Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Kesedihan Belvita



“Besok rencananya kita mau ke mana lagi?” tanya Alina yang hanya direspon dengan gelengan oleh Belvita.


“Kalau nggak, Minggu depan kita liburan lagi.”


...*****...


Alina hari ini berada di rumah keluarga Angkasa.


Amina yang tiba-tiba saja sakit, membuat Hanny mendengar itu memutuskan agar Alina dan Hero tinggal di keluarga Angkasa untuk sementara waktu.


Beruntungnya, Bram sudah pulang lebih awal. Alhasil Alina dan Hero tidak merasa terlalu khawatir lagi. Alina baru selesai makan, saat ia melihat jika kakaknya dan kakak ipar yang tak lain adalah sahabatnya sendiri sedang berjalan kearahnya.


Lantas Alina yang melihat itu langsung tersenyum senang karena melihat mereka. Sayangnya, raut wajah Belvita terlihat kurang baik dan seolah sedang marah.


“Ingin aku ambilkan makan?” tanya Alina tapi dijawab gelengan oleh Belvita.


Meski begitu Alina tetap mengambil makanan untuk Belvita.


...*****...


Tidak seperti suami istri pada umumnya, jika hari ini adalah waktu untuk mereka bermesraan. Justru berbeda dengan Alina, ia harus sabar menunggu suaminya yang super sibuk itu mengerjakan pekerjaan perusahaan.


“Kak, apa Kakak tidak lelah? tidak bisa 'kah itu di kerjakan besok saja?” tanya Alina.


Sebenarnya Alina kadang selalu merasa malu saat berada di kamar bersama seorang pria, tapi karena laki-laki itu adalah suami dan orang yang ia cintai. Rasa malu itu masih bisa Alina tahan. Hero mungkin tidak mengetahui betapa Alina sangat menjaga diri demi lelaki itu, bahkan berpegang tangan dengan lelaki lain saja Alina tidak pernah. Kecuali dengan sahabat dan teman masa kecilnya dulu.


Keterdiaman dari Hero seakan menjawab pertanyaan dari Alina. “Kalau begitu Alina keluar bentar, mau Alina buat 'kan sesuatu?” tanya Alina yang hanya dijawab gelengan oleh Hero.


Keluar dari kamarnya, Alina tanpa sadar melihat Belvita yang sedang terisak. Wanita itu kini terlihat sedang menangis.


Alina yang awalnya sengaja ingin membuat coklat panas untuk Hero mendadak mengurungkan niatnya itu.


“Alina,” pelukan langsung Alina terima dari Belvita. Wanita itu terlihat menunduk dan semakin terisak.


“Kenapa Kak?” meski sahabatan, karena kini Belvita telah menjadi kakak iparnya, ia kini memanggil Belvita dengan sebutan Kakak'


“Sakit banget ...,” ungkap Belvita lirih.


Belvita berniat menyembunyikan masalahnya itu dari Alina, tapi semakin hari justru masalahnya tak kunjung berakhir.


Belvita lelah, ia capek dengan keadaannya saat ini. Ia harus terlihat baik-baik saja padahal dirinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.


“Mau cerita? ayo ke kamar Alina yang dulu, Kakak bisa cerita apapun itu pada Alina,” ajak Alina yang langsung ditahan oleh Belvita.


“Ini 'kan hari bahagia kamu, tapi malah harus terbebani dengan masalah Kakak ini,” ujar Belvita merasa tidak enak.


Belvita berfikir, jika hari ini adalah hari pertama Alina bisa sekamar dengan Hero. Ia bahkan tidak mengetahui jika itu bukan hal yang baru lagi bagi Alina, karena hampir seminggu ini. Alina dan Hero sering tidur di kamar yang sama, walau tidak ada sesuatu hal yang terjadi.


Entah kapan Hero akan membuka hati, Alinapun tak tahu.


“Nggak masalah, jika itu bisa membuat Kakak tenang, Kakak bisa cerita 'kan hal itu langsung padaku,” ungkap Alina.


.....


Di kamar Alina


Belvita terlihat hanya diam dengan wajah yang terlihat berfikir, seolah ia sedang merenung.


“Jika suatu saat nanti aku bukan kakak ipar kamu lagi, tolong jangan benci aku ya,” ungkap Belvita tiba-tiba.


“Kenapa begitu?” tanya Alina heran.


“Semakin lama aku mulai sadar dimana posisi aku seharusnya, ini terlalu berat untuk aku hadapi, aku merasa jika aku tidak akan sanggup terus begini,” ucapan Belvita terdengar melincur, ia bahkan seperti orang yang sedang merasa frustasi.


