
Awalnya Hero memang hanya diam dan terus saja mengabaikan Alina. Tapi seperti janji wanita itu, Alina terus saja mengganggu Hero dengan usil.
Dari tingkahnya yang seakan sedang meledek Hero secara diam-diam, hingga saat Hero menatapnya Alina akan bersikap biasa saja dan hanya menatap ke arah kota makan yang ia bawa.
Dengan menghela nafas, akhirnya Hero pasrah. Ia mengambil kotak makan itu lalu membukanya.
Ekspresi wajah senang Alina terlihat sangat kentara saat ini, wajahnya bahkan terlihat manis sangat tersenyum. Coba saja jika Hero sedang menatap ke arah Alina, ia pasti akan merasa terpesona dengan hal itu.
Sayangnya kini Hero hanya menatap ke arah makanan yang Alina bawa. Terlihat wajah yang tak bersahabat Hero tunjukkan saat memakan makanannya.
Alina yang melihat itu hanya tersenyum dengan raut wajah kegirangan. “Anak pintar,” ungkap Alina yang hendak mengulurkan tangan dan mengusap kepala Hero dengan kedua tangannya.
Tali sayangnya hal itu tidak terjadi, tangan itu hanya menggantung di udara karena Alina tidak berani untuk melangkah lebih jauh. Tatapan tak bersahabat Hero tunjukan, seakan ia tidak suka jika kepalanya itu di sentuh.
“Ternyata bukan perempuan aja yang sensi saat kepalanya disentuh ya Kak, laki-laki juga gitu ya, contohnya Kakak.”
Hero hanya diam, ia seolah malas merespon ucapan Alina ini. Hero hanya diam seakan ia kini sedang berfikir jika apa benar yang ada dihadapannya ini Alina? atau jelmaan Alina?
“Lagi mikirin apa Kak? mikirin masa depan? ada Alina nggak di masa depan yang Kakak pikirin?” tanya Alina dengan wajah yang menatap Hero.
Kedua tangan Alina gunakan untuk menahan dagunya, tatapan mata yang terlihat malas langsung Hero tunjukan.
Sudah 1 Minggu Alina secara terang-terangan menunjukkan perubahannya itu.
Setiap hari, bahkan hampir setiap jam Alina akan meminta Hero untuk pulang, lelaki itu memang selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga sering mengabaikan waktu tidurnya.
3 jam itu seakan sangat banyak untuk Hero, mungkin jika dihitung lagi, kadang lelaki itu pernah tidak tidur seharian.
Gila 'kan?
Alina yang mendengar hal itu dari Hanny kandang merasa iba dengan Hero, apa memang Hero sangat frustasi hingga mengabaikan kesehatannya sendiri.
“Masa depan sama kamu nggak ada, yang ada gelap,” acuh Hero.
“Amit-amit 'Kak, jangan bilang gelap gitu. Nggak tahu apa yang namanya gelap itu 'kan identik dengan orang yang mati. Memang Kakak sudah dikubur? jangan sampai ucapan Kakak jadi doa! Alina nggak mau pokoknya!”
“Saya yang ngomong kenapa kamu yang frustasi?”
“Frustasilah, Kakak 'kan suami Alina. Dan seperti yang Alina katakan tadi, Alina tidak siap untuk menjadi seorang janda,” ucap Alina.
Alina kadang sering berfikir gila, ia rela menjadi janda asal tidak ditinggal mati oleh Hero. Setidaknya melihat orang yang dicintai bahagia, itu sudah menjadi hal yang paling membahagiakan untuk Alina.
Walau rasa tidak rela pasti sering muncul dibenak dan hatinya begitu saja.
“Suruh siapa kamu mau menikahi mayat hidup? bukankah harusnya kamu siap dengan segala konsekuensinya?”
“Alina siap dengan segala konsekuensinya kok Kak. Saat Kakak abaikan Alina, Alina terima. Saat Kakak melihat Alina dengan tatapan tak bersahabat, Alina juga terima. Kurang terima apa coba Alina?”
“Tapi 'kan, nggak ada yang namanya seorang istri yang siap ditinggal oleh suaminya. Nggak akan ada!”
