Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Alina menghilang



Alina yang tiba-tiba mendapat sebuah notifikasi dari nomor yang tidak ia kena. Ia langsung melihatnya, orang yang mengirim notifikasi itu sama dengan orang yang mengirim alamat keberadaan Hero di rumah Alisa.


“Ini bukannya apartemen milik Kak Hero?” tanya Alina pada dirinya sendiri. Ia sangat ingat jika Hero memiliki sebuah apartemen yang sempat Hero tinggali selama ia berkuliah.


Saat itu, Alina duduk dibangku SMA, sedangkan Hero sudah berkuliah. Dan Alina bisa tahu jika selama Hero berkuliah itu, ia tinggal di apartemen.


“Kenapa orang yang mengirim notifikasi itu malah mengirim alamat apartemen Kak Hero?” tanya Alina heran dan bertanya-tanya.


Sebenarnya, sudah lama sekali Alina tidak berkunjung ke apartemen itu. Terakhir kali Alina ingat, saat Alina sedang duduk di kelas 2 SMA, dan saat itu Alina datang ke apartemen Hero tidak sendirian, melainkan bersama dengan Alicia, sahabatnya yang sudah meninggal dan merupakan kembaran dari Alisa


“Apa aku ke sana aja langsung?” tanya Alina.


Melihat jika Hanny sedang berjalan dan hendak melewatinya, Alina langsung saja menghampiri ibu mertuanya itu.


“Bunda,” panggil Alina yang langsung membuat Hanny menoleh seketika itu juga.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Hanny langsung.


“Alina izin keluar ya, Alina ada urusan,” kata Alina yang langsung dijawab gelengan cepat.


“Nggak bisa sayang, kamu itu lagi hamil. Dan kini usia kandungan kamu sudah akan menginjak usia 8 bulan, itu bukanlah usia kandungan yang masih muda. Bunda nggak bisa bayangkan kalau nanti dijalan kamu bisa kenapa-napa. Jangan ya, Bunda mohon,” tatapan yang Hanny tunjukan seakan berusaha membujuk Alina untuk melupakan niatnya itu.


“Alina nggak sendiri ke sana, tapi ada Kak Hero yang akan ikut. Jadi biarkan Alina pergi ya,” mohon Alina yang ditatap dengan tatapan tidak tega dari Hanny.


“Bunda hanya takut kamu nanti kenapa-napa sayang. Lagipula anak itu! kenapa nggak larang istrinya yang lagi hamil coba, nggak peka banget dia!” Hanny kini justru menyalahkan Hero yang ia pikir tidak melarang Alina untuk pergi.


Di usia kandungan Alina yang sudah menginjak usia 8 bulan, Hanny semakin protektif pada Alina. Bahkan mungkin Hanny yang lebih protektif pada Hero jika dibandingkan dengan sikap protektif Hero pada Alina.


“Tapi Alina hanya sebentar keluarnya Bunda, nggak lama kok, Alina janji,” pinta Alina memohon. Dalam hati Alina mengucapkan beribu-ribu maaf, ia terpaksa berbohong hanya demi menghilangkan rasa penasaran yang ia rasakan itu.


Tapi Alina akan meminta diantar pada Hero untuk ke apartemen itu, ia melakukan itu demi bisa mengurangi rasa bersalahnya yang berbohong pada wanita sebaik dan setulus Hanny.


“Sebentar ya, jangan lama. Bunda nggak akan maafin diri Bunda apalagi Hero kalau sampai kamu nanti kenapa-napa,” kata Hanny yang dijawab anggukan dari Alina.


“Alina cuman sebentar Bunda, nggak akan lama kok,” kata Alina tersenyum.


............


Setelahnya, Alina langsung berganti baju dengan pakaian yang sedikit tertutup tapi juga masih dalam keadaan longgar.


“Hallo Kak, apa Kakak sibuk?” tanya Alina pada Hero saat sambungan telepon itu langsung diangkat oleh laki-laki itu.


“Kenapa?” tanya Hero langsung, ia tidak sedatar dulu lagi, sedikit demi sedikit rasanya laki-laki itu perlahan bisa bersikap lembut pada Alina.


