
Alisa yang mendengar pengakuan Hero hanya bisa bungkam dan tak mengatakan apapun. Meskipun begitu, sebenarnya ada perasaan kesal dan marah di dalam lubuk hatinya.
Padahal Alisa selama ini sangat mengagumi Hero! ia sangat mencintai Hero melebihi cinta kakaknya pada Hero! Alisa yakin jika hanya cintanya yang lebih besar dibandingkan dengan cinta siapapun itu.
“Padahal aku selama ini mencintai kamu, aku yang menanti dan menunggu kamu dengan sabar. Apakah aku hanya akan terus menunggu? dengan susah payah aku menyingkirkan Kakakku sendiri, lalu apakah aku harus menyingkirkan teman Kakakku juga?” batin Alisa yang kini merasa benci pada Alina.
“Aku mencintai kamu Kak,” ungkap Alisa yang dengan berani menatap ke arah mata Hero langsung.
Terlibat jelas jika Hero tak percaya dengan hal itu.
“Jangan bercanda, kamu tahu jika aku menyayangi kamu sebagai adikku sendiri. Jadi istirahat, aku akan menjaga kamu untuk sementara.”
Entah tabrakan itu adalah rekayasa atau memang kejadian tanpa sengaja, yang jelas Alisa mengalami demam tinggi hari itu juga. Hingga Hero selama dua hari merawatnya.
“Kak, Alisa yakin Kakak tidak mencintai Kak Alina. Kakak hanya bersimpati saja bukan? lalu anak yang berada dikandungan Kak Alina itu bukan anak Kakak ya 'kan?” kata Alisa yakin.
“Itu anakku!” tegas Hero.
Hero merasa kesal dengan ucapan Alisa yang terdengar lancang. Tanpa berkata lagi Hero langsung memakai jasnya, ia sudah cukup merawat Alisa yang sepertinya sudah mulai membaik.
“Ini mungkin terakhir kalinya aku merawat kamu,” kata Hero pada Alisa.
Tiba-tiba tanpa pernah Hero duga, Alisa yang duduk langsung menarik Hero hingga adegan tak di duga itu terjadi. Hero tanpa sengaja mencium bibir Alisa dan itu terjadi tepat saat Alina datang.
“Kak Hero!” teriak Alina.
Suara Alina itu bagaikan bom ditelinga Hero, ia lantas langsung bangkit dan mendorong Alisa tanpa menatap ke arah Alisa sedikitpun.
Dengan ekspresi panik dan kalut, Hero langsung mengejar Alina yang berlari menjauh darinya.
Pikiran Hero serasa kosong melihat Alina yang kini menghindar darinya, ia dengan keadaan lelah karena merawat Alisa sambil bekerja tanpa istirahat, hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mengejar istrinya.
Flashback end.
Hero yang melihat mobil Eron telah pergi menjauh, ia hanya bisa menghela nafas tanpa mengatakan apapun.
Hero memilih untuk pulang, ia akan pergi ke apartemen miliknya untuk menenangkan diri.
Begitu masuk, suasana sunyi mulai terasa. Sepanjang perjalanan, tak ada lagi foto Alicia di dinding atau di meja.
Hero yang telah sampai dikamarnya, ia langsung membaringkan tubuhnya dengan tatapan mata yang menatap ke arah langit kamarnya.
“Di saat seperti ini, aku baru sadar kalau kamu itu berharga Alina. Maaf, mungkin hanya aku seorang yang bodoh hingga memperlakukan kamu dengan sangat buruk saat dulu,” gumam Hero.
*****
Alina yang tiba-tiba merasa rindu dengan suasana kerjanya dulu, ia tiba-tiba ingin pergi ke tempat biasa dirinya bekerja.
“Lagi hamil juga, jangan kebiasaan jalan-jalan terus. Perhatikan juga kesehatan kamu dan anak kamu,” kata Belvita yang khawatir karena Alina begitu lincah dan aktif.