Hero hanya diam, ia mengabaikan Alina dan memilih memakan makanannya itu dengan lahap. Entah karena memang masakan Alina sudah lebih baik dari yang kemarin-kemarin, atau karena Hero yang kini sedang merasa lapar.
Alina yang melihat itu, awalnya merasa kesal karena dengan sengaja Hero abaikan. Tapi melihat beratap lahapnya lelaki itu memakan makanan yang ia buat, diam-diam Alina tersenyum.
.....
Tapi meski begitu Alina yakin jika lelaki itu tidak benar-benar mengabaikan apa yang ia ucapkan.
Saat Alina hendak berbalik keluar, tiba-tiba Hero memanggil Alina.
“Alina,” panggil Hero datar tapi terkesan buru-buru.
“Iya 'Kak?” tanya Alina yang langsung berjalan mendekat ke arah Alina.
“Boleh aku lihat yang menempel di tas kamu?” tanya Hero yang ternyata menunjuk pada sebuah gantungan yang baru Alina beli.
Karena Alina tidak tahu akan ditaruh dimana gantungan yang ia bawa. Maka Alina memilih memasangkan gantung itu di tas yang sering digunakannya saat kemana-mana.
“Ini Kak?” tanya Alina dengan ekspresi tak yakin.
Apa Hero menyukai hal yang lucu sepertinya? tapi dari wajahnya saja Alina yakin jika lelaki itu tidak menyukai hal-hal lucu seperti dirinya.
Hero yang menerima itu hanya diam, ia menatap dalam sebuah gantungan pasangan.
Satu bermotif beruang coklat dan satu bermotif beruang putih, sama percis seperti yang pernah Alina beli dulu.
“Dimana kamu membelinya?” tanya Hero tiba-tiba.
“Kakak nggak niat untuk beli 'kan?”
“Itu Alina beli dipinggir jalan, hanya tersisa satu. Dan yang Alina beli itu adalah stok gantungan boneka terakhir. Tidak ada yang berpasangan lagi seperti yang Alina beli,” jelas Alina.
Entah untuk apa juga Alina menjelaskan sedetail itu, tapi karena dirasa perlu. Maka Alina menjelaskan itu.
Hero terlihat mengangguk dengan pandangan mata yang terlihat dalam. Ia sedikit melamun dan kentara sedang berfiki.
“Jangan bilang Kakak berminat sama gantungan kunci ini? nggak 'kan?” tanya Alina disertai dengan tatapan tak percayanya.
Hero hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Saat Hero hendak memberikan itu pada Alina, dan Alina yang hendak mengambil gantungan kunci itu dari Hero, tiba-tiba perkataan Hero membuat Alina langsung menatap lelaki itu dengan tatapan tak percayanya.
“Jika kamu ingin menjualnya, jual padaku saja. Aku akan membelinya berapapun harga yang kamu mau.”
“Jangan ngaco deh 'Kak, memang kalau Alina jual gantungan ini ke Kakak dengan seharga berlian masih berminat untuk beli?”
“Boleh saja.”
“Aneh, sudahlah. Ngomong sama Kakak kok Alina makin lama makin ngerasa nggak waras,” ungkap Alina yang hendak berbalik tapi tangannya itu sontak saja langsung dicekal oleh Hero.
“Apa yang kamu ingin 'kan agar mau memberikan gantungan kunci ini?” tanya Hero yang untuk pertama kalinya menatap ke arah Alina dengan tatapan berharap.
Sesuka itu ya Hero menyukai sepasang gantungan kunci yang Alina beli?
“Alina nggak ingin apa-apa Kak, lebih baik Kakak beli saja gantungan itu di tempat lain,” jawab Alina yang kali ini ia tidak akan mengalah dan memberika sepasang gantungan kunci yang baru ia beli.
“Yakin tidak menginginkan sesuatu hal apapun? bisa jadi ini kesempatan buat kamu untuk mengungkapkan apa yang kamu inginkan,” ucap Hero yang menatap Alina dalam.
Alina yang mendengar itu, ia terlihat berfikir dengan tatapan yang terkesan dalam.
“Akan Alina pikirkan apa yang Alina inginkan, baru setelah itu gantungan kunci ini jadi milik Kakak.”