“Emm, Alina ingin keluar, boleh 'kan? tapi kalau misalkan Kakak nggak izinkan Alina. Alina mau dianterin langsung oleh Kak Hero,” ungkap Alina.


“Kemana?” tanya Hero langsung.


“Ke apartemen Kakak, bole-”


“Tidak!” kata tegas Hero itu langsung membuat Alina terkejut. Padahal tadi Hero berbicara sedikit lebih lembut padanya, tapi dalam sekejap bisa berubah tegas dan datar seperti sejak mereka baru bertemu lagi.


“Kenapa?” tanya Alina langsung.


Entah apa yang lelaki itu sembunyikan, justru larangan Hero semakin membuat Alina merasa penasaran dan ingin segera ke apartemen itu.


“Tapi Alina rindu dengan apartemen itu Kak, Kakak ingat 'kan dulu Alina dan Alicia sering berkunjung ke apartemen Kakak?” setelah Alina mengatakan itu, justru Hero hanya diam seolah tidak merespon perkataan Alina.


“Jangan keluar! itu yang Kakak ingin kamu patuhi,” perintah Hero tegas dan tak ingin membantah.


“Baik Kak,” Alina merasa tidak ada pilihan lain selain berpura-pura setuju, Alina lalu mengakhiri sambungan telepon.


...*****...


Alina bukan orang yang nekat seperti ini, tapi jika ia penasaran dan sudah mencintai sesuatu. Ia bisa saja menjadi orang yang nekat.


Saat Alina memasuki apartemen itu, ia yang sempat kebingungan dengan kunci apartemen itu, tiba-tiba perhatian Alina teralihkan pada sebuah kunci duplikat.


“Kunci duplikat?” tanya Alina heran.


Meski begitu Alina akhirnya membuka pintu apartemen itu dengan kunci itu. Kebetulan selain menggunakan kata sandi, ia juga menggunakan kunci. Jadi, meskipun Alina tidak tahu kata sandi dari apartemen itu, ia bisa membukanya.


“Ini ...?” Alina yang melihat itu kaget dan tidak bisa berkata-kata.


Apa yang ia lihat link adalah sesuatu hal yang tidak pernah ia duga dan tidak pernah ia pikirkan.


...******...


Sementara itu, di tempat Hanny.


Hanny yang melihat jika Alina belum pulang padahal sudah satu jam ia keluar dari rumah. Hanny yang merasa khawatir langsung saja menghubungi Hero.


“Anak nakal itu! kemana dia membawa istrinya yang sedang hamil! bisa-bisanya hingga saat ini ia belum juga membawa istrinya itu pulang!” kesal Hanny yang sudah merasa sangat khawatir pada Alina.


Hingga akhirnya Hanny langsung menelepon Hero, panggilan itu diangkat setelah beberapa menit berlalu.


“Kamu ke mana aja? kenapa baru angkat panggilan Bunda sih!” kesal Hanny meluapkan emosinya.


“Maaf Bunda, ada operasi darurat yang harus Hero lakukan. Hero baru datang dan tidak tahu jika Bunda menelepon,” kata Hero menjelaskan.


“Loh kok malah bahas operasi sih? Alina sama kamu 'kan? dia tadi izin sama Bunda buat keluar sama kamu, terus kenapa kamu bilang kalau kamu harus melakukan operasi darurat?” tanya Hanny heran.


“Hero di rumah sakit Bunda, Alina nggak Hero izinkan untuk keluar, apa Alina keluar?” tanya Hero yang tiba-tiba saja merasa perasaannya itu tidak enak.


“Kamu ini gimana sih! istri kamu sendiri nggak kamu pedulikan! kalau Bunda tahu akan begini Bunda lebih baik ikut keluar dengan Alina dan membatalkan janji dengan klien,” kesal Hanny yang tidak bisa membatasi amarahnya lagi.


“Hero akan cari Alina Bunda,” kata Hero langsung.


#####


Maaf baru bisa up karena baru ada kuota hari ini, ini langsung author up langsung lima bab.


Maaf bgt telah membuat kalian menunggu 🤧