
Alina kini berada di kamarnya.
Kamar yang mana ia tinggali sebelum menikah dengan Hero, kamar itu sudah Alina tinggalkan seminggu yang lalu.
Padahal sangat jelas, jika kamar itu pernah ditinggal selama 5 tahun lebih, dan kini kamar itu menjadi kosong karena Alina yang tidak menempati kamar itu lagi.
Sepulang dari acara makan bersama tadi, Alina kini berjalan menuju kamar yang sangat dirindukannya. Boneka beruang berwarna pink ataupun coklat, entah itu besar, sedang, atau kecil. Boneka-boneka itu tertata rapi dikamarnya.
“Hay Bear, apa kabar?” Alina langsung memeluk boneka kecil berwarna pink. Boneka yang menjadi sesuatu yang sangat di sayangi olehnya.
Boneka yang bagi Alina sendiri sangat berharga, seberharga orang yang memberikan boneka itu untuknya.
“Kangen banget sama kamu, sudah lama ya kita nggak ketemu.” Dengan sedikit erat Alina memeluk boneka itu.
To tok tok ...
Pintu yang terbuka itu di ketuk dari arah luar.
Alina menoleh, dan ternyata yang mengetuk itu kakaknya.
“Ya ampun, itu 'kan cuman boneka kenapa pakai dipeluk segala sih,” ucap Eron terkesan meledek.
“Sesuatu hal yang memang terlihat sederhana dan tidak berharga sekalipun, mereka akan terlihat sangat berarti dan berharga jika diberikan oleh seseorang yang kita rasa orang itu sangat berharga untuk kita,” ucap Alina yang terdengar polos bagi Eron.
Eron bungkam dan tidak mengatakan apa-apa, karena ia tanpa sadar merasa jika ucapan Alina seakan sangat menohok hingga ia tidak bisa berkata apa-apa.
Eron berjalan mendekat ke arah Alina, ia langsung bersedekap dada dan memandang Alina dengan pandangan yang tidak bisa di tebak.
“Kenapa?” tanya Alina penasaran.
“Bagaimana pendapatmu tentang kekasih Kak Bian?” tanya Eron langsung.
“Kak Farah maksud Kakak?, dia cantik kok, tinggi, terus jalannya kayak model dan terlihat anggun,” jawab Alina polos.
“Bukan itu yang ingin kakak tanya ke kamu, tapi bagaimana tentang sikap dia. Menurut kamu apa memang dia cocok dengan Kakak kita?”
Alina hanya mengangguk beberapa kali begitu paham dengan apa yang dimaksud Eron.
“Itu sih terserah Kak Bian, Alina nggak berani buat komentar apapun. Karena 'kan Kak Bian yang akan menjalani hubungan itu,” jawab Alina.
“Seandainya kamu bilang tidak suka, kakak yakin Kak Bian akan putusin perempuan itu!”
“Kenapa begitu?”
“Sudahlah, kamu ternyata masih saja polos dan lugu ya. Padahal kakak lihat penampilan kamu sudah terlihat dewasa dan anggun,” komentar Eron.
Sebagai seorang dokter kecantikan jelas Eron bisa menilai tentang tampilan Alina. Jika poin itu dimulai 1 sampai 100 maka nilai penampilan Alina adalah 99, hampir sempurna
“Kakak akan keluar, tidurlah. Nanti malam kita akan makan bersama. Keluarga Sanjaya hari ini akan malam bersama di sini,” jelas Eron dan Alina yang mendengar langsung mengangguk.
Akhirnya karena lelah, tanpa sadar Alina tertidur pulas dikamarnya.
*****
Malam harinya.
Seperti yang telah direncanakan, keluarga Sanjaya datang berkunjung. Hanny dan Bram langsung di sambut dengan hangat oleh keluarga Angkasa.
Padahal bisa saja kedua nyonya itu hanya perlu duduk, karena para pelayan akan mempersiapkan itu semua. Tapi karena mereka sangat menyayangi suami mereka masing-masing, makanya untuk para suami mereka mengambil makanan secara khusus.