“Jika memang ada masalah, tolong jangan di pendam, ceritakan saja,” ujar Alina lembut.


“Semua orang itu egois Alina, mereka egois karena terlalu memikirkan kebahagiaan mereka sendiri tanpa peduli jika kebahagiaan mereka harus mengorbankan kebahagiaan orang lain,” terdengar Belvita merasa sangat sedih dan tersakiti. Ia juga korban di sini, tapi ia juga yang paling di salahkan.


“Iya Kak, semua orang itu egois. Egois dalam hal yang berbeda-beda, dan mungkin hanya sedikit orang yang tidak egois, itu bahkan sangat jarang.”


“Kalau begitu aku termasuk orang yang egois kalau masih tetap bertahan dalam pernikahan ini,” ungkap Belvita menatap Alina.


“Nggak, kamu bukan orang yang egois. Aku kenal betul bagaimana kamu, dan kamu memiliki alasan tersendiri untuk tetap bertahan. Salah satunya demi anak kamu sendiri,” ungkap Alina dengan tatapan yakinnya.


Belvita yang mendengar itu hanya diam, ia ingat betul jika ada seorang nyawa di rahimnya yang masa depan dan kehadirannya perlu ia lindungi dan jaga.


“Terima kasih Alina,” ujar Belvita yang langsung menghapus air matanya.


...*****...


Keesokan harinya.


Alina bangun kesiangan. Ia melihat ke arah jarum jam, dan kini menunjukkan kalau sudah pukul 8 siang. Itu langsung membuat Alina kelimpungan.


Segera Alina bangkit untuk membersihkan tubuhnya, ia lalu berniat untuk ke dapur. Memasak untuk Hero, walau Alina tidak memiliki keahlian yang mahir dalam memasak, tapi sejak beberapa Minggu yang lalu ia mulai sering kursus memasak, dan sedikit demi sedikit Alina bisa memasak.


“Bangun kesiangan nih ceritanya,” ledek Amina yang membuat Alina tersipu.


Alina yang melihat kedatangan ibunya langsung membantu Sang ibu untuk duduk.


Sebenarnya tidak ada yang terjadi tadi malam, jelas ia langsung tidur begitu selesai mengobrol dengan Belvita. Entah jam berapa Hero tidur, laki-laki itu terakhir kali Alina lihat sedang bekerja.


“Mah, lihat Kak Hero?” tanya Alina yang langsung dihadiahkan tatapan heran.


“Kamu 'kan istrinya, kenapa justru tanya ke Mamah?”


“Iya, tadi Alina kesiangan. Pada saat Alina bangun Alina nggak lihat Kak Hero di kamar.”


“Hero tadi berangkat kerja pagi-pagi sekali, dia biasa berangkat sepagi itu 'kah?”


Alina mengangguk, Hero memang orang yang sangat disiplin. Ia seakan tidak pernah terlambat atau bahkan bangun kesiangan.


“Alina sepertinya harus bertanya kenapa Kak Hero bisa bangun sepagi itu,” ujar Alina yang terlihat berfikir.


Amina yang mendengar itu langsung tertawa, ia ingat betul Alina memang tipe anak yang sangat sulit bangun saat dulu. Saking sulitnya Alina sampai memasang lima alarm agar bangun tepat waktu.


Tapi semenjak kuliah, ia menjadi anak rajin dan disiplin akan waktu.


“Kayaknya semua kelebihan yang kamu miliki telah berpindah pada Hero.”


“Makdud Mamah?” tatapan tak mengerti Alina tunjukkan.


“Kamu tahu 'kan sepintar apa Hero itu, dia bahkan pernah masuk berita saking pintarnya. Terus dia orang yang sangat-sangat disiplin akan waktu dan tidak telat bangun tentunya,” jelas Amina yang di selingi candaan.


Alina yang mendengar itu hanya bisa menggerutu, walau sebenarnya apa yang ibunya katakan benar. Hero pintar, sangat pintar. Sedangkan kepintarannya itu tidak ada setengah saja dari kepintaran Hero, selain itu Hero juga disiplin dan tidak pernah bangun kesiangan. Jauh berbeda dengan dirinya yang sering bangun kesiangan saat dulu. Tapi bukankah kini sudah berubah?


“Kenapa Mamah mesti jujur sih,” dengus Alina yang disambut tawa dari Amina.


“Alina,” panggil Amina.


Alina yang sedang memakan sandwich kesukaannya itu langsung menoleh dan menatap ke arah ibunya.


“Sering-sering datang ke rumah ini. Meskipun kamu telah menikah, kamu harus ingat jika rumah ini juga rumah kamu juga,” kata Amina yang langsung dijawab anggukan pasti dari Alina