Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Bertemu Caca



Alina kembali bekerja di rumah sakit Cendana seperti biasa. Kini ia yang biasanya selalu berada di ruangan Hero. Berbeda dengan hari ini, karena Alina kini telah memiliki ruangannya sendiri.


Alina telah resmi menjadi dokter magang hampir 6 bulan di rumah sakit Cendana. Dan dalam waktu itu, beberapa bulan lagi mungkin ia tidak menjadi dokter magang lagi.


Maksudnya Alina resmi menjadi dokter, atau lebih tepatnya ia tidak menjadi asisten siapapun. Biasanya Alina meski menjadi asisten, ia ditugaskan untuk hal-hal yang sesuai dengan bidangnya. Jadi jarang sekali Alina berduaan dengan Hero.


Kebanyakan pasien yang sering Alina kunjungi pasca Hero selesai melakukan opera bedah itu tak lain adalah anak kecil yang memiliki penyakit parah yang perlu tindakan darurat ataupun operasi. Meski kadang Alina merasa aneh bisa menjadi asisten Hero, tapi tugas yang ia lakukan itu sesuai dengan apa yang harus ia kerjakan.


*****


“Alina,” panggil Santi.


Alina yang mendengar itu sontak langsung menoleh dan menatap ke arah temannya itu.


“Kenapa?”


“Kamu tahu? hari ini kita akan kedatangan dokter baru loh. Dokter muda yang katanya tampan,” ungkap Santi terdengar bergosip.


“Dokter muda? siapa itu?” tanya Alina heran.


“Nggak mau! Caca nggak mau ke rumah sakit ini. Caca nggak mau diperiksa sama dokter!” terdengar suara anak kecil yang seolah sedang menjerit.


Hal itu sontak saja membuat Alina dan Santi saling menoleh satu sama lain.


“Biar kita lihat!”


“Caca nggak suka ya di suruh-suruh periksa! biarin aja Caca sakit, kalau perlu biarin aja Caca mati. Caca nggak mau hidup lagi,” teriak anak kecil itu yang meronta-ronta saat berada digendong seorang pengasuh.


“Nona, nona tidak bisa mengatakan itu. Tuan besar pasti akan sedih, beliau pasti akan marah besar pada kami jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada Anda,” ucap pengasuh itu terlihat memelas.


“Caca nggak peduli! Caca nggak mau hidup lagi!”


Mana ada anak kecil yang baru berusia sekitar 6 tahun berbicara seperti itu. Bahkan ia berbicara soal hidup dan mati seakan-akan dia telah melalui banyak hal panjang.


“Caca?”


Alina terheran jika anak kecil yang ia lihat kini adalah anak kecil yang waktu itu ia temui di desa terpencil. Dan yang lebih membuat Alina heran adalah cara anak kecil itu berpakaian tidak seperti yang Alina lihat dulu, anak kecil itu berpakaian layaknya anak seorang konglomerat.


“Kakak cantik.”


Terlihat mata yang kentara sangat berbinar-binar dari anak kecil bernama Caca itu, ia terlihat hendak turun tapi tertahan oleh pengasuh itu.


“Nona muda, tolong tenangkan diri Anda dahulu.”


“Caca nggak mau sama kamu! Caca mau sama dokter cantik! kamu pengasuh jahat yang suka memaksa!” kesal Caca.


Sebenarnya pengasuh yang biasa menjaga Caca itu orang yang baik. Hanya saja, Caca adalah anak yang sangat sulit untuk diatur, dibandingkan nakal, Caca lebih ke anak yang tidak suka dipaksa. Ia hanya akan menurut jika diperlakukan dengan baik, dan beberapa orang tertentu saja yang dekat dengannya.


“Biar saya yang akan menggendong Caca,” ungkap Alina yang langsung merentangkan tangan.


Caca dengan senang hati langsung memeluk Alina. Ia melingkarkan kedua tangannya dileher Alina dengan erat, seakan ia takut jika pelukan itu akan terlepas begitu saja.


