Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
#26 Alina sakit?



Bian yang mendengar itu hanya terdiam seolah ia enggan berkata-kata.


Melihat keterdiaman Bian, Farah yang tidak terima merasa kesal seketika itu juga. Ia lalu mendekat dan menatap Bian dengan tatapan yang terlihat dalam.


“Kenapa hanya diam? sebenci itu ya kamu sama aku? kamu nggak ingat gimana usaha aku saat mengejar kamu? kamu nggak hargai ketulusan aku ya?” ucap Farah dengan tatapan yang terlihat sedikit menantang.


Selama ini, setiap Farah membahas betapa besar dan kuat usaha dia dalam mendapatkan hati Bian, yang dulu berperilaku pada Farah dengan segala sikap acuh dan dinginnya. Bian yang mendengar itu akan merasa luluh dan tidak bisa berkata-kata. Mau semarah apapun dia, jika Farah sudah membahas akan hal itu, Bian seakan tidak akan bisa menjawab ataupun berkata-kata.


“Aku sayang sekali sama kamu Abian Angkasa, apa kamu tidak tahu berapa sering aku direndahkan dan dihina oleh orang lain karena bermimpi untuk bisa bersama dengan seorang dokter hebat dari keluarga Angkasa,” ungkap Farah, kini tatapan lemah ia tunjukkan agar Bian merasa iba padanya.


Dan benar saja, Bian langsung luluh dan memeluk Farah begitu saja. Tidak ada kata-kata apapun yang diucapkan oleh seorang Bian, ia hanya menyalurkan ucapan permintaan maaf pada pelukannya itu.


Bian selalu merasa dirinya sangat rendahan jika sampai ia menyakiti seorang wanita, karena jika hal itu sudah menyangkut seorang wanita. Ia akan bersikap lebih sopan dan lebih menghargai wanita itu, karena ia akan teringat dengan Sang Ibu dan adiknya, Alina yang sama-sama wanita.


“Apa sudah cukup introspeksi dirinya?” ucap Bian dan di dalam pelukan Bian Farah pun mengangguk.


“Sangat cukup, jangan abaikan aku lagi Bian. Aku benar-benar nggak akan sanggup untuk menerima itu lagi,” lirih Farah.


Sebagai kekasih Bian dan juga tunangannya. Farah memiliki keistimewaan untuk bisa memanggil Bian secara langsung.


Jika ditanya mengapa Bian mau dengan perempuan seperti itu? sekeras kepala dan seegois Farah. Entah, hanya Bian yang tahu alasannya dengan jelas.


...*****...


Alina yang kini terlihat hanya diam saja, ia memang terlihat seolah sedang menonton ke televisi. Tapi sepertinya itu hanya tatapannya saja yang melihat ke arah layar, nyatanya hati dan pikirannya tidak sama sekali melihat ke arah layar televisi. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.


“Ngelamunin apa?” tanya Eron yang mengagetkan Alina. Meski merasa sedikit terkejut, tapi Alina tetap terlihat biasa saja.


Alina menatap ke arah kakaknya dengan tatapan mata yang terlihat jengah.


“Kenapa Kakak ada di sini?” tanya Alina heran, apakah sesenggang itu pekerjaan Sang Kakak hingga selalu ada di rumah? memikirkan itu Alina merasa heran sendiri jadinya.


“Kenapa? kamu mau usir kakak?” Eron dengan santai melemparkan pertanyaan itu. Ia lalu duduk dan dengan wajah yang terlihat songong, Eron mulai bertumpang kaki dan menatap ke arah layar televisi.


“Kakak sesenggang itu sampai bisa ada di sini terus menerus?” tanya Alina yang hanya diabaikan oleh Eron.


Tapi tak lama ia berkata,“ Justru kamu kenapa ada di sini? kenapa nggak sama suami kamu?”


“Terserah Alina dong, ini 'kan juga rumah Alina,” jawab Alina yang kini benar-benar Eron abaikan.


Merasa terabaikan, Alina merasa kesal. Ia melihat ke arah kakaknya, mengambil kacang yang masih dilapisi kulitnya. Alina memakan isi kacang itu dan melempar kulit kacang itu ke arah kakaknya.


“Nggak sopan kamu ini!” ucap Eron yang langsung membuang kulit kacang itu ke arah tempat sampah yang tersedia.


“Suruh siapa Kakak kalau ditanya sama Alina sering nggak ngejawab, kesel Alina jadinya,” gerutu Alina yang lagi-lagi hanya diabaikan oleh Eron.


