Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Bertemu Bunda



“Bunda ingin bertemu,” kata Hero beralasan.


“Maaf Bunda, Hero tidak tahu harus bagaimana untuk bisa menahan Alina. Hero harap bunda mengerti jika ini cara satu-satunya Hero bisa melihat Alina lebih lama lagi,” batin Hero.


Alina yang mendengar itu langsung melihat sekeliling, terlihat jika di tempat itu tidak ada Hanny. Justru yang ada hanya Eron yang sedang memantau Alina dari jauh.


Tatapan Eron terlihat mengancam dan tidak bersahabat sama sekali. Eron tidak suka saat Alina lebih peduli pada Hero dibandingkan perasaannya sendiri.


Eron tahu betapa besar cintanya Alina untuk Hero yang baginya tak lebih dari laki-laki sialan. Seandainya Eron bisa melakukan sesuatu, Eron ingin menjauhkan Alina dari Hero sejauh mungkin.


“Bunda dimana?” tanpa curiga ataupun berfikir jika Hero kini sedang berbohong, Alina langsung bertanya tentang dimana Hanny berada.


Mungkin hampir satu Minggu lebih Alina tidak lagi berbicara dengan Hanny. Itu karena Alina berusaha menjaga jarak dengan wanita itu.


Alina hanya tidak ingin jika keputusan dirinya yang akan meminta bercerai dari Hero setelah anak mereka lahir akan membuat Hanny sedih.


“Bunda ada di ruangannya. Biar Kakak antar,” kata Hero yang tanpa sadar hendak meraih tangan Alina.


Sebelum itu terjadi, Alina langsung bergeser beberapa langkah. Sadar akan penolakan Alina yang jelas dan secara terang-terangan itu, Hero hanya bisa menghela nafas pasrah.


Hero terpaksa berjalan lebih dulu untuk menunjukkan jalan pada Alina. Alina yang melihat itu ikut berjalan dengan Eron yang juga ikut berjalan dibelakangnya.


Saat berada di sebuah ruangan khusus untuk keluarga Sanjaya, terlihat jika beberapa orang banyak yang sedang menghampiri kedua orang tua Hero.


Berbeda dengan suaminya yang hanya diam dan tak mengatakan apapun saat mendapatkan ucapan selamat dari rekan bisnis atas pernikahan Hero dan Alina, Hanny yang mendapatkan ucapan selama itu malah langsung menyambut dengan senang.


“Iya, seperti yang Anda lihat. Menantu saya sedang hamil besar, usia kandungannya sekitar delapan bulan dan sebentar lagi melahirkan. Tentu saya sebagai ibu mertuanya merasa sangat menyayanginya.”


Hanny terlihat tersenyum saat membalas kata-kata dari seorang wanita yang seolah sedang menyindirnya.


“Padahal Alina dekat dengan Raihan sejak kecil, tapi siapa yang menyangka jika Alina menikah dengan laki-laki lain. Sanga disayangkan karena dia tidak menjadi menantu saya. Jika saya ibu mertuanya, saya akan lebih menyayanginya lebih baik dibandingkan ibu mertua manapun,” kata seorang wanita yang tak lain adalah ibu dari Raihan.


Wanita yang super sibuk menemani suaminya yang merupakan seorang pemilik restoran hampir di seluruh negeri itu, ia diam-diam sangat menginginkan Alina sebagai istri anaknya.


“Hahaha, saya merasa tersanjung ternyata menantu kesayangan saya sangat diinginkan oleh Anda,” kata Hanny yang hanya membalas seperlunya.


Meski sebenarnya Hanny merasa kesal dengan wanita yang berada dihadapannya ini, tapi Hanny tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi pernikahan Alina dan Hero saat ini berada di ujung tanduk.


Mengingat hal itu membuat Hanny semakin kehilangan moodnya. Hanny tidak pernah mengharapkan seorang menantu selain Alina, tapi sikap anaknya selama ini telah membuat ia kehilangan menantu yang sangat ia inginkan.


“Bunda,” panggil Alina yang langsung membuat kedua wanita yang seusia itu langsung menoleh.


“Alina,” kata seorang wanita yang berada di depan Hanny dengan nada terkejutnya itu, ia berniat untuk memeluk Alina, sayangnya Hanny lebih dulu memeluk menantunya itu.


