Love Me, Please Doctor

Love Me, Please Doctor
Caca



Hero yang melihat jika Alina dan Raihan kini sedang duduk bersama, hatinya terasa panas karena merasa cemburu.


Hero kini sudah sadar jika sebenarnya ia juga memiliki perasaan pada istrinya itu, mungkin dulu ia yang terlalu mengagungkan perasaannya pada Alicia, cinta pertama sekaligus kembaran dari Alisa.


Kenapa? kenapa dirinya baru menyadari perasaannya pada istrinya saat ini? di saat istrinya itu ingin segera mengakhiri hubungan dengannya? dan istrinya itu bahkan enggan untuk bertemu dengannya.


Hero saat itu terus mematung tak bergerak, dengan pandangan yang tidak lepas dari Raihan dan Alina yang sedang berbincang-bincang.


Hero ingin mendekat, tapi mengingat betapa buruknya dirinya menjadi suami Alina, ia bahkan tidak bisa hanya untuk mendekat.


Kakinya kaku seolah tak mampu untuk di gerakkan sedikitpun, ia tak tahu apa yang membuat dirinya tak ingin melangkah, padahal jelas-jelas ia selama ini mati-matian agar bisa bertemu dengan Alina.


Sementara itu.


Alina yang sedang berbincang-bincang kecil dengan Raihan, ia yang tiba-tiba saja kedatangan seseorang yang tak terduga langsung semangat.


“Caca,” kata Alina yang langsung tersenyum sumringah begitu melihat kedatangan bocah lucu yang terlihat sangat menggemaskan itu.


“Tante cantik apa kabar? bagaimana keadaan Tante cantik dan Dede bayi? apa kalian baik-baik saja?”


Caca biasanya akan selalu meminta di gendong oleh Alina, ia sangat menyukai sosok Alina yang baginya sangat lembut dan baik hati.


Dan kini Caca sadar jika Alina tidak bisa menggendong dirinya, tapi meskipun begitu, bocah lucu itu tak hilang akal, ia langsung meminta pengasuhnya agar segera menggeser salah satu kursi kosong ke dekat Alina.


“Kamu masih nggak berubah ya?” senyum Alina saat itu langsung mengembang saat ia ingat betapa lengket dan dekatnya Caca padanya.


“Caca ingin menyentu Dede bayi? kayaknya sebentar lagi kita akan ketemu deh,” kata Caca yang langsung mengusap lembut pada perut Alina.


“Caca tidak sabar untuk melihat mereka,” kata Caca semangat sambil menatap ke arah Alina yang sedang tersenyum padanya.


“Oh ya kita sudah tidak bertemu beberapa bulan 'kan? kemana saja kamu selama ini sayang?” tanya Alina yang langsung mengusap wajah dan rambut Caca dengan lembut.


“Caca harus membiasakan diri dengan kehidupan Caca yang baru Tante, karena Caca tahu kehidupan Caca itu suda berbeda,” ungkap Caca yang terlibat sendu tapi berusaha ceria di hadapan Alina.


Saat dulu Caca sering memanggil Alina dengan sebutan Kakak cantik' karena Alina terlihat sangat cantik dan masih sangat muda, tapi kini Caca memanggil Alina dengan sebutan Tante karena perinta ayahnya yang mengatakan jika panggilan Caca itu tidak sopan.


Alina yang mendengar suara Caca yang sedikit sendu tapi tertahan itu, ia sontak langsung menoleh pada pengasuh Caca. Ada yang ingin Alina tanyakan begitu melihat ekspresi Caca yang terlihat sendu dan lemah itu.


Pengasuh yang tahu jalan pikir Alina hanya mengangguk sambil tersenyum. Seakan ia ingin mengatakan jika ia akan menjelaskan apa yang membuat Alina penasaran.


“Caca, kamu di sini sebentar bersama Om Raihan ya, Tante ada urusan sebentar,” kata Alina yang hanya di jawab dengan anggukan lemah dari Caca.


Caca dan Raihan pada akhirnya mulai mengobrol dengan Raihan yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Sementara itu.


Mereka duduk di sebuah taman yang berada tepat di halaman restoran yang ada rumah sakit. Saat itu, pengasuh itu hanya diam dan tak mengatakan apapun.