Sebenarnya Eron datang ke rumah dengan sedikit terburu-buru saat mendengar kabar jika Sang adik sakit, sebagai seorang kakak, ia juga memiliki rasa khawatir pada adiknya. Hanya saja Eron tipe orang yang terlihat berego tinggi hingga ia tidak ingin menunjukkan rasa khawatirnya itu. Anggap saja Eron itu merasa gengsi jika harus mengakui kalau dirinya merasa khawatir dengan keadaan adiknya.


Tak lama, datanglah Setoni dengan jas yang selalu menjadi hal paling berharga yang Setoni miliki. Jas putih yang sangat menjadi kebanggaannya dari Setoni, yang seakan menunjukkan profesi Setoni yang juga seorang dokter, ia dokter spesialis kanker, dan Setoni juga sangat hebat dalam profesinya itu.


“Papah, sudah pulang?” tanya Alina heran saat melihat ayahnya datang dengan wajah yang terlihat di penuh dengan keringat.


“Iya, katanya kamu sakit?” tanya Setoni yang langsung menjawab pertanyaan Alina atas alasan kenapa Setoni datang ke rumah lebih awal.


“Alina cuman demam biasa Papah, Alina nggak sakit parah. Kenapa Papah sampai berkeringat begitu,” tanya Alina khawatir, ia melihat raut ayahnya yang terlihat sedikit panik, tapi begitu mendengar ucapannya tadi, wajah yang terlihat panik itu kembali rilexs.


“Papah hanya khawatir dengan keadaan kamu saja. Makanya saat Mamah kamu mengatakan kalau kamu sakit, papah langsung pulang ke sini,” jelas Setoni. Ia menerima tisu yang anaknya berikan.


Setoni lalu mengelap dahinya yang berkeringat, tadi ia memang pulang dengan sedikit terburu-buru karena merasa khawatir, makanya ia meminta sopirnya untuk menaikkan kecepatan berkendara karena ingin segera bertemu Sang Anak.


Melihat Alina yang memang sudah terlihat baik-baik saja, Setoni merasa ia bisa bernafas dengan lega.


“Pah, Papah sudah pulang,” terdengar Amina yang terlihat sudah menduga jika suaminya akan datang.


Tanpa berkata apa-apa Amina pergi ke dapur dan mengambil segelas minuman untuk suami dan anak-anaknya, disertai dengan camilannya.


...........


“Kenapa bisa kamu demam sampai muntah kayak gitu?” tanya Setoni perhatian.


Alina tahu jika ayahnya sangat khawatir pada dirinya, dan meski ia sedang diinterogasi dengan kalimat yang terdengar lembut tanpa ada amarah, tapi entah mengapa Alina merasa terintimidasi karena rasa segannya pada Sang Ayah yang ia hormati.


“Alina hanya demam biasa Pah,” jawab Alina seolah mengkoreksi ucapan ayahnya itu.


“Tapi kamu tadi pagi sempat muntah-muntah, dan itu kenyataannya,” kini Amina ikut mengkoreksi.


Jika orang lain khawatir anaknya muntah-muntah karena takut hamil, justru keluarga Alina berbeda. Mereka merasa takut jika Alina mengalami masalah pencernaan, karena dari dulu Alina memang sangat susah untuk di suruh makan. Oleh karena itu, Alina harus selalu dipaksa untuk makan, entah berapa banyak vitamin yang Alina makan agar nafsu makannya menjadi tinggi.


Lagipula, keluarga Alina benar-benar sangat percaya dengan Alina. Kadang saking percayanya keluarganya pada dirinya, Alina sering sekali merasa takut akan mengecewakan keluarganya.


Meski Alina memang sudah menikah, tapi itu baru berjalan kurang dari 2 Minggu.


“Mah, Alina hanya memuntahkan sedikit makanan, nggak terlalu banyak kok,” jawab Alina lagi.


Di situasi seperti ini, Alina akan merasa jika dirinya akan tetap terlihat seperti anak kecil dimata semua anggota keluarganya. Padahal Alina sudah sebesar ini, tapi mereka tetap merasa khawatir pada Alina.


“Tetap saja, kamu itu sakit dan muntah-muntah Alina sayang, kami sebagai keluarga kamu tentu merasa khawatir,” ucap Amina yang menatap Alina dengan tatapan khas keibuan.


“Apa itu benar Alina? kamu muntah-muntah?” tanya Bian yang terlihat berjalan mendekat.