
Alina kini sedang mengobrol dengan Belvita, ia berkali-kali membujuk wanita itu untuk memilih menghentikan rencana perceraian itu.
Sayangnya Alina tidak pernah menduga jika ia akan mendapatkan ucapan berupa serangan dari Belvita yang membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.
“Jadi, apakah kamu juga akan menghentikan rencana perceraian kamu dengan Hero? bukankah kita saat ini berada di posisi yang sama-sama tidak menguntungkan sama sekali?” kata Belvita yang membuat Alina diam.
“Kamu tahu bukan jika perceraian bagiku adalah hal yang tidak menguntungkan, karena aku sadar jika akan banyak hati yang terluka dalam perceraian ini. Tapi apa kamu tidak bisa mengerti jika aku memang tidak ada pilihan lain selain ini?” kata Belvita panjang lebar.
Alina yang mendengar itu bahkan hanya diam dan terus mendengarkan apa yang akan Belvita katakan.
“Bukankah kita sama-sama diperlakukan tidak adil oleh suami kita? perlakuan yang membuat kita merasa sakit hati dan terluka karena itu semua. Jadi, apa kamu akan memaafkan itu semua dengan mudah dan memilih tak bercerai?” kata-kata Belvita seakan menyiratkan sebuah pertanyaan pada Alina langsung.
Bukankah Alina sama akan bercerai dengan Hero? dan bukankah itu juga adalah keputusan Alina? apakah Hero setuju atau tidak Belvita juga jelas tahu jika Hero menolak perceraian itu, sama seperti Bian.
“Alina, aku tidak ingin pertemanan kita putus hanya karena perceraian ini. Tolong jangan benci dan jauhi aku, kamu tahu aku sangat menyayangi kamu layaknya saudara bukan? jadi jangan benci aku,” kata Belvita yang terlihat memohon pada Alina.
Alina yang melihat itu langsung memeluk Belvita, ia tidak akan mungkin membenci ataupun memusuhi Belvita. Jelas Alina tahu jika ini adalah kesalahan kakaknya, Abian.
“Aku tidak bisa membenci kamu Bel, jika ini memang keputusan kamu, aku juga tidak bisa berbuat banyak.”
*****
Alina awalnya hendak di antar oleh Belvita saat Alina mengatakan jika ia hendak makan di sebuah kedai favoritnya, yang dekat dengan restoran tempat dia berbicara dengan Belvita tadi.
“Hay, apa kabar?” tanya seseorang yang langsung membuat suasana hati Alina berubah saat itu juga.
“Kak Alina, apa Kakak tidak senang dengan kedatangan Alisa?” tanya Alisa yang tidak lain merupakan kembaran Alicia, sahabat sekaligus kekasihnya Hero dimasa lalu.
Alina ingat, terakhir kali Alina mencari Hero yang tidak pulang hampir dua hari, ia yang mendapatkan kabar dari sebuah pesan jika Hero ada di sebuah rumah, dan saat Alina menghampiri rumah itu, kenangan yang saat itu Alina lihat terakhir kali adalah saat Hero yang seolah sedang berciuman dengan Alisa.
Itu hal yang membuat Alina sakit hati dan memilih untuk menghindar dari Hero. Belum lagi masalah kejadian itu, Alina juga teringat jika Alisa adalah kembaran Alicia.
Jadi seringkali Alina berfikir apa Hero juga memiliki hubungan dengan Alisa karena wanita itu sangatlah mirip dengan Alicia?
“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Alina yang kini tak berbasa-basi lagi. Ia menatap ke arah Alisa dengan tatapan matanya yang terlihat kesal dan tidak suka.
“Kak, ini tempat umum loh, jadi wajar 'kan kalau Alisa ada di sini? bisa saja Alisa datang untuk makan di kedai ini, bukan begitu?” kata Alisa dengan tatapan yang kini terlihat santai.