Sebenarnya saat ini banyak yang ingin Alina tanyakan tentang Caca. Pertemuannya yang awalnya terjadi di sebuah desa terpencil karena desa itu terkena sebuah wabah, dan Alina ingat saat itu Caca bersama dengan seorang wanita muda nan sederhana, tapi entah ada dimana wanita yang sepertinya ini dari Caca itu.


Karena kini Caca justru berada di tangan seorang pengusaha hebat. Harus diakui jika ayah Caca itu adalah seorang pengusaha terhormat di negara ini.


Mungkin perusahaan ayah Caca tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan keluarga Hero, meskipun begitu perusahaan tersebut bukanlah perusahaan berskala kecil.


“Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Tuan Sandy, dia seorang pengusaha terbesar ke tiga yang ada di negara ini. Selain itu dia juga pemilik saham terbesar di agensi yang terkenal di negara ini. Tapi apakah Anda tahu mengapa Tuan Sandy yang katanya terhormat dan terhindar dari skandal itu tiba-tiba memiliki seorang anak?” tanya pengasuh itu.


“Saya tidak tahu,” jawab Alina langsung.


“Saya sebenarnya adalah Tantenya Caca dari pihak ibunya. Ibu Caca dan saya adalah saudara kandung, kami memang tidak mirip karena adik saya terkenal dengan parasnya yang cantik,” kata pengasuh itu.


“Bisakah langsung keintinya? maaf jika terdengar tak sopan,” kata Alina pelan. Ia penasaran dengan Caca dan kehidupannya yang tiba-tiba berubah total seratus enam puluh derajat.


“Mungkin sudah tidak asing lagi cinta yang terhalang karena status, dan itu sama dengan kisah cinta adik saya dengan Ayah dari Caca. Pada awalnya pernikahan yang terjadi di antara mereka tidak di restui oleh pihak orang tua dari ayah Caca sendiri, hingga akhirnya terjadilah perpisahan,” jelas pengasuh itu yang menjeda sejenak ucapannya itu.


Pengasuh itu melihat jika Alina kini hanya diam dan sedang mencerna apa yang sedang ia dengar itu.


“Pada saat perceraian itu, ayah dari Caca tidak tahu tentang adik saya yang sedang hamil. Dan saat itu adik saya bersikukuh untuk meninggalkan kota dan tinggal di desa terpencil yang ternyata terkena wabah,” jelas si pengasuh itu lagi dengan rinci.


Itulah mengapa alasan Caca bisa ada di desa terpencil itu, padahal dari segi wajah dan posturnya, Caca layak menjadi seorang bintang cilik.


Kulit putihnya dan mata bulatnya seakan ingin sekali menjelaskan jika Caca bukanlah anak biasa. Ia cantik dan juga manis di saat bersamaan.


“Dan saat saya tahu desa itu terkena wabah, saya langsung datang ke desa itu. Saya khawatir dan ingin bertemu dengan adik saya yang ada di sana. Meskipun kami bukanlah keluarga kaya, tapi kehidupan di desa yang sangat terpencil itu pasti sangat sulit.”


“Jadi bagaimana bisa Caca kini bersama dengan ayah kandungnya?” tanya Alina menatap pengasuh itu.


Alina takut jika Caca di jebak atau mungkin Caca hidup dengan buruk di keluarga ayahnya itu. Bukankah pihak keluarga ayahnya tidak menerima kehadiran ibunya Caca?


“Anda tidak perlu khawatir, Caca hidup dengan sangat nyaman dan baik. Jujur saja saya sangat berterima kasih pada Anda, karena berkat Anda Caca bisa tersenyum lagi. Padahal sejak kematian ibunya dia menjadi anak yang murung,” kata pengasuh yang tak lain bibi Caca itu dengan tatapan matanya yang berterima kasih dengan tulus.


“Oh ya, saya ingin memberikan ini,” kata si pengasuh itu langsung memberikan Alina sebuah undangan.


Undangan yang terlihat mewah dan sepertinya undangan itu di buat sesuai kelas dan pentingnya seorang tamu.


Contoh tamu yang paling penting undangannya itu berupa surat yang terdapat butiran berlian dalam tulisannya itu.


“Undangan itu dari Tuan Sandy langsung, Anda di undang untuk datang ke tempat yang telah di tulis di undangan itu,” jelasnya.