“Alina belum keluar?” tanya Hanny yang membawa sup iga kesukaan suaminya
Sepertinya Amina sengaja meminta pada para pelayan untuk memasak menu makan yang sesuai dengan kesukaan suami mereka masing-masing.
“Belum, biar nanti aku coba cek ke dalam kamar Alina secara langsung.” Begitu selesai menaruh sayur tepat di hadapan suaminya, Amina langsung menuju kamar Alina.
Tok tok tok ...
“Alina sayang kamu di dalam?” tanya Amina dengan nada lembut, khas keibuan.
“Ini Mamah sayang, boleh Mamah masuk?” tanya Amina lagi tapi Alina justru tidak merespon sama sekali.
“Sayang?” kini Amina merasa sedikit khawatir akan keadaan anaknya yang berada di dalam kamar.
Amina terus saja mengetuk pintu kamar milik Alina, hingga beberapa menit kemudian terdengar sahutan dari dalam kamar Alina. Hal itu membuat Amina bisa bernafas lega.
“Mah, ada apa?” suara Alina terdengar serak karena ia baru bangun tidur.
“Sayang, ada Bunda dan Ayah di sini,” ucap Amina. Sebagai seorang ibu yang memiliki feeling yang kuat untuk anaknya, dia tahu jika Sang Anak ingin agar keluarga Sanjaya dan Angkasa kembali akrab seperti dulu lagi.
“Mah, kakak Hero juga ada di sini?” seketika itu mata yang masih terasa berat langsung terbuka dengan lebar. Dengan segera Alina bangkit dari kasurnya lalu membuka pintu.
“Mamah nggak bercanda 'kan kalau kak Hero ada di sini?” tanya Alina dengan tatapan yang masih terkejut.
Alina merasa senang saat mendengar itu, ia yang memang kini sedang libur dari kerjanya, menjadi tidak bisa bertemu dengan Hero, padahal baru siang tadi Alina dan Hero makan bersama-sama dengan keluarga mereka masing-masing.
Amina yang melihat itu hanya tersenyum, ia mengusap dahi anaknya yang terlihat berkeringat. Meski sedih dan kecewa dengan Alina yang menikah dengan Hero, tapi sebagai seorang ibu ia tidak bisa membenci ataupun marah pada anaknya terlalu lama.
“Kamu kepanasan? kenapa nggak kamu nyalain ACnya?”
Alina menggeleng, ia tersenyum ragu dengan menggaruk tengkuknya.
“Alina tadi capek banget Mah, jadi Alina langsung tidur,” jawab Alina sedikit cengengesan.
“Ya udah Mamah tunggu dibawah ya, cepetan mandi kita akan makan bersama.”
Alina mengangguk, begitu melihat mamahnya turun ke bawah, ia lalu langsung menutup pintu dan berjalan ke kamar mandi. Alina mandi dengan waktu yang tidak terlalu cepat ataupun lama.
Biasanya jika mandi Alina akan menghabiskan waktu hingga 1 jam karena suka sekali bermain air. Makanya jika ibunya tahu Alina akan dimarahi.
“Duh, ini udah cantik nggak ya?” tanya Alina yang melihat penampilannya melalui kaca.
Jika Alina bertanya tentang penampilan dirinya saat mengenakan pakaian apapun, pasti ayah dan ibunya akan menjawab Alina sangat cantik, kedua kakaknya juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Karena hal itulah Alina berfikir jika pujian dari kedua orangtuanya hanya sebuah pujian biasa.
Alina bahkan tidak pernah sadar jika dirinya itu memang sangat cantik, mungkin karena sesuatu hal di masa lalu yang membuatnya selalu merasa tidak percaya diri.
“Alina ayo turun! lama banget sih. Kamu lagi ganti baju atau lagi bertelur,” teriak kakak dari Alina yang tak lain adalah Eron. Kakak keduanya itu sangat suka berdebat dengan Alina. Ia bahkan seolah selalu saja memancing kemarahan Alina.
“Ya ampun kak sabar!, kenapa harus teriak segala sih,” gerutu Alina kesal
#####