, coklat, es krim, dan banyak lagi. Tapi Caca nggak suka sayur!”
“Kalau begitu untuk suapan pertama Kakak akan beri kamu nasi dan daging saja, tanpa sayuran. Ayo buka mulut, aaa.”
Caca tetap hanya diam, ia masih saja tetap menutup mulutnya. Walau tidak membekapnya dengan kedua tangan seperti tadi.
“Ayo, pesawat mau masuk dan meluncur nih. Aaaa,” dengan mempergakan agar Caca buka mulut, ia bahkan sampai membuka mulut cukup lebar hingga Caca tertawa.
“Kakak lucu.”
Meski begitu akhirnya Caca menerima itu dan memakan makanan itu.
“Ada pasukan khusus lagi yang mau masuk, aaaa.”
Tiga suap nasi beserta lauk tanpa sayuran itu masuk ke dalam mulut Caca dengan mulus. Walau melelahkan karena memerlukan banyak drama.
Meski ragu-ragu tapi akhirnya Caca memakan sayuran itu, walau tidak semuanya. Tapi cukup banyak uang Caca makan.
“Anak pintar, Caca adalah anak yang baik dan penurut.”
Usapan Alina berikan sebagai pujian.
Yang Alina tahu, anak kecil sangat suka dipuji dan sangat suka diperhatikan. Butuh kesabaran lebih untuk anak kecil seperti Caca contohnya.
“Tahu nggak, tomat ini bagus sekali untuk kulit loh. Karena sesuka itu Kakak sama tomat, Kakak sering membuat jus tomat.”
“Jadi itu alasan mengapa Kakak cantik?” tanya Caca lugu.
Duh, Alina merasa benar-benar meras malu saat secara terang-terangan Caca mengatakan itu padanya. Walau itu dari anak kecil, rasanya pujian mereka jauh lebih tulus dan murni.
Padahal Alina selalu dipanggil Kakak cantik, tapi seolah tak sadar hingga ia hanya menganggap panggilan itu seperti sebuah nama untuknya.
“Ya ..., mungkin itu salah satunya,” jawab Alina sedikit ragu tapi terdengar yakin disaat bersamaan.
“Kalau begitu Caca ingin cantik seperti Kakak, apa Caca juga harus sering meminum jus tomat juga?”
“Jus wortel jika dicampur susu juga enak loh, kamu pasti suka kalau sudah pernah mencobanya. Ayo, makan sedikit aja, Kakak nggak maksa buat Caca makan banyak.”
Meski kentara tak suka, tapi Caca tetap memakan sayur tomat itu walau sedikit. Sayuran yang telah diolah dan di masak itu, memang disimpan di wadah yang terpisah.
“Pwehh, nggak suka.”
Terdengar keluhan Caca yang hanya dijawab senyum dari Alina.
“Tapi Caca hebat karena berani mencoba.”
Usapan itu kembali Alina layangkan di kepala Caca.
“Ekhmm,” deheman terdengar.
Mereka yang ada di ruangan itu sontak menoleh ke arah suara deheman itu. Dan ternyata orang bedehem itu adalah Raihan.
Tapi Raihan kini tak sendiri. Karena ada Hero yang berada disampingnya sambil membawa paper bag.
“Ya ampun, kapan kalian datang.”
“Dari tadi nyonya, Anda sepertinya sangat fokus pada Anak itu hingga tidak sadar jika kami ada di sini.”
Berbeda dengan Raihan, Hero hanya diam.
“Untuk apa kamu ke sini?”
“Awalnya berniat untuk mengajak makan siang, tapi ternyata ada yang perhatian bawa makanan untuk kamu.” Lirikan Raihan berikan pada Hero yang hanya diam membawa paper bag.
“Dari mana kamu tahu jika saya membawa makanan?”
Terlihat, Hero sangat tidak menyukai sikap Raihan yang menurutnya sok akrab dengannya.
“Hanya melihat sekilas.”
Hero tidak menanggapi lagi ucapan Raihan, ia lalu memberikan paper bag itu pada Alina.
“Bunda meminta agar saya mengantarkan makanan ini untuk kamu, jika kamu sudah makan berikan saja itu pada yang lain.”
Setelahnya, Hero pergi begitu saja.
“Ah, iya makasih.”
Alina sepertinya kehabisan kata-kata dan tidak tahu harus mengatakan apa. Ia bahkan tidak pernah menyangka jika Hero akan datang ke ruangannya. Apalagi lelaki itu memberi Alina bekal makan siang, walau itu atas perintah dari Hanny