“Sayang, bagaimana keadaan kamu?” tanya Hanny setelah ia melepaskan pelukannya itu.


“Alina, apa kabar kesayangan Tante? kamu makin cantik dan manis aja,” tanya wanita tadi langsung menerobos memeluk Alina.


“Tante Lossa? Tante ada di sini?” tanya Alina tak percaya dengan sosok yang ada dihadapannya ini.


Padahal setahunya wanita ini sangatlah sibuk, dia hanya akan datang setahun atau mungkin tiga tahun sekali saking sibuknya di luar negeri bersama suaminya.


“Iya tentu. Tante hanya tidak menyangka jika kamu sudah menikah, apalagi saat Tante melihat kondisi kandungan kamu yang sudah membesar, hal itu membuat Tante lebi syok lagi,” kata Lossa hanya dijawab dengan senyuman.


“Permisi ya, saya ingin berbicara dengan menantu saya,” kata Hanny yang langsung membawa Alina masuk.


Hanny terlihat sedang menjaga menantunya agar tidak direbut oleh Lossa. Gerakannya yang hati-hati tapi juga cepat saat menarik Alina, membuat orang-orang yang melihat tahu ada permusuhan yang tak terlihat diantara Lossa dan Hanny.


Permusuhan dalam memperebutkan Alina untuk dijadikan sebagai menantu.


*****


Saat berada di dalam ruangan, Hanny dengan senang hati menyambut kedatangan Alina. Ia banyak berbicara saat bersama dengan Alina. Berbeda sekali dengan saat Hanny bersama dengan orang lain.


“Jadi, apa ada hal yang kamu perlukan sayang?” tanya Hanny menatap ke arah Alina dengan tersenyum.


Alina yang mendengar ucapan Hanny terlihat diam sejenak. “Bukankah Bunda ingin menemui Alina?”


Mendengar pertanyaan dari Alina, Hanny diam untuk sejenak, ia lalu menatap ke arah Hero dengan tatapan matanya yang terlihat mendengklik kesal.


Hanny yakin jika ini pasar perbuatan Hero yang mungkin mengatakan sesuatu pada Alina.


Hero yang mendapatkan tatapan kesal dari ibunya, ia hanya tersenyum dengan tatapan sedikit memohon, seakan menyiratkan jika Hero memerlukan bantuan Hanny saat ini.


“Oh iya, Bunda sebenarnya ingin mengajak kamu ke acara peragaan lagi, tapi melihat kondisi kamu Bunda berfikir lebih baik kita mengadakan dinner bersama. Apa kamu memiliki waktu luang?”


“Alina tidak tahu Bunda, Alina belum melihat jadwal Alina. Karena Alina masih belum bisa memutuskan untuk berhenti bekerja hingga saat ini,” kata Alina langsung membuat Hanny menatap Hero.


Apa ini karena Hero yang mempersulit Alina yang akan berhenti bekerja? jika memang hal itu benar adanya, maka Hanny tidak akan memaafkan Hero yang baginya sudah sangat keterlaluan.


Gelengan cepat dari Hero sebagai bentuk jawaban langsung bisa Hanny lihat. Seakan dalam gelengan tersebut Hero ingin mengatakan jika ia tidak terlibat dalam hal itu.


“Kenapa belum berhenti? kamu sebentar lagi 'kan melahirkan. Oh ya, apa sudah tahu jenis kelamin mereka berdua?” tanya Hanny antusias.


“Alina ingin jika identitas mereka menjadi kejutan untuk kita semua saat lahir nanti. Tapi sepertinya Alina tidak bisa menahan rasa ingin tahu Alina mengenai apa jenis kelamin mereka,” ungkap Alina.


Hanny yang mendengar itu langsung menyenggol Hero seakan mengatakan jika ini kesempatan Hero untuk noda bersama dengan Alina.


“Kalau begitu kalian pergilah ke rumah sakit bersama. Bagaimanapun Hero ini suami kamu, jadi ada baiknya jika kalian pergi bersama untuk mencari tahu mengenai jenis kelamin anak kalian,” kata Hanny yang hanya di jawab keheningan dari Alina.