Tatapan yang santai itu justru membuat Alina tak suka, ia merasa dipermainkan oleh wanita bernama Alisa itu. Jelas-jelas Alisa melihat saat Hero mengejar-ngejar dan memanggil-manggil Alina saat itu.
“Kamu benar-benar tidak punya malu 'kah?” tanya Alina yang langsung menatap ke arah Alisa sengit.
Nyatanya Alina kini telah dikhianati oleh Alicia ataupun Alisa, kedua orang yang dia anggap sangat berharga itu justru mengkhianatinya dari belakang.
“Kak, apa maksudnya? padahal kita baru bertemu lagi setelah sekian lama loh. Kenapa tiba-tiba Kakak bicara seolah Alisa itu merebut sesuatu yang berharga milik Kakak?” kata Alisa dengan tatapan matanya yang kini terlihat santai.
“Kamu!” Alina bahkan tidak tahu harus mengatakan apalagi pada wanita yang seperti itu. Karena malas meladeni wanita yang seperti itu, Alina memilih untuk pergi dari sana.
Tapi saat hendak melangkah, ucapan Alisa membuat langkah Alina terhenti dan sempat termangu untuk sejenak.
“Kak Hero sangat mencintai Kak Alicia loh, dia bahkan rela melakukan apa saja demi kebahagiaan kak Alicia. Kakak tahu jika Kak Hero tidak memiliki keinginan untuk menjadi seorang dokter 'kan? alasan kenapa Kak Hero menjadi dokter karena itu permintaan dari Kak Alicia dulu,” kata Alisa yang seolah sedang membuat Alina marah.
Alina memang diam dan tak bergeming seolah sedang mendengarkan apa yang Alisa katakan, tapi walaupun begitu Alina tidak mengatakan apapun.
“Kalau kakak tidak percaya tanya saja pada Kak Hero, dia bahkan masih sangat mencintai Kak Alicia hingga saat ini, buktinya Kak Hero masih bekerja di rumah sakit Cendana, rumah sakit tempat Kak Alicia sakit yang ke terakhir kalinya,” ungkap Alisa yang baru diketahui oleh Alina saat ini.
Alina juga bekerja di rumah sakit Cendana, rumah sakit tempat Alicia dirawat terakhir kalinya sebelum sahabat baiknya itu menghembuskan nafas terakhirnya.
“Jadi ini alasan kamu bekerja di sana? jadi ini alasan kamu menjadi seorang dokter?” batin Alina yang tak mampu untuk mendengarkan ucapan Alisa lebih jauh lagi.
“Mungkin saja Kak Hero menganggap aku sebagai pengganti Kak Alicia, jadi tidak menutup sebuah kemungkinan jika kak Hero akan lebih memilih aku dibandingkan Kak Alina,” kata Alisa yang berniat membuat Alina marah.
Sayangnya wajah Alina terlihat tenang, dan itu berhasil membuat Alisa kesal dan tidak suka karen hal itu. Tapi meskipun begitu, Alisa tetap tersenyum saat melihat Alina hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
“Silahkan saja kamu ambil lelaki itu, aku tidak peduli!” acuh Alina yang langsung pergi begitu saja.
*****
Saat di dalam mobil.
Air mata yang Alina tahan itu lurug seketika itu juga, ia menangis dan merasa sesak entah kenapa. Rasanya sakit sekali, ia bahkan tak menyangka jika kenyataannya akan sepahit dan seburuk ini.
“Kenapa bisa aku tidak menyadari hubungan mereka? kenapa bisa aku baru mengetahui itu semua saat ini? hahahaha! kenyataan yang benar-benar gila dan ini berada di luar ekspektasiku!” kata Alina dengan suara parau dan sedikit sesenggukan.
Ting
Terdengar pesan masuk, dan itu berasal dari Hero yang tengah menanyakan keadaan Alina saat ini. Hero saat itu mengirim pesan dan mengatakan jika ia merasa sangat khawatir dengan Alina saat ini.
“Padahal kamu yang membuat aku sakit Kak, tapi kenapa kamu sok-sokan peduli padaku?” kata Alina parau.