“Kakak cantik, Caca sangat takut. Caca nggak suka bersama mereka, Caca hanya ingin ikut dengan Mamah,” ungkap Caca yang langsung meneteskan air matanya dengan deras.


Tangis sesenggukan muncul begitu saja, hingga yang lain merasa iba. Alina yang melihat itu langsung mengusap air mata di wajah Caca.


“Mamah kamu ada dimana? apa ingin Kakak antar?” tanya Alina yang hanya dijawab kebungkaman oleh Caca.


Alina tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia yang memiliki jiwa seorang dokter. Ia seakan bisa paham dan merespon seperti seharusnya.


“Apa ini terasa sakit?” tanya Alina yang menunjuk pada sebuah luka yang sedikit menganga.


Caca yang awalnya hanya diam dengan sesenggukan itu langsung mengangguk.


“Sangat sakit Kakak cantik, Caca merasa sangat sakit dibagian itu.”


“Kalau begitu biar Kakak yang obati,” ujar Alina yang berbalik dan hendak masuk ke ruangannya. Tapi terhenti saat mendengar kata-kata Caca.


“Tidak! Caca tidak mau, Caca nggak mau untuk di periksa! itu pasti akan merasa sakit!” terbaik Caca yang sedikit meronta-ronta. Ia seolah hendak turun.


Alina yang melihat itu langsung menahannya dengan lembut. Ia memeluk Caca dan mengusapnya dengan sayang.


“Tidak akan terlalu sakit. Mungkin akan terasa perih saat awalnya, tapi setelah itu kamu akan merasa baikan.”


Dengan sabar dan dengan tatapan lembutnya Alina mengatakan itu pada Caca. Kadang jika berurusan dengan anak kecil yang hatinya sangat sensitif, kita harus memiliki sebuah kesabaran lebih.


Dan Alina mempelajari itu, ia tahu jika harus lebih sabar dan lebih lembut lagi saat menghadapi anak yang memang sulit untuk dihadapi.


“Tapi itu sakit Kak, dan Caca nggak mau merasa sakit. Caca takut,” cicit Caca pelan.


Alina yang melihat itu hanya tersenyum saja.


“Padahal Caca yang Kakak tahu adalah anak yang berani, anak yang kuat, anak yang hebat. Dan Kakak yakin jika Caca itu tidak akan pernah takut saat diperiksa.”


Ucapan Alina membuat Caca diam dan terlihat berfikir.


“Tapi Caca waktu itu juga penakut, Caca takut sakit dan takut diperiksa,” ungkap Caca yang terdengar sedang mengoreksi apa yang Alina katakan.


“Tapi, bukankah waktu itu kamu berani diperiksa? bukankah Caca saat diperiksa tidak menangis sama sekali?”


“Apa tidak akan sakit lagi seperti waktu itu?”


Alina hanya mengangguk, berharap dengan kebohongan itu Caca akan mau diperiksa.


Alina sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mengobati Caca dengan lembut dan hati-hati.


“Janji?” tanya Caca yang langsung menunjukkan jari kelingkingnya.


“Akan Kakak usahakan untuk mengobati kamu selembut mungkin,” ungkap Alina yang langsung melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Caca.


“Baikalah.”


Akhirnya Caca yang setuju itu langsung membuat Alina tersenyum. Alina dan Caca masuk dengan pengasuh dan penjaga Caca yang berjumlah dua orang.


Ada perasaan tak menyangka saat penjaga dan pengasuh yang melihat bagaimana sulitanya menghadapi Caca. Kini dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat jika Caca tidak sesulit itu saat dibujuk oleh Alina.


Tanpa Alina sadari, Hero yang kebetulan hendak lewat melihat itu. Ada perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan saat melihat betapa lembut dan sabarnya Alina saat menghadapi anak-anak yang bagi sebagian orang dengan mudah menganggap anak-anak itu nakal'


Padahal mereka hanya butuh perhatian lebih.


“Kamu ternyata tidak berubah, masih baik dan lembut seperti dulu,” bukan Hero yang berbicara. Melainkan seorang laki-laki yang tak lain adalah dokter baru di rumah sakit Cendana.