“Aku mau ke tempat kerja aku sebentar,” kata Alina yang yang langsung membuat Belvita menatapnya dengan tatapan tak sukanya.
“Kamu lagi hamil Alina, bukankah Mamah sudah meminta untuk kamu resign dari tempat kerja kamu?”
“Sedih apanya, kamu di sana 'kan bertugas mengobati anak-anak yang sakit? pasti kamu akan repot karena akan banyak anak yang rewel natinya,” kata Belvita. Ia khawatir karena kondisi Alina yang tidak seperti dulu lagi sebelum hamil.
“Ya sudah kalau begitu, aku akan bekerja seminggu lagi. Setelah itu aku benar-benar akan berhenti bekerja untuk enam bulan ke depan.”
*****
Alina tahu jika tempat kerjanya ini yang tak lain masih di rumah sakit Cendana, akan membuat dia bertemu dengan Hero nantinya.
Karena sudah hampir tiga Minggu Alina tidak bekerja dengan alasan sakit. Dan selama itu juga tugasnya itu digantikan oleh temannya Santi.
“Sepertinya Bunda yang ada dibalik semua ini, bahkan saat aku tidak hadir selama ini tidak ada teguran atau pemecatan sama sekali,” gumam Alina.
Sebenarnya Alina beberapa kali mengirim surat pengunduran diri, sayangnya selalu saa di tolak.
“Hay Alina, bagaimana keadaan kamu?” tanya Santi yang langsung memeluk Alina dengan erat dan juga penuh kerinduan.
“Baik, bagaimana keadaan kamu?”
“Baik juga, ayo masuk ada seseorang yang menunggu kamu. Sepertinya orang itu akan datang siang nanti.”
*****
Tak terasa jam terus berlalu, dan saat hendak waktu makan siang, Alina yang berniat pergi ke kantin yang ada di rumah sakit, sayangnya kemunculan Hero itu membuatnya malas meladeni laki-laki itu.
“Makan siang untuk kamu,” kata Hero yang langsung menaruh bekal milinya untuk Alina.
Hero sebenarnya tak menyangka jika Alina akan berangkat kerja lagi. Ia bahkan langsung datang ke ruangan Alina begitu mendengar Alina datang ke tempat kerja.
“Tidak usah, aku masih memiliki janji,” kata Alina yang langsung keluar dari ruangan dengan ditemani oleh Santi yang hanya diam.
Hero yang melihat itu, ia yang biasanya tidak pernah memberinya bekalnya itu, tanpa pikir panjang Hero langsung memberikan bekal itu pada seseorang yang lewat, dan itu adalah Syela.
“Ini beneran untuk aku?” tanya Syela senang.
“Kamu tidak mungkin tidak tahu tentang status saya bukan?” datar Hero yang seolah menyadarkan Syela bahwa Hero telah menikah.
Dan siapa yang menjadi istri Hero itulah yang paling Syela benci dan tidak pernah ia duga. Bahkan pada awalnya Syela berfikir Alina hamil di luar nikah dan Syela juga berniat menggunakan kehamilan Alina itu untuk membuat Alina menjadi bahan cibiran.
“Bahkan aku tak pernah menyangka jika mereka berdua sudah menikah lama,” batin Syela yang hanya diam saat melihat Hero pergi meninggalkannya.
Sementara itu.
Alina yang sangat ingin memakan menu makan favoritnya di kantin yang ada di rumah sakit ini, ia tanpa pikir panjang langsung memesan banyak menu makan yang ia suka.
“Kamu yakin ini bakal habis?” tanya Santi tak percaya.
“Iya, itu pasti akan habis,” jawab Alina yakin.
Tepat saat pelayan pergi untuk mengambil menu makan pesanan Alina, di saat itu juga Raihan datang dan dia langsung duduk di meja yang sama dengan Alina.
“Apa kabar? duh ibu hamil makin kelihatan senang aja nih,” kata Raihan yang hanya Alina balas dengan senyuman.